karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPULANGNYA KEY DARI RUMAH SAKIT AYAHNYA MARAH BESAR KEPADA KEY
Sepulangnya Key dari rumah sakit, tubuhnya memang sudah sedikit membaik, tapi luka di hatinya masih menganga. Dengan langkah pelan dan tubuh yang masih lemah, ia akhirnya memberanikan diri pulang ke rumah ayahnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman… tapi entah sejak kapan terasa begitu asing.
Pintu rumah terbuka saat Key masuk. Suasana di dalam tampak sunyi, namun ketegangan terasa begitu pekat, seolah sesuatu sudah menunggu kedatangannya.
“Key?” suara berat ayahnya terdengar dari ruang tengah.
Key menelan ludah. “Iya, Yah… aku pulang…”
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, ayahnya sudah berdiri di hadapannya. Wajah pria itu bukan menunjukkan kekhawatiran—melainkan kemarahan yang jelas terlihat.
“Kamu dari mana saja?” tanyanya tajam.
Key terdiam sejenak. Ia berharap ada satu kalimat saja… satu pertanyaan tentang keadaannya. Tapi yang ia dapat justru nada tinggi yang menusuk.
“Aku… habis dari rumah sakit…” jawabnya pelan.
Namun jawaban itu tidak melunakkan apa pun.
“Rumah sakit?” ulang ayahnya dengan nada tidak percaya. “Kamu pikir itu alasan yang cukup untuk menghilang tanpa kabar?!”
Key menunduk. Tangannya yang masih diperban gemetar.
“Ayah… aku—”
“Cukup!” bentak ayahnya, membuat Key refleks terdiam.
Suasana langsung membeku.
“Kamu tahu berapa banyak orang yang datang ke rumah ini mengadu tentang kamu?” lanjutnya dengan suara keras. “Sera dan mamahnya datang ke sini! Mereka bilang kamu mencoba merebut Ken dari Sera!”
Jantung Key terasa seperti diremas.
“Tidak, Yah… itu nggak seperti yang mereka bilang…” suaranya bergetar mencoba menjelaskan.
“Tapi semua orang melihatnya begitu!” potong ayahnya tanpa memberi kesempatan. “Kamu bikin malu keluarga ini!”
Setiap kata terasa seperti pukulan.
Key mengangkat wajahnya perlahan, matanya sudah dipenuhi air mata. “Aku nggak pernah berniat seperti itu…”
Namun ayahnya justru semakin marah. “Kamu pikir aku bodoh? Semua bukti mengarah ke kamu! Dari dulu kamu memang selalu bikin masalah!”
Key terdiam. Dadanya sesak, bukan karena sakit fisik, tapi karena kata-kata yang terus menghantam tanpa henti.
“Dan sekarang?” lanjut ayahnya lagi. “Kamu bahkan sampai masuk rumah sakit! Apa lagi yang kamu lakukan di luar sana?!”
Key menggeleng pelan. “Aku… aku diculik, Yah…”
Kalimat itu keluar begitu saja, penuh kejujuran dan keputusasaan.
Namun respons yang ia dapat justru di luar harapannya.
“Cukup dengan alasanmu!” bentak ayahnya. “Jangan buat cerita yang tidak masuk akal!”
Key membeku.
Jadi bahkan sekarang… ayahnya tidak percaya.
Air matanya jatuh perlahan. “Aku nggak bohong…”
Tapi ayahnya hanya menghela napas kasar, wajahnya penuh kekecewaan. “Yang aku tahu, kamu sudah melangkahi batas. Sera itu calon istri Ken. Kamu tidak punya hak untuk ikut campur!”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk langsung ke hati.
“Mulai sekarang,” lanjut ayahnya dengan suara dingin, “jangan pernah mendekati mereka lagi. Jaga sikapmu. Aku tidak mau dengar nama kamu disebut-sebut dalam masalah ini lagi.”
Key menunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar menahan tangis.
Ia ingin menjelaskan semuanya—tentang penculikan, tentang penderitaan yang ia alami, tentang kebenaran yang sebenarnya. Tapi tidak ada ruang untuk itu. Tidak ada yang mau mendengar.
Yang ada hanyalah tuduhan… dan kemarahan.
“Ayah…” panggilnya lirih, mencoba sekali lagi.
Namun ayahnya sudah berbalik.
“Masuk ke kamar. Istirahat. Dan pikirkan apa yang sudah kamu lakukan,” ucapnya tanpa menoleh.
Langkah kaki pria itu menjauh, meninggalkan Key sendirian di ruang tengah.
Sunyi.
Kosong.
Perlahan, lutut Key melemas. Ia terduduk di lantai, tak lagi mampu menahan beban yang terlalu berat.
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Kenapa… nggak ada yang percaya aku…” bisiknya pelan.
Rumah yang dulu terasa hangat kini terasa seperti tempat asing yang penuh tekanan. Tidak ada pelukan, tidak ada pengertian—hanya tuntutan dan kesalahpahaman.
Key memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari sedikit kehangatan di tengah dinginnya kenyataan.
Dan di saat itu, satu hal semakin jelas baginya—
Bahwa ia benar-benar sendirian dalam menghadapi semua ini.
Bahkan di tempat yang seharusnya disebut rumah.
😉🤍