(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Klan Ba
Lorong Kematian di Lingkar Tengah kembali sunyi senyap. Tidak ada mayat Pangeran Ketiga, tidak ada sisa-sisa pengawal bayangan. Angin malam menyapu debu jalanan, menghilangkan jejak pembantaian tingkat tinggi yang baru saja mengubah sejarah rahasia Ibukota Suci.
Chu Chen melesat membelah bayangan bangunan, bergerak secepat hantu menuju gerbang perbatasan Lingkar Luar. Dengan jati diri palsu Ba Tuo yang telah ia buang, ia kembali mengenakan jubah hitam legam yang menyerap cahaya. Zirah Tulang Naga Hitamnya meredam segala gejolak Qi, membuatnya tak terlihat oleh patroli udara prajurit Berzirah Emas yang masih sibuk mengitari kota.
Menjelang fajar, Chu Chen melangkah masuk ke dalam ruang bawah tanah markas Perkumpulan Gagak Hitam.
Bai dan Meng Fan, yang tidak tidur semalaman, langsung berdiri tegang saat melihatnya.
"Kau kembali," Meng Fan menghela napas lega, meski matanya menatap jubah Chu Chen yang sedikit berbau udara terbakar dan darah hangus. "Apakah kau berhasil mendapatkan teratai itu?"
Chu Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melambaikan tangannya, dan Cincin Penyimpanan giok hijau milik Ba Tuo melayang jatuh ke atas meja batu di depan mereka.
"Lelang telah selesai," ucap Chu Chen datar. "Jangan ada yang turun ke lantai bawah ini. Aku akan menutup ruang rahasia. Apa pun guncangan yang kalian rasakan dari bawah, jangan buka pintunya."
Bai menyipitkan mata kristal esnya. "Kau membunuh seseorang yang penting, bukan? Aku bisa mencium hawa kepanikan fana di udara luar."
"Hanya seorang pangeran yang terlalu banyak bicara," jawab Chu Chen santai, berjalan menuju tangga melingkar yang mengarah ke ruang kedap jiwa.
Mata Bai terbelalak lebar. "P-Pangeran Kekaisaran?! Chu Chen, kau gila! Membunuh keluarga kekaisaran akan memicu kemurkaan langsung dari Kaisar! Mereka akan mengerahkan Pasukan Pencari Jiwa untuk melacak sisa Niat Spiritual!"
"Biarkan mereka melacak angin," suara Chu Chen menggema dari dalam lorong tangga yang mulai gelap. "Tugasmu hanya memastikan tidak ada lalat dari Lingkar Luar yang mengganggu tidurku."
BAM! Pintu Batu Hitam Penekan Jiwa di dasar markas tertutup rapat, mengunci Chu Chen dari dunia luar.
Ruang rahasia kuno itu kembali menyambutnya dengan keheningan mutlak. Chu Chen duduk bersila di tengah ruangan. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan sisa-sisa gejolak pembunuhan di dalam darahnya.
Dengan satu putaran tangan, ia mengeluarkan sebuah kotak kaca bening. Di dalamnya, Teratai Jiwa Bintang Primordial berputar perlahan, memancarkan cahaya perak keunguan dan hawa dingin mutlak yang membuat uap napas Chu Chen membeku seketika.
"Hukum fana membatasi Istana Jiwa hanya sebesar lautan kesadaran manusia," gumam Chu Chen, matanya memancarkan rasa lapar yang membakar. "Tapi Istana Jiwa Nagaku tidak akan pernah memiliki batas."
Chu Chen membuka tutup kotak kaca tersebut.
Seketika, energi murni yang setara dengan cahaya ribuan bintang meledak di dalam ruangan sempit itu. Chu Chen tidak ragu sedikit pun. Ia membuka mulutnya dan menggunakan Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan untuk langsung menyedot teratai ajaib itu bulat-bulat ke dalam Dantiannya!
BLAAR!
Begitu Teratai Jiwa itu memasuki Dantian Chu Chen, ia tidak meleleh seperti pil biasa. Teratai itu meledak menjadi jutaan titik cahaya bintang yang langsung menyebar dan menabrak dinding-dinding Istana Jiwa Naga Chu Chen.
"Ugh!" Chu Chen menggertakkan giginya. Rasa sakit kali ini bukan karena panas, melainkan karena kepalanya seolah-olah dipaksa mengembang hingga akan pecah.
Di dalam kesadarannya, bangunan Istana Jiwa yang terbuat dari tulang naga hitam dan diselimuti Api Teratai Merah mulai bergetar hebat. Titik-titik cahaya bintang primordial itu meresap ke dalam tulang-tulang hitam tersebut, mengubah warnanya menjadi hitam legam yang bertabur rasi bintang.
Lautan Qi di bawah istana itu bergolak ganas, tersedot ke atas untuk membangun pilar-pilar baru. Ruang di dalam Dantian Chu Chen diperluas secara paksa oleh kekuatan penciptaan dari teratai tersebut. Sepuluh tombak... seratus tombak... seribu tombak!
Batas Alam Istana Jiwa Tahap Menengah hancur seketika layaknya kaca rapuh.
Tahap Akhir Istana Jiwa!
Namun energi Teratai Bintang Primordial belum habis. Tanaman Tingkat Bumi Puncak itu terus memompa kemurnian alam semesta ke dalam jiwa Chu Chen. Niat Pedang Purba yang menyatu di dalam Dantiannya ikut beresonansi, menciptakan bilah-bilah cahaya bintang yang memadatkan atap istananya menjadi tidak bisa dihancurkan.
KRAAAK!
Sebuah dentuman tumpul bergema di dalam tubuh Chu Chen. Gelombang kejut energi spiritual meledak, menghancurkan bebatuan di dalam ruang kedap jiwa itu menjadi pasir halus. Jika bukan karena Batu Hitam yang menahan auranya, ledakan ini akan meratakan seluruh markas Gagak Hitam.
Chu Chen membuka matanya. Sepasang pupil naga emasnya kini tidak lagi hanya menyala, melainkan memiliki titik-titik cahaya perak di dalamnya, seolah ia menyimpan malam berbintang di dalam tatapannya.
Puncak Istana Jiwa. Bukan hanya itu, fondasi Istana Jiwa Naganya kini begitu padat dan tak terbatas hingga ia telah menyentuh selubung hukum alam tingkat selanjutnya.
Setengah Langkah Raja Fana.
Chu Chen menghembuskan napas panjang. Udara di depannya langsung membeku lalu menguap secara bersamaan. Kekuatan yang ia rasakan sekarang... ia yakin bisa meremukkan leher seorang Raja Fana Tahap Akhir hanya dengan satu cengkeraman tangan kosong.
"Sempurna," bisiknya dingin.
...
Di saat Chu Chen menikmati kekuatan barunya dalam kesunyian bawah tanah, langit Lingkar Tengah Ibukota Suci sedang dibakar oleh kemurkaan.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun puluhan kapal terbang berlambang matahari emas telah mengepung sebuah kediaman megah yang dipenuhi taman bambu ungu. Kediaman Klan Ba.
Di pelataran kediaman, Ba Zhen—Raja Fana Tahap Menengah sekaligus Kepala Klan Ba—berdiri dengan wajah pucat pasi. Di sekelilingnya, ratusan anggota klan berlutut gemetar di bawah tekanan puluhan ahli Istana Jiwa Puncak dari Pengawal Kekaisaran.
Melayang di atas mereka semua, seorang pria tua berjubah emas dengan mahkota api menatap ke bawah bagaikan dewa penghukum. Ia adalah Pelindung Kekaisaran Ketujuh, ahli Alam Penyatuan Langit Tahap Akhir!
"P-Pelindung Agung..." Ba Zhen menelan ludah, tidak berani mengangkat wajahnya terlalu tinggi. "A-Apa kesalahan Klan Ba hingga Kekaisaran menurunkan pasukan besar ke kediaman kami?"
Pelindung Ketujuh mendengus dingin, sebuah dengusan yang membuat darah Ba Zhen bergejolak menyakitkan di dalam Dantiannya.
"Putramu, Ba Tuo," suara Pelindung Ketujuh terdengar seperti palu godam. "Malam tadi, di Lelang Bayangan Klan Ye, ia memenangkan Teratai Jiwa Bintang Primordial dengan kekayaan yang patut dipertanyakan. Dan setelah lelang berakhir... Pangeran Ketiga ditemukan tewas, dihapus dari keberadaan beserta empat Pengawal Bayangan di jalan yang sama yang dilewati putramu."
Mata Ba Zhen melebar hingga urat matanya nyaris pecah. "TIDAK! Itu mustahil! Ba Tuo hanyalah anak manja! Dia hanya berada di Tahap Menengah Istana Jiwa! Bagaimana mungkin dia bisa membunuh Pangeran Ketiga dan empat Raja Fana?!"
"Itulah yang sedang kami cari tahu," Pelindung Ketujuh mengangkat tangannya. Sebuah bola kristal yang memancarkan pendaran merah muncul di telapak tangannya. "Pasukan Pencari Jiwa melacak sisa aura yang tertinggal di lokasi kejadian. Meski pembunuhnya berusaha menghapus jejak, cermin leluhur menangkap satu ikatan darah... dan darah itu mengarah lurus ke garis keturunan Klan Ba."
"T-Tidak! Tolong dengarkan hamba! Ba Tuo semalaman berada di Paviliun Kabut Merah di Lingkar Luar! Dia tidak mungkin—"
"Serahkan Ba Tuo sekarang, atau aku akan mencabut seluruh akar klanmu," ancam Pelindung Ketujuh, Niat Membunuhnya membekukan udara pagi.
Ba Zhen menangis darah. "P-Pelindung Agung, putra hamba belum kembali sejak berangkat ke lelang semalam! Hamba berani bersumpah demi nyawa klan hamba, ada yang menjebak kami!"
Pelindung Ketujuh menyipitkan matanya. Niat Spiritual Penyatuan Langitnya yang luar biasa besar langsung menyapu seluruh kediaman Klan Ba hingga ke celah terkecil di bawah tanah. Benar saja, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ba Tuo.
"Dia melarikan diri," Pelindung Ketujuh menggertakkan giginya. "Jika dia melarikan diri, maka kejahatan klanmu sudah terbukti mutlak."
Pria tua itu mengayunkan tangannya dengan kejam. "Sesuai titah Kaisar. Klan yang berani membunuh darah kekaisaran akan dihukum sembilan keturunan. Bantai mereka semua. Jangan sisakan satu anjing pun hidup-hidup!"
"TIDAAAAAK!" Ba Zhen meraung histeris, membakar Inti Raja Fananya untuk melawan.
Namun, di hadapan ahli Penyatuan Langit Tahap Akhir dan puluhan prajurit pilihan kekaisaran, perlawanan seorang Raja Fana Tahap Menengah hanyalah keputusasaan yang menggelikan.
BLAAAAAAR!
Pilar api emas raksasa melesat turun dari telapak tangan Pelindung Ketujuh, menghantam tepat di tengah-tengah kediaman Klan Ba.
Jeritan puluhan ribu anggota klan, pelayan, dan penjaga tenggelam dalam lautan api yang melelehkan batu giok. Ba Zhen bahkan tidak bertahan lebih dari dua tarikan napas sebelum tubuhnya menguap menjadi abu di bawah penindasan Hukum Api Surgawi tingkat Penyatuan Langit.
Hanya dalam waktu kurang dari sebatang dupa, salah satu klan kelas menengah yang cukup dipandang di Lingkar Tengah Ibukota Suci itu telah rata dengan tanah, diubah menjadi kawah abu panas.
Di atas awan, Pelindung Ketujuh menatap sisa kehancuran itu dengan wajah muram. Bola kristal merah di tangannya masih berkedip-kedip, kali ini tidak menunjuk ke arah reruntuhan Klan Ba, melainkan berdenyut lemah mengarah ke bagian bawah kota.
"Aura darah Ba Tuo menghilang... tapi ada sisa-sisa kekacauan ruang yang mengarah ke Lingkar Luar," gumam Pelindung Ketujuh. Matanya memancarkan cahaya kejam.
"Dia bukan Ba Tuo. Seseorang merampas wajahnya. Iblis bersayap tulang yang membunuh Jenderal Huang Jin... dia sedang bermain-main di halaman rumah kita."
Pelindung Ketujuh menoleh ke arah panglima pasukannya. "Tutup total Lingkar Luar! Kirimkan Tiga Ratus Pengawal Istana! Aku sendiri yang akan turun ke selokan itu dan membakar setiap tikus yang ada sampai si pembunuh keluar dari lubangnya!"