"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Perjanjian Bintang Besi
Lorong-lorong di stasiun Orion semakin dalam semakin terasa menyesakkan. Bau oli mesin dan logam panas menyengat hidung, tapi Andra terus melangkah dengan mantap. Tangannya masih menggenggam jemari Siska yang terasa dingin. Di belakang mereka, Jagal berjalan dengan mata yang waspada, setiap otot di tubuhnya tampak tegang, siap meledak jika ada bahaya yang muncul dari balik bayang-bayang.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu raksasa yang terbuat dari potongan baja bekas kapal perang. Di atas pintu itu, ada logo bintang yang dikelilingi rantai besi—lambang dari kelompok 'The Iron Star'.
"Kamu yakin kita harus masuk ke sana?" bisik Siska. Matanya menatap ngeri pada dua penjaga bertubuh besar yang memegang tombak plasma di depan pintu.
Andra menoleh ke arah Siska, memberikan senyuman kecil yang berusaha menenangkan. "Kalau kita mau menang, kita tidak bisa cuma mengandalkan uang di kepala aku saja, Siska. Kita butuh sekutu yang punya dendam yang sama besar dengan kita. Jangan takut, aku ada di sini."
Andra melangkah maju, menghadap kedua penjaga itu. Tanpa berkata-kata, dia menunjukkan sebuah proyeksi kecil dari telapak tangannya—sebuah kode enkripsi galaksi yang hanya dimiliki oleh mereka yang punya saldo kristal melimpah. Para penjaga itu saling pandang, lalu tanpa suara, pintu baja raksasa itu bergeser terbuka dengan suara derit yang memilukan.
Di dalam, ruangan itu sangat luas tapi remang-remang. Ratusan orang dari berbagai macam rupa sedang sibuk memperbaiki senjata dan mesin-mesin aneh. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita dengan rambut perak pendek dan wajah yang penuh dengan tato geometris. Dia sedang membersihkan sebuah belati panjang yang bersinar biru.
"Aku dengar ada manusia yang membawa seribu kristal masuk ke wilayahku," suara wanita itu berat dan penuh wibawa. Dia tidak menoleh, tetap fokus pada belatinya. "Biasanya, manusia yang punya uang sebanyak itu di tempat ini hanya punya dua nasib: jadi budak atau jadi mayat."
Andra melepaskan genggaman tangannya dari Siska dan berjalan beberapa langkah ke depan. "Namaku Andra. Dan aku ke sini bukan untuk jadi budak ataupun mayat. Aku ke sini untuk belanja."
Wanita itu tertawa, suara tawa yang kering. Dia akhirnya mendongak, menatap Andra dengan mata yang salah satunya berwarna merah mekanik. "Belanja? Kamu pikir ini pasar swalayan di planet asalmu yang primitif itu? Aku adalah Vex, pemimpin The Iron Star. Kami tidak menjual barang ke sembarang orang."
"Aku tahu siapa kalian," sahut Andra tenang. "Kalian adalah duri di daging 'The Void'. Kalian kehilangan banyak wilayah karena keserakahan mereka. Aku punya uangnya, dan kalian punya senjatanya. Kenapa kita tidak bicara bisnis?"
Vex berdiri, tinggi badannya hampir menyaingi Andra. Dia berjalan mengitari Andra seperti serigala yang sedang mengincar mangsa. "Uang memang bicara, tapi kesetiaan tidak bisa dibeli. Apa jaminannya kalau kamu bukan mata-mata 'The Void'?"
Andra terdiam sejenak. Dia tahu, di dunia ini, kejujuran kadang lebih berharga daripada emas. "Jaminannya adalah wanita di belakangku itu. Dia dijadikan alat percobaan oleh mereka. Dan aku sendiri... aku adalah 'Benih' yang mereka tanam untuk mereka panen. Kami adalah korban yang menolak untuk mati."
Vex berhenti tepat di depan Siska, menatapnya dengan mata mekaniknya yang berputar pelan. Siska gemetar, tapi dia tidak menundukkan kepalanya. Dia membalas tatapan Vex dengan keberanian yang tersisa.
"Matanya jujur," gumam Vex. Dia kembali menatap Andra. "Baiklah, Andra. Apa yang ingin kamu beli?"
"Aku butuh kapal induk kelas 'Nemesis'," kata Andra tegas. "Dan aku butuh pasukan yang tidak takut mati untuk menyerbu Antartika—titik pusat mereka di Bumi."
Seluruh ruangan mendadak sunyi. Orang-orang yang tadi sibuk bekerja kini berhenti dan menatap Andra seolah-olah dia baru saja kehilangan akal sehatnya. Vex sendiri tampak terkejut.
"Kapal induk Nemesis? Kamu tahu berapa harganya? Bukan cuma seribu kristal, Andra. Harganya nyawa seluruh anggota kelompokku jika kita gagal. Menyerang 'The Void' di sarang mereka adalah tindakan bunuh diri."
"Aku punya lebih dari seribu kristal," kata Andra. Di dalam kepalanya, dia memberi perintah pada Sistem.
[Ding! Transfer Tampilan Saldo Sementara ke Vex.] [Status: 10.000 Kristal Galaksi Terdeteksi.]
Vex tiba-tiba terhuyung, dia melihat angka yang muncul di perangkat di lengannya. Wajahnya yang tadi keras kini tampak pucat. "Dari mana... dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? Bahkan gubernur sektor ini pun tidak punya kekayaan sebesar ini!"
Andra maju satu langkah, suaranya merendah tapi penuh penekanan. "Itu tidak penting. Yang penting adalah, dengan uang ini, aku bisa mengubah kalian dari kelompok pemberontak yang bersembunyi di lubang tikus menjadi penguasa jalur perdagangan Orion. Aku beri kalian setengahnya sekarang sebagai tanda jadi, dan setengahnya lagi setelah markas Antartika rata dengan tanah."
Vex menelan ludah. Ambisi dan ketakutan berperang di wajahnya. Dia menatap anak buahnya, lalu kembali menatap Andra. "Kamu gila, Andra. Benar-benar gila. Tapi di galaksi yang sudah rusak ini, mungkin cuma orang gila yang bisa menang."
Vex mengulurkan tangannya yang kasar. "Kesepakatan tercapai. Kapal Nemesis akan disiapkan dalam tiga hari. Pasukanku akan mulai bergerak menuju Bumi lewat jalur rahasia. Tapi ingat satu hal... kalau kamu mengkhianati kami, aku sendiri yang akan mencabut jantungmu."
Andra menjabat tangan Vex dengan kuat. "Kita punya tujuan yang sama, Vex. Aku ingin rumahku kembali, dan kamu ingin kebebasanmu kembali."
Setelah kesepakatan itu selesai, Andra membawa Siska dan Jagal keluar dari markas Bintang Besi. Siska masih tampak bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Andra... sepuluh ribu kristal itu... itu banyak sekali kan?" tanya Siska pelan saat mereka berjalan kembali menuju dermaga. "Apa kamu tidak merasa... aneh punya uang sebanyak itu?"
Andra berhenti sejenak, menatap langit-langit stasiun yang penuh dengan kabel-kabel tua. "Sejujurnya, Siska... aku merasa takut. Uang ini bukan cuma angka lagi. Ini adalah nyawa orang-orang. Setiap kristal yang aku keluarkan artinya aku sedang mengirim seseorang ke medan perang. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku tetap diam, mereka akan terus mempermainkan hidup kita."
Jagal menepuk bahu Andra. "Jangan terlalu dipikirkan, Tuan. Anda sudah melakukan hal yang benar. Di dunia ini, kalau Anda tidak menjadi serigala, Anda akan dimakan oleh serigala lainnya. Dan sekarang... Anda adalah serigala terbesar di Orion."
Andra menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Dia tahu, tiga hari ke depan akan menjadi waktu yang paling lambat dalam hidupnya. Dia harus mempersiapkan diri, bukan cuma secara mental, tapi juga fisik. Sistem di kepalanya mulai mengunduh data pelatihan tempur tingkat tinggi yang akan menyiksa tubuh manusianya.
"Tiga hari lagi, Siska," kata Andra sambil menatap mata Siska dengan lembut. "Tiga hari lagi, kita pulang ke Bumi. Tapi bukan untuk bersembunyi. Kita pulang untuk mengakhiri semuanya."
Siska mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Andra. Di tengah stasiun luar angkasa yang asing dan berbahaya itu, untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Kalimantan, Siska merasa punya harapan. Harapan bahwa mungkin, di akhir semua kegilaan ini, mereka bisa hidup tenang kembali.
Namun di dalam kepalanya, Andra mendengar suara Sistem yang dingin, suara yang mengingatkannya bahwa perjalanan ini masih sangat panjang.
[Ding! Sinkronisasi Armada Dimulai.] [Peringatan: 'The Void' telah mendeteksi transaksi besar Anda. Mereka sedang mengirim 'Eksekutor' menuju koordinat ini.]
Andra mengepalkan tangannya. "Datanglah," bisiknya dalam hati. "Aku sudah menunggu kalian."