Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
***
Di tengah teriknya matahari pinggiran Jakarta, ribuan pasang mata tidak hanya terpaku pada deretan seragam loreng atau paket sembako yang dibagikan. Perhatian dunia digital justru tertuju pada satu sosok: Karina Dyah Pramesti. Dalam hitungan menit, foto-fotonya yang sedang duduk lesehan sambil memangku anak-anak disabilitas dan tertawa lepas bersama ibu-ibu warga sekitar telah membanjiri jagat maya.
Tanpa riasan tebal, tanpa gaun couture yang mengintimidasi, Karina justru terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi. Reputasinya yang sempat tercoreng oleh skandal Korea seolah luruh bersama setiap pelukan tulus yang ia berikan pada rakyat kecil.
Di layar ponsel jutaan orang, nama "Karina Hutomo" kembali menduduki puncak trending topic. Kontras antara keanggunannya saat di Paris dengan kesederhanaannya di lapangan amal menciptakan narasi yang tak terkalahkan.
Komentar Netizen (Instagram & X):
@pecinta_batik_indo: "Lihat caranya duduk lesehan! Nggak ada rasa jijik sama sekali. Darah Jenderal emang beda, merakyat tapi tetep berwibawa. Fix, dia Permaisuri Cendana yang sesungguhnya!"
@k-pop_indonesia_update: "Dulu dituduh pembully, sekarang lihat... dia tulus banget sama anak-anak. Angel mana bisa begini? Angel mah paling cuma bisa pose di lapangan golf sambil megang stik mahal."
@warga_menteng_asli: "Cuma Nyonya Darma yang bisa bikin acara militer berasa acara temu fans global. Visualnya nggak main-main meski keringatan. Bangga punya Nyonya kayak Ayin!"
@analisis_politik_receh: "Ini mah serangan balik paling elegan. Di saat suaminya digosipin sama selebgram, istrinya malah turun ke rakyat. Skor: Karina 10 - Angel 0."
Namun, di antara ribuan pujian, masih ada suara-suara sumbang dari pendukung "masa lalu" Darma:
@angel_lovers_pwt: "Ah, paling ini cuma pencitraan biar nutupin berita golf kemarin. Angel tetep lebih cocok sama Pak Darma, sama-sama business oriented. Karina cuma menang nama bapaknya doang."
@rumpi_elit_jakarta: "Jujur, Angel lebih seksi dan dewasa. Darma itu pria dingin, butuh yang 'berpengalaman' kayak Angel, bukan yang manja kayak eks-idol begini."
@teori_konspirasi: "Kasian ya, ditinggal suami rapat demi kerjaan, istrinya malah disuruh panas-panasan demi jaga nama baik mertua. Pernikahan kontrak emang berat."
**
Sementara keramaian itu berlangsung, di lantai tertinggi Menara Hutomo, suasana sunyi menyelimuti ruangan kerja Darma. Tidak ada musik, tidak ada suara TV. Hanya ada desis pendingin ruangan yang sangat halus.
Darma Mangkuluhur duduk di kursi kulitnya, namun di depannya bukan lagi laporan akuisisi lahan atau grafik bursa saham. Tangannya menggenggam tablet, layarnya menampilkan live streaming dari tim dokumentasi yang diperintahkannya secara khusus untuk terus menyorot Karina.
Matanya yang tajam menatap setiap inci pergerakan Karina di layar. Ia melihat saat Karina tertawa, saat helai rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, hingga saat istrinya itu mengusap keringat di dahi seorang anak kecil.
"Dia memang dilahirkan untuk berada di bawah sorotan," bisik Darma pelan.
Ada rasa puas yang menjalar di dadanya. Bukan hanya karena citra perusahaan dan aliansi politik ayahnya sedang membaik, tapi ada perasaan primitif yang jauh lebih dalam: Kepemilikan.
Ia tahu, jutaan mata di luar sana sedang memuja Karina. Namun, ia juga tahu bahwa saat malam tiba, wanita yang dipuja dunia itu akan kembali ke pelukannya, merintih menyebut namanya, dan tunduk di bawah otoritasnya di kamar Menteng.
"Pak, Anda sudah memperhatikan video itu selama lima belas menit," suara Aldi memecah keheningan. "Jenderal Agus sudah terlihat tidak sabar di tenda komando. Beliau berkali-kali melirik jam tangannya."
Darma tidak langsung mendongak. Ia mengusap layar tabletnya, memperbesar foto Karina yang sedang tersenyum manis ke arah kamera sebuah senyum yang menurutnya "terlalu murah" untuk dibagikan ke publik.
"Dia terlihat bahagia di sana," ujar Darma dingin, menyembunyikan rasa bangga di balik nada datarnya.
"Tentu saja, Pak. Ibu Karina sangat mahir mengambil hati rakyat. Netizen bahkan membandingkannya dengan model Angel itu, dan hasilnya telak. Ibu dianggap sebagai standar tertinggi wanita klan Hutomo," Aldi mencoba memancing.
Darma meletakkan tabletnya dengan bunyi klik yang tegas. "Angel? Jangan pernah sebut nama itu lagi di depan saya atau di lingkungan rumah saya. Dia hanya kerikil kecil yang tidak sengaja terinjak. Nilai Karina tidak bisa dibandingkan dengan selebgram yang hanya menjual sensasi."
Darma bangkit, merapikan jas bespoke-nya dan mengancingkan bagian tengahnya dengan gerakan yang sangat berwibawa. "Siapkan konvoi. Kita ke lokasi sekarang."
"Sekarang, Pak? Rapat dengan delegasi Singapura baru akan selesai tiga puluh menit lagi," Aldi terkejut.
"Batalkan atau tunda. Saya tidak mau membiarkan Jenderal Agus berpikir dia bisa menguasai istri saya seharian penuh hanya karena saya sibuk," ucap Darma dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Lagipula... saya ingin melihat sendiri bagaimana wajah 'investasi' saya itu setelah seharian panas-panasan."
Perjalanan menuju lokasi amal ditempuh dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil, Darma terus memantau komentar netizen. Ia membaca satu komentar yang menyebut bahwa Karina "pantas mendapatkan pria yang lebih hangat daripada beruang es".
Rahang Darma mengeras. Gengsinya yang setinggi langit terusik.
Hangat? batinnya. Mereka tidak tahu seberapa hangat saya memperlakukannya semalam sampai dia tidak bisa bangun pagi.
Begitu rombongan mobil hitam mengkilap itu memasuki kawasan acara amal, suasana mendadak tegang. Kehadiran Darma seperti membawa badai dingin ke tengah acara yang hangat. Para prajurit TNI memberikan hormat, namun mata mereka menatap Darma dengan rasa segan yang besar.
Darma turun dari mobil, langkahnya tegap dan angkuh. Ia tidak langsung menuju tenda Jenderal Agus. Matanya langsung menyisir lapangan, mencari sosok wanita yang sejak pagi menguasai pikirannya.
Di kejauhan, ia melihat Karina. Istrinya itu tampak lelah namun wajahnya bersinar. Saat mata mereka bertemu di tengah kerumunan, Karina tampak tersentak.
Darma berjalan membelah kerumunan orang, mengabaikan jabat tangan beberapa pejabat yang mencoba menyapanya. Ia berhenti tepat di depan Karina. Tanpa mempedulikan kamera jurnalis yang langsung menyorot mereka, Darma melepas kacamata hitamnya, menatap Karina dari atas ke bawah.
"Sudah puas bermain debu?" tanya Darma, suaranya berat dan sangat maskulin, terdengar dingin namun matanya menunjukkan api posesif.
Karina mendongak, mencoba mengatur napasnya yang mendadak terasa berat. "Mas... Mas beneran datang?"
Darma tidak menjawab. Ia justru menarik pinggang Karina dengan sangat protektif di depan semua orang, memberikan sinyal mutlak kepada dunia dan terutama kepada Jenderal Agus yang sedang mengawasi dari jauh—bahwa meskipun ini adalah lapangan militer, Karina adalah wilayah kedaulatannya.
"Saya datang untuk menjemput milik saya," bisik Darma tepat di telinga Karina, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Ayo. Ayahmu sudah menunggu, dan saya punya banyak hal untuk dibicarakan dengannya... termasuk soal tagihan es krim yang kamu minta semalam."
Karina tersenyum kecil, merasa gemas sekaligus merinding. Di tengah kehebohan netizen dan kaku-nya protokol militer, penyatuan dua ego besar ini kembali dimulai.
****