Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Lorong rumah sakit malam itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam. Lampu putih yang menyala terang justru membuat suasana terasa semakin dingin dan tegang. Di depan ruang tindakan, Joe berdiri dengan kedua tangan mengepal, rahangnya mengeras menahan kecemasan yang terus menggerogoti.
Pintu ruang tindakan akhirnya terbuka.
Evelyn keluar dengan langkah tenang, namun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi yang mudah ditebak. Matanya langsung menemukan sosok Joe yang sejak tadi menunggu dengan gelisah.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya Joe cepat, suaranya sedikit serak karena terlalu lama menahan tegang.
Namun alih-alih langsung menjawab, Evelyn justru menatapnya lama. Tatapannya tajam, menelisik, seolah mencoba membongkar sesuatu yang tersembunyi di balik wajah dingin pria itu.
“Kamu siapa?” tanya Evelyn akhirnya.
Joe sedikit tertegun, namun segera menjawab, “Saya asistennya tuan Enzo.”
Evelyn mengangguk pelan. Ada kilatan pengertian di matanya, tapi juga terselip rasa kesal yang belum padam.
“Tidak perlu khawatir,” ucapnya datar. “Paling nanti kalau sudah sadar juga langsung kabur.”
Joe mengernyit, jelas tidak memahami maksudnya. “Maksudnya dok?”
Evelyn berdecak pelan, terlihat benar-benar kehilangan kesabaran. Ia menyilangkan tangan di depan dada, menatap Joe dengan sorot mata yang kini jauh lebih tajam.
“Kau asistennya kan? Bulan kemarin bosmu baru saja kena tusuk. Sekarang dia kena tembak.” Nada suaranya naik sedikit, penuh sindiran. “Sebenarnya apa yang kalian kerjakan?”
“Itu bukan urusan anda dok,” jawab Joe dingin, meski ada sedikit getaran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Evelyn langsung menatapnya tajam, kali ini benar-benar tersulut emosi.
“Jelas itu urusan saya,” serunya tegas. “Saya ini dokter. Saya perlu tahu penyebab pasien saya terluka. Atau setidaknya tahu apakah besok dia akan datang lagi dengan luka yang lebih parah.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Joe menelan ludahnya. Ia baru tahu wanita di hadapannya bukan tipe dokter yang bisa dibohongi dengan jawaban kosong. Tapi mengapa tuannya suka dengan wanita seperti ini?
Tatapan Evelyn tidak bergeser sedikit pun, seolah menunggu jawaban yang jujur, atau setidaknya sesuatu yang masuk akal.
“Dia…” Joe akhirnya membuka suara, namun kalimatnya menggantung. Ia mengalihkan pandangan sejenak, seperti sedang menimbang sesuatu yang berat.
Evelyn mengangkat satu alis. “Dia apa?”
Joe menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Bos saya… punya banyak urusan,” katanya hati-hati.
Evelyn terdiam. Jawaban itu tidak sepenuhnya menjelaskan, tapi cukup untuk mengonfirmasi dugaannya.
“Urusan apa sampai membuatnya tertembak,” cecar Evelyn.
"Dia di keroyok dok" ucapnya asal.
"Sudah ku duga" gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Ia lalu melangkah mendekat sedikit, menurunkan suaranya namun tetap tegas. “Pelurunya sudah saya keluarkan. Untungnya tidak mengenai organ vital"
Joe langsung mengangkat kepala, fokusnya kembali sepenuhnya pada kondisi Enzo.
“Apakah dia akan selamat?”
Evelyn menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Untuk sekarang, iya. Tapi…” Ia berhenti, memberi jeda yang membuat jantung Joe kembali menegang. “Kalau dia terus hidup seperti ini, saya tidak yakin keberuntungan akan selalu berpihak padanya.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan penuh makna.
Joe mengepalkan tangannya lagi, kali ini bukan karena cemas, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, kekhawatiran yang bercampur dengan kenyataan pahit yang tak bisa ia bantah.
Dari dalam ruangan, suara alat monitor berdetak pelan, menandakan bahwa Enzo masih bertahan… untuk saat ini.
Evelyn berbalik, bersiap kembali masuk ke dalam. Namun sebelum itu, ia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh,
“Kalau dia sadar nanti… pastikan dia tidak kabur lagi. Saya belum selesai dengannya.”
Joe terdiam.
Untuk pertama kalinya, bukan hanya rasa takut yang ia rasakan… tapi juga firasat bahwa pertemuan antara dokter itu dan bosnya bukanlah kebetulan semata.
Dan mungkin, kali ini… segalanya tidak akan berjalan seperti biasanya.
*
*
Joe mendorong pintu ruang rawat itu perlahan. Engselnya berderit pelan, memecah kesunyian malam yang menggantung di dalam ruangan. Aroma obat-obatan dan suara stabil dari monitor jantung menjadi latar yang konstan.
Di atas ranjang, Enzo terbaring dengan tubuh yang masih dibalut perban. Wajahnya pucat, namun garis rahangnya tetap tegas seperti biasa. Sekilas, ia tampak seperti pasien pada umumnya, lemah dan tak berdaya.
Namun Joe tidak bodoh. Tatapannya menyipit. Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang, memperhatikan dengan seksama. Ada sesuatu yang janggal.
Lalu ia melihatnya. Kelopak mata itu bergerak. Sangat halus, hampir tak terlihat jika tidak diperhatikan.
Joe menarik napas pelan, lalu berdehem ringan.
“Khem….”
Seperti saklar yang ditekan, mata Enzo langsung terbuka. Tatapannya jernih seperti bukan orang yang baru terkena bius.
“Bos, kamu sudah sadar,” ucap Joe datar, meski dalam hatinya ia sudah bersiap dengan kemungkinan paling absurd.
Enzo menghela napas kecil, lalu memiringkan kepalanya sedikit. “Aku sudah sadar dari tadi,” jawabnya santai. “Aku sengaja pura-pura tidur supaya tidak diomeli sama dokter itu.”
Senyum kikuk muncul di wajahnya. Sangat kontras dengan reputasinya sebagai sosok yang ditakuti banyak orang.
Mulut Joe langsung menganga.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti menolak memproses kenyataan bahwa pria yang selama ini memimpin organisasi besar tanpa ragu… kini berakting seperti anak kecil yang takut dimarahi guru.
“Bos…Anda ini pimpinan mafia atau pasien drama?” Joe mengusap wajahnya kasar.
Enzo hanya menyeringai tipis, tidak merasa bersalah sedikit pun.
“Kalau kamu yang jadi aku, kamu juga bakal pura-pura mati sekalian,” balasnya santai.
Joe menatapnya tajam. Lalu, sebuah pemikiran muncul aneh, tapi masuk akal… setidaknya untuk seseorang seperti Enzo.
“Jangan bilang…Anda juga sengaja tertembak supaya bisa datang ke rumah sakit ini lagi?” Joe melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik.
Enzo tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengendikkan bahunya acuh, seolah pertanyaan itu terlalu sepele untuk diberi penjelasan.
Dan itu… sudah cukup sebagai jawaban.
Joe memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan reaksi yang hampir meledak.
“Luar biasa…” gumamnya pelan. “Orang lain menghindari peluru. Anda malah mendekatinya.”
Enzo terkekeh pelan, meski gerakan kecil itu membuatnya sedikit meringis karena luka di tubuhnya.
“Tidak semua hal bisa didapat tanpa risiko, Joe.”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi sepenuhnya bercanda. Ada sesuatu yang lebih dalam tersembunyi di balik kata-katanya.
Joe menatapnya lagi, kali ini lebih serius. “Semua ini… karena dokter itu?” tanyanya langsung.
Enzo terdiam sejenak. Tatapannya bergeser ke langit-langit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang bahkan sulit ia akui pada dirinya sendiri.
“Dia menarik,” ucapnya akhirnya singkat.
Joe mengangkat alis. “Menarik sampai anda rela ditembak?” tanya Joe konyol.
Enzo kembali menyeringai, tapi kali ini senyumnya berbeda. Lebih tipis. Lebih berbahaya.
“Atau mungkin…” lanjut Joe, suaranya lebih pelan, penuh arti, “anda sedang bermain dengan sesuatu yang seharusnya tidak anda sentuh?”
Tatapan Enzo langsung beralih padanya. Tajam. Dingin. Sekejap saja, aura santainya menghilang, digantikan oleh sosok yang selama ini dikenal Joe.
“Jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Enzo rendah.
Namun Joe tidak mundur.
“Bos, dokter itu bukan bagian dari dunia kita.” katanya tegas.
Keheningan kembali jatuh.
Detak monitor terdengar semakin jelas.
Enzo menatap Joe beberapa detik, lalu perlahan tersenyum lagi, kali ini lebih tenang, namun justru terasa lebih berbahaya.
“Justru itu yang membuatnya menarik.”
Joe menghela napas panjang. Ia sudah menduga. Ini bukan sekadar rasa penasaran.
Dan jika benar… Maka untuk pertama kalinya, bosnya, yang selalu mengendalikan segalanya, mungkin sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.
Joe langsung menoleh ke arah pintu.
Enzo refleks menutup matanya kembali, kembali ke posisi semula, bahkan mengatur napasnya agar terdengar lemah.
Joe membeku. “Serius, bos?” bisiknya tak percaya.
Namun Enzo tidak menjawab.
Karena detik berikutnya, gagang pintu mulai bergerak.
Dan sandiwara itu… kembali dimulai.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐