“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan di Ujung Tinta Merah
Sisa-sisa aroma mawar dan lilin terapi di kamar villa mewah Paris itu mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Ceisya. Padahal, hanya beberapa menit yang lalu, ia baru saja mencicipi secuil kedamaian luar biasa di balik dekapan hangat Kaelthas. Namun, layar tablet yang menyala di kegelapan dengan barisan kode Arab gundul itu seolah-olah tangan gaib yang merenggut paksa sukmanya kembali ke realita yang kejam.
Ceisya terpaku. Matanya yang jernih menatap barisan kalimat yang merayap di layar seperti ular berbisa:
"Ukhti... Gerbang pulang sudah dibuka, namun harganya adalah nyawa pria yang kau cintai. Darah harus dibayar darah, dimensi harus ditukar nyawa."
Tangan Ceisya gemetar hebat. Kalimat itu bukan sekadar ancaman kosong dari musuh bisnis Kaelthas; itu adalah belati yang menghujam tepat ke jantung identitasnya sebagai musafir antar dimensi. Pilihan untuk kembali ke kehidupannya yang tenang di pesantren, jauh dari desingan peluru, bau mesiu, dan pengkhianatan berdarah, kini terbentang lebar di depan mata. Namun, harganya adalah nyawa Kaelthas Virelion—pria yang baru saja membisikkan dengan suara parau bahwa ia mencintai jiwa Ceisya, bukan sekadar raga Ceisyra yang ia pinjam.
"Kenapa diam, Sayang? Kau kedinginan?"
Suara berat dan rendah itu memecah keheningan yang mencekam. Kaelthas terbangun dari tidur singkatnya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu ek berukir, menunjukkan dadanya yang bidang dengan sisa-sisa bekas luka goresan dari pertempuran di pesta Versailles semalam. Tanpa menunggu jawaban, Kaelthas menarik Ceisya kembali ke dalam dekapannya. Posisinya begitu posesif; ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Ceisya, menghirup aroma vanila yang selalu menjadi candunya, seolah-olah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Ceisya buru-buru mencoba mematikan layar tabletnya dengan gerakan panik, namun ia kalah cepat. Mata elang Kaelthas yang tajam dan selalu waspada sudah menangkap kilatan cahaya biru dari perangkat tersebut.
"Apa itu?" tanya Kaelthas. Suaranya berubah seketika, dari lembut menjadi sedingin es yang mampu membekukan aliran darah. Ia merampas tablet itu dari tangan Ceisya dengan gerakan mutlak yang tidak bisa dibantah.
"Kael, jangan! Itu tidak penting—"
"Segala hal yang membuatmu gemetar seperti ini adalah urusanku, Ceisyra!" geram Kaelthas.
Kaelthas menatap layar yang kini menampilkan barisan kode asing bagi dunianya. Meski ia tidak mengerti satu huruf pun dari Arab gundul tersebut, insting predatornya bisa merasakan aura kegelapan dari sistem yang berhasil menembus pertahanan peretasan istrinya yang legendaris. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol penuh amarah.
"Siapa yang mengirim ini? Dan kenapa wajahmu sepucat mayat, Sayang?" Kaelthas memutar tubuh Ceisya hingga mereka berhadapan. Matanya mengunci mata Ceisya, memaksa wanita itu memberikan kejujuran.
Ceisya menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia tahu tidak ada gunanya berbohong pada pria yang menguasai jaringan intelijen dunia ini. "Itu adalah kode rahasia dari duniaku yang asli, Kael. Seseorang menawarkan jalan pulang untukku. Tapi mereka meminta bayaran yang tidak masuk akal."
"Bayaran apa?" desis Kaelthas, tangannya merambat ke tengkuk Ceisya, mencengkeramnya dengan lembut namun penuh otoritas.
"Nyawamu, Kael. Mereka menginginkan nyawamu sebagai mahar untuk membuka gerbang dimensi itu."
Keheningan yang jauh lebih mencekam dari sebelumnya kini menyelimuti ruangan. Ceisya mengira Kaelthas akan marah atau mungkin ketakutan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kaelthas tertawa rendah—sebuah tawa dingin yang terdengar sangat berbahaya, tawa yang biasa ia keluarkan sebelum menghabisi nyawa musuh-musuhnya.
"Pulang?" Kaelthas menarik rahang Ceisya agar menatap tepat ke dalam matanya yang kini berkilat merah penuh obsesi. Ia menunduk, menyesap bibir Ceisya sekilas dengan sangat kasar, meninggalkan rasa panas yang membara. "Tidak akan ada jalan pulang bagimu, Ceisyra. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya. Kau sudah masuk ke duniaku, kau sudah menjadi canduku yang paling mematikan, dan aku tidak akan membiarkan takdir, Tuhan, atau setan mana pun membawamu pergi dariku!"
Kaelthas mencium bibir Ceisya lagi, kali ini lebih lama dan lebih menuntut, seolah ia sedang menyedot seluruh keinginan Ceisya untuk pergi. "Jika mereka menginginkan nyawaku, biarkan mereka datang. Aku akan membakar gerbang mereka, menghancurkan dimensi mereka, sebelum kau sempat melangkah satu senti pun menjauh dariku. Kau adalah milikku, seutuhnya."
Perintah Sang Penguasa
Aura di kamar itu berubah total. Kaelthas segera melompat dari ranjang, mengenakan jubah sutra hitamnya, dan menyambar ponsel satelit yang tergeletak di meja rias. Ia menghubungi Guntur dengan nada perintah yang tidak menerima bantahan.
"Guntur! Bangunkan semua tim taktis sekarang juga! Lacak koordinat yang baru saja menyusup ke sistem tablet Ceisyra. Aku tidak peduli jika sinyal itu berasal dari tengah Samudra Atlantik atau dari dasar neraka sekalipun, aku ingin titik pastinya dalam lima menit! Siapkan jet pribadi di Le Bourget dalam satu jam!"
Kaelthas berbalik, matanya masih terpaku pada Ceisya yang kini berdiri di pinggir ranjang.
Ceisya mengambil jilbab instan hitamnya, memakainya dengan gerakan mantap yang menunjukkan sisi ketangguhannya sebagai santriwati. Sifat "tengil" dan beraninya yang sempat redup kini bangkit kembali. Ia tidak akan duduk diam menjadi penonton dalam perang yang melibatkan namanya.
"Aku ikut, Kael. Jangan coba-kira kau bisa mengurungku di villa ini seperti burung dalam sangkar emas," ucap Ceisya sambil mengikat tali sepatunya. "Jika kau berani meninggalkanku, aku bersumpah akan meretas seluruh sistem navigasi jetmu sampai kau mendarat di kutub utara, bukan di koordinat musuh!"
Kaelthas tertegun sejenak, lalu sebuah seringai bangga muncul di wajah tampannya yang dingin. Ia menghampiri Ceisya, menarik pinggang istrinya hingga menempel pada tubuhnya, dan mengecup keningnya dengan penuh proteksi. "Itu baru bidadariku. Istri seorang Virelion tidak diciptakan untuk bersembunyi. Pakai pakaian taktis-mu yang paling nyaman, Sayang. Kita akan menunjukkan pada mereka bahwa bermain-main dengan masa lalu seorang santriwati adalah kesalahan terbesar yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka."
Obsesi yang Tak Terkendali
Selama persiapan yang kilat itu, Kaelthas benar-benar tidak bisa jauh dari Ceisya. Saat Ceisya sedang memeriksa laptopnya untuk memperkuat pertahanan firewall, Kaelthas berdiri tepat di belakangnya, tangannya sesekali merayap ke bahu Ceisya atau menciumi puncak kepalanya.
"Kael, fokuslah. Aku sedang melacak mereka," protes Ceisya dengan wajah memerah.
"Aku sangat fokus, Ceisyra. Fokus memastikan bahwa setiap hela napasmu masih berada di bawah jangkauanku," sahut Kaelthas parau. Ia kembali menunduk, menciumi leher Ceisya dengan sangat posesif. Bagi Kaelthas, ancaman "pulang" ini benar-benar memicu kegilaannya. Ia merasa harus terus menyentuh Ceisya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu tidak akan menguap menjadi cahaya dan kembali ke dunianya.
Ceisya menghela napas, ia tahu berdebat dengan Kaelthas yang sedang dalam mode obsesif adalah sia-sia. Ia membiarkan suaminya bermanja secara brutal, sementara tangannya terus menari di atas keyboard. "Dapet! Kael, sinyalnya mengarah ke sebuah pulau pribadi yang tidak terpetakan di lepas pantai Portugal. Pulau Von Heist."
Mendengar nama itu, rahang Kaelthas mengeras. "Von Heist... jadi Sebastian dan Clarisse bersembunyi di sana. Mereka benar-benar ingin bermain dengan api."
Satu jam kemudian, saat mereka sedang bersiap menuju pangkalan udara, pintu kamar villa diketuk dengan keras. Guntur masuk dengan wajah yang jauh lebih pucat dari biasanya. Tangannya memegang sebuah kotak kayu tua yang tampak sangat kuno, dengan bau tanah yang menyengat.
"Tuan... Nona... ada kiriman lagi di depan gerbang. Penjaganya tidak melihat siapa yang meletakkannya. Tapi kali ini... ini bukan kode digital."
Kaelthas mengambil kotak itu dengan waspada. Begitu tutupnya dibuka, Ceisya nyaris jatuh pingsan jika Kaelthas tidak segera menangkap pinggangnya.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah tasbih kayu yang sangat ia kenali. Tasbih dengan ukiran unik di setiap butirnya—tasbih milik Abah Kyai, gurunya yang paling ia hormati di pesantren dunia nyata. Namun, pemandangan itu mengerikan; tasbih itu berlumuran darah segar yang masih beraroma amis, seolah-olah baru saja direnggut paksa dari pemiliknya.
Dan di bawah tasbih itu, terdapat sebuah foto polaroid. Foto itu menampilkan sebuah makam di dunia nyata yang batu nisannya bertuliskan nama "Ceisya Ar-Zahra". Makam itu telah dibongkar paksa, tanahnya berserakan, dan lubangnya menganga gelap.
"Mereka... mereka benar-benar bisa menyentuh duniaku, Kael..." bisik Ceisya lemas. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Abah Kyai... apa mereka menyakitinya?"
Kemarahan Kaelthas mencapai titik puncaknya. Ia mengambil tasbih itu dan meremasnya dalam kepalan tangannya hingga kayu-kayunya yang keras terdengar berderak retak. Matanya berkilat merah, memancarkan aura kegilaan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
"Mereka sudah melintasi batas yang salah," desis Kaelthas. Ia menoleh pada Guntur dengan tatapan maut. "Batalkan rencana pengintaian. Kita akan berangkat untuk pembantaian! Siapkan seluruh armada Virelion! Aku ingin Pulau Von Heist rata dengan tanah sebelum matahari terbit!"
Kaelthas kembali menarik Ceisya ke dalam pelukannya, mencium bibir istrinya dengan sangat liar dan menuntut, seolah sedang menyalurkan seluruh dendam dan janji perlindungan. "Jangan menangis, Bidadariku. Siapa pun yang menyentuh makammu atau menyakiti gurumu, aku bersumpah akan membuat mereka memohon kematian sebagai hadiah terindah."
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca