Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 27
Hubungan dan Apa kanker ?
**
Seperti yang Some selalu duga, kalau besoknya mama dan papa membawanya ke rumah sakit. Padahal dia sudah segenap jiwa untuk melarang mereka melakukannya, namun karena pemahaman mereka tentang penyakit ini belum jelas. Maka dengan setengah menyesal membawa Some ke ruangan khusus untuk kanker.
"Hallo selamat pagi pak," ujar dokter Rafaella ketika papa memasuki ruangan. Dia nampak sedikit canggung, apalagi menyangkut tentang penyakit Some. Dari tadi tatapannya menatap Some seolah membutuhkan penjelasan.
"Halo selamat pagi dok," ujar papa membalas jabatan dokter Rafaella dengan bijak.
"Bagaimana kondisi putri anda dok, mungkinlah demam yang sering terjadi kembali lagi?" tanya dokter Rafaella basa - basi yang membuat papa menggeleng.
"Bukan kedatangan saya kesini untuk lebih serius pak, mengenai keadaan paru - paru anak saya," ujar papa tanpa ragu. Kediaman dokter Rafaella membuat semua nampak canggung. Tapi kemudian dia segera mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa.
"Yah semestinya saya tahu dulu penjelasannya, karena Some nampak baik - baik saja bukan begitu?" jawab dokter Rafaella dengan senyum dermawan khasnya. Membuat papa dan mama saling menghembuskan nafas panjang.
"Tidak perlu dok, kita tidak mau basa - basi lagi. Kita tahu kondisi Some sedang tidak baik - baik, dan maaf karenanya dokter jadi ikut Tidka memberitahukan pada saya," ujar papa sambil menatap mama mencari dukungan. Jelas hal itu membuat dokter Rafaella tersadar kalau semua sudah bukan kendalinya lagi.
"Perihal itu saya memang sengaja melakukannya pak, dengan Some dan pak Hanry. Tapi yah saya tahu ini pasti sulit dimengerti," ujar dokter Rafaella.
"Bagaimana bisa dimengerti sedangkan anak saya terjerat kanker, sedangkan saya berusaha keras mempertahankan nasa depannya," ujar papa lalu diselingi Isak tangis.
"Maaf buk, tidka ada yang tahu apa yang akan terjadi," ujar dokter Rafaella sambil memegang tangan mama.
"Yah dan itulah kenyataan yang membuat saya sadar kalau anak saya harus mendapatkan masa depan yang saya harapkan," ujar papa dengan raut penuh keyakinan yang membuat sekilas keadaan jadi lebih tenang.
"Dan saya percaya kanker yang di gadang ini tidak akan menyerang pada orang yang hatinya sekuat Some," ujar dokter Rafaela hanya menggoda. Tapi Some tahu motivasi seperti itu membuatnya merasa lebih rileks.
"Jadi?" tanya Ranu memberi instruksi.
"Yah seperti yang kalian tahu Some hanya digadang memekik kanker stadium dua ketika pemeriksaan menyatakan positif mungkin beberapa bulan lagi. Tapi pak keadaan paru - paru Some sudah sering mengalami kebocoran, jadi kesehatannya perlu diawasi dengan jelas," ujar dokter Raffaella sambil memperlihatkan check up terbaru dari paru - paru Some. Jelas hanya mata mama yang tak sanggup menahan air mata.
"Dan apa yang terjadi saat ini? Mengapa dokter dengan tega menyatakan kanker pada lab," ujar papa sambil menutup mulutnya tidak terima.
"Yah itu hanya catatan medis. Tapi perasaan kadang dapat mengubah realita, kita punya waktu untuk mencegahnya," ujar dokter Rafaela.
Yang mendengar perkataan tersebut lantas saling memegang tangan waspada. "Apa yang harus dilakukan selanjutnya demi kesembuhan anak saya dok?" tanya papa sambil menatap dokter Rafaela putus asa.
"Saya rencananya akan membantu membereskan sel - sel yang rusak di paru - paru Some. Mungkin keadaanya akan membaik, dan kanker tak terdeteksi," ujar dokter Rafaela. Yang membuat papa dan mama saling berpelukan penuh haru.
"Lakukan apapun yang akan terjadi, demi anak saya dan segala harapan yang inginkan," ujar papa memberi perintah. "Berikan ia yang terbaik," tambahnya.
"Tapi pak aku nggak mungkin operasi, aku takut paru - paru terjadi sesuatu," ujar Some sambil mendekati papa meminta dukungan.
"Sayang operasi adalah jalan dokter menuju penyembuhan kamu. Tidak ada yang dapat menentangnya," ujar papa kekeuh.
"Tapi pa," lemas Some merasa tidka tenang.
"Some operasi ini hanya dilakukan selama dua jam, saya akan membantu segenap hati saya, jangan khawatir nak," ucap dokter Rafaella sambil memegang bahu anak itu.
"Apakah mungkin," tiba - tiba suara Some tercekat karena air mata.
"Tidak sayang, kamu harus melanjutkan penyembuhan kamu ada mama di sini," ujar Gina lalu memeluk Some yang sedang menangis itu.
"Maafkan Some ma," ujar Some pelan.
"Sus siapkan operasi paru fi bagian lantai atas, jangan lupa barangnya harus baru, besok sore," ujar dokter Rafaella lali meninggalkan ruangannya. Setelah itu baik keluarga Some juga memutuskan pulang ke rumah dengan wajah yang masih sendu.
Operasi besok dijadwalkan pada pukul empat belas lewat lima belas menit. Dengan Some yang sudah siap, ketika ia pulang sekolah nanti.
**
Seperti yang Some ketahui operasinya akan berjalan ketika beberapa jam lagi. Dan karena dia yang sudah tak sanggup lagi menunggu di rumah sakit, maka ia memutuskan untuk mendatangi jadwal date hari ini. Ia dengan dress bunga - bunga selutut dan rambut yang digerai sepolos mungkin berjalan melewati parkiran menuju sebuah restoran cepat saji yang diyakini punya makanan sea food.
Ia mencari sebuah bangku dan anak cowok yang katanya menggunakan kacamata. Dan setelah menemukannya, gadis yang menggunakan sandal rumah dan tas jinjing itu melangkah ke meja nomor lima.
"Hi, lama menunggu?" tanyanya tanpa niat mengagetkan. Dan pria yang lumayan cakep itu melirik ke arahnya sambil mempersilahkannya duduk.
"Enggak juga aku hanya mencicipi es teh," jawabnya sambil tertawa kecil. Some merasa tenang berada di sekitarnya
Ia duduk di bangku depan anak itu. "Aku pesan es teh juga, sama makanan kecil dari ikan ya," ujar Some ketika dia sibuk meminum es tehnya. Langsung saja ia memanggil pelayan dan meminta membawakan makanan pilihan Some.
"Jadi kau belum perkenalan dulu," ujar Some mungkin sedikit terburu - buru. Tapi ia melakukannya karena tahu nggak banyak waktunya diam keluyuran di luar rumah sakit seperti ini.
"Tenang saja Some nama kamu itu kan, aku saja berbaju santai tak usah dipikirkan," ujarnya yang membuat Some mengangguk paham. Padahal dirinya dengan sengaja mempercepat waktu. Memangnya selama apa berdua dengan cowok macam dia.
"Iya juga sih, tapi baiklah biar aku saja dulu. Namaku Something Darmasih, papaku bilang Some benar. Aku masih sekolah ingat, jadi komitmen pertunangan kayaknya harus dijalani agak lama dari awal kita memutuskan," ujar Some sambil menerima makanan pesanannya dengan ramah.
Dia nampak mengaduk bakso yang ia pesan. "Namaku Brian aku baru masuk kuliah bisnis dan perkantoran. Rencananya mau kerja di kantor, dan pertunangan agak lama itu harus tabah ya," ujarnya yang membuat Some tertawa.
Some merapikan rambutnya yang berjatuhan ke muka karena terkibas angin. "Emangnya kau punya harapan untuk bertunangan di usia kuliah saja belum lulus," ujar Some penasaran. Brian langsung menatap Some dengan perhatian.
"Ya aku ingin punya harapan untuk menikah dan bekerja, sebuah rumah yang diharapkan dari diriku," ujarnya yang membuat Some meneguk ludah. Benarkah itu adalah harapan yang jelas dirinya juga harus memilikinya.
"Ya Allah ternyata kamu orang yang agak penurut tentang ajaran kolot," ujar Some.
"Memangnya kenapa Some kamu tidak suka dijodohkan begini. Dan aku tahu kamu masih punya waktu untuk menentukan siapa tunangan yang kau inginkan," kata Brian dengan senyum mengejek. Some hanya mengangguk saja, membuat Some penasaran apakah pria itu akan menerima seseorang jika dia punya penyakit parah.
"Jadi kamu sudah punya jawaban bagaimana aku?" tanya Some basa - basi.
Pria itu tersenyum kecil. "Kamu cewek yang baik Some, tapi aku akan menerima jika kamu juga menerima. Jadi apa pertimbangan kamu?" tanyanya ke inti. Some merasa inilah pertanyaan yang paling sulit ia jawab.
"Bolehkan aku bertanya dengan jujur, kamu akan menerima cewek misal sepertiku yang punya penyakit tertentu. Namun penyakit itu belum ada jaminan untuk bertahan lama, tapi apakah kamu akan bertahan?" tanya Some ia juga gemetar menanyakannya. Tapi jawaban itu membuatnya mengharapkan jawaban yang sesuai.
"Apa maksudnya penyakit serius. Percayalah Some aku dijodohkan dengannya saja sudah menjadi rintangan, dan menerima penyakitnya itu mungkin tidak akan," ujarnya sambil menatap Some dengan senyum tulus. Some tahu senyum itu menandakan bahwa ia tidak tahu apa - apa.
Namun ketika ia melihat bekas suntikan di lengan Some, dan ada beberapa hasil periksa dokter. Membuat Brian langsung meneguk ludahnya. "Percayalah Some semua akan baik - baik saja, jangan dipikirkan perkataan ku ya," ujarnya sebelum mendapat telepon dan meninggalkan Some. Karena dosen di kampusnya datang ke kelas.
Tiba - tiba aura Some untuk makan jadi hilang. Dia langsung menetapkan diri baik - baik.
Apakah semua jawaban dari pria yang akan dijodohkan dengan ku berkata sama. Penyakit ini hanya akan membuat mereka bulak - balik. Antara tetap bersamaku atau kesal karena kepergian ku.
**