NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 27: Tresaders

Hari terakhir Grachius dan Daji di Kota Baldr dimulai dengan dua suasana yang sangat berbeda.

Di kamar penginapan Thorgar Skáli—

sunyi.

Cahaya pagi masuk dari jendela kecil, jatuh di lantai kayu dalam bentuk garis pucat. Debu halus melayang di udara, nyaris tidak bergerak.

Grachius masih duduk bersila di atas kasur.

Sejak ia memulai meditasinya dua hari lalu, tubuhnya hampir tidak bergerak. Napasnya begitu pelan hingga sulit dibedakan dari keheningan itu sendiri.

Namun udara di sekelilingnya berbeda.

Lebih padat.

Lebih tajam.

Lebih berat.

Qi yang mengalir dari tubuhnya tidak lagi hanya terasa tenang. Kini, ia seperti bilah yang disimpan dalam sarung—diam, namun siap keluar kapan saja.

Kasur Daji kosong.

Dan dunia di luar kamar itu—

sangat jauh dari sunyi.

...—...

Bar milik Helga sudah ramai sejak siang.

Gelak tawa para dwarf mengguncang ruangan. Dentuman gelas kayu terdengar berkali-kali di atas meja. Lagu kasar tentang palu, bir, dan naga bodoh dinyanyikan oleh sekelompok dwarf mabuk dengan suara yang sama sekali tidak kompak.

Aroma bir, daging panggang, sup panas, dan asap perapian memenuhi udara.

Di tengah semua itu—

Daji bekerja.

Membawa minuman.

Mengantar makanan.

Menghindari tangan usil.

Dan mengeluh dalam hati.

Kenapa hidupku jadi begini…

Ia meletakkan empat gelas besar di atas meja.

“Ini minuman kalian.”

Salah satu dwarf mengangkat gelas.

“Nona Rubah! Kau semakin cepat!”

“Aku tahu. Bayar lebih banyak.”

Dwarf itu tertawa keras.

“Dia mulai bicara seperti Helga!”

Daji mendengus, lalu berbalik.

Namun saat ia melewati meja dekat sudut, seorang petualang manusia bersiul.

“Hei, nona rubah.”

Daji berhenti.

Di meja itu duduk satu party petualang manusia. Mereka tampak baru kembali dari perjalanan, pakaian penuh debu, senjata tergantung di pinggang, dan wajah penuh percaya diri yang biasanya berarti masalah.

Salah satunya, pria berambut coklat acak-acakan, menatap Daji dengan senyum genit.

“Bagaimana kalau kau duduk sebentar denganku?”

Teman-temannya langsung tertawa.

“Rocky mulai lagi!”

“Jangan keras-keras, dia bisa takut.”

Daji menatap mereka beberapa detik.

Lalu tersenyum licik.

“Takut?”

Ia meletakkan nampan kosong di pinggangnya.

“Kalau kau ingin aku duduk denganmu, kalahkan aku dulu.”

Rocky mengangkat alis.

“Dalam apa?”

“Drink or Drunk.”

Seketika bar menjadi lebih tenang.

Lalu beberapa dwarf menoleh.

Salah satu berteriak.

“OOOH! Drink or Drunk!”

Daji mengangkat satu jari.

“Aturannya sederhana. Satu ronde, satu gelas bir. Kita minum sampai salah satu tumbang.”

Rocky tertawa.

“Itu saja?”

“Taruhannya..."

Daji menunjuk Rocky.

“Kalau aku menang, kau menyerahkan semua milikmu. Uang, pakaian, perlengkapan.”

Sorakan langsung naik.

Rocky tersenyum makin lebar.

“Dan kalau aku menang?”

Daji tersenyum tipis.

“Aku akan menemanimu malam ini.”

Bar meledak.

Meja dipukul.

Gelas diangkat.

Dwarf berteriak-teriak seperti perang baru saja diumumkan.

Dari balik meja bar, Helga hanya menggeleng sambil menyeringai.

“Rubah itu benar-benar tahu cara membuat hiburan.”

Permainan dimulai.

Ronde pertama.

Aman.

Ronde kelima.

Rocky masih tertawa.

Ronde kesepuluh.

Wajahnya mulai merah.

Daji tetap tersenyum sambil memutar gelas kosong di jarinya.

“Masih hidup?”

Rocky cegukan.

“Tentu saja.”

Ronde kelima belas.

Rocky mulai goyah.

Temannya menepuk bahunya.

“Kau bisa, Rocky!”

Daji menatapnya polos.

“Dia sudah melihat tiga diriku atau belum?”

Ronde kedua puluh.

Rocky mengangkat gelas dengan tangan gemetar.

Dwarf-dwarf mulai menghitung keras setiap kali mereka minum.

“DUA PULUH SATU!”

“DUA PULUH DUA!”

Daji tetap santai.

Bagi tubuhnya, alkohol tidak berbeda jauh dari racun.

Dan racun—

tidak berarti apa-apa baginya.

Poison Nullification.

Salah satu keahlian Daji.

Ronde ketiga puluh.

Rocky mengangkat gelas.

Menatap Daji.

Mencoba tersenyum.

Lalu wajahnya memucat.

“Ak… aku…”

Ia jatuh ke belakang sebelum menghabiskan minumannya.

BRAK!

Bar meledak oleh sorakan.

Daji naik ke atas kursi, mengangkat gelas kosong tinggi-tinggi.

“Aku menang.”

Para dwarf meneriakkan namanya.

“DAJI! DAJI! DAJI!”

Tidak butuh waktu lama sebelum Rocky dilucuti sesuai taruhan. Uangnya diambil. Perlengkapannya dikumpulkan. Pakaiannya dilepas sampai ia hanya mengenakan pakaian dalam.

Dua dwarf menyeretnya keluar bar sambil tertawa keras.

Helga berteriak dari balik meja.

“Kurasa kau harus dibayar lebih mahal!”

Daji menepuk dadanya bangga.

“Tentu saja. Aku aset berharga.”

Namun sesaat kemudian, ia teringat Grachius.

Dan membayangkan wajah datarnya.

Itu membuang-buang waktu.

Daji mendecak.

“Dia pasti akan berkata begitu.”

...—...

Setelah keributan itu, bar kembali normal.

Normal versi Baldr.

Tawa.

Gelas beradu.

Cerita bohong para petualang tentang monster sebesar bukit.

Lagu mabuk dwarf yang semakin lama semakin tidak jelas.

Daji kembali bekerja.

Salah satu dwarf mengangkat gelas padanya.

“Kau minum seperti monster!”

Daji tersenyum.

“Aku anggap itu pujian.”

“Itu memang pujian!”

“Bagus. Berarti kau masih punya selera.”

Dwarf lain tertawa.

“Nona Rubah, kalau kau tinggal lebih lama, bar ini akan semakin ramai.”

Daji mengangkat nampan.

“Aku terlalu mahal untuk tempat ini.”

Helga dari jauh langsung berteriak.

“Kau bahkan belum dibayar!”

Daji pura-pura tidak mendengar.

Untuk beberapa saat—

semua terasa ringan.

Hampir menyenangkan.

Lalu pintu bar terbuka keras.

BRAK!

Suara tawa perlahan mati.

Rocky masuk.

Masih memakai pakaian seadanya, wajahnya merah karena malu dan marah.

Di belakangnya berjalan tiga pria besar.

Aura mereka langsung mengubah suasana bar.

Yang pertama paling besar. Tubuhnya seperti dinding hidup, bahunya lebar, lengan tebal seperti batang pohon. Theros.

Yang kedua lebih ramping. Matanya tajam, gerakannya ringan, dan tangan kanannya selalu dekat gagang pedang. Kairos.

Yang ketiga memiliki bahu lebar, rahangnya keras, dan tatapannya agresif seperti banteng yang mencari sesuatu untuk dihancurkan. Darios.

Tresaders.

Tiga bersaudara petualang brutal yang namanya cukup dikenal di Baldr.

Rocky langsung menunjuk Daji.

“Dia orangnya!”

Daji menatap Rocky.

Lalu tersenyum malas.

“Oh. Pecundang datang membawa bekingan nya?”

Beberapa dwarf langsung mengeluarkan suara.

“Ooooh…”

Ada tawa kecil.

Wajah Rocky semakin merah.

Theros melangkah maju.

“Kembalikan semua miliknya.”

Daji menaruh nampan di meja.

“Tidak.”

Kairos menyipitkan mata.

“Dia bilang kau curang.”

“Dia kalah karena tidak tahan minum.”

Rocky berteriak.

“Kau pasti pakai sihir!”

Daji menatapnya datar.

“Aku memakai kemampuan dasar yang bernama 'tidak lemah'.”

Tawa kecil kembali terdengar.

Darios menendang meja di dekatnya.

BRAK!

Meja itu hancur.

Bar langsung sunyi.

Helga melangkah keluar dari balik meja dengan wajah gelap.

“Itu meja mahal.”

Darios menatapnya.

“Diam, dwarf.”

“Kai harus membayarnya.”

Kairos menghunus pedang. Ujungnya bergerak mendekati leher Daji.

“Kau punya mulut tajam.”

Daji tidak mundur.

“Pedangmu terlalu dekat.”

“Takut?”

“Takut kau menggores lantai kalau jatuh.”

Namun sebelum Kairos bergerak, Theros sudah melangkah ke arah Helga.

Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu.

Tangannya mencengkeram leher Helga dan mengangkatnya ke udara.

Beberapa dwarf langsung berdiri.

“Helga!”

Theros menatap Daji.

“Kembalikan barangnya atau dia mati.”

Helga mencengkeram pergelangan tangan Theros, namun cengkeramannya terlalu kuat.

Wajah Daji berubah.

Senyum liciknya hilang.

Matanya menjadi dingin.

“Lepaskan dia.”

Theros menyeringai.

“Ambil sendiri.”

Daji melesat.

Namun Theros langsung mengangkat tubuh Helga sebagai tameng.

Daji menggertakkan gigi, membatalkan serangan di detik terakhir, lalu menangkap tubuh Helga saat Theros melemparnya.

Momentum terlalu besar.

Daji dan Helga terpental menghantam meja.

BRAK!

Daji menahan benturan dengan tubuhnya sendiri.

Helga terbatuk-batuk, namun selamat.

“Kau…”

“Diamlah.” kata Daji pelan.

“Kau berat.”

Helga masih sempat memelototinya.

“Kurang ajar.”

Lalu Kairos muncul dari samping.

Tendangannya menghantam Daji hingga tubuhnya menembus jendela bar.

Kaca pecah.

Daji terlempar ke jalan batu luar.

Langit sore sudah berubah jingga.

Warga mulai berkumpul.

Daji bangkit perlahan.

Dua ekornya bergerak tegang.

Tresaders keluar dari bar.

Theros di depan.

Kairos di samping kanan.

Darios di belakang kiri.

Formasi mereka tertutup.

Daji menyipitkan mata.

Mereka tidak bodoh.

Theros menahan semua serangan dari depan. Kairos menyerang cepat dengan pedang dari celah samping. Darios menghantam dari belakang setiap kali Daji mencoba bergerak terlalu jauh.

Daji bisa mengalahkan satu dari mereka dengan mudah.

Namun bertiga—

mereka seperti satu tubuh.

Rocky berteriak dari belakang.

“Mereka sudah hidup delapan puluh tahun! Sudah berkultivasi lama!”

Daji menghindari tebasan Kairos, lalu membalas.

“Masalahnya bukan mereka kuat!”

Ia menunduk menghindari pukulan Darios.

“Masalahnya mereka tidak sebodoh kau!”

Beberapa penonton tertawa spontan.

Rocky hampir meledak marah.

Namun Daji tidak punya waktu untuk menikmati ejekannya.

Theros menghantamnya dari depan.

Kairos muncul di samping.

Daji menghindar—

namun terlambat.

Kairos menangkap rambutnya.

“Dapat.”

Ia membanting Daji ke jalan batu.

BRAK!

Daji batuk darah.

Pandangan sesaat kabur.

Tiga bersaudara itu berdiri mengelilinginya.

Pedang mereka terangkat bersamaan.

Helga berteriak dari dalam bar.

“DAJI!”

Beberapa dwarf juga berteriak.

Daji mencoba bangkit.

Tubuhnya tidak langsung bergerak.

Jadi… begini?

Pikirannya terasa aneh.

"Hidupku berakhir di kota dwarf… setelah bekerja di bar?"

Pedang turun.

Lalu—

tekanan besar meledak.

BOOM.

Udara menghantam jalan seperti palu tak terlihat.

Theros terpental menghantam gerobak hingga hancur.

Kairos menabrak dinding batu.

Darios terguling beberapa meter, menghantam tanah dengan keras.

Debu naik.

Warga membeku.

Daji membuka mata perlahan.

Di depannya—

seorang pria berdiri.

Rambut putih panjang dengan semburat merah-kuning bergerak pelan dalam sisa tekanan Qi.

Tubuhnya tegak.

Tenang.

Namun aura di sekelilingnya terasa sangat berbahaya.

Grachius.

Ia sedikit menoleh ke arah Daji.

“Sepertinya kau kesulitan.”

Daji menatapnya.

Untuk pertama kalinya, mulutnya tidak langsung menemukan jawaban.

Grachius tersenyum tipis.

“Serahkan sisanya padaku.”

...—...

Beberapa saat sebelumnya—

di kamar penginapan Thorgar Skáli, Grachius membuka mata.

Meditasi tiga harinya selesai.

Qi di tubuhnya terasa berbeda.

Semakin padat.

Semakin tajam.

Semakin terkendali.

Namun sebelum ia benar-benar berdiri, ia merasakan sesuatu.

Qi milik Daji.

Bergejolak.

Kacau.

Penuh tekanan.

Grachius mengernyit sedikit.

“Rubah itu mengamuk?”

Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu tanpa ragu menerobos keluar.

Kaca pecah berhamburan.

Tubuhnya melesat ke udara.

Qi mengangkat tubuhnya, bukan seperti sayap, melainkan tekanan halus yang menopang dan mendorongnya dengan kecepatan tinggi.

Ia mengikuti arah Qi Daji.

Dari atas bar Helga, ia melihat tiga pedang turun ke arah tubuh Daji.

Grachius menukik.

Seperti meteor putih.

Tiga gerakan.

Satu dorongan Qi ke Theros.

Satu hentakan ke Kairos.

Satu pukulan udara ke Darios.

Dan semuanya terpental sebelum pedang mereka menyentuh Daji.

...—...

Kini, jalan depan bar sunyi total.

Helga ternganga.

Rocky pucat seperti mayat.

Para dwarf dan warga menatap Grachius seolah baru pertama kali benar-benar melihatnya.

Tresaders perlahan bangkit dari tempat mereka terlempar.

Wajah mereka murka.

Daji masih duduk di tanah, menatap punggung Grachius.

Pria berambut putih itu berdiri tenang di tengah jalan batu.

Tidak membawa Enjin.

Tidak menaikkan suara.

Namun justru ketenangannya terasa paling berbahaya.

Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Baldr—

semua orang melihatnya.

Dan mereka tahu—

pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!