Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
***
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar terasa jauh lebih terang dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Laras saja yang sedang bergejolak. Hari ini adalah hari yang telah ditandai dengan tinta merah di kalender dinding: hari pertama kursus menjahit profesional di kota.
Sejak pukul lima subuh, Laras sudah terjaga. Ia telah menyiapkan semua kebutuhan Gilang dan Arka, mulai dari seragam sekolah Gilang hingga bekal cemilan Arka. Namun, pusat kegelisahannya adalah boks kecil di sudut kamar tempat Arshaka masih terlelap pulas.
Laras berdiri di depan cermin, merapikan kemeja tunik hijaunya untuk kesekian kali. Tangannya gemetar saat menyematkan jarum pentul pada jilbabnya. Di pantulan cermin, ia melihat Bagas masuk ke kamar sambil menggendong Shaka yang baru saja terbangun dan mulai menggeliat.
"Mas... apa Laras batalkan saja ya?" suara Laras terdengar sangat ragu. Ia berbalik, menatap suaminya dengan tatapan cemas.
Bagas menghentikan langkahnya, ia menatap istrinya dengan senyum tipis yang menenangkan. "Batalkan? Kenapa? Bukannya semalam kamu sudah sangat semangat menyiapkan alat tulis dan metlin?"
"Laras nggak tega, Mas. Shaka masih kecil banget. Gimana kalau dia haus? Gimana kalau dia rewel terus karena Mas nggak bisa menenangkannya? Terus Arka... Arka itu kalau main suka lupa waktu, nanti kalau dia jatuh gimana? Mas kan harus tetap urus balai desa juga," rentetan kekhawatiran itu meluncur begitu saja dari bibir Laras.
Bagas berjalan mendekat, satu tangannya yang bebas merangkul bahu Laras. "Ras, dengar Mas. Mas sudah mengosongkan jadwal rapat sampai jam satu siang. Pak Sekdes sudah tahu kalau Mas akan bekerja dari rumah pagi ini. Soal Shaka, stok ASI di kulkas sudah banyak, kan? Mas sudah belajar pakai pemanas botol semalam."
"Tapi Mas..."
"Nggak ada tapi-tapian, Sayang," potong Bagas lembut namun tegas. "Ini bukan cuma soal belajar menjahit. Ini soal kamu yang berhak punya waktu untuk dirimu sendiri. Kamu sudah lima tahun memberikan 24 jam setiap harinya untuk Mas dan anak-anak. Sekarang, berikan empat jam saja untuk mimpimu. Mas janji, dunia nggak akan runtuh dalam empat jam."
Laras menghela napas panjang. Ia mencium pipi Shaka dengan sangat lama, seolah-olah akan pergi ke luar negeri selama bertahun-tahun. "Maafin Mamah ya, Dek. Mamah pergi sebentar saja."
**
Sepanjang perjalanan di dalam angkutan kota yang membawanya ke lembaga kursus, pikiran Laras sama sekali tidak berada di jalanan. Ia terus meremas tasnya, berkali-kali membuka layar ponselnya hanya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari Bagas.
Sesampainya di ruang kelas yang dipenuhi oleh manekin dan deru mesin jahit, Laras merasa seperti orang asing. Di sekelilingnya, banyak wanita muda dan beberapa ibu yang tampak sangat percaya diri. Guru kursus, seorang wanita paruh baya bernama Bu Linda, mulai memberikan penjelasan tentang teknik dasar pola.
Laras mencoba fokus. Ia membuka buku catatannya, namun setiap kali ia memegang pensil, wajah Shaka yang menangis terbayang-bayang di benaknya.
Apakah Bagas ingat mengganti popoknya? Apakah Gilang tidak menjahili Arka?
"Ibu Larasati?" panggil Bu Linda lembut.
Laras tersentak. "I-iya, Bu?"
"Garis kerungnya agak miring sedikit. Fokus ya, Bu. Konsentrasi adalah kunci utama dalam memotong pola," tegur Bu Linda ramah.
"Maaf, Bu," Laras tertunduk. Tangannya terasa dingin. Ia benar-benar merasa ingin berdiri, meminta maaf, dan berlari pulang. Ia merasa menjadi ibu yang egois. Di titik itu, ego dan rasa bersalahnya sedang berperang hebat.
****
Bersambung
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.