NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Kekayaan Fana

"Tunggu, Gus!" Endang berseru, suaranya kering, menarik Agus kembali dari ambang pintu. "Apa maksudnya 'Tumbal Pengantin'?"

Agus mengerutkan kening. Kegembiraan yang baru saja membuncah di dadanya seketika menguap, digantikan oleh kejengkelan. Ia benci jika Endang mengintervensi visi besarnya dengan detail-detail remeh.

"Apa yang kau bicarakan? Jangan percaya pada omong kosong di internet. Semua situs mistis itu hanya dipenuhi oleh orang-orang gagal yang ingin menakut-nakuti," balas Agus, mencoba meraih kembali kunci mobil.

"Aku melihatnya di ponselmu," Endang bersikeras. Ia kembali ke sofa, memungut ponsel Agus yang retak itu. Meskipun layarnya seperti sarang laba-laba, Endang berhasil membuka kembali hasil pencarian yang ia temukan. "Baca ini, Gus. ‘Lanang Sewu: Tumbal Pengantin Spiritual’. Di sini dijelaskan bahwa entitas itu adalah Raden Titi Kusumo, Pangeran yang dikutuk. Tumbalnya tidak hanya darah, tapi... keintiman."

Agus mengabaikan Endang sejenak, sibuk mencari kopi di dapur. "Jelas itu omong kosong. Mana ada pesugihan yang meminta... hal semacam itu? Mereka hanya butuh darah atau emas, Endang. Kekuatan spiritual bekerja berdasarkan pertukaran energi, bukan drama romantis."

"Ini bukan drama, ini legenda," kata Endang, suaranya kini semakin stabil, didukung oleh fakta yang ia temukan. Ia mulai membaca dengan suara yang bergetar, mengutip dari forum tersembunyi itu. "Dikatakan Raden Titi Kusumo dikutuk untuk selamanya haus akan koneksi spiritual yang tulus. Tumbalnya haruslah istri sah dari pemohon, dan ritualnya adalah 'pertemuan suci' yang harus dilakukan secara rutin."

Agus kembali ke sofa, kali ini ia duduk di samping Endang. Ia menyambar ponsel itu, membaca cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, tetapi ia tidak akan membiarkan rasa takut itu mengendalikan dirinya.

"Lihat! Ini forum tahun 2005. Tulisannya buram, sumbernya tidak jelas. Ini hanya fantasi horor, Endang," bantah Agus, melempar ponsel itu kembali ke sofa.

"Lalu kenapa Kuskandar hanya mengirim nama itu dan lokasi Gunung Gumrebek? Dia tahu persis apa yang dia lakukan, Gus!" Endang menunjuk layar. "Di sini ada kisah tentang seorang istri yang gila setelah ritual keempat. Dia mulai bicara dengan entitas lain, suaminya kaya raya, tetapi dia kehilangan dirinya sendiri."

Agus menghela napas panjang, mencoba meredakan ketegangan. Ia harus menggunakan retorika bisnisnya, bahkan untuk menjual neraka.

"Dengar aku, Endang. Kita harus melihat ini secara rasional. Kita sedang berhadapan dengan penyitaan, kita akan kehilangan segalanya. Kita akan kembali ke kontrakan petak, makan mi instan, dan melihat masa depan kita lenyap. Kita sudah mencoba jalan yang benar, dan jalan itu mengkhianati kita."

"Lalu jalan ini, jalan iblis ini, akan mengkhianati jiwa kita!" balas Endang, matanya berkaca-kaca. "Keintiman kita adalah satu-satunya hal suci yang tersisa dari pernikahan ini. Kau ingin menjualnya untuk uang fana?"

"Itu spiritual, Endang! Mereka bilang 'pertemuan suci'. Mungkin ini hanya transfer energi. Mungkin ini hanya ritual simbolis yang membutuhkan kehadiranmu sebagai istri sah untuk mengikat perjanjiannya. Kau berlebihan!" Agus mencondongkan tubuh, mencoba meraih tangan Endang, tetapi Endang menarik tangannya.

"Kau tahu betul apa maksud 'keintiman' spiritual dengan entitas yang haus akan koneksi. Kau hanya mencoba menutup mata karena kau terlalu takut untuk kembali miskin," tuduh Endang.

Agus merasakan kemarahan yang membakar. Endang menyentuh inti dari konflik internalnya: ia menolak mengakui kegagalan finansialnya sendiri, dan lebih memilih mengorbankan segalanya, termasuk Endang.

"Baiklah, anggap saja itu benar!" seru Agus, berdiri dan mulai mondar-mandir di ruang tamu sempit itu. "Anggap saja Raden Titi Kusumo membutuhkan... kontak. Apakah kamu lebih memilih miskin dan mulia, daripada kaya dan bahagia? Kita bisa memiliki segalanya, Endang! Vila, mobil, bank, masa depan anak-anak kita, jika kita punya nanti! Semuanya akan terjamin!"

"Dengan harga yang tidak bisa kau bayar kembali, Gus!" Endang bangkit, berdiri tegak, menghadapi suaminya. "Kau menjualku, kau menjual kehormatanku, dan kau menyebutnya investasi?"

"Aku tidak menjualmu! Aku melindungi kita!" sanggahAgus. "Ini adalah pengorbanan kecil demi kebebasan abadi. Orang harus melakukan apa pun untuk bertahan hidup. Kita akan menjadi kaya, dan kita bisa membayar semua dosa ini kembali nanti dengan amal dan kebajikan!"

Endang menatap suaminya yang kini dikuasai oleh kegilaan finansial yang paling gelap. Wajahnya yang tegang, matanya yang berkilat, menunjukkan bahwa ambisinya telah sepenuhnya menelan moralitasnya. Tidak ada lagi Agus yang ia kenal. Yang ada hanyalah Lanang Sewu, yang siap mengorbankan istrinya sendiri demi kekayaan.

"Aku tidak akan pernah melakukannya," kata Endang, suaranya pelan tetapi penuh ketegasan yang dingin. "Aku tidak akan menjadi tumbalmu."

Agus tertawa, tawa hampa yang mengancam. "Kau tidak punya pilihan, Sayang. Kau terikat padaku, pada pernikahan ini, pada janji yang kita buat. Kau adalah asetku, dan aku akan menggunakannya untuk menyelamatkan kita."

"Aku bukan aset!" teriak Endang.

Agus melangkah maju, meraih pergelangan tangan Endang dengan paksa. "Kau adalah istriku! Dan kau akan ikut denganku ke Gunung Gumrebek. Kita akan mencari tahu detailnya, dan kau akan melihat, ini tidak seburuk yang kau bayangkan. Kau hanya perlu sedikit tenang dan percaya padaku—"

"Aku tidak percaya padamu lagi!"

Endang menarik tangannya dengan kuat. Dalam kilatan amarah yang murni, didorong oleh keputusasaan dan rasa jijik terhadap pengkhianatan suaminya, Endang mengangkat tangan dan menampar pipi Agus sekuat tenaga.

Suara tamparan itu memecah keheningan apartemen, lebih keras daripada benturan ponsel yang retak tadi malam. Agus terkejut, pipinya terasa panas dan berdenyut. Ia melepaskan Endang, matanya melebar karena tidak percaya.

Endang terengah-engah, air mata menetes di pipinya, tangannya sendiri gemetar. Ia tidak pernah melakukan kekerasan. Tamparan ini adalah penolakan mutlaknya, batas yang tidak bisa dilampaui.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini," desis Endang, menatap mata Agus yang kini dipenuhi amarah bercampur keterkejutan. "Jangan sentuh kehormatanku!"

Tamparan Endang terasa panas, tetapi rasa lapar kekayaan Agus jauh lebih panas.

Agus menyentuh pipinya yang memerah, matanya memancarkan rasa terkejut sesaat, lalu segera digantikan oleh kepedihan yang dibuat-buat. Ia tahu ia tidak bisa membalas kemarahan Endang dengan kemarahan lagi; ia harus menggunakan senjata terakhirnya: manipulasi emosional.

“Kau menamparku,” bisik Agus, suaranya dipenuhi keterlukaan yang terdengar sangat meyakinkan. “Kau menamparku, padahal aku hanya mencoba menyelamatkan kita.”

Endang mundur selangkah, tangannya yang gemetar masih terasa sakit. Air mata yang baru saja tumpah kini mengering, digantikan oleh rasa bersalah yang menusuk. Ia memang tidak pernah berniat menyakiti Agus. Tindakan itu adalah refleks putus asa untuk melindungi dirinya sendiri.

“Aku tidak bermaksud—” Endang memulai, tetapi Agus memotongnya.

“Aku tahu kamu tidak bermaksud,” ujar Agus, melangkah mendekat, perlahan. Ia memegang bahu Endang, kelembutannya terasa seperti jerat yang licin. “Aku tahu kamu hanya ketakutan. Dan aku mengerti, Sayang. Aku mengerti ketakutanmu. Aku juga takut.”

Kata-kata 'aku juga takut' adalah kunci. Itu adalah pengakuan pertama dari Agus, meskipun itu adalah kebohongan yang dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Endang.

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!