NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

BAB 2: Sangkar Emas dan Rahasia Teratai

Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit kediaman utama keluarga Asuka di Ginza tidak pernah benar-benar padam, seolah-olah cahaya itu adalah detak jantung buatan yang dipaksakan untuk terus berdenyut. Hana melangkah masuk melalui pintu kayu jati yang berat, merasakan hawa dingin pendingin ruangan yang langsung menusuk kulitnya yang masih hangat karena sisa teh di bengkel Ren. Ia berusaha berjalan seringan mungkin, menyembunyikan noda oli di gaun sutranya dengan tas tangan mahalnya, namun ia tahu di rumah ini, bayangan pun tidak bisa bersembunyi.

"Dari mana saja kau, Hana?" Suara itu datar, berat, dan penuh otoritas. Daichi Asuka berdiri di ujung tangga melingkar, masih mengenakan setelan jas formalnya seolah-olah waktu tidak pernah bergerak maju baginya. Matanya yang tajam langsung menangkap kekacauan kecil pada penampilan putrinya—rambut yang sedikit kusut, riasan yang memudar, dan yang paling fatal, sapu tangan putih dengan inisial emas yang ia genggam erat di tangan kirinya.

Hana berhenti bernapas sejenak. "Aku hanya butuh udara segar, Ayah. Pesta itu... terlalu menyesakkan."

"Udara segar di distrik industri Ota?" Daichi menuruni tangga, langkahnya bergema di atas lantai marmer yang mengilap. "GPS ponsel mu menunjukkan kau turun di daerah kumuh itu dua jam yang lalu. Dan sekarang kau pulang dengan keadaan seperti ini? Kau adalah wajah dari Asuka Group, Hana. Sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga Shimada. Tindakan impulsifmu bukan hanya mempermalukan diriku, tapi juga mempertaruhkan masa depan ribuan orang yang bergantung pada kesepakatan ini."

Hana merasakan kemarahan yang akrab mulai membakar dadanya, namun ia menahannya di balik bibir yang terkatup rapat. Di rumah ini, argumen adalah kelemahan. "Aku tidak akan mempermalukan siapa pun, Ayah. Aku hanya tersesat dan seorang... mekanik menolongku memesan taksi."

"Mekanik?" Daichi tertawa sinis, sebuah suara yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. "Jangan biarkan imajinasi romantismu mengaburkan kenyataan. Besok pagi, Kaito akan datang untuk menjemputmu. Kita akan makan siang dengan ayahnya, Takeshi Shimada. Pastikan kau terlihat sempurna. Dan buang kain kotor itu." Daichi menunjuk sapu tangan milik Ren dengan jijik sebelum berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.

Hana mengepalkan tangannya, merasakan tekstur halus dari sapu tangan itu. Kain kotor? Ayahnya tidak tahu bahwa kain ini jauh lebih bersih dan tulus daripada semua sutra yang ada di lemari pakaiannya. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan jatuh terduduk di atas tempat tidur berukuran king-size yang terasa seperti padang pasir yang luas dan sepi. Ia menatap sapu tangan itu, menyentuh inisial A.R. yang disulam dengan presisi yang luar biasa. Siapa Ren sebenarnya? Seorang mekanik biasa tidak akan menggunakan bahasa yang begitu formal atau memiliki aura yang begitu mengintimidasi.

Sementara itu, di sisi lain Tokyo yang berdebu, atmosfer di bengkel Kuroda Motor berubah total setelah taksi Hana menghilang di tikungan jalan. Ren, yang tadinya tampak seperti patung baja yang tenang, mendesah pelan. Ia menjatuhkan kunci pasnya ke atas meja kerja logam, menimbulkan denting nyaring yang memicu tawa kecil dari balik kegelapan rak ban.

"Kau tahu, Kak, memberikan sapu tangan pribadi kepada wanita asing adalah langkah yang sangat berisiko untuk seseorang yang mengaku ingin 'menghilang'," suara Elara memecah keheningan. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, melepas topi beanie-nya dan membiarkan rambut pirang panjangnya tergerai. Di belakangnya, Julian menyusul sambil menutup laptop tipisnya, wajahnya menunjukkan campuran antara kekaguman dan kecemasan.

Ren tidak menoleh. Ia mengambil kain lap untuk membersihkan sisa oli di tangannya, gerakannya lambat dan terkendali. "Dia dalam bahaya. Menolongnya adalah hal logis yang harus dilakukan untuk mencegah keributan di depan bengkel ini."

"Logis?" Julian mendengus pelan sambil duduk di atas tumpukan ban bekas. "Kak, aku sudah memantau semua kanal berita. Wanita itu adalah Hana Asuka. Jika ayahnya tahu dia berada di sini, atau jika orang-orang Ayah di London mendeteksi aktivitas mencurigakan, penyamaranmu tamat. Ayah sedang dalam mode perang dengan keluarga Shimada—calon mertua wanita itu. Kau baru saja menarik perhatian pada dirimu sendiri."

Ren akhirnya berbalik, menatap adik bungsunya dengan tatapan sedingin es yang tadi ia berikan pada para preman. "Shimada adalah hama. Mereka tumbuh besar karena memakan sisa-sisa yang ditinggalkan Hohenzollern. Jika mereka mengganggu ketenangan di distrik ini, aku sendiri yang akan memastikan mereka menghilang dari peta bisnis dunia."

"Tapi Kak," Elara mendekat, suaranya melembut. "Ibu tiri kita, Victoria, sedang mengawasi setiap gerak-gerik pengeluaran rahasiamu. Dia ingin tahu kenapa kau memilih Tokyo. Jika dia tahu kau terlibat dengan putri konglomerat Jepang, dia akan menggunakannya untuk menghasut Ayah. Dia ingin Julian yang menjadi pewaris utama, ingat?"

Julian mengangkat tangan dengan cepat. "Hei, jangan libatkan aku. Aku lebih suka meretas satelit daripada mengurus rapat direksi yang membosankan. Tapi Kak, Elara benar. Penyamaranmu sebagai 'Ren Kuroda' adalah satu-satunya perlindunganmu dari beban takhta itu. Kenapa kau membiarkan wanita itu masuk ke sini?"

Ren terdiam sejenak. Ia teringat tatapan mata Hana—tatapan seorang wanita yang sedang tenggelam namun terlalu bangga untuk berteriak minta tolong. Itu adalah tatapan yang sama yang ia lihat pada ibunya, Arisa, sesaat sebelum ibunya menyerah pada dinginnya kehidupan di istana Hohenzollern. "Dia mengingatkanku pada Ibu," ucap Ren lirih, hampir tidak terdengar.

Mendengar nama itu, Elara dan Julian terdiam. Mereka tahu betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh kematian Arisa bagi Ren. Bagi mereka, Ren bukan hanya kakak tertua, melainkan pelindung yang rela mengorbankan kemewahan demi sebuah prinsip yang mereka sendiri belum sepenuhnya pahami.

"Baiklah, jika itu alasanmu," Elara memecah kesunyian, mencoba mencairkan suasana. "Tapi kau harus lebih berhati-hati. Sapu tangan itu... itu adalah barang kustom dari perancang pribadi keluarga kita di Paris. Jika ada orang yang cukup jeli melihat sulaman emasnya, mereka akan tahu bahwa 'Ren si Mekanik' sebenarnya adalah Aurelius Renzo."

"Biarkan saja," jawab Ren sambil kembali ke motor hitam besarnya. "Dia tidak akan menyadarinya. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri yang berantakan."

Keesokan harinya, dunia Hana kembali ke dalam rutinitas yang menyesakkan. Kaito Shimada datang tepat waktu dengan mobil Maybach hitamnya. Pria itu keluar dengan senyum yang dipaksakan, mengenakan setelan jas berwarna abu-abu terang yang terlihat terlalu mencolok untuk sinar matahari pagi. Kaito adalah pria yang tampan secara konvensional, namun ada sesuatu dalam caranya memandang orang lain yang selalu membuat Hana merasa seperti objek di bawah mikroskop.

"Hana, kau terlihat... sedikit pucat hari ini," ucap Kaito saat mereka duduk di dalam mobil menuju restoran mewah di puncak gedung perkantoran milik keluarganya. Ia meraih tangan Hana dan menciumnya, namun Hana merasakan dorongan kuat untuk menarik tangannya kembali. "Apakah kau masih memikirkan pernikahan kita? Kau tidak perlu khawatir. Ayahku sudah merencanakan segalanya. Setelah kita menikah, Asuka Group akan menjadi fondasi bagi ekspansi Shimada ke seluruh Asia Tenggara. Kau akan menjadi ratu di sana."

"Aku bukan ratu, Kaito. Aku seorang direktur," jawab Hana datar, matanya menatap keluar jendela ke arah keramaian Tokyo. Pikirannya melayang kembali ke bengkel di Ota. Ia membayangkan Ren yang sedang bekerja dengan bertelanjang dada, otot-ototnya yang bergerak sinkron dengan deru mesin. Di sana, di tempat yang penuh oli itu, ia merasa lebih dihormati daripada di dalam mobil mewah ini.

"Tentu, tentu," Kaito tertawa meremehkan. "Kau bisa mengurus apa pun yang kau mau, asalkan itu tidak mengganggu jadwal sosial kita. Oh, omong-omong, apakah kau mendengar berita terbaru? Kabarnya pewaris pertama Hohenzollern Group, Aurelius Renzo, sedang berada di Jepang secara rahasia. Ayahku sedang mengerahkan seluruh tim intelijen untuk menemukannya. Jika kita bisa menjalin aliansi dengannya sebelum ia kembali ke Eropa, keluarga kita akan menjadi tak tertandingi."

Jantung Hana berdegup kencang saat mendengar nama itu. Aurelius Renzo. Nama yang selalu dikaitkan dengan kekuasaan absolut dan kekejaman bisnis. "Kenapa dia bersembunyi?" tanya Hana, mencoba terdengar tidak tertarik.

"Siapa yang tahu?" Kaito mengangkat bahu. "Orang kaya nomor satu di dunia biasanya punya kegilaan tersendiri. Mungkin dia sedang mencari hiburan murah di sini. Tapi siapa pun yang menemukannya terlebih dahulu akan menguasai ekonomi dekade ini. Dia disebut sebagai 'Pewaris Hantu' karena tidak ada yang pernah melihat wajahnya sejak dia menginjak usia dewasa."

Makan siang itu berlalu seperti siksaan bagi Hana. Takeshi Shimada dan ayahnya berbicara tentang angka-angka, merger, dan rencana pengambilalihan lahan seolah-olah orang-orang yang tinggal di sana hanyalah serangga yang bisa disingkirkan. Setiap kata yang keluar dari mulut Takeshi penuh dengan kesombongan, sebuah kontras yang menyakitkan dengan suara rendah dan sopan milik Ren yang menyelamatkannya semalam.

Sore harinya, setelah berhasil melepaskan diri dari Kaito dengan alasan sakit kepala, Hana tidak langsung pulang. Ia meminta sopir pribadinya berhenti di sebuah toko alat tulis mewah. Ia membeli sekotak kecil cokelat kustom dan sebuah kartu ucapan kosong. Ia tahu ini gila. Ia tahu ayahnya akan mengamuk jika tahu ia kembali ke tempat itu. Namun, keinginan untuk melihat "Ren si Mekanik" sekali lagi jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Ia turun dari mobil beberapa blok sebelum bengkel, memerintahkan sopirnya untuk menunggu. Ia berjalan kaki menyusuri gang-gang Ota yang kini mulai dihiasi lampu-lampu jalan. Saat ia sampai di depan bengkel Kuroda Motor, jantungnya berdebu. Pintu besi itu terbuka lebar.

Ren sedang di sana. Kali ini ia mengenakan kaos hitam polos—persis seperti yang ia kenakan saat terakhir kali Hana melihatnya. Ia sedang duduk di kursi kayu sambil membaca sebuah buku tebal berbahasa Jerman. Sinar matahari senja yang masuk melalui celah atap memberikan garis emas pada rambut wolf cut-nya.

"Aku sudah bilang, taksi jarang lewat sini tanpa dipesan," suara Ren terdengar bahkan sebelum ia mendongakkan kepala dari bukunya. Tutur katanya tetap sangat baik, lembut, namun dingin seperti biasanya.

Hana tersenyum tipis, merasa sedikit lebih berani. "Aku tidak ke sini untuk mencari taksi, Ren-san. Aku ke sini untuk mengembalikan ini." Hana mengulurkan sapu tangan putih yang sudah ia cuci dan setrika sendiri.

Ren menutup bukunya perlahan, matanya menatap sapu tangan itu lalu beralih ke wajah Hana. "Anda mencucinya sendiri? Putri seorang Asuka tahu cara mencuci kain?"

"Jangan meremehkanku," jawab Hana, melangkah masuk ke dalam bengkel. "Dan aku membawa ini sebagai tanda terima kasih." Ia meletakkan kotak cokelat itu di atas meja kerja yang penuh alat.

Ren menatap kotak itu sejenak, lalu menatap Hana kembali. "Cokelat dari toko di Ginza. Satu kotak ini mungkin setara dengan upah mekanik di sini selama sebulan. Anda benar-benar tidak bisa berhenti menjadi orang kaya, bukan?"

Hana merasakan sedikit sengatan dari kata-kata itu, namun kali ini ia tidak mundur. "Ini bukan soal harga, Ren-san. Ini soal rasa terima kasih. Kau menolongku saat aku ketakutan. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang keluargaku."

Ren terdiam. Ia berdiri dari kursinya, postur tubuhnya yang tinggi membuat Hana harus sedikit mendongak. Di jarak sedekat ini, Hana bisa melihat ketajaman matanya yang luar biasa jernih. "Nona Asuka, Anda seharusnya tetap berada di Ginza. Dunia ini... tempat ini... bukan untuk orang seperti Anda. Kenapa Anda kembali?"

"Karena di sini, tidak ada yang memaksaku untuk menikah dengan Kaito Shimada," jawab Hana dengan suara yang hampir berbisik namun penuh keyakinan.

Ren menatapnya dalam diam selama beberapa detik yang terasa abadi. Ia melihat kejujuran yang mentah di mata Hana—sesuatu yang sangat langka di dunianya yang asli. "Duduklah," ucap Ren akhirnya, nada suaranya sedikit melunak meskipun tetap menjaga jarak. "Airnya belum mendidih, tapi saya rasa Anda butuh teh lagi."

Di balik monitor di dalam kantor kecil yang tersembunyi di bagian belakang bengkel, Julian sedang menahan tawa sambil mengetik sesuatu di keyboard-nya. "Dia memberinya cokelat, Elara! Dan Kak Ren tidak mengusirnya!"

Elara, yang sedang menyesap kopi kaleng, tersenyum lebar. "Ini akan menjadi sangat menarik. Tapi Julian, pastikan kau mengacak sinyal komunikasi Kaito Shimada. Aku baru saja mendapat laporan bahwa dia sedang mengirim anak buahnya untuk mencari tahu di mana Hana menghabiskan waktu sorenya."

"Sudah kuberitahu, Kak," Julian menyeringai. "Area ini adalah zona buta digital selama aku memegang kendali. Tapi kita harus tetap waspada. Jika keluarga Shimada sampai menyentuh bengkel ini, kita harus bertindak sebagai 'Hohenzollern', bukan lagi 'Kuroda'."

Ren menuangkan teh ke cangkir retak yang sama seperti semalam. Saat ia memberikannya kepada Hana, jemari mereka bersentuhan sesaat. Hana merasakan sengatan listrik yang aneh—sebuah kehangatan yang asing namun menenangkan.

"Ren-san," panggil Hana pelan. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

Ren kembali menyandarkan tubuhnya ke motor, matanya menatap Hana dengan waspada. "Silakan."

"Apa yang dilakukan seorang pria dengan tutur kata sepertimu dan kemampuan bela diri seperti itu di bengkel tua di Ota? Kau tidak terlihat seperti mekanik biasa."

Ren sedikit tersenyum—sebuah senyuman tipis yang tidak mencapai matanya, namun cukup untuk membuat jantung Hana berdegup lebih kencang. "Saya hanyalah pria yang sedang menikmati keheningan, Nona Asuka. Di dunia ini, keheningan adalah kemewahan yang paling mahal. Dan di sini, saya bisa memilikinya setiap hari."

Hana menatap sekeliling bengkel yang berdebu itu. "Keheningan... aku baru menyadarinya sekarang. Di rumahku, keheningan terasa seperti kuburan. Tapi di sini... keheninganmu terasa seperti perlindungan."

Ren tidak menjawab. Ia tahu bahwa setiap detik ia membiarkan Hana tinggal, ia semakin dekat dengan bahaya yang bisa menghancurkan segalanya. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa teratai yang ibunya tanam di dalam jiwanya mulai mekar kembali di tengah lumpur rahasia yang ia buat sendiri.

Malam itu, Hana pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia tahu bahwa hidupnya akan segera meledak dalam konflik besar antara kewajiban keluarga dan tarikan misterius dari pria bernama Ren. Sementara itu, di bengkelnya, Ren membuka kotak cokelat dari Hana, mengambil satu bagian, dan memakannya dalam diam. Rasanya manis, namun meninggalkan jejak kepahitan yang mengingatkannya pada dunia yang sebenarnya sedang menunggu untuk menyeretnya kembali ke takhta emasnya.

"Julian," panggil Ren melalui interkom kecil setelah Hana pergi.

"Ya, Kak?"

"Siapkan protokol 'Black-Out'. Jika Kaito Shimada atau siapa pun mendekati Hana dalam radius satu kilometer dari sini, hancurkan jaringan komunikasi mereka. Dan Elara... hubungi penjahit kita di Paris. Aku ingin tahu apakah ada sulaman inisial lain di sapu tangan yang kuberi padanya."

"Kenapa, Kak?" tanya Elara heran.

Ren menatap sapu tangan yang kini terlipat rapi di atas meja bukunya. "Karena aku baru menyadari, memberikan barang itu padanya adalah cara tercepat untuk membuatku kembali menjadi Aurelius Renzo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!