Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Hati Yang Mulai Mencair
Lima tahun telah berlalu sejak hari kelam itu sejak kedua orang tua Liora pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sejak saat itu, pribadi Liora berubah begitu drastis hingga sulit dikenali.
Dulu ia gadis lembut, penuh kasih, dan selalu tersenyum.
Kini semua itu telah hilang.
Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, tegas, nyaris tak berperasaan. Sorot matanya setajam pisau, dan tidak ada seorang pun yang berani menghalangi langkahnya. Baginya, kelemahan adalah dosa, dan ketergantungan adalah racun yang harus dibuang jauh-jauh.
Di bawah kepemimpinan barunya, perusahaan warisan mendiang Heron William Anderlecht berkembang sangat cepat. Liora bukan sekadar mempertahankan kerajaan bisnis ayahnya ia memperluasnya. Dalam lima tahun, ia telah membuka cabang besar hingga ke Kanada dan sering bepergian antarnegara, jarang menetap di satu tempat lebih dari seminggu.
Sementara itu, ketiga adik laki-lakinya telah memiliki kehidupan yang stabil. Mereka telah menemukan cinta, membangun rumah tangga, dan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
Hanya Liora yang tetap berjalan sendirian.
Ia menolak semua lamaran yang datang kepadanya.
Ia bahkan tidak membuka kesempatan sedikit pun untuk mengenal siapa pun.
Hatinya… masih penuh luka.
Setiap malam, ia tidur gelisah. Dan mimpi itu terus datang menghantuinya—tanpa pernah absen.
“Putriku…” suara Heron terdengar lembut, seperti bisikan dari masa lalu.
“…Ayah?” Liora memanggil lirih dalam mimpinya.
“Bukalah hatimu, sayang. Izinkan dirimu mencintai seseorang… Ayah hanya ingin kau bahagia.”
“Kenapa Ayah pergi…? Kenapa meninggalkanku? Kenapa tidak kembali?”
Heron tersenyum samar. “Suatu hari nanti… kamu akan mengerti.”
“AYAH!”
Liora mendadak terbangun. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Mimpi yang sama… lagi.”
Dengan langkah berat ia pergi membasuh wajahnya, berusaha menenangkan diri.
Pagi itu…
“Nona muda, hari ini Anda ada pertemuan dengan Tuan Robert Pattinson pukul 08.00,” lapor John.
“Siapkan seperti biasa,” jawab Liora tanpa ekspresi.
“Baik, Nona.”
Dalam hati, John hanya bisa menghela napas.
Nona muda yang dulu ia kenal telah menghilang entah ke mana.
Dalam perjalanan ke kantor, John mengemudi sambil memikirkan sesuatu. Ia begitu larut dalam pikirannya hingga
Tiiiiiit!
“JOHN! Kau hampir menabrak orang!” bentak Liora.
“S-saya minta maaf, Nona Muda!”
Mobil berhenti mendadak. Seorang pria berdiri tepat di depan mobil, tampak terkejut namun tidak terluka.
Liora keluar dari mobil. “Apa Anda baik-baik saja?”
“Saya tidak apa-apa,” jawab pria itu, suaranya terdengar gugup. “Maaf… saya yang ceroboh.”
“Siapa nama Anda?” tanya Liora.
“Adrian. Adrian Warinata.”
Liora memberikan kartu namanya. “Aku Liora William Anderlecht.”
Ia memperhatikan penampilan pria itu—pakaian kusut, wajah cemas, napas tak beraturan.
“Kenapa kau terburu-buru?”
Adrian tampak gelisah. “Saya… sedang dikejar preman.”
Belum sempat Liora bertanya lagi—
“Hei! Adrian! Bayar utang lo!”
Beberapa preman datang menghampiri mereka dengan suara mengancam.
“Utang lo udah jatuh tempo! Kalo nggak bayar hari ini, mampus lo!”
Mereka langsung mencoba menyerang Adrian.
Namun…
Dengan gerakan cepat, tegas, dan nyaris tidak terlihat oleh mata awam, Liora melumpuhkan mereka satu per satu.
Brak!
Bug!
Dua preman jatuh bersamaan, disusul yang lainnya.
Mereka terkapar, meringis kesakitan.
“Berapa jumlah utangnya?” suara Liora terdengar dingin dan mengintimidasi.
“250 juta…” jawab Adrian pelan.
Tanpa ragu, Liora mengeluarkan sejumlah uang.
“Ini. Bayarkan utangnya.”
Ia menatap para preman dengan tatapan mematikan.
“Setelah ini, jangan pernah muncul di hadapannya lagi.”
Para preman mengangguk ketakutan. “Baik! Baik! Kami pergi!”
Mereka kabur seperti tikus yang melihat kucing.
Liora menoleh lagi kepada Adrian.
“Kamu punya tempat tinggal?”
Adrian menggeleng, tampak malu.
“Kalau begitu… ikut denganku,” ucap Liora.
“M-maksud Anda?” Adrian terkejut. “Anda sudah menolong saya… saya tidak pantas—”
“Aku tidak menyukai penolakan,” potong Liora. “Ikut saja.”
Adrian terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Baik… Liora.”
“Jangan panggil aku ‘Nona’.”
“…iya, Liora.”
Di mansion mewah keluarga Anderlecht…
“Kepala pelayan, siapkan kamar di lantai atas. Yang sebelah kamarku,” perintah Liora.
Para pelayan saling pandang, terkejut. Liora tidak pernah, sekalipun, membawa pria ke mansion.
“B-baik, Nona Muda.”
“Adrian, istirahatlah. Aku harus pergi meeting. Aku mungkin pulang malam.”
Adrian mengangguk. “Hati-hati. Dan jangan terlalu memaksakan diri.”
Liora mengangguk seadanya, lalu pergi.
Dalam perjalanan, John tersenyum kecil.
“Akhirnya… hati Anda mulai terbuka, ya?”
Liora menatapnya tajam.
“John.”
“Ya?”
“Bicara lagi, gajimu dipotong.”
John langsung diam.
Di kantor…
Pertemuan dengan Robert Pattinson berjalan lancar. Namun setelah selesai—
Brak!
Seorang karyawan menerobos masuk tanpa mengetuk.
“Siapa yang memberimu izin masuk?” tanya Liora, suaranya dingin seperti es.
“Saya… hanya ingin mengatakan sesuatu…”
Ia mendekat, dan tanpa peringatan—
Cup.
Ia mencium Liora.
Semua hening.
Detik berikutnya…
Cekik!
Liora mencengkeram leher pria itu dengan kuat. Ia menghapus bibirnya dengan kasar, seolah tersentuh oleh sesuatu yang menjijikkan.
“Kau tahu apa akibat dari ini?” suaranya penuh ancaman.
“S-saya minta ma—”
Brak!
Ia membanting pria itu hingga menabrak kaca. Bernapas saja ia kesulitan.
“Jangan pernah menyentuhku,” ujar Liora.
Lalu
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan.
Pria itu jatuh tak bernyawa. Seluruh kantor membeku ketakutan.
Tak ada yang akan berani menyentuh Liora setelah itu.
“Masuk,” perintah Liora.
John masuk dan hanya menghela napas saat melihat tubuh itu.
“Buang mayatnya,” perintah Liora setenang biasa.
“Baik, Nona.”
Ia ragu sejenak sebelum berkata, “Adrian… sedang sakit di mansion. Sepertinya ia memanggil nama Anda. Mungkin mimpi buruk.”
Reaksi Liora cepat.
“Sakit?”
“Ya.”
Tanpa pikir panjang, Liora berdiri.
“Kita pulang.”
Setibanya di mansion…
Liora berlari naik tanpa memedulikan siapapun. Ia membuka pintu kamar Adrian dengan panik.
“Adrian!”
Pria itu tergeletak di tempat tidur, gelisah, wajahnya pucat.
“Jangan… jangan tinggalkan aku…” gumamnya dalam tidur.
Liora mengguncangnya. “Bangun!”
Adrian mendadak bangun—dan langsung memeluk Liora erat-erat.
“Aku takut… jangan pergi…”
Liora membeku. Ia tak terbiasa disentuh. Tapi kali ini… ia tidak menolak.
“Tenang… aku di sini,” katanya pelan. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Ia mengusap kepala Adrian lembut, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan kepada siapa pun.
“Tidurlah.”
“Kau janji?” bisik Adrian.
Liora menatap wajahnya. “…ya. Aku janji.”
Adrian perlahan tertidur kembali. Namun tangannya tetap menggenggam tangan Liora seolah takut Liora menghilang jika dilepas.
John yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum samar.
“Di kantor Anda seperti es… tapi di dekat Adrian, hati Anda mencair,” gumamnya.
Di sisi tempat tidur, Liora duduk diam.
Ia menatap Adrian yang tertidur, perasaannya kacau.
Apa ini yang Ayah maksud…?
Kenapa aku tidak bisa menjauh darinya?
Kenapa aku ingin melindunginya…?
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun…
Hati Liora bergetar.