NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 Polisi Ndalem

Santaka melepas kaus abu-abu yang ia gunakan dan ia lempar begitu saja ke samping kasur. Sang Gus tersenyum dan kembali menyatukan wajahnya dengan Nandini.

Kegiatan setelah tahajud, serangan fajar, namun serangan nanggung. Maklum ada PMI, palang merah istri.

Hembusan hangat Santaka menerpa leher sang istri. Nandini bereaksi dengan suara. Tangan sang gus berusaha mengurangi kain pembatas di antara mereka. Nandini membantunya. Mereka saling tersenyum.

Santaka ini definisi lembut dan kalem ketika di luar kamar. Di dalam kamar, mengaum. Sang istri, kebalikannya, di luar kamar garang, di dalam kamar, mencicit. Efek belum terbiasa dan masih malu juga.

Santaka terpaku melihat pemandangan di depannya ketika kain pembatas tersingkap. “Dhuh sayang, enam hari itu masih lama banget ya.” Santaka menggelengkan kepalanya. Wajah Nandini memerah. Ia tertawa kecil.

Tak buang waktu Santaka langsung berkonsentrasi di sana. Tangan yang biasa menguleni roti itu mencoba kreativitasnya di adonan yang berbeda. Adonan lembut hidup. Suara Nandini kembali terdengar. Dibungkam tautan oleh sang suami.

Suara azan Subuh terdengar. Santaka masih asyik, padahal bukan menu utama. Dasar Gus Roti! 

Nandini mengingatkan suaminya. Santaka terkekeh. Ia melesat ke kamar mandi untuk mandi junub. Walaupun bukan acara inti, ia takut perlu bersuci. Gus itu langsung berlari ke masjid diiringi derai tawa sang istri.

Nandini membuka mulutnya dan menggigit sandwich buatan sang suami. Sudah dibuatkan, disuapi pula. Enaknya jadi Nandini.

Mereka ada di dalam mobil Santaka yang sedang dipanaskan oleh sang istri. Mobil yang digerebek karena salah paham dan membuat mereka terpaksa menikah. Mereka sedang menertawakan kenangan itu dan saling menggoda tipis-tipis.

“Aku mau jujur... Aku ndak nyangka, otot perut Mas, kenceng juga. Kirain kurus lembek.” Nandini tersenyum geli.

“Eh, aku sebelum nikah habis Subuh suka workout. Angkat beban, sit up, push up, pull up. Makanya kenceng.” Santaka menaik-turunkan alisnya sambil menyeringai jenaka.

“Kok, abis nikah ndak pernah lagi?” Nandini mengerutkan alisnya.

“Sibuk nahan diri. Punya istri ndak mau dipegang tapi pahanya ke mana-mana.” Santaka mengulum senyum. Nandini tergelak.

Ahsan berjalan ke arah garasi Ndalem. Langkahnya terhenti begitu mendengar gelak tawa pasutri baru itu. Ia merapatkan bibir dan menggelengkan kepala. Kecewa terhadap pemandangan di dalam ruangan itu. 

Gus muda itu mengira hanya akan melihat Nandini. Ia hanya ingin memandang gadis itu. Dari jauh. Namun pelengkap pemandangan membuatnya muak.

Sepupunya, Santaka, semakin sering beradegan mesra dengan Nandini, seperti saat ini. Ia menjauhi garasi sambil merutuk.

“Jadi belanja sama Ning Sarah?” Santaka membersihkan remah roti di sudut bibir Nandini. Dengan tangan, jangan pikir dengan yang lain.

“Jadi. Mana cuma berdua lagi. Ning Husna diminta Umi nemenin beliau ketemu tamu.” Nandini berdecak. 

Santaka tersenyum simpul. “Baek-baek belanja sama polisi Ndalem.” Nandini terbahak mendengar lelucon suaminya.

*

*

“Bulik Dini, Kia mau berangkat sekolah.” Seorang gadis kecil menyapa Nandini di lorong Ndalem menuju ruang dalam. Zaskia, anak bungsu Sarah.

“Oh iya, Kia. Anak sholihah, cantiknya,” puji Nandini tulus. Sebal pada ayah ibunya boleh, pada anaknya jangan. Gadis kecil itu tak tahu menahu kelakuan orang tuanya.

Zaskia mencium tangan Nandini. Seorang abdi ndalem, perempuan paruh baya, menghampiri. “Ayo Ning Kia, kita berangkat.” Ia menggamit lengan Zaskia.

“Nyuwun pangapunten, Mbak Dini." Sang abdi ndalem membungkukkan badan ketika pamit pada istri Santaka. 

Nandini menganggukkan kepala. Masih berusaha membiasakan diri pada penghormatan semacam itu.

Nandini melanjutkan langkahnya menuju ruang dalam. Ahsan—sang gus berbakat pebinor—menghadang jalannya.

“Assalammu’alaikum Dini, mau ke mana?” Senyum manis Ahsan lemparkan pada istri sepupunya itu.

Nandini terpaksa mengerem. Ahsan ini memang suka mengagetkan dan menabrak aturan. Sudah dilarang mendekati Nandini, masih saja usaha. “Wa’alaikumsalam. Mau ke ruang dalam, Gus.”

Ahsan mengangguk sambil tetap tersenyum. “Din, kamu ndak bosan di Ndalem terus?”

Nandini memiringkan bibirnya. “Maaf Gus, sebaiknya kita jangan ngobrol seperti ini. Inget kan hasil sidang kemaren."

Ahsan memiringkan bibirnya. Ia pikir Nandini bisa tetap bersikap asyik-asyik saja, walaupun ada sidang kemarin. Seperti dulu, zaman di bengkel. Ternyata menjadi istri Santaka, mengubah segalanya. Termasuk sikap Nandini.

“Gus Ahsan, Mbak Dini, kalian sedang apa?” Dahi Sarah berkerut dalam. Sang polisi Ndalem itu menghampiri calon tersangka kesalahan syariat.

Nandini terkesiap. Bisa-bisanya Sarah melihat dirinya mengobrol dengan Ahsan. Berbincang yang ia sendiri tak mau. Hanya karena dihadang. Tahu begitu ia tendang saja tadi Ahsan. Tapi nanti jadi masalah juga. Ah, serba salah.

Ahsan mendengus. “Assalammu’alaikum Ning Sarah. Mau ke mana?” 

“Wa’alaikumsalam. Mau belanja, sama Mbak Dini.” Sarah menelisik Ahsan. Ia tak terlalu menyukai sepupu Abyasa dari sisi Mansur itu. 

Menurut peneropongan Sarah, pemuda itu memiliki sifat yang agak lain dibanding saudara-saudaranya. Agak bebas, secara pemikiran dan sikap.

Bahaya untuk marwah Al Fatih. Dan itu terbukti dengan insiden perseteruannya dengan Santaka kemarin.

“Kalian... ngobrol apa? Kenapa harus berduaan? Kan sudah dibilang ndak boleh! Gimana sih Gus Ahsan?!” Sarah memicingkan mata pada Nandini dan Ahsan. 

Ahsan menipiskan bibirnya. “Oh, Ahsan nanya Mbak Dini, gimana perasaannya setelah sidang kemaren.” Ahsan menggaruk hidungnya. Nandini memutar bola matanya.

“Penting buat Gus Ahsan tau perasaan Mbak Dini? Sekarang sampeyan jadi wartawan Ndalem?” Nandini mengulum senyum. Ning Sarah ini bener-bener polisi Ndalem. Goks memang!

Ahsan gelagapan. “Maaf Ning, kalau kurang berkenan. Ahsan permisi kalau begitu. Sebentar lagi Ahsan harus ngajar.” Ahsan langsung berjalan cepat menjauhi istri Abyasa itu. Pengganggu baginya.

“Jangan senyum-senyum Mbak Dini! Mbak Dini juga samanya, nanggepin Gus Ahsan. Kan sudah dibilang ndak boleh ada interaksi berduaan. Jangan disamakan sama pergaulan Mbak Dini di bengkel waktu dulu ya! 

Sama laki-laki bukan mahrom ya harus ada batasan.” Hidung Sarah kembang kempis karena terlalu semangat bicara.

Nandini menunduk. Iya Ning, aku awam, dari lingkungan bebas. Tapi jangan dimarahin gini juga. Jelas-jelas salah si Ahsan! Kalau ndak inget posisi sampeyan, sudah aku getok pake kunci inggris mulut sampeyan. Nyebelin tenan.

“Iya Ning, tadi itu Gus Ahsan hadang Dini. Dini juga ndak mau ngobrol sama dia. Dini inget nasehat suami Dini kok.”

Sarah mencebik. “Harusnya tadi Mbak Dini, menunduk dan berjalan menjauh pas Gus Ahsan deketin Mbak Dini.” 

“Baik Ning, nanti Dini lari kalau ketemu Gus Ahsan. Ketemu Ning Sarah lari juga ndak harusnya?” Nandini mengulum senyum.

Sarah menggelengkan kepala. Adik iparnya ini kadang bercanda tak pada waktunya. Sedang serius malah ditanggapi candaan. Kebiasaan bergaul sama bapak-bapak bengkel.

“Mbak Dini, kenapa kerudungnya pakai yang ini?” Sarah menatapnya dari atas ke bawah.

“Kenapa tho, Ning? Ini kerudung dari Umi.” Nandini memegang kerudung instan berwarna hitam dari bahan jersey itu.

“Itu... dipakenya kalau depan Gus Taka atau di rumah saja. Jangan buat ke area Ndalem yang ramai apalagi dipakai pergi!” Sarah memiringkan bibir.

“Kenapa memangnya?” Nandini benar-benar tak mengerti maksud Sarah. Kerudung ini memang baru ia pakai. Nandini pikir ini ringkas dipakai berbelanja, dibandingkan kerudung segiempat lebar.

“Bahan kayak gitu jiplak dada, Mbak Dini. Masa nda paham? Tuh lihat sendiri. Pantas Gus Ahsan ngajak ngobrol tadi, biarpun sudah dilarang.” Sarah melirik sinis.

Nandini menunduk dan melihat ke arah yang disebut Sarah. Memang menjiplak, ia tak menyadarinya sebelumnya. Baiklah ia mengaku, kali ini sang polisi Ndalem itu benar. Tapi harusnya tak usah bawa-bawa nama Ahsan.

“Sana ganti, Mbak. Saya tunggu di mobil lima menit lagi. Mobilnya sudah di gerbang. Ayo cepat!” Mata Sarah mendelik. 

...****************...

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!