Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Setelah mendengar semua itu, Erlan terdiam cukup lama. Wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat ragu, seolah untuk pertama kalinya ia kehilangan arah. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seperti tertahan di tenggorokan. Semua yang terjadi… pada akhirnya berakar dari ambisinya sendiri. Ambisi untuk menjadi pewaris keluarga, untuk mendapatkan kuasa, untuk membuktikan dirinya layak. Namun di tengah semua itu, tanpa ia sadari, ia justru mengabaikan satu tujuan yang paling penting—Linda.
Erlan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Tatapannya perlahan kembali fokus pada Linda yang berdiri tidak jauh darinya, dengan ekspresi hati-hati, seolah siap menolak apa pun yang akan ia katakan.
“Aku…” Erlan berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah. “Aku ingin menikah denganmu dulu.”
Linda sedikit terkejut, tetapi tidak langsung merespons.
“Tapi semuanya tidak semudah itu,” lanjut Erlan. “Orang tuaku menolakmu. Mereka tidak pernah benar-benar melihat siapa dirimu. Bagi mereka, kamu tidak cukup… pantas.”
Linda menunduk, jemarinya saling menggenggam erat.
“Aku tidak terima,” kata Erlan, suaranya mulai mengeras. “Aku pikir… kalau aku punya kekuasaan, kalau aku jadi pewaris yang mereka inginkan, aku bisa memaksa mereka menerima kamu.”
Linda mengangkat wajahnya perlahan. “Jadi… aku hanya bagian dari ambisimu?”
Erlan langsung menggeleng. “Bukan. Kamu justru tujuanku. Tapi aku salah cara mencapainya.”
Suasana menjadi hening sesaat.
“Aku hampir berhasil,” lanjut Erlan pelan. “Semua berjalan sesuai rencanaku. Tapi tiba-tiba… kamu menghilang.”
Nada suaranya berubah, kali ini lebih berat, penuh tekanan yang selama ini ia pendam.
“Aku kacau waktu itu. Aku tidak bisa berpikir dengan benar. Aku mencoba menerima keputusanmu… saat kamu bilang kita harus putus, harus menjaga jarak…” Ia tersenyum pahit. “Tapi ternyata aku tidak bisa.”
Linda menggigit bibirnya pelan.
“Aku tetap mengawasimu,” lanjut Erlan tanpa ragu. “Diam-diam. Dari jauh.”
“Kamu… mengawasiku?” suara Linda melemah.
Erlan mengangguk. “Termasuk saat kamu bekerja di perusahaan milik Pak Danu.”
Linda tampak terkejut. “Kamu tahu itu?”
“Aku tahu,” jawab Erlan singkat. “Tapi baru dua bulan… kamu menghilang lagi.”
Ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosi.
“Pak Danu bilang kamu resign karena sakit. Aku cari kamu ke berbagai rumah sakit…” Erlan menggeleng pelan. “Tapi tidak ada.”
Linda terdiam. Kali ini ia tidak menyela.
“Dan sekarang…” Erlan menatapnya lekat-lekat. “Kita bertemu lagi. Setelah empat tahun.”
Hening kembali menyelimuti mereka.
“Aku tidak akan memaksamu kembali padaku,” lanjut Erlan, kali ini suaranya lebih tenang. “Kalau kamu sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi… aku bisa terima.”
Linda sedikit mengernyit, seperti tidak menyangka.
“Tapi…” Erlan menambahkan, “aku ingin menjadi ayah Kirana.”
Nama itu membuat suasana berubah.
Linda langsung mengalihkan pandangan. “Erlan…”
“Aku baru tahu dia anakku,” potong Erlan. “Empat tahun aku tidak tahu dia ada. Itu bukan kesalahan dia… dan bukan kesalahanmu sepenuhnya.”
Linda menarik napas panjang, mencoba mengatur pikirannya.
“Aku tidak ingin Kirana kekurangan kasih sayang,” akhirnya ia berkata. “Aku bisa bekerja. Aku bisa menghidupi dia sendiri.”
“Aku tahu kamu bisa,” jawab Erlan cepat. “Aku tidak pernah meragukan itu.”
“Lalu kenapa?” tanya Linda.
“Karena aku juga ayahnya.”
Jawaban itu sederhana, tapi tegas.
Linda terdiam lagi.
“Kamu bilang aku harus fokus jadi pewaris,” lanjut Erlan. “Tapi semua itu tidak ada artinya kalau tujuanku tidak tercapai.”
Linda menatapnya, kali ini dengan ekspresi bingung.
“Tujuanku bukan kursi pewaris itu,” kata Erlan pelan. “Tujuanku… hidup bersama kamu. Membangun keluarga yang hangat.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Aku tidak ingin anakku tumbuh seperti aku. Hidup kaku. Selalu ditekan untuk berprestasi. Selalu dinilai dari hasil.”
Linda terdiam, matanya mulai melembut.
“Aku ingin Kirana tumbuh dengan kasih sayang,” lanjut Erlan. “Aku ingin dia tahu kalau rumah itu tempat pulang… bukan tempat tuntutan.”
Kata-kata itu membuat Linda benar-benar kehilangan jawaban untuk sesaat.
Ia menunduk, memikirkan semuanya.
“Aku tidak tahu harus bagaimana,” akhirnya ia berkata jujur.
Erlan mengangguk pelan. “Aku tidak minta jawaban sekarang.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak.
“Beri aku waktu,” katanya. “Aku akan buktikan kalau aku bisa jadi ayah yang baik untuk Kirana.”
Linda menatapnya kembali.
“Kalau aku gagal…” Erlan tersenyum tipis, tapi terasa berat. “Aku tidak akan menemui Kirana lagi.”
Mata Linda membesar. “Erlan—”
“Tapi aku tetap akan menafkahi dia,” lanjut Erlan. “Aku ingin dia tidak kekurangan apa pun.”
Keheningan kembali muncul, kali ini lebih panjang.
Linda memejamkan mata sejenak, mencoba menimbang semuanya. Ia tahu Erlan bukan orang yang mudah berkata seperti ini. Ada sesuatu yang berbeda dari pria di hadapannya sekarang.
Bukan hanya ambisi. Tapi juga… penyesalan.
“Kamu benar-benar serius?” tanya Linda pelan.
Erlan mengangguk tanpa ragu. “Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku.”
Linda menghembuskan napas panjang.
“Aku akan… memberimu kesempatan.”
Erlan sedikit terkejut, tapi tidak langsung menunjukkan reaksi berlebihan.
“Tapi,” lanjut Linda cepat, “aku tidak janji akan kembali padamu.”
Erlan tersenyum tipis. “Aku tidak masalah.”
Linda mengernyit. “Tidak masalah?”
“Asal aku bisa membesarkan Kirana bersama kamu… itu sudah cukup.”
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Linda goyah.
Akhirnya, Linda mengangguk pelan.
“Aku harus kembali bekerja,” katanya kemudian, mencoba mengalihkan suasana.
Erlan ikut mengangguk. “Baik.”
Linda berbalik, bersiap pergi. Tapi sebelum benar-benar melangkah jauh, ia sempat berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.
Erlan berdiri dari tempat duduknya. Ia merogoh saku dan meletakkan sejumlah uang di atas meja, meskipun ia tidak memesan apa pun sejak tadi.
Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.
Ia berjalan menuju pintu keluar restoran. Namun tepat sebelum melangkah keluar, ia berhenti dan menoleh ke arah Linda.
“Linda.”
Linda menoleh.
“Apa yang Kirana suka?” tanya Erlan.
Linda tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Dan…” Erlan melanjutkan, “bolehkah aku menyayanginya… dengan caraku?”
Linda terdiam beberapa detik, lalu perlahan mengangguk.
“Kamu ayahnya,” jawabnya pelan. “Kamu boleh melakukan apa pun… selama itu untuk kebaikannya.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, senyum Erlan terlihat tulus.
“Besok aku akan datang,” katanya. “Aku ingin bertemu Kirana.”
Linda tidak menolak. Ia hanya mengangguk.
“Aku ingin menggendongnya,” lanjut Erlan, suaranya sedikit lebih ringan. “Melakukan hal-hal yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dia lahir.”
Linda menatapnya sebentar, lalu kembali mengangguk.
Tidak ada kata tambahan. Tapi cukup.
Erlan akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari restoran.
Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan Linda berdiri diam di tempatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… masa lalu yang ia coba kubur, kembali mengetuk pintu kehidupannya.