Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Sagara Corp
Assalamualaikum kakak, akhirnya bersua lagi dengan aqyu...🤣🤣
Selamat datang di pengembaraan cinta kembar A.
Semoga kalian terhibur ya...
seperti biasa, jangan lupa goyangkan jempolnya , boleh lah author narsis ini dapat like..🤣🤣🤣
Di tunggu komen membangun nya demi kesuksesan cerita ini..
happy reading everyone 😘😘😘😘
...****************...
Dubai.
Bak memiliki dua matahari di bumi, begitulah kira kira gambaran kota Dubai yang panas terik membakar kulit. Tidak ada salju, tidak ada musim gugur. Dubai memiliki iklim gurun tropis yang panas dan kering. Selain kemarau sepanjang tahun, hanya ada musim dingin yang nyaman dan sejuk. Bulan ini, juni, bulan di mana setiap orang berasa memiliki matahari itu di atas kepala mereka masing masing, sangat panas.
43 derajat celsius, pria tampan itu menatap ponselnya dari dalam Audi R8 yang melaju kencang membelah lebarnya jalanan kota Dubai. Sesekali , hembusan nafas terdengar samar.
" Apa aku bisa hidup di sini, Van?" Ia menanyai pria di sebelahnya. Pria berperawakan tinggi yang sedang fokus mengoperasikan mesin beroda empat itu . Pria malang yang selalu menjadi pelampiasan kekesalan dan tempat curhat untuk menuangkan segala keluh kesah.
Vano, nama pria itu kini tersenyum simpul. " Tuan kan tidak tinggal di jalan. Gedung Sagara yang megah dan sangat dingin menanti anda." Ia berkata realita.
" Cih..jadi kau menyuruhku tinggal terus di kantor? Kau sangat keterlaluan." Dengusnya .
Vano tertawa. " Ini baru hari pertama anda tuan A, dan bukan sekali ini saja anda ke sini. Mempelajari suhu dan menyesuaikan situasi, itulah yang biasa tuan lakukan. Lagian, Emirate Hills menerima apapun keadaan anda dengan tangan terbuka."
" Aku malas pulang."
" Oooo..saya tau. Pasti tuan menunggu tiga bulan lagi , kan ?" Goda Vano.
" Diam kau !! " Kesal A.
Ya, tiga bulan depan yang di maksud Vano adalah hari pernikahan A dengan seorang gadis pilihan keluarga besar Brawijaya.
A menghela nafas kasar. " Aku tidak jamin bisa pulang tepat waktu." A membuang netranya keluar jendela, menatap jejeran gedung gedung pencakar langit di sisi jalan. Menara menara penembus awan itu berdiri kokoh tak tergoyahkan.
" Selesai atau tidak pekerjaan anda , tuan harus pulang. Dan saya sebagai asisten pribadi anda , memastikan hal itu." Vano berujar penuh keyakinan.
A menatap tajam wajah Vano." Sebenarnya , kau itu berdiri di pihak siapa! "
" Anda dan Brawijaya, tuan ." Jawab Vano cepat dan lantang seperti menjawab sebuah kuis berhadiah jutaan.
" Serakah sekali kau !" Kesal A.
" Terima kasih karena sudah mengerti saya, tuan A." Vano tersenyum simpul.
" Berapa Brawijaya membayar mu, aku akan bayar tiga kali lipat!"
" Kalau itu, saya minta maaf, tuan. Meski Tuan Adam tidak membayar sepeserpun pada saya, saya tetap akan mengabdi pada beliau."
A berdengus .
" Kau semakin membuatku gerah.. turunkan suhunya! " Perintah A .
" Baik, tuan."
Vano mengikuti perintah A, mengatur suhu mobil hingga semakin dingin.
Namun, beberapa menit kemudian, Azzam justru membuka jas nya.
" Apa kau sudah mengaturnya dengan baik? Kenapa rasanya masih panas? " keluhnya.
" Sudah , tuan. Saya sudah mengatur sesuai keinginan anda."
" Dasar mobil murahan. Besok kau cari yang baru.."
" Aaa....." Vano terperangah.
Bosnya mungkin sudah tidak waras. Mobil yang dia pesan langsung dari CEO Volswagen dia katakan murahan. Padahal, A harus menunggu beberapa bulan hingga mobil Supercar incarannya itu datang. Bagaimana tidak, Audi R8 GT Limited Edition berwarna daytona grey itu hanya di buat 333 unit untuk di seluruh dunia. Jadi , harganya tentulah sangat mahal.
Vano kembali berusaha memancing emosi A.
Sembari mengusap kemudi yang keren , Vano tersenyum manis dan menatap A.
" Kalau tuan sudah bosan memakainya, berikan saja pada saya. Saya pasti akan merawatnya dengan baik. "
A semakin tersulut emosi dengan kata kata Vano. " Kau waras? Aku sudah menabung sejak lama hanya untuk membeli mobil ini, apa kau tau harganya berapa? "
" Tau, tuan."
" Lalu, kenapa kau masih mengincarnya ! "
" Tadi tuan bilang untuk mencari yang baru."
" Mencari yang baru bukan berarti aku akan memberikan mobil ku ini padamu ! "
" Tuan ternyata masih pelit juga."
" Perasaan dari tadi, kau terus memancing emosiku ,Vano . Apa kau sudah bosan hidup !! " Akhirnya, A mengeluarkan kata kata pamungkasnya.
" Saya minta maaf, tuan." Vano menyembunyikan senyumnya di tengah kemarahan A.
Vano tau ,' bosan hidup ', yang selalu A ucapkan bahkan setiap bulan, bukan tentang mengakhiri hidup atau semacamnya, tapi ini lebih ke membuat Vano berada antara hidup dan mati. Itu karena, A tidak pernah tanggung tanggung memangkas gaji dan bonus Vano melebihi yang Vano bayangkan. Pernah juga sekali waktu , ia harus bekerja sukarela, karena gajinya sama sekali tidak di bayarkan A.
Vano paham betul apa yang menyebabkan A sampai murka dan berakhir menjadikannya pekerja sukarela. Tapi anehnya, Vano justru menyukai saat A memarahinya .
Kenapa?
Karena mengganggu A adalah hiburan tersendiri untuk nya. Sejak bekerja bersama A, Vano sudah bisa membaca se introvert apa bos tampannya itu. A tidak tau bersosial, sulit berinteraksi dengan banyak orang kecuali dengan keluarga Brawijaya dan Hatcher. Walau marah besar sekalipun, A tidak akan melepas Vano. Selain pintar , Vano sudah seperti saudara. Terlalu banyak rahasia yang mereka bagi bersama.
Sebenarnya, kekesalan dan suasana hati A yang memburuk adalah faktor dari rencana pernikahan yang tidak ia setujui. Namun, Vano yang terang terangan berada di pihak lawan semakin membuat A emosi.
Perdebatan keduanya berakhir saat audi R8 itu memasuki basement.
A memperbaiki jas nya sebelum melangkah masuk di ikuti Vano.
Lift khusus CEO terbuka, A masuk di susul Vano.
" Apa agenda hari ini?"
" Jam makan siang, anda akan bertemu dengan salah satu designer untuk pembangunan restoran baru kita."
" Designer nya laki laki atau perempuan."
" Menurut informasi yang saya dapatkan dari pihak facility management, designer nya laki laki. Kenapa, tuan? Apa kali ini saya tidak perlu mewakili?"
" Mmm..biar aku yang bereskan, kau cukup menemani saja."
" Siap, bos .."
Mereka tiba di lantai 70, lantai tertinggi gedung Sagara Corp. Di lantai 70, Burj Khalifa nampak jelas di bagian barat. Beberapa perusahaan besar berdiri berdampingan dengan Sagara, termasuk Moez Company.
Sagara dulunya adalah anak perusahaan Brawijaya, bergerak di bidang kuliner laut dengan beberapa restoran yang bermarkas di Singapura. LUKIVA, itu nama perusahaan tersebut sebelum di ambil alih oleh Azzam dan berganti nama, SAGARA CORP.
SAGARA, berasal dari bahasa sansekerta yang berarti lautan dan menjadi pilihan nama yang paling tepat untuk perusahaan Azzam. Seafood dan olahan makanan laut lainnya menjadi ciri khas restoran nya. Ratusan restoran sudah Azzam bangun dengan markas besar Sagara yang terletak di kota Dubai.
A benar benar mengikuti saran Arga , dan berkat bantuan suami sepupunya itu, perusahaan A maju pesat .
Sementara waktu, Azzam bolak balik Dubai - Indonesia, karena ia harus menjalankan Brawijaya setelah Abi Zayn mundur dan memilih fokus pada perusahaan nya sendiri. Sembari menunggu kesediaan Marwah mengambil tampuk kekuasaan , jadilah A menjadi pemimpin dua perusahan sekaligus . Terkadang A harus tinggal di Dubai dua atau tiga bulan lalu kembali lagi ke Indonesia.
*
*
Jam makan siang.
A menatap arloji di tangan kanannya. Ia mulai gelisah, seharusnya ia tidak menunggu sampai setengah jam di saat orang yang dia tunggu lah yang sebenarnya membutuhkan nya.
" Kau pasti salah."
" Apanya , tuan."
" Coba hubungi ulang bagian facility management. Ku rasa designer nya seorang wanita."
" Kenapa tuan bisa berpikiran seperti itu? "
" Hanya wanita yang selalu datang terlambat saat membuat janji." Ujarnya penuh penekanan bercampur kesal.
Vano pun menghubungi bagian terkait dan di dapati jika pemenang tender nya memang seorang wanita.
Vano melongo menatap A.
" Benarkan apa yang aku katakan?"
Vano mengangguk dengan raut masih keheranan.
" Saya pikir selama ini tuan sangat cuek, ternyata......"
" Aku pulang, kau saja yang hadapi."
" Tapi.....tuan...TUAN...." Pekik Vano tertahan, takut menjadi sorotan di tengah ramainya restoran di jam makan siang itu.
Percuma. A sudah hilang dari balik partisi membiarkan Vano sendirian.
" Dasar bos tidak bertanggung jawab.." Kesal Vano.
Bukan hanya sekali ini saja, A suka berbuat seenaknya. Vano nampaknya sudah kenyang dengan tingkah absurd A. Jika rekan bisnisnya wanita, maka di pastikan, Vano lah yang akan menjadi tumbal.
Begitupun hari ini.
Vano hanya bisa menghela nafas, hingga sebuah suara lembut datang menyapa .
" Selamat siang....tuan. "
" Siang."
...****************...