Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Kenapa para ibu mertua diabad ini sangat senang sekali berterik. Apa mungkin karena tidak pernah healing, makanya batin mereka stres.
Entahlah..!
Taoi memang semenjak hidup kembali dalam raga Song Aran, Pamela Anderson selalu melihat ibu-ibu yang gemar bergosip dan marah berteriak dan angkuh.
"Diam..!" tegas Xiao Jian dnegan wajah sedingin dinding es dikutub utara.
"Anak durhaka, berani-beraninya kau membentak ibumu sendiri.!" Wang Lian terjingkat, ronanya pias tak menyangka.
"Setelah menikah kau malah menjadi kurang ajar begini, aku ibumu yang wajib kau hormati."
"Ran'er, pergilah kedapur untuk masak." Xiao Jian mengedipkan mata pasa sang istri.
Song Aran mengangguk, menoleh pada Wang Lian.
"Ibu, pergi dulu..!"
"Menantu macam apa kau ini..? aku sedang berbicara denganmu..!" Wang Lian menghitam, ia menjinjing roknya, bersiap menyusul Aran kedapur.
Xiao Jian sigap menghadang jalan wanita tua itu.
"Ibu, bukannya kau pernah mengatakan jika tidak boleh menunda memasak..? aku tidak keberatan jika Ibu memarahiku, karena ibu yang sudah merawatku. Tapi Ran'er menikahiku bukan untuk dimarahi, apa lagi menderita karena ditindas olehmu."
Tatapan dingin setajam Stalaktit digua Hira, Wang Jian hunuskan tepat kenetra Wang Jian.
"Anak durhaka..! dia menantuku, bahkan kalau aku menginginkan kakinya, dia harus memberikannya dnegan sukarela."
"Tidak ada aturan seperti itu, bahkan orangtua kandungnya sendiri saja tidak berhak atas nyawanya." balas tajam Xiao Jian.
"Kurang ajar..! Kau menyimpan uang keluarga Xiao untuk menyenangkan keluarga istrimu, apa menurutmu itu benar..?"
"Ibu, jangan berpikiran sempit. Seratus koin itu tidak diberikan pada keluaran Ran'er, tapi untuk membeli barang."
Rahang Xiao Jian mengeres, ia sungguh sudat amat muak dengan rumah keluarganya sendiri.
"Ibu lebih tahu dariku berapa banyak uang yang dihabiskan adik kedua dan ketiga untuk pernikahan mereka. Ibu sendiri juga tahu, bagaimana perbandingan mahar mereka denganku."
"Sialanan, apa kau mau membuat ibumu yang sudah tua ini mati karena marah..?"
Wang Lian makin tersulut emosi setelah Xiao Jian mengungkit masalah mas kawan dan seserahan.
Putra kedua dan ketiganya menyerahkan seserahan melimpah, taoi kedua menantunya itu memberikan mahar sedikit sekali. Sementara Xiao Jian, putra yang paling ia benci justru malah menikahi wanita dari keluarga kaya dengan mahar besar.
"Kenapa kau membandingan dirimu dengan saudara-saudaramu..? apa kau iri..? seharusnya aku tidak pernah melahirkanmu." raung menggelegar Wang Lian.
"Benar, seharusnya dulu kau membunuhku agar tidak menyesal seperti sekarang." tandas Xiao Jian, melengos pergi dari hadapan Wang Lian.
BANG
Pintu dapur dibanting keras oleh Xiao Jian.
"Bajingan, pembawa sial..! seharusnya aku menenggelamkanmu, mencekik lehermu sampai mati."
Entah terbuat dari apa kerongkongan Wang Lian. Wanita itu berteriak jernih seperti tidak kenal haus, serak dan lelah.
Song Aran memandang cemas Xiao Jian. Kata-kata ibunya sungguh sangat menyakitkan.
Rasa sakit karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, rupanya tak sebanding dengan pedih hati menerima umpatan, sumpah serapah serta perlakuan tak adil dari wanita yang melahirkan kita.
Ini jauh lebih sesas perih, seperti jantung yang direnggut paksa dalam keadaan mata terbuka.
"Suamiku..!" sendu Aran mengikis jarak.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas." ucap Xiao Jian tersenyum lembut meski netranya memanas nanar.
Song Aran tak bergeming. Ia menelisik wajah mendung suaminya.
"Aku sudah terbiasa, jangan khawatir."
Mendengar itu, batin Song Aran makin pedih tersayat.
Seberat apa bebannya..? Bagaimana ia dibesarkan di rumah..? Berapa banyak penderitaan yang telah ia telan..?
Song Aran mengulurkan tangan, mengusap lembut wajah tegas berkharisma suaminya.
Hati Xiao Jian menghangat, jantungnya bertalu-talu.
Xiao Jian memeluk raga sang istri, menumpukkan dagunya dipundak, menghirup menenangkan dari ceruk leher wanita itu.
Song Aran menepuk-nepuk pelan punggung lebar Xiao Jian, mentransfer kenyamanan.
Setelah merasa tenang, Xiao Jian melerai dekapannya.
“Kita harus masak, sebentar lagi waktunya makan."
Hari itu berlalu dengan beragam cerita dan kesan.
Xiao Jian dan Song Aran, sudah berbaring diranjang dengan posisi saling berhadapan.
"Ceritakan masa kecilmu..? bagaimana ibu mertua memperlakukanmu..?" Song Aran membelai pipi sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Tidak ada yang menarik. Aku pernah dilempar kesungai saat berusia sepuluh tahun. Aku berjuang agar tidak tenggelam terbawa arus, sedangkan ibu menontonnya dari tempat ia bersembunyi. Jika seorang gadis kecil tidak lewat dan meminta bantuan, aku mungkin sudah mati saat itu."
"Astaga, ibu macam apa itu..?" Aran kaget sampai refleks bangun duduk.
"Kejam sekali, dasar iblis..!" desis geram Aran.
"Dari sana aku mendapatkan bekas luka ini." Xiao Jian menunjuk goresan diwajahnya.
"Saat masih kecil, aku selalu berpikir jika semua perlakuan kasar ibu itu karena aku tidak cukup baik atau kurang berbakti."
Tinju Xiao Jian perlahan mengepal, binar wajahnya juga meredup pelan.
"Setelah kejadian disungai itu, aku baru menyadari bahwa tidak peduli seberapa baik aku, dia tetap tidak menyukaiku. Sekali pun aku membawakan bulan kepangkuannya, ibu tetap membenciku."
Xiao Jian menarik lembut tubuh Song Aran kedalam rengkuhannya.
"Tapi, apa kau sungguh tidak ingat..?" tanya Xiao Jian yang membuat satu alis Aran naik tinggi.
"kau adalah dewi penyelamatku, gadis kecil itu dirimu."
Maa Aran mendelik, menarik kepala guna memandang wajah suaminya.
"Aku..?" Aran menunjuk hidungnya.
Xiao Jian mengangguk "makanya, tidak ada hutang budi, kau menyelamatkan aku, begitu juga sebaliknya. Sepertinya itu tanda jika memang kita ini ditakdirkan untuk bersama."
Song Aran tersenyum ranum.
"Wajar saja aku tidak ingat, aku baru tiga tahun jika pada saat itu usiamu sepuluh tahun."
Aran kembali menelusupkan wajahnya kedada sang suami.
"Tak apa aku lupa, asalkan bukan kau." Aran menggesek-gesekkan hidung bangirnya.
Xiao Jian tergelak, mencium gemas dahi sang istri.
Xiao Jian masih ingat wajah ibunya saat membiarkannya tenggelam. Saat ia mulai putus asa, tangisan minta tolong tertangkap indra pendengarannya.
"Tadi Lin Yei bilang kalau kau diam-diam datang menemuiku karena ini..?"
Wajah Xiao Jian memerah tersipu, mengangguk pelan, lalu bersembunyi diatas kepala sang istri.
Aran tergelak, wajah malu suaminya sungguh menggemaskan.
"Karena kita tidak boleh membangkang pada orang tua, ayo, kita cari cara untuk memutuskan hubungan dengan keluarga ini, bagaimana..?"
"Itu tidak akan mudah, karena aku putra sulung. Tapi aku sudah memikirkan sebuah cara."
"Apa itu..?" tanya Song Aran antusias berbinar, tapi sejurus kemudian wajahnya berubah cemberut.
"Tapi mana mau mereka melepaskanmu..? kau yang paling banyak bekerja, pandai berburu. Kau yang bisa menghasilkan uang lebih bagi rumah ini."
"Dimusim gugur dan musim dingin tahun ini, akau akan jarang pergi berburu." seringai sejuta arti terbit dibibir Xiao Jian.
Ekor netra Aran meruncing, cara mafia apa yang akan dipakai suaminya itu.
“Hanya setelah aku menjadi tak berharga, tanpa perlu diminta, ibu sendiri yang akan menyuruh kita pergi.