Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Layar biru itu kembali berbunyi Ting! dan menampilkan panel status karakternya saat ini.
[Status Inang][Nama: Li Zhen] [Kultivasi: Manusia Fana (Cacat Meridian)] [Kekuatan Fisik: 3 (Sangat Lemah)] [Poin Sampah: 0]
Li Zhen mendecakkan lidahnya melihat angka tiga pada kekuatan fisiknya yang menyedihkan itu. Dia melipat tangannya di dada, merasa sedikit tersinggung dengan kejujuran sistem yang terlalu brutal tersebut.
[Paket Hadiah Pemula telah tersedia. Apakah Inang ingin membukanya sekarang?]
"Buka, tentu saja buka!" jawab Li Zhen dengan nada tidak sabar, matanya menatap layar biru itu dengan penuh nafsu. Dia sangat membutuhkan sesuatu untuk menyembuhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya ini.
Sebuah animasi kotak kado emas terbuka di layar, memancarkan cahaya terang yang membuat Li Zhen harus menyipitkan matanya.
[Ding! Selamat Inang mendapatkan: 'Mata Penilai Kelemahan' (Pasif) dan 1 Pil Penyembuh Tingkat Rendah.]
Li Zhen segera memberikan perintah mental untuk mengekstrak pil penyembuh tersebut dari inventaris sistem. Sebuah pil kecil berwarna hijau pucat muncul entah dari mana dan jatuh tepat ke telapak tangannya.
Pil itu mengeluarkan aroma herbal yang sangat menyegarkan, seketika menghilangkan bau apak di dalam ruangan tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, Li Zhen langsung melempar pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
Aliran energi hangat langsung meledak di dalam perutnya, menyebar dengan cepat ke seluruh jalur nadinya yang rusak. Sensasi gatal yang nyaman terasa di area kulitnya yang memar, menandakan bahwa sel-sel tubuhnya sedang diperbaiki dengan kecepatan kilat.
Li Zhen menghela napas panjang penuh kelegaan, otot-otot wajahnya yang tadinya tegang kini mengendur sepenuhnya. Rasa sakit yang menyiksanya sejak dia membuka mata tadi telah hilang tanpa bekas.
Dia bangkit berdiri dengan mudah, tidak ada lagi rasa gemetar atau lemas pada kedua kakinya. Dia mengepalkan tangannya, merasakan energi yang cukup solid mengalir di balik kulit kasarnya meskipun dia belum memiliki kekuatan spiritual.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki berat yang mendekat dari luar gubuk. Suara langkah itu sengaja dihentakkan dengan keras ke tanah, menunjukkan arogansi si pemilik kaki.
"Li Zhen! Keluar kau, dasar sampah tidak berguna!" teriakan kasar seorang pria memecah keheningan lereng gunung tersebut. Suara itu terdengar sangat familier di ingatan pemilik tubuh asli, memicu rasa takut yang refleks muncul dari alam bawah sadarnya.
Li Zhen mengerutkan kening, tangannya terkepal menahan emosi sisa dari tubuh yang dihuninya ini. Itu adalah suara Zhao Wei, saudara sepupunya yang gemar menjadikannya karung tinju setiap kali suasana hatinya sedang buruk.
Dia tidak bersembunyi di bawah kolong ranjang seperti yang biasanya dilakukan oleh Li Zhen asli. Pemuda itu justru membusungkan dadanya, melangkah dengan tenang menuju pintu gubuk yang rusak.
Saat dia menyingkirkan sisa pintu kayu itu, sinar matahari jingga langsung menerpa wajahnya. Di halaman tanah di depan gubuknya, berdiri tiga orang pemuda dengan jubah murid luar Sekte Teratai Angin.
Pria di tengah adalah Zhao Wei, pemuda bertubuh besar dengan otot-otot yang menonjol menembus kain jubah ketatnya. Wajahnya dipenuhi senyum mengejek yang merendahkan, sementara kedua tangannya dilipat angkuh di depan dada.
"Aku dengar kau belum mati setelah kupukul kemarin, rupanya nyawamu sekeras kecoa selokan," ejek Zhao Wei sambil meludah ke tanah. Dua pengikutnya di belakang langsung tertawa terbahak-bahak, suara mereka terdengar sangat sumbang dan menyakitkan telinga.
Li Zhen tidak langsung membalas, matanya justru fokus pada sebuah teks merah melayang yang muncul di atas kepala Zhao Wei. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' dari sistemnya mulai bekerja secara otomatis.
[Target: Zhao Wei. Kelemahan Mental: Sangat tidak aman dengan garis rambutnya yang mulai mundur di usia muda dan fakta bahwa dia menggunakan ramuan penumbuh rambut palsu.]
Melihat informasi rahasia tersebut, senyum iblis perlahan terbentuk di sudut bibir Li Zhen. Matanya berkilat dengan niat jahat yang sangat kental, siap untuk menghancurkan musuh pertamanya.
Zhao Wei yang melihat senyuman aneh itu merasa sangat tidak nyaman, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. "Kenapa kau tersenyum seperti orang gila? Apakah pukulan kemarin membuat otakmu yang cacat itu semakin rusak?" bentaknya marah.
Zhao Wei melangkah maju, mengangkat kepalan tangannya yang sebesar batu kali untuk memberikan pelajaran. Dia bersiap memukul wajah Li Zhen hingga hidung pemuda kurus itu patah menjadi dua.
Li Zhen sama sekali tidak bergeser dari posisinya, dia menatap lurus ke arah dahi Zhao Wei dengan tatapan yang sangat mengasihani. Dia menghela napas panjang yang terdengar sangat berlebihan.
"Aku hanya merasa kasihan padamu, Zhao Wei," ucap Li Zhen dengan nada datar yang menusuk. "Kau bersusah payah melatih ototmu agar terlihat mengancam, tapi semua orang terlalu sibuk menertawakan dahimu yang semakin luas layaknya lapangan latihan sekte."
Langkah Zhao Wei terhenti seketika secara tiba-tiba di udara, kepalan tangannya kaku tak bisa digerakkan. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian yang membuat lututnya lemas seketika.
Dua pengikut di belakangnya langsung menghentikan tawa mereka, menelan ludah dengan susah payah karena suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung. Mereka diam-diam melirik ke arah dahi bos mereka, menyadari bahwa apa yang dikatakan Li Zhen adalah fakta yang selama ini mereka tutupi.
"A-apa yang kau bicarakan, sampah?!" teriak Zhao Wei dengan suara bergetar, tangannya secara refleks naik untuk menutupi dahinya. Wajahnya yang tadinya merah karena marah kini berubah pucat pasi seolah kehabisan darah.
Li Zhen tidak memberinya kesempatan untuk bernapas, dia kembali menyerang dengan rentetan kata-kata mematikan. "Berhentilah berpura-pura, bau ramuan penumbuh rambut palsu dari kepalamu itu lebih menyengat daripada kotoran kuda."
"Kau tahu mengapa para murid perempuan selalu menghindarimu?" lanjut Li Zhen sambil mengambil satu langkah maju. "Bukan karena kau kurang kuat, tapi karena pantulan sinar matahari di dahimu yang botak itu membuat mata mereka sakit."
Kata-kata itu menghantam mental Zhao Wei layaknya godam raksasa yang tidak kasat mata. Rahasia terdalam yang paling membuatnya tidak aman kini dibongkar di depan umum tanpa belas kasihan sedikit pun.
Dao Heart Zhao Wei yang rapuh seketika retak, tidak mampu menahan tekanan emosional yang begitu brutal dan tiba-tiba. Jalur meridiannya bergejolak hebat, energi spiritualnya berbalik menyerang organ dalamnya sendiri karena emosinya benar-benar hancur.
Zhao Wei memuntahkan seteguk darah segar yang membasahi tanah di depan sepatu Li Zhen. Pria berotot itu jatuh berlutut, kedua tangannya memegangi kepalanya sendiri sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
[Ding! Target Zhao Wei mengalami kerusakan mental parah. Mendapatkan +500 Poin Sampah.]
Li Zhen melihat notifikasi poin yang masuk dengan perasaan sangat puas yang mengalir hangat di dadanya. Dia melirik ke arah dua pengikut Zhao Wei yang kini gemetar hebat dengan wajah penuh teror.
"Dan kalian berdua, apakah kalian ingin aku membongkar alasan mengapa kalian selalu gagal lulus ujian sekte dalam?" ancam Li Zhen dengan suara rendah dan dingin. Matanya menyipit, memancarkan aura intimidasi yang membuat kedua pemuda itu merasa seperti ditatap oleh monster kuno.
Kedua pengikut itu menjerit ketakutan, berbalik arah dan berlari tunggang langgang meninggalkan bos mereka yang masih menangis di tanah. Mereka berlari begitu cepat hingga salah satu dari mereka tersandung akar pohon dan bergulingan di tanah berlumpur.
Li Zhen berdiri dengan angkuh di depan gubuknya, menikmati pemandangan menyedihkan dari orang-orang yang dulu menindas tubuh ini. Angin gunung kembali bertiup, namun kali ini terasa sangat menyejukkan di kulitnya.
Dia menyilangkan tangannya di dada, menatap langit Benua Awan Surgawi dengan pandangan menantang. Dengan Sistem Pembicara Sampah di kepalanya, dia bersumpah akan membuat seluruh kultivator di dunia ini memuntahkan darah hanya dengan bermodalkan mulutnya.