NovelToon NovelToon
Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: premier MT

Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Kitab Kosong dan Rahasia Dantian

Sejak hari itu, Mu Chen tidak hanya dikenal sebagai pemuda dengan tulang legendaris, tapi juga sebagai "Ahli Nasi Goreng" yang terkenal di seluruh sekte. Setiap kali jam makan tiba, sudah ada beberapa murid yang menunggu di depan dapur dengan wajah penuh harapan.

Namun, meski hidupnya terasa nyaman, di dalam hatinya masih ada rasa ingin tahu yang besar. Ia sering melihat murid-murid lain berlatih teknik, melepaskan energi, dan merasa sedih — meski ia sudah berusaha menerima nasibnya.

Suatu pagi, setelah sarapan, ia memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan Besar Sekte Angin Hijau.

"Meskipun kataku tidak bisa menggunakan energi, siapa tahu ada pengetahuan yang cocok dengan tubuhku. Setidaknya aku bisa membaca dan menambah wawasan, daripada hanya menghabiskan waktu di dapur saja," gumamnya sambil berjalan.

Perpustakaan itu besar dan sepi, berisi ribuan kitab yang disusun rapi di rak-rak kayu. Aromanya khas kertas tua dan kayu cendana. Di sana hanya ada seorang tetua penjaga yang sedang tertidur pulas di sudut ruangan.

 

Mu Chen berjalan mondar-mandir, membaca judul-judul kitab:

- "Teknik Pedang Awan Sembilan Lapisan" — "Tidak bisa, tidak punya pedang dan tidak bisa mengeluarkan energi."

- "Rahasia Menyerap Qi Langit" — "Tubuhku sudah menyerap otomatis, malah tidak bisa dihentikan."

- "Jalan Menuju Keabadian" — "Terlalu panjang, dan aku tidak punya dasar sama sekali."

Setelah membolak-balik banyak kitab selama hampir setengah hari, wajahnya mulai terlihat kecewa. Semua isinya membahas cara mengumpulkan Qi, memutarnya di Dantian, lalu menyalurkannya — hal yang sama sekali tidak bisa ia lakukan.

"Wah, semuanya tidak cocok. Rasanya seperti mencari ikan di padang pasir. Apakah tidak ada tulisan untuk orang yang tidak punya Dantian seperti aku?" keluhnya pelan.

Saat ia hendak pergi, matanya tertuju pada satu kitab tebal yang tergeletak di sudut paling atas rak, tertutup debu tebal. Sampulnya terbuat dari kulit yang sudah mengeras, tertulis huruf kuno yang hampir tidak terbaca: "Catatan Tulang Bintang".

"Ini sepertinya berhubungan dengan tulangku. Baiklah, saya baca saja, meski isinya cuma dongeng kuno," gumamnya sambil meraihnya dengan susah payah.

Begitu ia membuka halaman pertamanya — kosong.

Halaman kedua — masih kosong.

Halaman ketiga, keempat, sampai halaman terakhir — semuanya kosong, tidak ada tulisan sedikit pun!

Mu Chen tertegun, lalu menepuk-nepuk kitab itu dengan jari.

"Wah! Kitab kosong! Apakah ini lelucon? Atau penulisnya lupa menulis isinya? Kalau begini, lebih baik aku menggambar di sini saja!"

Ia membalik-balik halaman sambil menggerutu lucu, tidak sadar bahwa batu giok Yin-Yang di dadanya perlahan memancarkan cahaya samar. Tanpa ia sadari, energi halus dari tubuhnya yang terus diserap tulangnya juga mengalir sedikit demi sedikit ke dalam kitab itu.

Tiba-tiba! Tulisan emas halus mulai muncul perlahan di atas kertas kosong itu, seolah ditulis oleh tangan tak terlihat.

 

Mata Mu Chen terbelalak. Ia segera duduk tegak dan membaca tulisan itu dengan saksama:

Bagi pemilik Tulang Bintang Galaksi:

Jangan pernah berpikir bahwa dirimu tidak memiliki Dantian.

Tulang ini terbentuk dari inti bintang yang hancur jutaan tahun lalu. Ia berperan sebagai "Pembungkus" dan "Penyaring". Dantianmu tidak hilang — ia justru tersembunyi di dalam tulang belakangmu, tersegel rapat sejak lahir agar tidak hancur menampung energi yang terlalu besar.

Tulang Bintang ini bukan hanya tulang biasa. Ia berfungsi sebagai ruang penyimpanan raksasa yang sebesar galaksi itu sendiri. Ia menyerap energi secara terus-menerus dan mengubahnya menjadi Air Timah Surgawi — cairan energi padat yang jauh lebih berat dan murni daripada Qi biasa.

Untuk membuka segelnya, tidak perlu teknik rumit. Cukup konsentrasikan pikiranmu sepenuhnya pada tulang belakang, dan biarkan energi yang sudah tersimpan mengalir perlahan. Namun hati-hati — isinya sangat padat, seperti lautan yang tertutup rapat selama jutaan tahun.

Setelah membaca sampai selesai, Mu Chen hanya bisa memegang kepalanya yang berputar.

"Jadi... aku sebenarnya punya Dantian? Cuma disembunyikan di tulang? Dan isinya bukan gas ringan, tapi cairan padat kayak logam cair? Ini lebih aneh dari ilmu pengetahuan di duniaku!"

 

Karena penasaran sekaligus ragu, ia memutuskan untuk mencoba. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mencoba berkonsentrasi — bukan di perut seperti yang diajarkan orang lain, tapi di sepanjang tulang belakangnya.

Awalnya tidak ada apa-apa. Ia hanya merasakan tulangnya terasa hangat biasa.

"Tidak berhasil juga. Mungkin kitab ini juga bohong," pikirnya hendak berhenti.

Namun tepat saat ia ingin membuka mata, ia merasakan getaran halus dari dalam tulang belakangnya. Perlahan, seperti membuka gerbang raksasa yang berkarat selama ribuan tahun, sebuah ruang luas yang tak terkirakan luasnya mulai terbuka dalam kesadarannya.

Wahyu yang luar biasa muncul di benaknya!

Di dalam sana, bukan ruang kosong, bukan juga aliran energi biasa. Yang ia lihat adalah lautan luas tak bertepi, berisi cairan berwarna perak kebiruan yang sangat padat, mengalir perlahan dengan kilauan seperti bintang-bintang di langit malam. Suhunya terasa sangat panas namun tidak membakar, beratnya tak terbayangkan — satu tetes saja diperkirakan seberat seribu batu besar!

"Ini... ini lautan Air Timah Surgawi?! Benar-benar ada! Dan luasnya... seolah-olah ada galaksi kecil di dalam tubuhku sendiri!" gumamnya dengan napas tertahan.

Ia mencoba memindahkan sedikit saja cairan itu. Begitu ia memusatkan perhatian, setetes kecil bergerak perlahan dari dasar lautan, mengalir melalui saluran halus di dalam tulangnya — dan saat ia sampai di telapak tangan, ia terasa sangat berat sampai hampir membuat lengannya patah!

"Aduh! Berat sekali! Satu tetes saja sudah seperti memegang batu besar. Kalau banyak-banyak, bisa-bisa tubuhku sendiri remuk!" serunya sambil segera menariknya kembali masuk ke dalam ruang tulang itu.

 

Ia membuka matanya kembali, napasnya sedikit terengah-engah. Ia melihat telapak tangannya sendiri — tidak ada perubahan tampak luar, tapi ia tahu betapa beratnya energi yang tersimpan di dalam dirinya.

"Jadi begini ceritanya. Bukan tidak punya Dantian, tapi terlalu besar dan isinya terlalu berat, jadi tersegel. Kalau dibuka sembarangan, malah bisa menghancurkan tubuhku sendiri. Ini lebih merepotkan daripada tidak punya sama sekali!" keluhnya sambil menggaruk kepalanya.

Namun, meski begitu, hatinya merasa lega juga. Ia bukan makhluk cacat seperti yang ia kira selama ini — ia hanya berbeda.

Ia menutup kitab itu kembali, dan kali ini sampulnya kembali tertutup debu seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya ia yang tahu rahasia ini.

"Baiklah, kalau begini aturannya. Aku tidak bisa mengeluarkan energi ringan seperti orang lain, tapi aku punya lautan energi padat yang sangat berat. Mungkin tidak cocok untuk serangan jarak jauh, tapi kalau dipakai untuk menahan serangan atau memukul... bisa-bisa tanganku saja menjadi senjata raksasa!"

Tiba-tiba perutnya berbunyi "KRUKK!" — pengingat yang tidak pernah berubah meski rahasia kekuatannya sudah terungkap.

"Tapi apapun itu, makan tetap nomor satu. Energi sebanyak ini tetap tidak bisa menggantikan nasi goreng! Lebih baik aku pulang, siapa tahu Xiaoyao sudah membawa bahan makanan baru," gumamnya sambil tertawa sendiri.

Ia menyusun kembali kitab itu ke tempatnya semula, lalu berjalan keluar dari perpustakaan dengan langkah yang sedikit lebih ringan dan penuh harapan.

Di dalam hatinya, ia bergumam: "Jalan kultivasi orang lain menggunakan energi seperti angin dan air, sedangkan jalanku menggunakan lautan timah panas. Biarlah berbeda, yang penting aku tetap bisa berjalan, makan enak, dan tidak merepotkan orang lain. Hehe!"

Mohon dukungannya teman teman

1
premier MT
mantap
Riekcy Rachmat
lanjut trus🙏
Riekcy Rachmat
menarik sekali, semoga updatenya banyak nnti
Riekcy Rachmat
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!