Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2: DESA YANG TIDAK ADA DI PETA
Kisah: Jejak Darah yang Menghilang
Pagi hari baru saja menyingsing, namun langit di atas Kota Serabaya tetap kelabu dan suram, seolah matahari enggan menampakkan wajahnya di tempat yang semakin lama semakin terasa asing dan penuh rahasia. Reyhan tidak pulang malam itu. Ia langsung pergi ke ruang arsip lama di kantor polisi—tempat yang jarang dikunjungi, berdebalan tebal, berbau kertas tua dan kayu lapuk, terletak di sudut paling belakang bangunan yang sudah tua. Ia menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip lemah, lalu mulai menelusuri tumpukan peta dan catatan kuno yang disusun rapat di rak-rak kayu yang sudah mulai keropos.
Selama sepuluh tahun ini, ia sudah berkali-kali mencari nama DESA KELAM di semua dokumen resmi, peta wilayah, catatan sensus, maupun data administrasi pemerintahan—tapi tidak pernah menemukan satu baris tulisan pun yang menyebutkan nama itu. Seolah desa itu tidak pernah ada di permukaan bumi, hanya ada dalam legenda rakyat dan catatan pribadi ayahnya yang sebagian besar halaman pentingnya sudah robek atau hilang. Namun malam tadi, saat pola peta terbentuk dari darah yang bergerak sendiri, Reyhan melihat dengan mata kepalanya sendiri letak persisnya: tersembunyi di balik pegunungan utara, masuk jauh ke dalam hutan lindung yang luas, di daerah yang selama ini hanya ditandai sebagai “wilayah kosong” tanpa nama atau keterangan apa pun.
Ia mengeluarkan peta besar wilayah utara dari lemari besi terkunci—peta yang dibuat lebih dari lima puluh tahun lalu, sebelum banyak pembangunan jalan dan perkebunan mengubah bentuk alam asli sana. Dengan jari yang gemetar sedikit karena penasaran dan rasa waspada, ia mengikuti garis sungai yang berkelok, menyusuri jalur tanah yang sudah tidak terpakai lagi, sampai jari telunjuknya berhenti tepat di titik yang kosong, tidak ada nama, tidak ada tanda apa pun—persis seperti yang ditunjukkan oleh darah semalam. Di saku bajunya, benang kain hitam itu terasa semakin hangat, seolah ikut menunjuk ke arah titik yang sama, seolah berbisik: “Di sini… di sinilah semuanya dimulai dan berakhir.”
“Bapak mau ke sana sendirian?” suara Bara terdengar dari pintu, memecah keheningan ruangan itu. Pemuda itu berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat khawatir, tangannya mencengkeram gagang senjata di pinggang. “Daerah itu sangat jauh, Pak. Hutan sana sangat lebat, jarang ada orang yang masuk, bahkan petugas kehutanan pun jarang berani menjelajah masuk lebih dalam. Orang-orang desa sekitar sana sering bercerita hal-hal aneh tentang tempat itu—suara aneh di malam hari, kabut yang tidak pernah hilang, dan orang yang masuk ke sana tidak pernah kembali lagi. Bapak tidak bisa pergi sendirian.”
“Semakin banyak orang yang pergi, semakin berbahaya jadinya,” jawab Reyhan singkat sambil melipat peta dan memasukkannya ke dalam tas. Matanya tajam, penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan. “Hal yang kita hadapi ini bukan kejahatan biasa, Bara. Bukan pencuri, bukan pembunuh biasa yang bisa ditangkap dengan senjata dan surat perintah. Kalau aku membawa banyak orang, kita mungkin tidak akan pernah sampai di sana. Tapi kalau aku pergi sendirian… mungkin aku punya kesempatan untuk melihat apa yang sebenarnya disembunyikan di sana. Kamu tetap di sini, awasi perkembangan kasus di kota, cari tahu lebih dalam tentang identitas keempat korban. Jangan biarkan siapa pun tahu ke mana aku pergi.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Reyhan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Bara yang hanya bisa menatapnya dengan perasaan campur aduk antara takut dan kagum. Ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan inspektur itu sekarang—rasa penasaran dan rasa tanggung jawab yang tertunda sepuluh tahun lamanya sudah menjadi api yang membakar seluruh pikiran dan hatinya.
Perjalanan ke sana memakan waktu dua hari penuh. Reyhan mengendarai motor trail tua yang tangguh, melewati jalanan berbatu yang tajam, menyeberangi sungai dangkal yang airnya sedingin es, dan masuk semakin dalam ke dalam hutan yang semakin lebat dan gelap. Semakin jauh ia meninggalkan kota, semakin aneh suasana yang ia rasakan. Suara burung dan hewan hutan semakin jarang terdengar, sampai akhirnya sama sekali tidak ada suara apa pun selain suara angin yang berhembus pelan di antara pepohonan tinggi yang menjulang ke langit. Udara di sana terasa berat, lembap, dan ada bau samar yang semakin lama semakin jelas—bau kayu terbakar dan bunga layu, sama persis dengan bau yang selalu menyertai jejak darah yang hilang.
Pada sore hari kedua, saat matahari mulai turun ke barat dan cahaya mulai memudar, Reyhan akhirnya melihat gerbang desa itu.
Gerbang itu terbuat dari dua batang kayu besar yang sudah lapuk dan hitam, berdiri tegak di antara dua bukit kecil yang tertutup rumput tinggi. Tidak ada tulisan nama desa, tidak ada tanda larangan atau sambutan apa pun—hanya dua batang kayu yang tampak seperti sudah berdiri di sana selama ratusan tahun, menyaksikan segala sesuatu yang datang dan pergi. Di belakang gerbang itu, jalan tanah yang sempit melengkung masuk ke dalam, menuju ke tempat yang sedikit lebih rendah, di mana gumpalan kabut putih tipis selalu melayang di permukaan tanah, tidak pernah naik lebih tinggi dari pinggang orang dewasa.
Reyhan turun dari motornya, berdiri diam di depan gerbang itu. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat dingin, dan seluruh bulu tubuhnya berdiri tegak karena rasa merinding yang tak tertahankan. Desa di depannya terlihat damai, sangat damai—terlalu damai sampai terasa mengerikan. Rumah-rumah kayu tua tersusun rapi di kedua sisi jalan, dindingnya berwarna cokelat kusam, atapnya tertutup rumput kering. Ada beberapa orang yang berjalan pelan di jalanan, ada yang duduk di depan rumah, ada yang tampak sedang bekerja—tapi tidak ada suara apa pun. Tidak ada suara bicara, tidak ada suara tawa, tidak ada suara alat kerja, bahkan tidak ada suara hewan atau serangga malam. Sunyi senyap, seperti desa yang sudah lama mati tapi penduduknya masih terus berpura-pura hidup.
Saat Reyhan melangkah masuk melewati gerbang kayu itu, semua kepala penduduk serempak menoleh ke arahnya.
Mata mereka semuanya sama—gelap, kosong, tidak ada sorot hidup di dalamnya. Wajah mereka datar, tanpa ekspresi, seolah semua emosi seperti bahagia, sedih, marah, atau takut sudah lama dihapus dari wajah mereka. Mereka menatapnya diam saja, tidak ada yang menyapa, tidak ada yang bertanya siapa dia atau kenapa dia datang. Mereka hanya menatap, tatapan yang menembus sampai ke tulang sumsum, seolah mereka sudah tahu segalanya tentang Reyhan—asal usulnya, masa lalunya, tujuannya datang, bahkan apa yang ia pikirkan saat ini.
“Selamat datang, Tuan Polisi,” suara berat dan pelan terdengar dari depan.
Seorang lelaki tua berjalan mendekat perlahan. Tubuhnya masih tegak meski rambutnya sudah seputih kapas, wajahnya penuh kerutan dalam yang seperti peta sejarah panjang dan kelam. Matanya sama dengan penduduk lain—gelap dan kosong—tapi ada sesuatu yang berbeda di sana: ada kilatan pengetahuan kuno yang dalam, seolah lelaki ini sudah hidup selama ratusan tahun dan melihat segala rahasia dunia. Ia mengenakan pakaian kain hitam yang sederhana, kakinya telanjang, dan saat ia berjalan, tidak ada suara langkah kaki yang terdengar seolah tubuhnya tidak memiliki berat sama sekali.
“Kamu… kamu tahu siapa aku?” tanya Reyhan, tangannya diam-diam sudah bersiap di gagang senjata yang tersembunyi di balik jaketnya. Ia tidak merasa aman sedikit pun di tempat ini—setiap inci tanah di bawah kakinya terasa hidup, setiap dinding rumah di sekitarnya seolah punya mata yang mengawasi, dan setiap hembusan angin membawa bisikan yang tidak bisa ia pahami maknanya.
“Kami sudah menunggu kamu lama sekali,” jawab lelaki tua itu sambil tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya, hanya gerakan otot bibir yang kosong. “Darah selalu tahu jalan pulang. Darah ayahmu membawa kamu ke sini, sama seperti darahnya membawa dia ke sini tiga puluh tahun lalu. Nama saya Kala—kepala desa ini. Ikutlah dengan saya. Istirahatlah dulu. Besok saya akan menunjukkan apa yang kamu cari, dan apa yang sudah kamu bawa dalam tulang-tulangmu sejak kamu lahir ke dunia.”
Reyhan mengikuti lelaki tua itu dengan hati-hati. Ia memperhatikan setiap sudut desa, setiap orang yang ia lewati. Penduduk di sini bergerak sangat pelan, gerakan mereka halus dan teratur, seolah mereka tidak punya keinginan sendiri dan hanya bergerak sesuai perintah yang tidak terdengar. Mereka tidak makan di depan rumah, tidak berbicara satu sama lain, tidak menatap apa pun selain ke depan atau ke tanah. Dan yang paling mengerikan—tidak ada anak kecil sama sekali di seluruh desa itu. Semua penduduk yang ia lihat adalah orang dewasa atau orang tua, tidak ada satu pun yang muda atau kecil.
Rumah yang dituju adalah rumah terbesar di desa itu, terletak di bagian paling ujung, sedikit lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Bangunannya tua, kayu-kayunya hitam legam karena usia dan asap, jendelanya kecil dan tertutup rapat sehingga cahaya matahari hampir tidak bisa masuk ke dalam. Di sekeliling rumah itu tumbuh semak belukar yang lebat, dan di antara dedaunan itu Reyhan melihat bunga-bunga kecil berwarna merah gelap yang kelopaknya tertutup rapat sepanjang waktu. Bunga yang sama persis dengan yang digambarkan dalam catatan ayahnya—bunga yang hanya tumbuh di tanah yang banyak menyerap darah manusia.
Malam itu Reyhan tidak bisa tidur sama sekali. Ia duduk diam di tepi tempat tidur kayu yang keras, matanya tidak lepas dari jendela kecil yang tertutup tirai kain tebal. Hawa di dalam ruangan itu sangat dingin, lembap, dan bau kayu terbakar semakin menyengat. Sekitar jam dua belas malam, saat seluruh desa sudah benar-benar sunyi, ia mendengar suara langkah kaki yang banyak sekali berjalan keluar dari rumah-rumah di luar.
Ia perlahan mengintip dari celah kecil di jendela, dan pemandangan di luar sana membuat darahnya membeku sekujur tubuh.
Seluruh penduduk desa keluar dari rumah mereka satu per satu. Mereka semua membawa ember kayu berisi air bersih yang bening, berjalan berbaris rapi menuju lapangan tanah yang luas di tengah desa. Cahaya bulan yang samar menerangi wajah-wajah mereka yang tetap datar dan kosong. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak lebih cepat atau lebih lambat dari yang lain. Saat mereka sampai di tengah lapangan, mereka berhenti serempak, lalu mulai menuangkan seluruh isi ember itu ke tanah.
Saat air bersih itu menyentuh permukaan tanah—AIR ITU LANGSUNG BERUBAH MENJADI DARAH MERAH SEGAR.
Darah itu tidak meresap ke dalam tanah, tidak mengalir ke bawah. Ia tetap diam di permukaan, perlahan menyebar luas, menyatu dengan darah dari ember lain, sampai seluruh lapangan seluas sepuluh meter itu penuh tergenang cairan merah pekat yang berdenyut pelan. Penduduk desa berdiri diam di sekelilingnya, kaki mereka telanjang masuk ke dalam genangan itu, mata mereka terpejam rapat, mulut mereka sedikit terbuka seolah sedang berbicara atau berdoa tanpa suara.
Dan Reyhan mendengar ribuan suara bisikan serempak masuk langsung ke dalam kepalanya—suara yang tidak datang dari telinga, tapi datang dari dalam pikirannya sendiri:
“Cari jejak kami… cari apa yang menghilang… kamu adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikan apa yang ayahmu mulai… jangan lari… darahmu sudah menjadi bagian dari kami… darahmu adalah kunci yang kami tunggu…”
Reyhan mundur perlahan dari jendela, punggungnya menabrak dinding kayu yang dingin. Napasnya memburu, keringat dingin mengalir deras di dahi dan punggungnya. Ia akhirnya paham sekarang—kenapa semua korban di kota hanya menyisakan darah dan tidak ada mayat, kenapa sampel darah selalu hilang atau rusak, kenapa bau yang sama selalu ada di setiap lokasi kejadian. Semua darah itu tidak hilang begitu saja. Semua darah itu DATANG KE SINI. Ditarik, dipanggil, dipanggil pulang ke desa ini, ke dalam tanah yang sudah ratusan tahun lamanya haus akan darah manusia.
Dan mereka memanggilnya bukan hanya karena ia seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus. Mereka memanggilnya karena IA ADALAH BAGIAN DARI MEREKA. Darah ayahnya, darah leluhurnya yang selama ini tersembunyi dalam catatan lama—darah itu adalah darah yang paling murni, darah yang tidak hanya memberi makan makhluk yang bersembunyi di bawah tanah ini, tapi darah yang bisa membangkitkannya sepenuhnya.
Tiba-tiba dinding ruangan di belakangnya bergetar pelan. Dari celah-celah kecil di antara papan kayu itu mulai keluar tetesan-tetesan darah merah segar, merayap turun ke lantai, bergerak perlahan mendekati kakinya. Di saku bajunya, benang kain hitam itu mulai terasa sangat panas, seolah terbakar hidup-hidup.
“Kamu sudah tahu ya, Nak?” suara Kala terdengar pelan dari balik pintu tertutup. “Besok pagi saya akan membawamu ke tempat yang paling dalam. Tempat di mana semua jejak darah yang menghilang itu akhirnya berkumpul menjadi satu. Dan di sana kamu akan tahu siapa kamu sebenarnya… dan apa yang harus kamu bayar untuk rahasia ini.”