Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Seminggu berlalu sejak noda darah di kamar 222 membekas di memori Ezzra Velasquez. Namun, seminggu itu pula dunia Ezzra jungkir balik. Kabar mengenai putra mahkota Velasquez yang menyelamatkan nyawa seorang putri bangsawan Valerio tersebar di telinga orang tuanya.
Mommy Ezzra, Helena Velasquez, meledak dalam amarah yang belum pernah dilihat Ezzra sebelumnya. Bukan kepada Ezzra, melainkan kepada Sebastian, sang Daddy. Helena membayangkan skenario terburuk; bagaimana jika tekanan pekerjaan rendahan itu justru membuat putranya depresi dan melakukan hal nekat yang sama seperti gadis itu? Dengan air mata dan ancaman mogok bicara, Helena berhasil memaksa Sebastian mencabut hukuman "pembuangan" itu.
Ezzra kini kembali ke takhtanya. Ia bebas dari seragam housekeeping yang menyesakkan, bebas dari aroma cairan pembersih lantai, dan kembali mengenakan jaket kulit hitam serta mengendarai mobil muscle kesayangannya. Namun, ada harga yang harus dibayar: ia bersumpah untuk tidak lagi pulang dalam keadaan mabuk berat dan membatasi pesta-pesta gilanya.
Sore itu, saat Ezzra sedang bersantai di balkon apartemennya sambil menikmati semilir angin, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.
Nomor Tidak Dikenal: Mari bertemu!
Ezzra mengernyit. "Singkat, padat, dan tidak sopan," gumamnya. Ia berpikir itu mungkin salah satu gadis dari masa lalunya yang mencoba peruntungan kembali setelah mendengar dia "bebas".
Ezzra: Siapa ini?
Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.
Nomor Tidak Dikenal: Klub malam 'The Void'. Sekarang.
Ezzra tersenyum sinis. "Wah, wah," ucapnya pelan. "Umpan yang berani."
Sebenarnya, Ezzra enggan pergi. Ia baru saja mendapatkan kebebasannya dan tidak ingin ayahnya punya alasan untuk menendangnya kembali ke gudang hotel. Namun, ada rasa penasaran yang menggelitik. Gaya bicara pesan itu tidak terasa seperti mantan-mantan kekasihnya yang biasanya manja atau penuh drama. Ada otoritas dingin di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Klub malam 'The Void' dipenuhi oleh dentuman bass yang menggetarkan dada dan kilatan lampu neon biru-ungu. Ezzra masuk dengan langkah tenang, matanya menyapu ruangan. Ia tidak berniat menyentuh alkohol malam ini. Ia hanya ingin tahu siapa sosok di balik pesan misterius itu.
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah foto masuk. Foto itu menampilkan punggung seorang wanita yang duduk sendirian di depan meja bar, membelakangi keramaian. Rambut hitamnya tergerai indah, kontras dengan gaun satin tipis berwarna merah darah yang ia kenakan.
Ezzra melangkah mendekat. Semakin dekat ia berjalan, semakin familiar siluet itu baginya. Ketika ia berdiri tepat di samping kursi tinggi itu, jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak.
Gadis itu menoleh. Wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya yang tajam dan bibirnya yang dipulas lipstik gelap memberikan kesan kuat sekaligus rapuh.
"Kau???" ucap Ezzra kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Elowen Valerio di sini, di tempat yang penuh dengan godaan, hanya seminggu setelah gadis itu mencoba merobek nadinya sendiri.
"Hi!" ucap Elowen singkat, suaranya nyaris tertelan suara musik, namun matanya mengunci pandangan Ezzra.
"Bagaimana kabarmu? Maksudku... kau seharusnya masih di rumah sakit atau beristirahat di mansion," tanya Ezzra, suaranya penuh dengan nada keheranan sekaligus prihatin. Ia teringat bagaimana lemahnya tubuh ini saat ia angkat dari bathtub.
Elowen tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak peduli dengan basa-basi kesehatan. Ia menyesap minumannya—sesuatu yang tampak seperti air mineral, bukan alkohol—lalu menatap Ezzra dengan intensitas yang membuat pria itu merasa tidak nyaman.
"Ayo tidur denganku!" ucap Elowen tiba-tiba.
Deg.
Ezzra tertegun. Ia telah mendengar banyak ajakan tidur dari berbagai wanita, tapi tidak pernah dari seorang gadis yang baru saja ia selamatkan dari maut. Ezzra memang berandal, ia sering terlibat perkelahian di ring bawah tanah dan balapan liar yang mempertaruhkan nyawa, tapi ia memiliki satu prinsip: ia tidak pernah memanfaatkan wanita yang sedang tidak stabil. Terlebih lagi, Elowen adalah kekasih Jeff, temannya sendiri.
"Kenapa kau tidak mengajak kekasihmu saja? Jeff pasti akan dengan senang hati menjagamu," sahut Ezzra, mencoba mengembalikan kewarasannya.
"Tidak," jawab Elowen dengan cepat, nadanya dingin dan tak terbantahkan. "Aku tidak menginginkan Jeff. Aku menginginkanmu."
Ezzra tertawa kecil, tawa yang terdengar getir. "Kenapa aku? Kita bahkan tidak saling mengenal."
Elowen turun dari kursi bar-nya, melangkah mendekat hingga ia berada di dalam ruang pribadi Ezzra. Ia mendongak, menatap mata gelap Ezzra. "Karena kau... karena kau, aku tidak jadi mati. Kau yang menarikku kembali, jadi kau yang harus bertanggung jawab atas apa yang kurasakan sekarang."
"Lalu apa maumu? Kau pikir dengan tidur denganku, beban hidupmu akan hilang?" tanya Ezzra, suaranya merendah, menjadi lebih dalam.
"Tidur denganku, Ezzra. Hanya itu. Jangan banyak tanya," bisik Elowen, jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan Ezzra, tepat di tempat Elowen mencengkeramnya erat di ambulans seminggu lalu.
Ezzra menatap jemari itu. Ia bisa merasakan keputusasaan yang sama, keinginan untuk "merasakan sesuatu" agar tidak merasa hampa. Ezzra tahu ini salah. Ia tahu Jeff akan membencinya. Ia tahu ayahnya akan mengamuk. Tapi melihat tatapan Elowen yang seperti angsa yang tersesat di tengah badai, egonya runtuh.
"Baiklah," ucap Ezzra cepat, seolah takut ia akan berubah pikiran. "Tapi tidak di sini. Dan tidak dengan alkohol."
Ezzra meraih pergelangan tangan Elowen—kali ini dengan lembut, menghindari bekas luka yang masih tertutup perban di balik lengan gaunnya—dan membawanya keluar dari klub menuju parkiran.
Mobil Ezzra melaju membelah malam menuju penthouse pribadinya yang terletak di lantai teratas gedung Velasquez Tower. Selama perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa begitu berat. Elowen hanya menatap keluar jendela, sementara Ezzra fokus pada jalanan, tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat.
Sampai di penthouse, Ezzra membuka pintu dan membiarkan Elowen masuk lebih dulu. Ruangan itu luas, minimalis, dengan pemandangan kota yang berkilauan di balik dinding kaca.
"Kau yakin dengan ini, Valerio?" tanya Ezzra saat mereka berdiri di tengah ruang tamu yang remang.
Elowen berbalik, menatap Ezzra tanpa keraguan. "Aku tidak pernah seyakin ini. Aku lelah berpura-pura menjadi putri yang sempurna untuk semua orang. Aku hanya ingin menjadi hancur malam ini, dan aku ingin kau yang menyaksikannya."
Ezzra melangkah mendekat, melepaskan jaket kulitnya. Ia menatap Elowen dengan tatapan yang kini penuh dengan gairah sekaligus rasa ingin melindungi yang aneh. Di depannya bukan hanya seorang gadis cantik, tapi sebuah jiwa yang sedang menjerit meminta pertolongan dengan cara yang paling terlarang.
"Malam ini, tidak ada Valerio, tidak ada Velasquez, dan tidak ada Jeff," bisik Ezzra tepat di depan wajah Elowen.
Elowen mengangguk pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Hanya kita."
Malam itu, di atas ketinggian kota, dua jiwa yang sama-sama tersesat memutuskan untuk saling menemukan dalam cara yang paling berdosa.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...