Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ta'aruf obat hati
Lova sebal, kenapa harus ada kenangan yang terselip. Baginya, kisahnya dan Afnan telah usai, semua perjuangan cintanya dulu....bahkan ia tak ingat jika pernah membuat begitu banyaknya surat cinta untuk Afnan, jujur saja...malu!
Sama-sama diam, menatap lurus tapi obrolan itu belum berakhir. Bersama suara hati dan otak masing-masing yang berisik. Oh tentu saja! Keduanya belum menemukan titik terang penyelesaian masalah pertama di hubungan mereka. Benar, ini mungkin akan menjadi masalah pertama yang menguji hubungan mereka.
Tangan Lova masih mere mas, dengan keringat yang mendadak membuat kertasnya jadi sedikit lepek, mata berkaca-kaca dengan bibir melengkung menyesali keputusan salahnya. Hatinya sudah ngomel-ngomel menyalahkan dirinya sendiri.
Tak ada lagi pembelaan yang Lova berikan saat ini, sempat membuka mulutnya, tapi ia tau jika itu akan sia-sia, yang ada justru semakin membuatnya terlihat salah dan bodoh di mata Afif.
Cukup lama hening itu membawa keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, pikiran saling menduga-duga hingga akhirnya Afif buka suara menyudahi kebisuan diantara mereka. Ia menghela nafasnya dalam setelah berusaha mengenyahkan sikap kekanakannya barusan yang lepas tak terkontrol, melepaskan beban yang beresiko membuat kepalanya migren lagi, "saya harap kamu cukup dewasa untuk paham dengan posisi dan status sekarang, Va..."
Katanya barusan memantik lirikan dan atensi Lova.
"Jika apa yang kamu katakan barusan bukan satu kebohongan lainnya---" oke, ia saklek, padanan kata yang dipilih cukup jelas, tegas namun tak menyudutkan, mungkin.
Lova menggeleng cepat demi menolak. Tak ada kebohongan lainnya, ia harap Afif percaya.
Ia kini belajar jika sebuah hubungan itu harus didasari kejujuran, oke poin pernikahan pertama yang ia pahami.
"Jadikan ta'aruf sebagai obat hati. Ijinkan hubungan pernikahan ini, menghapus nama lama tanpa menghapus perasaannya..."
Tentu saja Lova mengangguk dengan cepat macam kakak tua, dengan senyuman yang mulai melebar.
"Sematkan nama saya di setiap do'a dalam sujudmu."
Ada senyuman lebar gigi kelinci yang ia tunjukan lalu menubruk dada Afif, "maaf." Lagi-lagi itu yang Lova katakan, "cuma ngga mau mas mikir yang engga-engga awalnya."
"Sudah kejadian. Saya udah mikir yang engga-engga." Jawab Afif ketus justru membuat Lova tertawa renyah, "untung aku nikahin cowok mateng yang kalo bikin keputusan ngga menurut emosi." Benar, betapa beruntungnya ia.
"Tapi mas--- kalo bisa, marahnya jangan cuma senyum atau berlagak tenang kaya tadi, justru itu bikin aku makin ngga enak. Biasanya juga ketus, judes, penuh intimidasi. Lebih gampang buat aku bujuknya...kalo kaya tadi aku bingung gimana cara ngomongnya..."
Berusaha terbuka dan demokratis, begitulah model hubungan pernikahan yang akan dibangun mereka ke depannya.
Afif menarik alisnya sebelah, "jadi kamu lebih suka pake cara kekerasan?"
"Ya engga gitu juga, mas."
"Tadi, lebih milih dijutekin, dimarahin, digalakin?"
"Ya intinya kalo mas ada ngga enak sama aku. Kalo aku punya salah langsung aja ditegur...jangan dibikin aku clueless sendiri, ujung-ujungnya aku ngga sadar kalo mas tuh kenapa..."
Afif mengangguk dengan senyum damai. Seolah eye contact telah menjadi bahasa cinta keduanya, dua pasang mata itu saling memandang tanpa jengah, sampai....
Alis Lova berkedut. Menyadari dengan ekspresi Lova, Afif bertanya, "kenapa?"
"Nunduk deh sebentar ..." pintanya, satu tangan terlepas memeluk Afif untuk meraih sesuatu di kepala sang suami, nut!
Afif mengernyit merasakan satu helai rambutnya dicabut Lova.
"Mas uban."
Cukup terkejut dan tak percaya, Afif menatap dengan seksama sehelai rambut putih yang baru saja dicabut Lova, "ah masa sih?" Rasanya usianya belum terlalu tua, tapi---bukti tak bisa ia elak lagi.
Lova tertawa, "haha, uban pertama apa udah ada sebelumnya?"
"Belum, belum pernah..." gelengnya memancing usil dari diri Lova, "wahh uban pertama. Mandi kembang, mas....suami aku udah tua rupanya." Seloroh Lova justru membuat wajah Afif mencebik.
"Canda, mas sayang..." ia kembali menyarangkan kepalanya di dada Afif. Andai Lova bisa melihat, hidung Afif yang mengembang persis lubang goa sekarang.
Rema san kertas itu tak berarti apapun, bahkan kini sudah Lova buang entah kemana. Afif menarik gorden agar lebih tertutup khawatir jika aksi mereka memantik rasa jijik dan malu penumpang atau petugas yang lalu lalang. Benar, Lova yang tadi bilang merasa engap dan sesak, justru orang yang saat ini sudah memeluknya macam guling.
Kakinya naik bertumpu menin dih kaki Afif, sementara tangannya memeluk bebas. Ada tawa kecil yang sesekali menghiasi interaksi mereka saat ini, hingga akhirnya suara cicitan roda berputar membawa suara empuk khas petugas PO bus yang mengantarkan menu layanan makan siang.
"Kamunya awas dulu, mas turunin seat kakinya dulu biar duduknya enak."
Lova turun sejenak, membiarkan Afif yang melakukan itu untuknya, tanpa harus berusaha payah ikut melakukannya sendiri. Ia benar-benar dimanjakan sejak awal menikah.
Suara empuk dari arah depan memberitahukan jika bus akan berhenti tepat di km 166 untuk beristirahat, membuat Afif memutuskan untuk mengajak Lova turun, "Dzuhur dulu sebentar sambil lurusin kaki. Siapa tau ada yang mau dibeli atau cuci mata?" ajaknya diangguki Lova.
"Ini barang-barang, aman kan mas?" tanya Lova bersiap meninggalkan seat mereka sembari menenteng mukena travelnya dan memakai kembali sepatu.
"Aman, insyaallah." Melewati beberapa seat yang beberapa penghuninya justru memilih diam saja di seat mereka, bahkan ada juga yang senyap dengan dengkuran halus Lova melewatinya begitu saja.
Ada hawa panas sekaligus angin yang bertiup, suasana ramai dengan aktivitas tinggi.
Km 166
Pujasera---Jagonya ayam---Bintang'bucks--- Masjid SBI.
Papan penunjuk arah tepat berada di area utama dan paling awal. Tangannya digusur Afif untuk mengayunkan langkah ke tujuan utama, rumah Allah...
Masjid megah dengan interior modern dan desain bata Terakota Majalengka plus dinding kaca estetik menjadi keunikan tersendiri masjid yang dapat menampung 1500 jemaah ini. Menjadi sangat difavoritkan para pelancong terutama orang-orang yang akan pergi ke arah Jawa Timur dan Jawa Tengah masjid ini memiliki arena bermain anak, penitipan barang gratis dan parkiran luas.
"Nanti siapa yang duluan nunggu disini," ucap Afif diangguki Lova berpisah di depan tepat sebelum keduanya mengambil air wudhu.
/
Rambut yang segar terbasahi air wudhu membingkai wajah tegas nan tampan di usia matangnya. Ia menunggu Lova, tepat di tempat batas suci, tempat terakhir mereka berpisah.
Lova kembali tersenyum, ia menepati janji, menunggunya disana.
"Biasanya istirahatnya berapa lama?" tanya Lova memantik Afif untuk melirik arloji, "sejam-am paling, nunggu sopirnya makan. Mau jajan?"
Tentu saja, Lova mengangguk di usia yang bukan lagi balita Lova masih suka jajan, "tadi aku liat pujasera disana. Ada cemilan..."
Mereka belum sampai di tempat tujuan, tapi moment manis sudah mereka ciptakan dengan Lova yang merasa nyaman, Afif begitu mengayomi, melindungi dan membimbingnya.
MIPA kecehhh
(Bu Anglia) mengirimkan sebuah link pdf. jadwal try out anak-anak kelas ibu.
(Eza) Siap Bu.
(Alika) makasih Bu.
(Hana) siap Bu, makasih infonya.
Alika
Va, udah baca jadwal TO belum? Coba cek...kamu bareng Afnan, satu sesi?
.
.
.
.
tapiii itu dah terlambat 😂😂
masih mending dibilang kunti, gk dibilang wewe gombel
nggak denger....
anggep angin kentutt va....