NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gendis Menantang Maut (dan Hantu)

Palermo tidak pernah sesunyi ini. Setelah debu dari kehancuran Pietro di dermaga tua mulai mengendap, sebuah ketenangan semu menyelimuti kediaman Vittorio. Namun, bagi Gendis, kesunyian itu justru terdengar seperti jeritan. Sejak kepulangan mereka dari Dermaga 13, mata batinnya tidak bisa berhenti berdenyut. Ada frekuensi tinggi yang terus berdenging di telinganya, sebuah sinyal bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar dendam keluarga.

​"Kak Kaivan, jangan keluar hari ini," ucap Gendis pelan saat mereka sedang sarapan di balkon.

​Kaivan, yang sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan intelijen terbaru tentang sisa-sisa pengikut Moretti, mendongak. "Aku harus ke markas besar, Gendis. Ada transisi kekuasaan yang harus kupastikan berjalan mulus setelah kematian Pietro. Kenapa? Apa kau melihat sesuatu lagi?"

​Gendis mengaduk-aduk nasi goreng buatannya dengan lesu. "Bukan liat lagi, Kak. Tapi ngerasa. Hari ini... maut lagi jalan-jalan di sekitar sini. Dia nggak bawa sabit, tapi bawa jaring besar. Dan jaring itu diarahkan tepat ke arah mobil Kakak."

​Kaivan terdiam sejenak. Ia menatap mata Gendis yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah mata gadis itu menceritakan betapa berat beban yang ia pikul sebagai "radar" gaib sang Raja Mafia. Kaivan mengulurkan tangannya, mengusap pipi Gendis lembut.

​"Aku akan membawa dua tim pengawal tambahan, Gendis. Aku akan memakai rompi antipeluru terbaik. Aku janji akan kembali untuk makan malam," ucap Kaivan berusaha menenangkan.

​Gendis menggeleng keras. "Nggak cukup, Kak! Ini bukan maut biasa. Ini Morte Nera—Kematian Hitam. Sisa-sisa sihir Pietro yang belum hancur sudah menyatu dengan dendam Moretti yang terakhir. Mereka nggak mau bunuh Kakak pakai peluru, mereka mau 'nukar' nyawa Kakak."

​"Maksudmu?"

​"Ada ritual yang lagi berjalan sekarang di sebuah kapel tua di puncak bukit. Mereka pakai foto Kakak dan darah pengkhianat untuk narik roh Kakak keluar dari tubuh. Kalau itu terjadi, Kakak bakal koma selamanya, dan tubuh Kakak bakal diisi sama... sesuatu yang lain."

​Kaivan meletakkan cangkir kopinya. Wajahnya mengeras. "Di mana tempatnya?"

​"Kakak nggak bisa ke sana. Begitu Kakak mendekat ke area kapel itu, frekuensi jantung Kakak bakal langsung disinkronkan sama ritualnya. Kakak bakal mati sebelum nyampe pintu," Gendis berdiri dengan tegas. "Cuma saya yang bisa ke sana. Karena saya nggak punya 'kontrak' darah dengan tanah ini."

​"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menantang maut sendirian!" bentak Kaivan, suaranya menggelegar di balkon.

​"Kak, dengerin!" Gendis balas berteriak, matanya berkaca-kaca. "Selama ini Kakak ngelindungin saya dari peluru. Sekarang, giliran saya ngelindungin jiwa Kakak. Ini bukan soal senjata, ini soal batin. Kalau Kakak ikut, kita berdua yang bakal mati."

Tanpa persetujuan penuh dari Kaivan—namun dengan kawalan Marco yang diperintahkan untuk menjaganya dari jarak satu kilometer—Gendis berangkat menuju Kapel San Sangue. Kapel itu adalah reruntuhan kuno yang sudah lama ditinggalkan karena dianggap sebagai tempat terkutuk.

​Gendis hanya membawa tas ransel bututnya. Di dalamnya terdapat senjata pamungkasnya: seikat sapu lidi yang baru, garam kasar, sebotol air doa, dan sebuah foto Kaivan yang ia peluk erat di dadanya.

​"Nona, Anda yakin?" tanya Marco melalui alat komunikasi di telinga Gendis saat gadis itu mulai mendaki jalan setapak sendirian.

​"Yakin nggak yakin harus yakin, Bang Marco. Doain aja saya nggak pulang tinggal nama," jawab Gendis dengan suara bergetar namun penuh tekad.

​Semakin tinggi ia mendaki, udara semakin terasa berat. Gendis merasa seperti sedang berjalan di dalam lumpur hisap. Di mata indigonya, pepohonan di sekitar jalan itu tampak seperti tangan-tangan hitam yang mencoba menggapainya. Suara bisikan dalam bahasa Italia kuno memenuhi kepalanya, mencoba menghentikan langkahnya.

​"Vattene, ragazzina... questa anima appartiene a noi..." (Pergi, gadis kecil... jiwa ini milik kami...)

​"Berisik!" teriak Gendis sambil menaburkan garam di sepanjang jalan yang ia lalui. "Gue nggak ngerti bahasa lu! Mending lu minggir sebelum gue siram pakai air doa!"

​Sesampainya di depan kapel, Gendis melihat pemandangan yang mengerikan. Lima orang pria berjubah hitam sedang duduk melingkari sebuah meja batu. Di atas meja itu, foto Kaivan diletakkan di tengah lingkaran darah yang masih segar. Seorang dukun hitam kiriman Moretti berdiri di tengah, merapalkan mantra kutukan yang membuat udara di sekitar kapel berdenyut merah gelap.

​"HENTIKAN!" teriak Gendis, melangkah masuk ke dalam kapel dengan berani.

​Para pemuja itu menoleh. Sang dukun hitam tersenyum licik, menampakkan gigi-giginya yang hitam. "Gadis indigo dari Timur... kau datang untuk menyerahkan nyawamu juga?"

​"Saya dateng buat ambil kembali apa yang bukan milik kalian!" Gendis mengeluarkan sapu lidinya.

Sang dukun hitam mengangkat tangannya, dan tiba-tiba sekumpulan hantu prajurit bayangan muncul dari lantai kapel, mengepung Gendis. Hantu-hantu ini berbeda dengan yang pernah dihadapi Gendis sebelumnya; mereka adalah arwah yang sudah "dimasak" dengan kebencian murni.

​Gendis mulai beraksi. Ia memutar sapu lidinya di atas kepala. "Saking kersane Gusti, saking pitulungane leluhur! Minggir kalian semua!"

​Setiap kali lidi Gendis menyentuh bayangan itu, terjadi ledakan cahaya emas yang terang. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Gendis mulai terengah-engah. Salah satu bayangan berhasil mencakar lengannya, membuat Gendis meringis kesakitan.

​"Gendis! Apa yang terjadi di sana?!" suara Kaivan terdengar dari intercom. Ternyata Kaivan tidak bisa tinggal diam; ia berada di kaki bukit, mendengarkan semua kekacauan itu melalui mikrofon Marco.

​"Kak... jangan ke sini! Tetap di sana!" teriak Gendis sambil menangkis serangan bayangan lain.

​Sang dukun hitam mulai mempercepat mantranya. Di atas meja batu, foto Kaivan mulai terbakar secara perlahan oleh api hitam. Di kaki bukit, Kaivan tiba-tiba terjatuh, memegangi dadanya yang terasa seperti diremas oleh tangan besi.

​"Tuan! Tuan Kaivan!" teriak Marco panik.

​Gendis melihat foto itu mulai hangus. Ia tahu waktunya tinggal sedikit. Dengan nekat, ia menerobos kepungan bayangan, mengabaikan luka-luka di tubuhnya.

​"Makan nih, Dukun Palsu!" Gendis melemparkan seluruh botol air doanya tepat ke arah lingkaran darah di meja batu.

​PYAAR!

​Air itu menetralkan lingkaran darah, menciptakan asap putih yang berbau suci. Mantra sang dukun terputus. Bayangan-bayangan di sekitar Gendis lenyap seketika.

​Namun, sang dukun hitam tidak tinggal diam. Ia menerjang Gendis dengan pisau ritualnya. Gendis mencoba menghindar, namun ia tersudut di dinding kapel.

​"Sekarang kau mati, Gadis Indigo!" dukun itu mengayunkan pisaunya.

​Tiba-tiba, sebuah peluru melesat masuk dari jendela kapel yang hancur, mengenai bahu sang dukun hingga ia terpental.

​Kaivan Vittorio berdiri di ambang pintu kapel. Wajahnya pucat pasi, napasnya berat, namun matanya memancarkan amarah yang bisa membakar seluruh Sisilia. Ia tidak peduli pada peringatan Gendis. Saat ia merasakan jiwanya mulai ditarik, ia memaksa tubuhnya untuk bergerak, mendaki bukit itu dengan sisa kekuatannya hanya untuk menyelamatkan gadisnya.

​"Sudah kukatakan... jangan menyentuhnya," geram Kaivan.

​Kaivan menembakkan sisa magasinnya ke arah para pemuja berjubah hitam yang mencoba menyerangnya. Sementara itu, Gendis memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut foto Kaivan yang nyaris habis terbakar.

​"Gendis, menyingkir!" Kaivan menerjang sang dukun hitam yang mencoba bangkit.

​Baku hantam pecah antara sang Raja Mafia dan sang dukun sihir. Kaivan bertarung dengan teknik bela diri yang mematikan, namun sang dukun menggunakan energi hitam untuk memperkuat pukulannya.

​Gendis melihat bahwa sang dukun menarik kekuatannya dari sebuah jimat yang tergantung di lehernya. "Kak! Hancurin kalungnya! Itu sumber kekuatannya!"

​Kaivan menangkap leher sang dukun, menjatuhkannya ke lantai, dan dengan satu sentakan keras, ia merenggut kalung itu. Tanpa ragu, Kaivan menghancurkan jimat tersebut dengan tumit sepatunya.

​CRAAAAK!

​Ledakan energi hitam keluar dari jimat yang hancur, melemparkan Kaivan dan sang dukun ke arah yang berlawanan. Sang dukun hitam berteriak saat tubuhnya mulai mengerut dan berubah menjadi debu, dikonsumsi oleh kekuatan gelap yang selama ini ia puja.

Suasana kapel mendadak hening. Kabut merah yang tadi menyelimuti tempat itu hilang, digantikan oleh cahaya matahari pagi yang menembus celah-celah atap yang bocor.

​Kaivan tergeletak di lantai, napasnya tersengal-sengal. Gendis segera merangkak mendekatinya.

​"Kak... Kak Kaivan! Bangun!" Gendis memeluk kepala Kaivan, air matanya jatuh membasahi wajah pria itu.

​Kaivan perlahan membuka matanya. Rasa sakit di dadanya hilang. Ia melihat Gendis yang penuh luka dan debu, namun tetap terlihat seperti malaikat baginya. "Kau... kau benar-benar menantang maut untukku, Gendis."

​"Kan saya sudah bilang, saya nggak mau punya bos robot," isak Gendis. "Lain kali kalau saya bilang jangan keluar, ya jangan keluar! Untung kakek buyut Kakak tadi bantuin nahan 'pintu' ruh Kakak supaya nggak kebuka penuh."

​Kaivan tersenyum lemah. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya yang beraroma debu dan kemenyan. "Maafkan aku. Aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi kegelapan sendirian."

​Marco dan timnya masuk ke dalam kapel, langsung mengamankan area. Marco menatap Kaivan dan Gendis yang masih berpelukan di tengah reruntuhan dengan perasaan haru yang luar biasa.

​"Tuan, mobil medis sudah di bawah," ucap Marco pelan.

​Kaivan berdiri, menggendong Gendis di lengannya. Gadis itu sudah terlalu lemas untuk berjalan. "Kita pulang, Marco. Dan hancurkan kapel ini. Jangan biarkan ada satu batu pun yang tersisa dari tempat ini."

​Saat mereka turun dari bukit, Gendis menatap ke arah langit yang kini cerah. Di antara pepohonan, ia melihat siluet Don Alessandro yang sedang melambaikan tangan, memberikan tanda bahwa tugas mereka hari ini telah usai dengan kemenangan mutlak.

​"Kak," bisik Gendis di pelukan Kaivan.

​"Ya?"

​"Nanti di rumah... saya mau makan mi instan pakai telur dua. Sama bakso yang banyak cabainya. Biar trauma saya hilang."

​Kaivan terkekeh, suaranya terdengar sangat lega. "Apapun yang kau mau, Gendis. Bahkan jika kau mau aku mengimpor seluruh pabrik mi instan ke Palermo, akan kulakukan."

​Hari itu, Gendis memang menantang maut. Namun ia membuktikan bahwa di dunia yang penuh dengan peluru dan sihir gelap, ada satu kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh kutukan manapun: kekuatan dari sebuah pengabdian yang tulus dan cinta yang tumbuh di antara dua jiwa yang saling menyelamatkan.

​Sang Raja Mafia tidak lagi hanya memiliki pengikut yang takut padanya. Ia kini memiliki seorang pelindung batin yang akan selalu menjaganya dari sisi yang tidak bisa disentuh oleh senjata api manapun. Dan bagi Kaivan Vittorio, itu adalah kekayaan yang jauh lebih berharga daripada seluruh emas di brankas Vittorio.

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!