NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raven's Gate

Udara di Verovska tidak pernah benar-benar ramah. Bagi Cassie, kota ini terasa seperti sebuah lukisan cat air yang didominasi warna abu-abu dan biru tua. Dinginnya tidak hanya menggigit kulit, tapi seolah menembus hingga ke tulang. Saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara dengan koper besarnya, Cassie mengira rasa menggigil itu adalah bentuk kegembiraan. Namun, setelah dua minggu berlalu, ia sadar itu adalah peringatan.

​Beasiswa pendidikan di University of Verovska adalah satu-satunya jalan keluar bagi Cassie. Ia datang dengan ambisi besar dan doa tulus dari orang tuanya di seberang samudra. Namun, realitas di negara asing ini menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.

​Semester awal di asrama kampus adalah sebuah bencana finansial.

​"Dua puluh lima Euro untuk satu paket buku referensi bekas?" gumam Cassie sambil menatap layar mesin kasir di toko buku kampus. Ia menghitung cepat dalam kepala, mengonversi angka itu ke mata uang asalnya, dan seketika ia merasa mual.

​Biaya administrasi laboratorium, iuran wajib asrama, hingga harga sepiring makanan di kantin perlahan-lahan menggerogoti uang saku yang dikirimkan orang tuanya. Cassie teringat wajah lelah ayahnya saat mengantarnya ke bandara, ia tidak mungkin menelepon ke rumah hanya untuk meminta uang tambahan. Rasa bangga dan rasa bersalah mulai berperang di dalam dadanya.

​Malam itu, Cassie duduk di meja belajarnya yang sempit, memandangi buku catatan keuangan.

Angka-angka di sana tidak berbohong. Jika ia tetap tinggal di asrama kampus yang fasilitasnya serba berbayar ini, uang sakunya hanya akan bertahan dua minggu lagi.

​"Aku harus mencari tempat yang lebih murah," bisiknya pada keheningan kamar. "Tempat yang memberiku ruang untuk bekerja tanpa terikat aturan asrama."

​Pencariannya di situs web properti murah membawanya ke sebuah iklan di pinggiran Old District, distrik tua yang jarang dikunjungi turis. Apartemen Raven’s Gate. Harganya hanya sepertiga dari biaya asrama, namun lokasinya sangat jauh dari pusat kota yang berkilauan.

​Cassie mengabaikan komentar-komentar di internet yang menyebut wilayah itu sebagai 'lubang hitam kota'. Baginya, selama ada atap untuk berteduh dan sisa uang untuk makan, itu sudah cukup.

Langkah Cassie terhenti di depan gerbang Apartemen Raven’s Gate yang sudah miring. Jika di brosur tempat ini disebut "klasik" kenyataannya jauh lebih buruk. Sampah-sampah plastik kering beterbangan tertiup angin musim gugur, tersangkut di antara semak liar yang tidak terurus. Aroma lembap dan bau besi berkarat menyeruak begitu ia melangkah masuk ke area lobi.

​Dinding-dinding lorong dipenuhi coretan graffiti yang tumpang tindih. Sebagian besar adalah kata-kata kasar dalam bahasa lokal yang belum sepenuhnya Cassie pahami. Cat tembok yang dulunya mungkin berwarna putih kini sudah berubah menjadi abu-abu kusam dengan bercak-bercak jamur di sudut plafon.

​"Yang penting murah, Cass. Hanya untuk tidur," bisiknya menyemangati diri sendiri, sambil menyeret koper besarnya melewati seorang pria tua yang duduk diam di sudut lobi dengan tatapan kosong.

​Begitu sampai di lantai tiga, Cassie memasukkan kunci ke pintu unit nomor 304. Ia menarik napas panjang sebelum membukanya, bersiap untuk hal terburuk. Namun, begitu pintu terbuka, ia sedikit lega.

​Kamar itu kecil, namun tampak "manusiawi." Sebelum setuju untuk menyewa, Cassie memang sudah bernegosiasi dengan pemilik apartemen yang ketus itu untuk mengganti wallpaper dindingnya yang sudah mengelupas. Kini, dinding itu tertutup wallpaper polos berwarna krem bersih. Setidaknya, ruangan ini tidak terlihat seperti set film horor seperti lorong di luar sana.

​Cassie segera mengunci pintu dari dalam, melakukan prosedur keamanan standar yang selalu dipesankan ibunya. Ia mulai mengeluarkan barang-barangnya. Sebuah bingkai foto kecil berisi foto kedua orang tuanya diletakkan di atas nakas kayu tua yang ia lap sampai mengkilap.

​"Nah, begini lebih baik," gumamnya.

​Di dalam kotak seluas empat kali empat meter ini, Cassie merasa aman. Cahaya lampu bohlam yang ia bawa sendiri dari supermarket memberikan rona hangat di ruangan itu. Bagi Cassie, kamar 304 adalah satu-satunya wilayah "normal" di tengah lingkungan yang terasa seperti akan runtuh kapan saja.

​Malam pertamanya dihabiskan dengan menyusun buku-buku kuliah di rak kecil samping tempat tidur. Ia merasa cukup bangga pada dirinya sendiri karena berhasil mendapatkan tempat tinggal secepat ini. Namun, saat keheningan malam mulai turun, Cassie menyadari satu hal. Dinding apartemen ini sangat tipis.

​Dari balik tembok, ia bisa mendengar suara langkah kaki berat di lorong yang tak kunjung berhenti, suara air mengalir yang berisik, dan sesekali suara tawa parau dari lantai bawah. Namun, ada satu suara yang membuatnya sedikit mengernyit, suara lift tua di dekat kamarnya yang terus berdenting bolak-balik, seolah-olah ada seseorang yang terus-menerus naik dan turun di jam dua pagi.

​Cassie mencoba mengabaikannya dan menarik selimut hingga ke telinga. Besok adalah hari pertamanya mencari pekerjaan part-time.

***

Keberuntungan seolah berpihak padanya. Sebuah kafe kecil di dekat pusat kota, yang dekorasinya penuh buku dan berbau kayu manis, menerimanya sebagai pelayan tambahan.

​Hari-hari pertamanya bekerja sangat melelahkan. Ia harus berdiri selama delapan jam, melayani pelanggan yang cerewet, dan melawan hawa dingin saat harus membersihkan meja di area luar. Namun, setiap kali ia melihat amplop berisi upah harian di tangannya, rasa lelah itu seolah menguap. Ia akhirnya punya uang untuk membeli bahan makanan yang layak dan menabung untuk biaya semester depan.

​Malam itu, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Verovska sedang diguyur hujan tipis yang membekukan. Cassie berjalan cepat menuju stasiun bus terakhir yang mengarah ke Old District. Ia merapatkan jaketnya, merasakan kehangatan dari kopi sisa shift-nya di dalam tumblr.

​"Sedikit lagi, Cassie. Sampai rumah, mandi air hangat, lalu tidur," bisiknya menyemangati diri sendiri.

​Bus berhenti di perhentian Raven’s Gate yang sunyi. Cassie turun sendirian. Jalanan menuju apartemennya tampak lebih mencekam dari biasanya, kabut tipis turun menutupi aspal yang retak-retak. Ia mempercepat langkah, kunci apartemen sudah ia genggam di dalam saku sebagai bentuk kewaspadaan.

​Begitu masuk ke lobi Raven’s Gate, suasana terasa mati. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip gelisah, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding yang penuh coretan. Cassie baru saja hendak melangkah menuju lift, ketika sebuah suara benturan keras, suara daging yang bertemu dengan beton terdengar dari balik pintu darurat yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

​Cassie mengintip dari celah pintu yang dingin. Matanya membelalak, pupilnya bergetar hebat melihat apa yang terjadi di balik pintu darurat itu.

​Pengeroyokan itu tidak seperti di film-film. itu nyata, mentah, dan sangat menjijikkan. Tiga pria dengan otot yang menonjol di balik kaus hitam mereka tidak memberikan ruang untuk korbannya bernapas. Salah satu dari mereka memegang pipa besi tebal.

​Crak!

​Suara tulang patah terdengar jelas saat pipa itu menghantam tulang kering si korban. Pria malang itu mengerang, suara parau yang penuh dengan keputusasaan, sebelum sebuah sepatu bot berat mendarat tepat di wajahnya, membungkam suaranya selamanya. Darah segar menyembur, mengotori dinding beton yang sudah kusam. Mereka tidak berhenti sampai di situ, serangan terus berlanjut seperti mesin yang tidak punya rasa kasihan, sampai tubuh di lantai itu hanya berupa onggokan daging yang tidak lagi bergerak.

​Cassie merasa isi perutnya bergejolak. Dengan tangan gemetar yang hampir mati rasa, ia merogoh ponsel di saku jaket. Air mata ketakutan mulai mengalir. Dengan gerakan cepat, ia menekan nomor darurat.

Tut... Tut...

​"Operator darurat, apa posisi Anda?" suara di seberang telepon terdengar datar, sangat kontras dengan situasi hidup dan mati yang sedang Cassie saksikan.

​"To-tolong... Apartemen Raven's Gate... ada pembu—"

​Belum sempat Cassie menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan besar menyelimuti tubuhnya dari belakang. Kehadirannya begitu dingin dan dominan. Sebuah tangan besar dengan cekatan merebut ponsel dari genggaman Cassie.

​Klik.

​Sambungan telepon itu terputus seketika sebelum polisi bisa melacak lokasi mereka.

​Cassie hendak berteriak, namun tangan lain yang kasar dan beraroma tembakau mahal langsung membekap mulutnya. Tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam pelukan yang kaku dan berbahaya. Cassie memberontak, kakinya menendang udara, namun pria di belakangnya jauh lebih kuat.

​"Kalau kau ingin tetap bernapas, diam!" bisik suara itu. Baritonnya dalam, tenang, tapi membawa ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada suara pipa besi di balik pintu tadi.

​Pria itu menyeretnya menjauh dari pintu darurat, tepat saat lift tua di lobi berdenting terbuka. Ia mendorong Cassie masuk ke dalam kotak besi sempit itu dan segera menekan tombol lantai teratas. Di dalam lift yang pengap, pria itu melepaskan bekapannya, namun tetap mengurung Cassie di sudut lift dengan lengannya yang kokoh.

​Cassie mendongak, menatap wajah pria itu untuk pertama kalinya. Matanya tajam seperti elang, dengan rahang yang tegas dan luka gores kecil di tulang pipinya. Pria itu tidak memakai topeng, dan itu justru membuat Cassie lebih takut, karena biasanya, orang yang tidak menyembunyikan wajahnya di depan saksi mata tidak berencana membiarkan saksi itu bicara.

​"Kau baru saja membuat kesalahan besar dengan menekan nomor itu," ucap pria itu pelan.

​Si pria maju satu langkah, memangkas jarak hingga Cassie bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Lupakan apa yang kau lihat. Bersihkan otakmu dari kejadian di tangga tadi seolah-olah itu hanya mimpi buruk. Karena jika mereka tahu kau ada di sana..." ia menjeda kalimatnya, matanya menatap bibir Cassie yang bergetar, "...bahkan aku tidak bisa menjamin kau akan sampai ke kamarmu dalam keadaan utuh."

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!