NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Beasiswa Jakarta vs Hinaan Warga

Matahari pagi itu bersinar terik, seolah ingin mengusir sisa-sisa dingin dan kesedihan malam sebelumnya. Di teras sekolah, Raka terbangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya pegal karena tidur di atas lantai keramik yang keras, tapi hatinya terasa aneh. Ada getaran harapan yang masih tersisa dari kata-kata Bu Indah semalam.

Nisa masih tidur pulas di sampingnya, memeluk tas sekolahnya yang sudah usang sebagai bantal. Wajah adik kecil itu tampak damai, jauh dari beban berat yang seharusnya ditanggung anak seusianya. Raka menatap Nisa lama, lalu mengelus pelan rambut adiknya yang acak-acakan.

"Tenang saja, Dek," bisik Raka lirih. "Kakak nggak akan biarkan kamu kelaparan lagi."

Sekitar pukul delapan pagi, sebuah mobil dinas berwarna biru muda berhenti di halaman sekolah. Dua orang pria dan seorang wanita turun, mengenakan kemeja rapi dan membawa map cokelat tebal. Mereka berjalan menuju teras tempat Raka dan Bu Indah sedang minum teh hangat dari termos bekas.

"Selamat pagi, Bapak/Ibu Guru," sapa wanita itu ramah. Ia memperkenalkan diri sebagai Ibu Sari dari Dinas Pendidikan Provinsi. "Kami mencari saudara Raka. Apakah benar beliau ada di sini?"

Bu Indah segera berdiri, wajahnya bersinar. "Benar, Bu. Ini dia Raka, dan ini adiknya, Nisa."

Ibu Sari tersenyum lebar saat melihat Raka. Matanya menyapu kursi roda sederhana itu, lalu tertuju pada wajah Raka yang tenang namun tajam. "Anaknya viral ya, Bu? Video mengajar matematika di kandang ayam itu sudah ditonton jutaan orang, bahkan sampai ke meja Gubernur. Kami sangat terkesan dengan ketekunan dan kecerdasan Raka."

Raka tertunduk malu. "Saya cuma berusaha membantu adik saya, Bu."

"Itu justru poin utamanya," sambung salah satu pria yang membawa map. "Karena prestasi luar biasa dan kondisi khusus Anda, Dinas Pendidikan memutuskan memberikan Beasiswa Khusus Berprestasi untuk penyandang disabilitas. Sekolah Inklusi Terbaik di Jakarta. Semua biaya ditanggung: uang sekolah, asrama, terapi fisik, bahkan uang saku bulanan."

Jantung Raka seakan berhenti berdetak. Jakarta? Sekolah terbaik? Terapi? Kata-kata itu terdengar seperti mimpi di siang bolong. Selama ini, ia hanya bermimpi bisa makan tiga kali sehari. Sekarang, pintu masa depan terbuka lebar di depannya.

Ibu Sari menyerahkan surat penawaran itu ke tangan Raka. "Ini surat resminya, Nak. Anda bisa mulai minggu depan. Ini kesempatan emas. Masa depan Anda cerah sekali di sana."

Raka menerima surat itu dengan tangan gemetar. Kertas itu terasa berat, bukan karena tintanya, tapi karena harapannya.

Namun, kabar baik di kampung ini tidak pernah bisa menyebar tanpa disertai kabar buruk. Seperti bau busuk yang menarik lalat, berita tentang beasiswa Raka dengan cepat sampai ke telinga tetangga-tetangga yang sedari tadi sudah mengintip dari balik pagar.

Dan yang paling pertama datang adalah Bu Ijah.

Wanita paruh baya itu datang dengan daster lusuhnya, rambut diikat asal, dan wajah yang sudah merah padam sebelum bicara. Di belakangnya, beberapa ibu-ibu lain mengikuti, membawa keranjang belanja sambil berbisik-bisik.

"Wah, wah, wah... sok-sokan banget sih!" seru Bu Ijah begitu sampai di depan teras, suaranya melengking tinggi hingga burung-burung di pohon terbang ketakutan. "Anak lumpuh mau ke Jakarta? Ngapain ke sana? Mau jadi pengemis profesional di lampu merah?"

Ibu Sari dan petugas dinas terlihat kaget dengan sikap warga setempat. Bu Indah segera maju, mencoba meredam situasi. "Bu Ijah, tolong jangan berkata begitu. Ini adalah kesempatan bagus untuk Raka."

"Kesempatan apanya?" cibir Bu Ijah, menunjuk-nunjuk Raka dengan jari telunjuknya yang kotor. "Liat tuh! Kakinya aja nggak bisa jalan, mau belajar apa di Jakarta? Nanti juga pulang lagi dengan tangan kosong! Cuma modal nekat doang!"

Salah satu ibu di belakang Bu Ijah ikut nimbrung. "Iya sih, kasihan nanti adiknya ditinggal sendirian di sini. Anak egois, mikirin diri sendiri doang. Ninggalin adik kandungnya demi gaya-gayaan ke kota besar."

Kata-kata itu menusuk hati Raka lebih dalam daripada pisau mana pun. Ia menatap Nisa yang kini sudah bangun dan duduk memeluk lututnya, mata adik kecil itu berkaca-kaca menahan tangis.

"Kakak nggak usah pergi..." bisik Nisa, suaranya bergetar. "Aku nggak mau ditinggal sendirian sama Bu Ijah dan mereka. Lebih baik kita susah di sini bareng-bareng. Aku nggak butuh sekolah mahal, Kak. Aku cuma butuh Kakak."

Air mata Raka akhirnya tumpah. Ia menatap surat beasiswa di tangannya, lalu menatap wajah polos Nisa yang penuh ketakutan. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya. Di satu sisi, ini adalah jalan keluar dari kemiskinan, jalan untuk menyembuhkan kakinya, jalan untuk membuktikan pada dunia bahwa ia mampu. Tapi di sisi lain, bagaimana ia bisa meninggalkan satu-satunya keluarga yang ia miliki? Bagaimana ia bisa tidur nyenyak tahu Nisa harus menghadapi Bu Ijah sendirian setiap hari?

"Aku... aku bingung, Bu," kata Raka pada Bu Indah, suaranya parau menahan isak. "Kalau aku pergi, siapa yang jaga Nisa? Kalau aku tinggal, mimpiku mati."

Bu Ijah tertawa puas mendengar keraguan Raka. "Nah, kan! Sadar diri aja! Ngapain maksa-maksa? Udah takdirnya jadi beban keluarga, ya terima aja! Jangan sok jadi pahlawan kalau akhirnya malah ngorbanin adik sendiri!"

Suasana hening sejenak. Petugas Dinas Pendidikan tampak tidak enak hati, seolah ingin mundur. Mereka mungkin berpikir, jika lingkungannya saja seburuk ini, apakah Raka siap mental?

Tiba-tiba, Bu Indah melangkah maju. Wajahnya bukan lagi wajah guru yang lembut, melainkan wajah seorang pejuang. Ia berdiri di depan Raka dan Nisa, menghadap langsung ke arah Bu Ijah dan gerombolan tetangga itu.

"Cukup!" teriak Bu Indah, suaranya menggelegar membuat Bu Ijah mundur selangkah. "Kalian semua punya mulut untuk menghina, tapi punya hati untuk merasakan tidak? Kalian lihat Raka ragu bukan karena dia lemah, tapi karena dia sayang pada adiknya! Itu tanda kasih sayang, bukan kelemahan!"

Bu Indah berbalik, menatap Raka dalam-dalam. "Raka, dengarkan Ibu. Kadang, kita harus meninggalkan sesuatu yang sangat kita cintai untuk menyelamatkan masa depan kita. Bukan berarti kita meninggalkan mereka selamanya. Tapi kita pergi untuk kembali dengan kekuatan yang lebih besar."

"Lalu siapa yang jaga Nisa?" tanya Raka putus asa.

"Aku!" jawab Bu Indah tegas. "Ibu yang akan menjaganya. Ibu akan bawa Nisa ke rumah Ibu setiap pulang sekolah. Ibu akan pastikan dia makan, belajar, dan aman. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh sehelai rambut Nisa selama Ibu masih bernapas!"

Bu Indah menoleh tajam ke arah Bu Ijah. "Dan kalian! Jika ada satu saja jari yang menyentuh Nisa, atau satu kata kasar yang keluar dari mulut kalian saat Raka pergi, Ibu akan pastikan polisi yang mengurusnya! Ingat, sekarang Raka sudah dilindungi Dinas Pendidikan. Menyakiti dia sama saja melawan negara!"

Ancaman Bu Indah membuat wajah Bu Ijah pucat pasi. Ia menutup mulutnya, tak berani membantah lagi. Ibu-ibu lain pun perlahan bubar, menghindari tatapan tajam Bu Indah.

Raka menatap Bu Indah, lalu menatap Nisa. Adik kecil itu perlahan melepaskan pelukannya, meski air matanya masih mengalir. "Kalau Kakak janji bakal pulang jadi orang hebat... aku rela tunggu, Kak."

Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir Raka. Ia mengusap air mata Nisa, lalu mengepalkan tangan di atas surat beasiswa itu.

"Iya, Dek. Kakak janji," ucap Raka mantap, menatap Ibu Sari. "Saya terima beasiswanya. Saya akan ke Jakarta. Bukan untuk lari, tapi untuk kembali membawa kemenangan bagi Nisa, bagi Bu Indah, dan bagi semua anak yang dihina seperti saya."

Malam itu, di kamar gudang sekolah yang sempit, Raka tidak tidur. Ia menatap langit-langit yang retak, membayangkan gedung-gedung tinggi Jakarta, membayangkan ruang kelas yang luas, membayangkan ribuan orang yang akan mendengarkannya bicara.

Tapi di sudut matanya, ia juga membayangkan Nisa yang tidur sendirian di rumah Bu Indah. Rasa rindu sudah mulai menyiksanya bahkan sebelum ia berangkat.

"Jakarta..." gumam Raka pelan di keheningan malam. "Apakah di sanalah cahayaku menunggu? Atau justru di sanalah aku akan benar-benar hancur jika gagal?"

Angin malam berhembus masuk melalui jendela yang pecah, membawa serta suara jangkrik dan desau daun. Raka menutup matanya, berdoa dalam hati.

"Ya Tuhan, berikan aku kekuatan. Bukan hanya untuk berjalan, tapi untuk terbang. Karena aku tahu, ujian sesungguhnya baru saja dimulai."

Di kejauhan, awan hitam mulai berkumpul lagi, seolah alam semesta tahu bahwa badai berikutnya akan jauh lebih besar daripada sekadar hujan atau hinaan tetangga. Badai itu bernama: Perjuangan di Kota Besar.

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!