🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 008: Teman Kamar Tambun
Senja turun perlahan di wilayah sekte dalam, menyelimuti langit dengan warna jingga pucat yang dingin dan sunyi. Di bagian terdalam area elit Sekte Pedang Giok, berdiri sebuah lapangan latihan luas yang dipahat dari batu pualam putih. Tempat itu biasanya dipenuhi murid-murid berbakat yang berlatih tanpa mengenal lelah, namun saat ini suasananya nyaris kosong.
Hanya suara desiran angin yang berhembus pelan melewati pilar-pilar batu.
Dan suara pedang.
Shhhk...!
Tebasan demi tebasan membelah udara dengan ritme halus yang menenangkan telinga, namun menyimpan tekanan tajam yang membuat bulu kuduk meremang. Hawa dingin menyebar setiap kali ujung pedang itu bergerak, membekukan embun tipis di lantai sebelum sempat menguap.
Di tengah lapangan, seorang gadis muda sedang menari bersama pedangnya.
Rambut hitam panjangnya berkibar mengikuti setiap putaran tubuhnya yang ramping dan anggun. Kulitnya putih bersih seperti giok es, sementara matanya yang gelap terasa begitu dingin hingga seolah mampu menelan cahaya di sekitarnya. Pedang ramping di tangannya bergerak tanpa cela, mengalir seperti air namun mematikan seperti badai salju.
Shhhk!
Satu tebasan terakhir meluncur.
Udara di depannya langsung membeku tipis.
“Huft...”
Napas hangat keluar dari bibirnya, berubah menjadi uap putih di tengah udara dingin. Keringat mulai membasahi pelipisnya sebelum perlahan jatuh ke dagunya yang lancip.
Ia menghentikan gerakannya.
Bukan karena kelelahan.
Melainkan karena ia merasakan seseorang memasuki area latihan itu.
“Saudari Senior! Aku punya berita besar!”
Seorang gadis muda berlari masuk dari gerbang batu dengan napas memburu. Wajahnya penuh semangat, matanya berbinar seperti seseorang yang baru menemukan rahasia besar dunia.
Xiao Lin Yue melirik sekilas sebelum perlahan menyarungkan pedangnya kembali ke dalam sarung giok putih di pinggangnya.
Gerakannya tetap tenang.
Tetap anggun.
Seolah tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar mampu mengguncang emosinya.
“Ada apa, Liuliu?” tanyanya datar. “Apakah Xiao Jing membuat masalah lagi?”
Liuliu langsung berkedip cepat.
“Eh? Saudari Senior sudah menebaknya?”
Xiao Lin Yue mendengus tipis, “Itu bukan hal sulit.”
Nada suaranya tetap dingin, namun Liuliu sudah terbiasa dengan sifat itu sejak lama. Kakak seperguruan yang satu ini memang terkenal seperti gunung salju hidup; cantik, kuat, namun sulit disentuh siapa pun.
Liuliu segera mendekat dengan wajah bersemangat.
“Ingat kejadian beberapa minggu lalu? Tentang murid magang yang memukul adikmu sampai pingsan?”
Xiao Lin Yue mengangguk pelan, namun sorot matanya tiba-tiba berubah dingin. “Apa Xiao Jing membawa orang untuk membalas dendam?” tanyanya sambil menyeka peluh di lehernya menggunakan kain putih tipis. “Kalau benar begitu, aku sendiri yang akan mematahkan kakinya. Dia yang mencari masalah, lalu kalah karena lemah. Memangnya dia pikir nama keluarga Xiao bisa dipakai sesuka hati?”
Liuliu langsung menggeleng kuat-kuat sampai pita rambutnya ikut bergoyang.
“Bukan! Justru sebaliknya!”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada dramatis.
“Adikmu diperas habis-habisan di Paviliun Harta siang tadi! Semua poin sektenya dirampas!”
“...”
Hening sejenak.
Liuliu awalnya mengira Xiao Lin Yue akan marah.
Namun gadis itu justru terlihat... puas.
Sudut bibirnya bahkan naik sedikit.
“Bagus,” balasnya dingin. “Anggap saja itu hukuman untuk sifat buruknya.”
Liuliu terdiam canggung, hati kecilnya kasihan pada Xiao Jing. Memiliki kakak perempuan seperti Xiao Lin Yue jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Gadis itu terlalu objektif bahkan terhadap keluarganya sendiri.
Xiao Lin Yue kemudian berbalik, bersiap meninggalkan lapangan latihan.
Namun baru beberapa langkah—ia berhenti.
Tidak banyak hal di dunia ini yang mampu membangkitkan rasa penasarannya.
Namun entah kenapa... nama pemuda itu sedikit tertinggal di benaknya.
“Siapa nama murid luar itu?” tanyanya tanpa menoleh.
Liuliu langsung membulatkan mata.
Saudari Seniornya... bertanya tentang seorang pria?
Ini hampir seperti matahari terbit dari barat!
“Ehmm...” Liuliu berpikir keras sejenak. “Qin... Qin Xiang!”
Nama itu bergema pelan di benak Xiao Lin Yue.
'Qin Xiang...' Ia mengulanginya dalam hati tanpa sadar.
Untuk sesaat, bayangan seorang pemuda asing muncul samar di pikirannya.
Seorang murid magang.
Namun mampu membuat Xiao Jing ketakutan sampai seperti itu.
Menarik.
“Begitu...” gumamnya lirih.
Tak lama kemudian ia kembali berjalan pergi, meninggalkan lapangan latihan dengan langkah tenang dan punggung yang lurus seperti pedang dingin.
Liuliu hanya bisa memandangi sosok itu dengan kagum.
“Saudari Xiao Yue benar-benar mengerikan...” bisiknya pelan. “Auranya semakin kuat dari hari ke hari. Sepertinya dia benar-benar serius mempersiapkan diri untuk memasuki Alam Rahasia Misterius tiga bulan lagi.”
...
Sementara itu, jauh di wilayah murid luar, Qin Xiang baru saja memasuki kamar barunya di asrama sekte.
Ruangan ini jauh lebih baik dibanding gubuk reyotnya dulu.
Lantainya bersih, dinding kayunya kokoh, bahkan ada jendela kecil yang menghadap taman bambu di belakang bangunan. Namun suasana ramai di lorong membuat Qin Xiang sedikit mengernyit.
Suara tawa.
Suara langkah kaki.
Suara orang bertengkar.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia hidup di tengah keramaian seperti ini.
Bagi seseorang yang membawa memori ribuan tahun...
kesunyian jauh lebih nyaman.
“Hei! Kau Qin Xiang, kan?!”
Sebuah suara keras tiba-tiba memecah lamunannya.
Qin Xiang menoleh perlahan, ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya menunduk sedikit ke bawah.
Karena orang yang berdiri di depannya ternyata cukup pendek dan bulat seperti bakpao raksasa.
Pemuda itu tersenyum sangat lebar hingga matanya hampir menghilang seluruhnya.
“Aku Qu Long!” serunya penuh semangat. “Kita teman sekamar mulai hari ini!”
Ia kemudian menunjuk tempat tidur tingkat di sudut ruangan dan berkata seolah dialah senior di sini, “Aku tidur di atas! Kau di bawah! Bagaimana?”
"Hmm..."
Qin Xiang memandang ranjang itu beberapa saat.
Lalu memandang tubuh Qu Long.
Lalu kembali memandang ranjang.
Sebuah gambaran buruk langsung muncul di kepalanya.
Ranjang atas patah.
Tubuh tambun ini jatuh menimpa dirinya saat sedang berkultivasi.
Mati konyol.
“Aku di atas,” ucap Qin Xiang datar.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melompat ringan dan mendarat di kasur atas.
“Heh?!” Qu Long langsung membelalak kaget. “Hei! Aku datang lebih dulu! Mana ada aturan seperti itu?!”
Ia buru-buru memanjat tangga kayu dengan wajah penuh protes.
“Aku seniormu di kamar ini! Seharusnya aku yang di—”
Kalimatnya tiba-tiba tersangkut di tenggorokan ketika naluri bertahan hidupnya mulai berteriak keras dengan perubahan udara yang mendadak berubah menjadi berat di kamar itu.
Wuuuuussshhhh...
Aura Qin Xiang perlahan menyebar tipis.
Tidak terlalu besar.
Namun cukup untuk membuat jantung Qu Long menegang.
Tekanan dari Pemurnian Qi tahap sembilan langsung menyelimuti tubuhnya seperti gunung yang menekan bahunya.
Qin Xiang membuka mata perlahan, bertanya dengan datar, “Saudara senior tadi mengatakan sesuatu?”
Meski suaranya santai, tapi justru itu yang membuat Qu Long merinding.
Keringat dingin langsung mengalir di lehernya.
Monster.
Pemuda ini monster!
Mana mungkin murid luar baru memiliki tekanan seperti ini?!
“Ha-Hahaha!” Qu Long langsung tertawa paksa. “Aku cuma bercanda, Saudara Qin! Tempat atas memang cocok untuk orang sehebat dirimu!”
Ia langsung turun lagi secepat kilat dan langsung menarik selimut di kasur bawah sampai menutupi seluruh tubuhnya seperti ulat ketakutan.
“Gila...” gumamnya dari balik selimut. “Kupikir rumor tentang dia memeras trio pengacau itu cuma dilebih-lebihkan... ternyata aslinya lebih menakutkan...”
Qin Xiang hanya menggeleng kecil.
Anak ini terlalu berisik. Namun setidaknya... cukup lucu.
Ia kemudian merebahkan tubuhnya perlahan di kasur atas.
Rasa lelah mulai menyusup ke seluruh tubuhnya.
Sudah berminggu-minggu ia memaksa tubuh fana ini terus bergerak tanpa benar-benar beristirahat.
Hanya berkultivasi, bertarung, dan mencari sumber daya.
Bahkan jika ia menelusuri kembali ingatan masa lalunya, ia hampir tidak pernah tidur selama lima ratus terakhir sebelum kematiannya.
"Sudahlah..."
Mata Qin Xiang perlahan tertutup, pikirannya mulai dibiarkan rileks sejenak sebelum benar-benar tertidur.
...
Bersambung!
Jangan lupa like, komen, dan beri dukungan lainnya agar author lebih semangat, makasih :)