NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Udara dingin fajar di Bandara Berlin Brandenburg terasa menusuk hingga ke tulang, namun area terminal jet pribadi itu tetap sunyi dan terjaga. Di sudut ruang tunggu eksklusif yang temaram, Lucky Caleb duduk dengan bahu merosot, kepalanya terkulai berat ke samping.

Matanya terpejam rapat, menyisakan bayangan kelelahan yang nyata di bawah kelopak matanya.

Freya, yang duduk tegak di sampingnya, membiarkan bahunya menjadi sandaran bagi sang bintang. Ia mengenakan hoodie kebesaran warna krem dan masker hitam andalannya. Meski tubuhnya jauh lebih kecil dari Lucky, ia tampak kokoh menjadi penopang. Bau parfum Lucky yang khas, campuran kayu dan citrus—memenuhi indra penciumannya, membuat jantung Freya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.

"Frey..." gumam Lucky dengan suara parau, nyaris tidak membuka matanya. "Apa tidak bisa kita tidur di hotel saja? Kepalaku rasanya mau pecah. Aku masih sangat mengantuk."

Lucky menggeser kepalanya, mencari posisi yang lebih nyaman di lekukan leher Freya. Gerakannya begitu manja, seolah ia lupa bahwa mereka berada di tempat umum, meski hanya ada beberapa staf bandara di kejauhan. Baginya, Freya adalah zona nyaman, satu-satunya tempat di mana ia boleh menunjukkan kerapuhannya tanpa dinilai oleh dunia.

Freya mengusap pelan lengan jaket Lucky, mencoba memberikan kehangatan. "Tahan sebentar lagi, Luc. Pesawatnya sedang dipersiapkan. Kalau kita kembali ke hotel, jadwalmu di London akan berantakan. Tidurlah di bahuku dulu. Aku akan membangunkanmu saat boarding."

"Kau selalu bilang begitu," bisik Lucky, namun ia tetap menurut. Ia menghela napas panjang, perlahan-lahan napasnya menjadi teratur seiring dengan kantuk yang kembali menjemputnya.

Freya menatap puncak kepala Lucky. Di balik maskernya, ia tersenyum pahit. Jika saja Lucky tahu bahwa asistennya ini adalah seorang Montgomery yang bisa saja memerintahkan seluruh maskapai ini untuk menunggu hingga ia puas tidur, mungkin pria itu akan terkejut setengah mati. Namun, Freya lebih menikmati momen ini—momen di mana ia dibutuhkan bukan karena hartanya, tapi karena keberadaannya sebagai sandaran.

"Tidurlah, Luc," bisiknya sangat pelan, hampir tertelan deru mesin pesawat di kejauhan. "Aku akan menjagamu."

Sementara itu, di Bandara Heathrow, London, suasana jauh lebih sibuk meski jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Di area kedatangan internasional, seorang wanita berdiri mematung di dekat pilar besar. Ia mengenakan parit cokelat panjang dengan syal melilit lehernya. Rambutnya diikat rapi, mencerminkan ketegasan seorang mahasiswi hukum yang terbiasa dengan logika.

Renata Brox tidak tidur semalaman.

Setelah tiga tahun melarikan diri, setelah tiga tahun mengubur perasaan di bawah tumpukan diktat hukum, semalam ia mencapai titik baliknya. Keputusan untuk mundur tiga tahun lalu mungkin adalah keputusan yang logis untuk menyelamatkan karier Lucky dari ancaman orang tuanya, namun itu adalah keputusan yang menghancurkan jiwanya.

Kini, Renata bukan lagi gadis yatim-piatu dari Kreuzberg yang ketakutan. Ia telah belajar tentang hak, tentang keadilan, dan tentang bagaimana cara memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ia tidak akan lari lagi. Ia tidak akan membiarkan orang tua Lucky mendikte kebahagiaannya.

Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Lucky, batinnya sambil meremas tali tasnya.

Renata sangat mengenal kebiasaan Lucky. Pria itu benci keramaian bandara di siang hari. Ia selalu memilih penerbangan paling pagi atau paling malam untuk menghindari kerumunan. Jika Lucky mendarat di London hari ini, maka fajar inilah saatnya.

Setiap kali pintu kedatangan terbuka, jantung Renata mencelos. Ia memperhatikan setiap pria tinggi yang keluar, berharap menemukan sosok yang ia rindukan. Ia sudah menyiapkan ribuan kata di kepalanya, penjelasan yang tertunda selama tiga tahun, dan permintaan maaf yang tulus karena telah pergi tanpa sepatah kata pun.

Di dalam kabin pesawat jet pribadi yang mulai mengudara, Lucky masih terlelap. Namun kali ini, ia tidak lagi bersandar di bahu Freya. Ia tidur di kursi flatbed yang nyaman.

Freya duduk di kursi seberangnya, menatap keluar jendela ke arah hamparan awan yang mulai memerah tertimpa cahaya matahari terbit. Ia mengambil ponselnya, melihat pesan singkat dari kakaknya, Fank.

“Jangan lupa kuliahmu di Oxford, Freya. Ayah mulai bertanya kenapa kau tidak pernah mengirim foto di perpustakaan lagi. Dan berhati-hatilah di London, ada pertemuan direksi Montgomery besok lusa.”

Freya menghela napas, jemarinya lincah membalas: “Semua terkendali, Kak. Jangan biarkan Ayah curiga.”

Ia menyimpan ponselnya dan beralih menatap Lucky yang tertidur pulas. Freya tahu bahwa di London nanti, badai sebenarnya akan dimulai. Ia memiliki firasat bahwa pencarian Lucky akan mencapai puncaknya di sana. Sebagai asisten, tugasnya adalah mempermudah jalan Lucky. Namun sebagai wanita yang mencintainya secara rahasia, Freya merasakan perih yang mulai merayap di dadanya.

Ia tahu tentang Renata. Ia tahu bahwa setiap lagu yang ia poles riasannya adalah untuk wanita itu. Namun, Freya tetap di sini, menjadi orang yang menyiapkan kopi pagi hari, yang meniup bibirnya saat ia manyun, dan yang menjadi tempatnya bersandar saat dunia terasa terlalu berat.

Pesawat mulai merendah saat memasuki wilayah udara London. Lucky terbangun, mengucek matanya yang masih sedikit sembab. Ia melihat Freya yang sedang sibuk merapikan berkas-berkas jadwalnya.

"Frey," panggil Lucky.

"Ya, Luc?" Freya menoleh, maskernya sudah kembali terpasang sempurna.

"Entah kenapa, aku merasa London kali ini akan berbeda," ucap Lucky sambil menatap lurus ke depan. "Seperti ada sesuatu yang menungguku di sana."

Freya terdiam sejenak. Ia tahu apa yang Lucky harapkan. "Apa pun yang menunggumu, pastikan kau siap menghadapinya, Luc. Dan ingat, kau tidak sendirian."

Lucky tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang hanya ia berikan pada Freya. "Iya, aku tahu. Aku punya asisten paling galak di dunia."

Pesawat menyentuh landasan pacu Heathrow dengan guncangan pelan. Saat mereka berjalan keluar menuju area kedatangan, Lucky memakai kacamata hitam dan topi rendah. Freya berjalan setengah langkah di belakangnya, waspada dengan masker tinggi dan mata yang memindai sekitar.

Di luar pintu kaca yang otomatis terbuka, Renata Brox berdiri tegak. Matanya membelalak saat melihat sosok pria yang sangat ia kenal berjalan keluar dengan kawalan ketat.

Waktu seolah melambat.

Lucky berhenti sejenak, langkahnya tertahan bukan karena ia melihat Renata, tapi karena tali sepatunya terlepas.

Tanpa perlu diminta, Freya langsung berlutut di depan Lucky untuk mengikatkan tali sepatu itu—sebuah tindakan pengabdian yang sudah menjadi kebiasaan.

Renata menatap pemandangan itu dari jarak sepuluh meter. Ia melihat Lucky yang menatap asistennya dengan tatapan lembut, dan ia melihat betapa intimnya interaksi mereka meski di tempat umum.

Dadanya berdenyut. Siapa gadis bermasker itu? Mengapa Lucky membiarkannya menyentuhnya begitu dekat?

Renata menarik napas panjang, menguatkan kakinya yang terasa lemas. Ia melangkah maju, melewati kerumunan kecil staf bandara.

"Lucky?" suaranya pecah di tengah keriuhan terminal.

Lucky Caleb membeku.

Suara itu... suara yang selama tiga tahun ini hanya ada dalam mimpinya. Ia mendongak perlahan, mengabaikan Freya yang baru saja selesai mengikat sepatunya. Di depannya, berdiri Renata Brox, wanita yang menjadi alasan semua kesedihannya.

Di saat yang sama, Freya berdiri. Ia melihat tatapan Lucky yang berubah total—tatapan yang penuh kerinduan, luka, dan keterkejutan. Freya menoleh ke arah wanita yang memanggil Lucky, dan saat itulah ia tahu: Perangnya baru saja dimulai.

"Renata..." bisik Lucky, suaranya terdengar seperti doa yang akhirnya terkabul.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!