Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
Pagi itu, Aneska melangkah masuk ke kantor agensi periklanannya dengan kepala tegak dan senyum kemenangan. Meskipun pinggangnya terasa hampir copot dan kakinya sedikit gemetar akibat "pembayaran empat ronde" semalam, ia merasa sangat puas. Ia berhasil mempertahankan harga dirinya sebagai wanita karier mandiri.
"Pagi, Miska!" sapa Aneska ceria saat sampai di kubikel sahabatnya.
Miska yang sedang memegang gelas kopi hampir menjatuhkannya saat melihat Aneska. "Gila! Nyonya Sebasta beneran masuk kantor? Gue kira lo udah bakal jadi nyonya sosialita yang kerjanya cuma arisan berlian!"
"Sori ya, gue bukan tipe cewek pajangan," sahut Aneska bangga sambil menyalakan komputernya. "Gimana progress klien kosmetik kemarin? Udah gue kirim revisi konsepnya kan?"
Namun, suasana kantor terasa aneh. Semua orang tampak tegang, beberapa manajer berlarian dengan wajah pucat, dan ruang rapat utama sedang disiapkan dengan bunga-bunga segar serta makanan mewah.
"Ada apa sih? Mau ada kunjungan menteri?" tanya Aneska heran.
Miska mendekat dan berbisik sangat pelan. "Nes, lo nggak tahu? Agensi kita baru aja diakuisisi semalam! Katanya investor barunya mau dateng inspeksi jam sembilan ini. Semua orang lagi ketakutan, denger-denger bos barunya itu tangan besi!"
Aneska mengernyit. "Akuisisi? Siapa yang beli?"
Belum sempat Miska menjawab, pintu otomatis lobi terbuka. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai marmer, diikuti oleh rombongan pria berjas hitam yang tampak sangat profesional. Di paling depan, berdiri seorang pria dengan aura dominan yang bisa membuat oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis.
Aneska membeku. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Itu Arga. Argani Sebasta, dengan setelan jas navy rancangan desainer ternama, kacamata hitam yang baru saja ia lepas, dan tatapan dingin yang belum pernah Aneska lihat sebelumnya di rumah.
"Selamat pagi semuanya," suara bariton Arga menggema. "Saya Argani Sebasta dari Sebasta Group. Mulai hari ini, agensi ini resmi berada di bawah naungan perusahaan saya."
Aneska hampir saja berteriak. Bener-bener gila! Jadi ini alasan dia izinin gue kerja?!
Arga berjalan pelan mengitari deretan kubikel. Seluruh karyawan menunduk hormat, kecuali Aneska yang berdiri dengan mata melotot dan tangan mengepal di samping tubuhnya. Saat Arga sampai di depan meja Aneska, ia berhenti. Ia menatap Aneska seolah mereka tidak pernah tidur di satu ranjang yang sama semalam.
"Dan kamu... siapa namamu?" tanya Arga dengan wajah sangat kaku, namun matanya berkilat nakal yang hanya bisa dibaca oleh Aneska.
Aneska menarik napas dalam, mencoba menahan diri agar tidak melempar stapler ke wajah suaminya. "Aneska Graceva, Pak. Senior Creative."
"Oh, Aneska. Saya dengar performa kamu bagus," Arga mendekat, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah meja Aneska hingga aroma parfum maskulinnya memenuhi indra penciuman Aneska. "Tapi saya tidak suka karyawan yang bajunya... sedikit kusut di bagian belakang. Apa kamu kurang istirahat semalam?"
Wajah Aneska memerah padam sampai ke telinga. Ia tahu Arga sedang menyindir kejadian semalam yang membuat kemejanya berantakan. Teman-teman kantornya yang lain hanya bisa menelan ludah, mengira Aneska sedang dimarahi oleh bos besar.
"Saya berdedikasi tinggi pada pekerjaan saya, Pak Arga yang terhormat. Jadi gangguan kecil semalam tidak akan menghambat profesionalitas saya," balas Aneska dengan penekanan pada kata 'gangguan'.
Arga menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat para staf wanita di kantor itu hampir pingsan karena terpesona, namun membuat Aneska ingin meledak.
"Bagus. Kalau begitu, saya ingin Aneska Graceva ikut ke ruang rapat untuk mempresentasikan konsep terbaru sendirian. Saya ingin melihat langsung seberapa 'berdedikasi' kamu," perintah Arga mutlak.
......................
Di Dalam Ruang Rapat
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, Aneska langsung melempar map dokumennya ke meja.
"ARGA! LO APA-APAAN SIH?!" teriak Aneska bar-bar. "Maksud lo apa beli agensi gue?! Lo mau mata-matain gue?! Lo beneran gila ya?!"
Arga yang tadi tampak dingin, kini langsung bersandar di kursi kebesarannya dan tertawa lepas. Ia merentangkan tangannya. "Sini, Sayang. Peluk dulu bos barunya."
"Nggak mau! Gue marah! Lo bilang lo dukung karier gue, tapi lo malah beli kantornya! Ini namanya lo mau ngurung gue di dalam genggaman lo!" Aneska berdiri di seberang meja dengan napas memburu.
Arga berdiri, berjalan santai memutari meja dan mengunci Aneska di antara tubuhnya dan meja rapat. "Nes, ini namanya investasi. Daripada gue khawatir lo digodain Satria-Satria lain di sini, mending gue sekalian jadi pemiliknya. Jadi gue punya alasan legal buat dateng ke sini tiap jam makan siang buat... 'inspeksi' istri gue."
"Posesif gila! Perjaka tua nggak waras!" omel Aneska, tapi tangannya tetap ditarik Arga hingga ia terduduk di atas meja rapat—lagi.
"Iya, gue emang nggak waras kalau soal lo," Arga mencium leher Aneska dengan posesif, meninggalkan tanda baru di bawah kerah kemejanya. "Gimana? Lebih enak kerja di bawah perintah gue, atau mau gue pecat sekarang juga biar lo balik jadi nyonya rumah?"
Aneska memegang bahu Arga, mencoba menjauhkan wajah pria itu. "Gue tetep mau kerja secara profesional! Dan jangan harap lo bisa dapet keistimewaan di sini!"
"Oh ya?" Arga menatap bibir Aneska dengan lapar. "Tapi gue bosnya sekarang. Dan gue mau rapat ini berlangsung sangat lama. Linda sudah gue minta buat jaga di depan, nggak ada yang boleh masuk."
"Arga, ini kantor! Nanti orang curiga!"
"Biarin. Mereka bakal mikir kita lagi debat hebat soal strategi pemasaran," bisik Arga serak, tangannya mulai masuk ke balik kemeja Aneska. "Sekarang, tunjukin ke gue konsep 'presentasi' lo yang paling panas, Nyonya Sebasta."
Aneska mendesah pasrah. Ternyata kabur dari dominasi Arga di rumah adalah hal mustahil jika pria itu sanggup membeli seluruh dunianya hanya demi menjaganya.