NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sisa-sisa ketegangan setelah konfrontasi dengan Satria masih menggantung di udara kelas Dua Belas IPA Satu SMA Nusa Bangsa. Arga kembali menekuni buku paket matematikanya, mencoba menulikan telinga dari bisik-bisik yang mulai merayap di antara meja-meja kayu. Ia bisa merasakan tatapan beberapa pasang mata yang tertuju ke arahnya, namun ia tetap bergeming seolah-olah halaman kertas di depannya adalah satu-satunya hal penting di dunia ini.

Dimas menyenggol lengan Arga dengan siku. Wajah sahabatnya itu tampak penuh arti, seolah baru saja memenangkan lotre informasi paling panas di sekolah. Ia mendekatkan kursinya ke arah Arga hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja.

"Lo tahu nggak kalau sekarang lo jadi topik paling hangat di kantin?" tanya Dimas dengan volume suara yang sengaja direndahkan.

Arga tidak menoleh. Ia hanya membalik halaman bukunya dengan gerakan tangan yang pelan dan teratur.

"Nggak peduli," jawab Arga singkat.

"Harusnya lo peduli, Ga. Gosipnya sudah sampai ke telinga anak-anak kelas sebelah. Katanya, si pendiam Arga Baskara akhirnya luluh sama perhatian manis Tania Larasati gara-gara sering belajar matematika bareng," ujar Dimas sambil menaik-turunkan alisnya.

Arga menghentikan gerakan penanya. Ia melirik sekilas ke depan, ke arah punggung Tania yang tampak kaku. Gadis itu sedang berpura-pura menulis sesuatu, namun telinganya yang memerah tidak bisa membohongi siapa pun. Tania pasti mendengar apa yang baru saja dikatakan Dimas.

"Itu cuma belajar, Dim. Nggak lebih," gumam Arga datar.

"Masalahnya, dunia nggak lihat itu cuma belajar, kawan. Orang-orang lihatnya lo nolak Satria tadi itu demi melindungi wilayah lo dan Tania. Lo keren banget tadi, asli. Tapi dampaknya ya ini, rumor itu makin liar," balas Dimas seraya menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi puas.

Belum sempat Arga membalas, sesosok gadis dengan rambut yang diikat kuda mendekat ke arah meja mereka. Arga mengenali aroma parfum vanila itu bahkan sebelum pemiliknya sampai di depannya. Nala Anindita berdiri di sana dengan sebuah senyum jahil yang menghiasi wajah cantiknya.

Nala menyandarkan tangannya di pinggiran meja Arga, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Rara Kinanti berdiri tepat di belakangnya, mengamati situasi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Wah, ada yang lagi jadi pusat perhatian nih. Gimana rasanya jadi pahlawan di mata para gadis, Ga?" tanya Nala dengan nada menggoda yang sangat kentara.

Arga mendongak, menatap mata Nala yang berbinar jenaka. Hati Arga mencelos. Ia berharap menemukan sedikit saja gurat kecemburuan atau ketidaksukaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kegembiraan murni seorang teman yang sedang menggoda sahabatnya. Nala benar-benar tidak terpengaruh oleh rumor itu.

"Jangan ikut-ikutan Dimas, Nala," ujar Arga dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya.

Nala tertawa kecil. Suara tawanya terdengar renyah di telinga Arga, namun terasa perih di hatinya.

"Tapi rumornya lucu tahu, Ga. Katanya kalian itu tipe pasangan serasi yang ketemu gara-gara angka dan rumus. Ciyee, Arga sudah mulai buka hati ya?" goda Nala lagi sambil menyenggol bahu Tania yang duduk di depan Arga.

Tania tersentak dan perlahan membalikkan badannya. Wajahnya sudah semerah tomat matang. Ia menunduk, tidak berani menatap Arga maupun Nala secara langsung.

"Nggak gitu, Nala. Kita cuma belajar buat olimpiade kok," sahut Tania dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan.

"Tuh kan, jawabannya saja kompak banget. Kayak sudah janjian," timpal Nala yang disambut tawa kecil dari Rara.

Arga hanya bisa terdiam. Ia menatap Nala yang masih asyik menggodanya. Perasaan sakit itu kembali muncul, rasa sakit yang familiar karena diabaikan secara emosional oleh orang yang paling ia inginkan. Nala begitu realistis dan santai, seolah-olah delapan tahun penantian Arga tidak pernah ada harganya. Bagi Nala, Arga hanyalah teman sekelas yang sedang mengalami fase asmara dengan gadis lain.

"Lo cocok kok sama Tania, Ga. Dia baik, pintar lagi. Daripada lo sendirian terus di pojokan kelas kayak patung," lanjut Nala tanpa menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan bagaikan sembilu bagi Arga.

"Nala, cukup," potong Arga.

Suara Arga yang tiba-tiba menjadi dingin membuat tawa Nala terhenti. Nala mengerjapkan matanya, tampak sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara teman masa kecilnya itu. Suasana di sekitar meja mereka mendadak menjadi canggung.

"Eh, sorry. Gue nggak bermaksud bikin lo marah, Ga. Gue cuma bercanda," ujar Nala dengan nada yang lebih lembut, ada sedikit rasa bersalah yang terpancar dari matanya.

Rara yang sejak tadi hanya menyimak, melangkah maju dan menarik pelan lengan Nala. Ia sepertinya menyadari ada sesuatu yang salah dari tatapan mata Arga yang tersembunyi di balik ketenangannya.

"Yuk, Nal. Kita balik ke meja. Sebentar lagi Pak Hardi masuk," ajak Rara dengan nada bijak.

Nala mengangguk patuh, namun sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk menatap Arga sekali lagi.

"Jangan terlalu serius, Ga. Nanti cepat tua," ucapnya sebelum berbalik dan berjalan menuju bangkunya.

Arga memperhatikan punggung Nala yang menjauh. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, meremas celana abu-abunya dengan kuat. Di sampingnya, Dimas hanya bisa menghela napas panjang sambil menepuk-nepuk bahu Arga, seolah mengerti badai apa yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya itu. Arga merasa tembok yang ia bangun selama ini bukan hanya untuk melindungi dirinya, tapi juga menjadi penjara yang membuatnya hanya bisa menonton Nala dari kejauhan, tanpa pernah bisa digapai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!