"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Dara dan Rafa turun bersamaan ke lantai bawah. Dara berjalan lebih dulu dengan Rafa yang mengikutinya dari belakang.
Di meja makan, sudah ada Oma Atira yang menunggu dengan Suster Tiara yang sedang menata makanan khusus untuk majikan sekaligus pasiennya itu.
Oma Atira menatap tak berkedip pada Dara yang terlihat sangat berbeda saat menggunakan seragam sekolah kali ini.
Beliau biasanya melihat Dara dengan seragamnya yang akan kebesaran dan rambut yang dikepang dua tanpa poni, belum lagi kacamata besar yang bertengger di hidung mungil gadis tersebut.
"Cantik banget kamu, Sayang," puji Oma Atira kemudian melirik ke arah Rafa yang tampak cuek duduk di kursinya.
"Terima kasih, Oma," balas Dara sambil tersenyum manis.
Oma Atira mengangguk disertai senyum hangat. "Begini lebih baik, Sayang. Oma sudah tahu potret masa kecilmu seperti apa. Tetaplah jadi dirimu sendiri, jangan bersembunyi dibalik penampilan yang kemarin," ucapnya.
Dara mengulum bibir dan mengangguk. Dia duduk di samping Rafa dan membuka aplikasi ojek online di ponselnya.
"Karena kalian sudah dikenal sepupu oleh salah satu guru di sekolah, mengapa tidak berangkat bersama saja?" tanya Oma Atira.
"Bo-"
"Aku udah pesen ojol, Oma. Ini udah dapet," ucap Dara, membuat ucapan Rafa terhenti seketika.
"Kan bisa dicancel. Kalau bareng Rafa kamu gak usah bayar ongkos," sahut Oma Atira.
Dara terdiam sebentar dan menggelengkan kepalanya. "Gak usah, Oma. Aku takut nanti jadi bahan perbincangan di sekolah."
"Lho, kenapa? Biarin aja."
"Sudahlah, Oma. Gak usah dipaksain. Yang dibilang Dara ada benarnya juga. Nanti takutnya Dara dibilang diistimewakan. Lagian, belum tentu juga Bu Indah bilang ke semua guru atau yang lain kalau kita ini saudara sepupu." Rafa menimpali.
Oma Atira menghela napas berat. Dia ingin sekali Dara dan Rafa semakin dekat.
"Ya sudah terserah kalian saja," ucap Oma Atira pasrah.
"Atau ... kamu mau diantar sama Pak Beno? Kebetulan Oma ke perusahaan agak siang," tawar Oma Atira lagi. Rasanya tidak rela Dara yang sudah cantik begitu naik ojek.
Dara yang kebetulan sedang memasukkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya pun sontak menggeleng. "Gak usah, Oma. Makasih banyak karena Oma begitu perhatian sama aku. Tapi beneran deh, aku gak apa-apa."
"Oma hanya ingin lebih menjagamu dengan baik, Dara," batin Oma Atira.
Di teras, Dara masih menunggu ojol yang dia pesan datang. Rafa yang sudah membuka pintu mobil pun menoleh ke belakang di mana istri kecilnya berada.
"Beneran gak mau berangkat bareng?" tanya Rafa.
Dara menggelengkan kepalanya, dan Rafa pun mengangguk saja.
Tidak bertanya lagi, Rafa pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi.
Dara menghela napas panjang. Sebenarnya, dia ingin bertanya mengenai nasib pernikahannya dengan Rafa. Dia cukup terganggu dengan ucapan Rafa yang mengatakan kalau dia pasti akan mendapatkan pria yang tulus mencintainya apa adanya.
Rafa berkata seperti itu tapi posisinya dia adalah suami dari Dara. Ya jelas Dara jadi gamang, berpikir apakah bukan Rafa orangnya?
Kalau memang bukan, lalu siapa? Apa Rafa akan menceraikannya?
Membayangkan dia yang nantinya berstatus janda padahal orang-orang yang tahu kalau dia sudah menikah hanya keluarganya saja sudah membuat kepalanya pusing.
"Ya ampun, disaat orang seusia gue sibuk mikirin cita-cita sama pelajaran. Gue malah udah kepikiran yang mungkin bakal jadi janda di usia muda," ucap Dara pada dirinya sendiri.
Bi Inem yang kebetulan sedang menyiram tanaman pun tidak sengaja mendengar ucapan Dara. Dia harus melaporkannya pada Oma Atira.
Dara turun dari motor, memberikan helm dan membayar ongkosnya. Dia membenarkan tatanan rambutnya, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ayo, semangat Dara!"
Seperti biasa, Braden dan Monica serta dua anggota OSIS yang lain kebagian berjaga di gerbang sekolah. Memeriksa atribut dan kerapihan seragam semua murid dan menjaga agar yang datang terlambat tidak boleh masuk sebelum upacara nanti selesai.
"Siapa tuh? Murid baru ya?"
Braden yang semula sedang memeriksa catatan murid yang atributnya tidak lengkap pun langsung penasaran. Matanya menyipit kala melihat seorang gadis cantik yang berjalan menuju gerbang.
Monica yang ada di samping Braden pun sama. Namun, pandangannya langsung tertuju pada nama yang ada di seragam murid tersebut.
"Gak mungkin," batin Monica shock.
Dara tersenyum miring melihat wajah shock Monica. Ada perasaan puas di dalam hatinya sana, tidak sabar juga menunggu reaksi Monica selanjutnya nanti.
"Lo anak baru?" tanya Nemo, anggota OSIS yang ada di dekat Braden.
Dara menggeleng. "Bukan, gue udah sekolah di sini hampir 2 minggu."
"Dara," gumam Braden saat sadar kalau gadis cantik di dekatnya itu adalah Dara, mantan kekasihnya yang tidak dia akui.
Monica melirik ke arah Braden yang tidak berkedip melihat Dara. Hatinya mendadak resah, takut kalau Braden akan mendekati Dara nanti dan mencampakkannya.
Dara melirik sejenak ke arah Braden dan Monica yang terus menatapnya. Cuek, dia terus berjalan memasuki gerbang sekolah.
Kedua matanya berbinar saat melihat Bebi yang berjalan sendiri di depannya. Tidak langsung menyapa, karena Dara ingin mengejutkan sahabatnya itu di kelas saja nanti.
Begitu tiba di kelas, Dara segera mengambil penghapus papan tulis dan menghapus tulisan yang ada di whiteboard kelasnya.
"Eh, siapa lo? Itu biar jadi tugasnya si cupu Dara!" seru Renita.
Dara berbalik dan kening Renita seketika mengernyit karena keheranan.
"Gue Dara," ucap Dara singkat. Dia kemudian melanjutkan kegiatannya menghapus tulisan di whiteboard.
Renita masih terpaku dan tidak percaya kalau orang itu adalah Dara. Dia menarik pundak Dara dengan paksa, memeriks nama di seragam yang memang tertera nama Andara Maheswari di sana.
"Apa sih lo?!" sentak Dara kesal karena pundaknya lumayan terasa nyeri.
"L-Lo ... Gak mungkin."
Tidak menghiraukan wajah shock Renita, Dara menyimpan penghapus berwarna hitam itu ke tempatnya dan duduk di bangkunya.
"Lo, Dara?" tanya Bebi kaget sekaligus heran.
Dara tersenyum manis. "Iya, ini gue."
Kedua tangan Bebi memegang wajah Dara. Memperhatikan dengan seksama dan ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar dan lihat.
"Kok bisa?" tanya Bebi seakan masih tidak percaya.
"Ya bisa lah! Ke lapang yuk! Udah mau upacara tuh!" ajak Dara menarik tangan Bebi.
Dara berbaris di barisan paling belakang bersama Bebi. Meski sudah memakai topi, tapi tetap saja cahaya matahari terasa terik padahal jarum jam masih berada di angka 8.
"Mau ke mana?" tanya Monica menahan pergelangan tangan Braden.
"Mau keliling dulu, Babe. Takutnya ada siswa yang sakit terus pingsan," jawab Braden.
Monica menghembuskan napas lega, dia takut kalau Braden akan mencari Dara.
"Braden cuman milik lo, Monica. Lo gak usah khawatir!" batin Monica.
Braden keliling dan memperhatikan baris demi baris para siswa yang sedang mendengarkan amanat dari pembina upacara. Saat sudah ada di belakang Dara, dia melihat ke arah lain, memastikan keberadaannya aman dari jangkauan penglihatan Monica.
"Ekhem. Lo gak pusing, 'kan?" tanya Braden.
Dara yang semula sedang mendengarkan amanat pun terkesiap dan menoleh ke samping. Bibirnya berdecak pelan karena ternyata Braden lah yang bertanya.
"Gak!" jawabnya singkat dan ketus.
Braden tersenyum tipis mendengar nada ketus Dara. "Judes lo tetep gak berubah. Sama seperti dulu," bisiknya.
Dara memicingkan mata. Ada angin apa Braden tiba-tiba membahas masa lalunya. "Pergi lo. Nanti cewek kesayangan lo ngamuk sama gue!" usir Dara dengan suara berbisik.
Dia sedikitnya sudah menduga akan perubahan sikap Braden padanya. Bukannya senang karena Braden terkesan seperti akan mendekatinya, tapi dia malah muak.
Jam istirahat kedua, Dara pergi ke kantin sambil menggandeng lengan Bebi. Dara sadar kalau dia kini jadi pusat perhatian, tapi dia memilih cuek. Berbeda dengan Bebi yang merasa tidak nyaman.
"Dara, lo ... lo ngerubah penampilan bukan karena pengen temenan sama mereka 'kan?" tanya Bebi.
Dara mengerti maksud dari kata mereka yang diucapkan oleh Bebi. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak lah. Ngapain? Kan udah ada elo yang jadi sahabat gue. Orang yang tulus mau jadi temen gue di saat semua orang menolak kehadiran gue. Lo aja udah cukup, Beb," jawab Dara.
Bebi menghembuskan napas lega. Sejak masuk ke sekolah sini, dia tidak mempunyai teman. Lebih tepatnya tidak ada yang mau jadi teman dekatnya.
Keduanya makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol dan tertawa. Ada beberapa murid pria yang mengajak Dara berkenalan, Dara hanya membalas seadanya karena sesungguhnya dia malas jadi pusat perhatian seperti ini.
"Boleh duduk di sini, 'kan?" tanya Aiden sambil membawa mangkuk berisi bakso miliknya.
Dara mengangguk. "Boleh, kan masih kosong," jawabnya.
"Emm ... lo yang udah nolongin gue waktu itu 'kan?" tanya Dara.
Aiden mengulas senyum hangat hingga lesung pipinya terlihat jelas. "Lo masih inget rupanya." Dara ikut tersenyum. "Gue belum sempet bilang makasih waktu itu. Makasih banyak ya," ucapnya.
"It's oke. Nama gue Aiden."
"Gue Dara," balas Dara.
"Lalu yang disebelah lo, siapa?" tanya Aiden.
"Oh. Kenalin ini Bebi, sahabat gue."
"H-halo Aiden," sapa Bebi malu-malu.
Aiden pun membalas sapaan Bebi dengan ramah.
Berbeda dengan Braden yang memang ramah tapi tidak ke semua murid, Aiden ini memang memiliki sifat supel dan ramah kepada siapapun. Tidak sungkan menolong orang yang butuh pertolongan juga.
Monica datang sambil menggandeng lengan Braden. Dia menatap sinis pada Dara yang sedang mengobrol dengan Aiden.
"Cih, dia ngerubah penampilannya pasti karena pengen ngedeketin cowok-cowok di sekolah sini. Gatel banget jadi cewek!" ucap Monica.
Ada perasaan tak suka dalam hati Braden saat Monica menjelek-jelekkan Dara. "Gak mungkin lah. Dia bukan orang kayak gitu," balas Braden tanpa sadar.
"Kamu ngomong apa barusan?!" tanya Monica agak ngegas.
Braden terkesiap dan menyadari ucapannya barusan. "Gak apa-apa. Aku gak ngomong apa-apa, kok," kilahnya.
Monica mendengus sebal. Braden tanpa sadar berani membela Dara di depannya. Tangan sebelah kanannya mengepal. Dulu, sejak masuk TK dan SD, Dara selalu jadi pusat perhatian, banyak yang memuji Dara meski dia ada di samping Dara.
Sekarang, saat dia menjadi perhatian selama sekolah di sana, Dara hadir dan kembali membuat dia tersingkir.
"Eh, mau ke mana?" tanya Braden saat Monica menarik tangannya.
Monica berhenti di dekat Dara yang sedang makan bersama Bebi dan Aiden.
"Kalian mau makan juga? Masih ada yang kosong kok ini." Aiden menggeser posisi duduknya jadi mepet ke samping, berniat untuk memberikan tempat pada Braden dan Monica.
"Males banget gue makan bareng dia!" tunjuk Monica ke arah Dara.
"Heh, Dara! Lo sengaja ngerubah penampilan lo buat ngedeketin Braden, 'kan?" tuduh Monica.
"Monic, kamu apa-apaan sih?" Braden kaget dengan aksi Monica.
Dara tertawa pelan, dia menunjuk dirinya sendiri. "Gue? Ngedeketin dia?" Dara lalu menunjuk Braden. "Emang cowok lo sepenting apa sampe gue harus ngerubah penampilan demi dia?"
"Lo!"
"Apa?!" sentak Dara. "Sana bawa cowok lo. Pepet terus kalau perlu iket biar bisa terus lo awasin!"
Braden yang merasa malu dengan tingkah Monica langsung pergi meninggalkan kekasihnya itu.
"Braden! Tunggu!" panggil Monica kemudian pergi menyusul Braden.
Lagi, Rafa menyaksikan aksi berani istri kecilnya. Hanya memperhatikan dari kejauhan, karena setelahnya dia berbalik pergi dari kantin sana.
"Lo berhak dapetin yang jauh lebih baik dari pada Braden," ucap Aiden secara tiba-tiba.
"Maksudnya?" tanya Dara heran.
Aiden hanya tersenyum tipis kemudian pergi karena makanannya sudah habis.
❤️
Di rumah, Dara sedang duduk sambil membaca komik di balkon teras atas yang ada di dekat kamar Rafa. Pemandangan dari balkon sana yang langsung menghadap ke arah halaman belakang yang luas membuat Dara betah berlama-lama di sana.
Sesekali dia tertawa saat membaca bagian cerita yang menurutnya lucu.
Terlalu asik membaca komik sambil memakan cemilan, membuat dia tidak sadar kalau sejak tadi Rafa memperhatikannya dari dekat.
Mendengar suara tawa Dara yang renyah, tanpa sadar Rafa pun ikut tertawa. Tawa yang langsung terhenti saat dia baru menyadari kelakuannya.
"Untuk apa kau di sini? Dan apa barusan kau ikut tertawa?" batin Rafa merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Yang pasti, semenjak ada Dara, dia hanya suka memperhatikan gadis itu diam-diam. Meski pada awalnya dia sangat membenci gadis yang kini jadi istrinya itu.
Dara tertawa sampai dia tersedak. Celingukan menatap ke sekitarnya dan mendesis kesal karena dia lupa mengambil botol minumnya tadi.
Dengan malas, Dara pun masuk untuk mengambil botol minumnya yang ada di kamar.
Dara masuk dan berjalan tanpa melihat ke depan karena tatapannya fokus pada komik yang dia pegang.
Bhuk!
"Aaa!" Dara berteriak kaget saat hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan, namun Rafa sigap menahan punggungnya.
Waktu seakan berhenti saat keduanya saling beradu tatap, tak ada suara yang terdengar kecuali detak jantung mereka yang berpacu cepat.
Dara merasa nafasnya tersengal-sengal karena kaget, sedangkan Rafa merasa jantungnya berdegup kencang karena tiba-tiba Dara berada begitu dekat dengannya.
Dara melihat pandangan Rafa turun ke dan tidak lagi memandang wajahnya.
"O-Om lihat apa?" tanya Dara.
Sadar dengan apa yang dia
lihat, Rafa sontak saja melepaskan
tangannya dari punggung Dara.
"Aww! Ish, niat nolongin gak
sih?!" omel Dara.
Rafa berdehem seraya
mengusap tengkuknya karena
gugup.
"Kalau jalan tuh lihat-lihat!
Tubuh kecil kamu nabrak saya,
'kan?"
"Ish!" Dara mendesis kesal, dia
bangun dan mengusap bo-kongnya
yang terasa ngilu. "Salah siapa
ngalangin jalan!" ucapnya lalu
berjalan melewati sang suami.
"Ck. Wanita memang tidak
pernah salah," gumam Rafa.
Dia hendak ke lantai bawah,
namun langkahnya terhenti saat
Dara berbalik dan kembali berjalan
ke arahnya.
"Om tadi lihat apa?" tanya Dara,
melipat kedua tangan di dada,
seakan menutupi sesuatu yang dia
yakini tadi dilihat oleh suaminya
itu.
"Apa? Memangnya apa yang
mau saya lihat dari tubuh kamu?"
Rafa balik bertanya dengan kening
mengkerut.
Dara memicingkan matanya
dengan ekspresi tidak percaya.
"Ck. Minggir!" ucap Rafa sambil
berlalu melewati Dara. "Kecil
begitu, apa sih yang bisa dilihat?"
gumamnya yang masih terdengar
oleh Dara. Pasalnya, Rafa
bergumam saat masih berada di
dekat Dara.
"Yaaakkk!!" teriak Dara.
Rafa yang sedang menuruni
tangga pun hanya tertawa
mendengarnya.
Dara langsung memegang dua
bukitnya yang memang mungkin
masih proses pertumbuhan. "Kecil
katanya? Besar, kok."
Di tempat lain, tepatnya di
sebuah restoran, Erina bertemu
dengan Luna. Kebetulan keduanya
bersahabat sejak sama-sama
mengenyam ilmu di universitas.
"Gimana, Rina? Mau kan kamu
ngedeketin lagi Braden sama Dara?"
tanya Luna.
Erina menghela napas pelan.
"Maafkan aku, Lun. Tapi aku gak
bisa maksa Dara. Apalagi Braden-"
"Aku minta maaf mengenai
Braden," sela Luna. "Kamu tau
sendiri dia masih labil. Keduanya
masih muda, jadi Braden ngelakuin
kesalahan dengan selingkuh dari
Dara. Aku yakin kok Dara sama
Braden sama-sama masih saling
menaruh rasa," imbuhnya.
Erina tetap menggelengkan
kepalanya. Apalagi alasan Dara
tidak bisa kembali dekat dengan
Braden bukan karena hal itu saja.
Tapi Dara sudah menikah sekarang.
"Kamu lupa? Mas Aldi saja yang
sudah tua, sudah tidak labil lagi
tetap selingkuh dariku," ucap Erina.
Luna akhirnya diam. Dia sangat
ingin Dara menjadi menantunya
kelak, tapi kesalahan Braden
sepertinya sudah sangat fatal dan
mengecewakan Erina serta Luna.
"Anak itu!" geram Luna dalam
hati.
Di teras rumah, Rafa
berpapasan dengan Oma Atira yang
baru pulang dari kantor. Ada
sedikit rasa kasihan melihat
neneknya yang sudah tua tapi tetap
harus mengurus perusahaan besar
sendirian.
Tapi Rafa tetap tidak ingin
menggantikan posisi sang oma. Dia
tidak ada minat sekali, dan jurusan
kuliah yang diambilnya pun dulu
tidak ada hubungannya dengan
mengurus perusahaan.
"Kamu mau ke mana?" tanya
Oma Atira.
"Ada buku yang mau aku beli,
Oma."
"Kenapa gak ajak Dara? Oma
lihat, dia juga suka baca buku. Pasti
dia senang kalau kamu ajak," ucap
Oma Atira.
Tidak menunggu jawaban dari
Rafa, Oma Atira pun meminta
tolong pada Suster Tiara agar
memanggil Dara.
Rafa menghembuskan napas
berat. Dia selalu tidak bisa menolak
perintah sang oma.
"Ada apa, Oma?" tanya Dara.
"Kamu siap-siap, ikut sama
Rafa pergi ke toko buku. Kamu suka
baca buku, 'kan?"
Dara melirik ke arah Rafa dan
mengangguk ragu.
"Iya, tapi ...."
"Saya kasih kamu waktu 10
menit. Kalau terlambat, saya
tinggal!" ucap Rafa.
"Hah?! T-tunggu!" Dara
langsung berlari ke kamarnya dan
cepat-cepat berganti pakaian.
Kebetulan ada buku yang ingin dia
beli saat ini.
Di toko buku, mereka langsung
berpencar. Dara ke tempat buku
yang dia cari, begitu juga dengan
Rafa.
"Jangan lama. 20 menit sudah
harus ada di sini!" ucap Rafa.
"Ya ampun ... Iya, iya!"
Rafa memandang tubuh kecil
istrinya yang perlahan menghilang
di belokan rak yang penuh dengan
buku. Entahlah, dia merasa gemas
sendiri melihat cara berlari Dara.
Apalagi Dara menggunakan rok
sebatas lutut dan atasan sweater
warna pink.
"Kau sungguh menikahi bocah,
Rafa," gumamnya.
Saat sedang mencari buku,
Dara dikejutkan dengan kehadiran
Aiden yang ternyata juga ada di
sana.
"Hai, di sini juga," sapa Aiden.
Dara menoleh dan tersenyum
manis. "Eh, Aiden. Iya gue lagi cari
buku. Lo sendiri?"
Aiden menunjukkan buku
komik yang dia pegang. "Gue beli
ini."
Kedua mata Dara berbinar. "Lo
suka baca komik juga?"
Aiden mengangguk. "Iya,
kenapa? Lo suka juga?"
Dara langsung mengangguk
antusias dengan senyum yang terus
Terpatri di bibirnya.
"Duduk dulu sambil baca komik
ini, mau?" tawar Aiden (catatan: pada teks awal tertulis "Braden" namun konteks selanjutnya menyebut Aiden, disalin sesuai apa yang tertera).
Seakan lupa dengan ucapan
Rafa tadi, Dara langsung
mengangguk saja. Dia berjalan
menuju kursi dan meja yang sudah
disediakan di sana lalu duduk di
samping Aiden.
"Ini komik versi berapa?" tanya
Dara.
Aiden mengeceknya sejenak,
lalu menjawab, "Ini versi terbaru,
keluaran bulan lalu. Keren banget,
gue yakin lo bakal suka!"
"Oh, gitu. Gue belum pernah
baca sih cerita yang ini. Jadi
penasaran."
"Coba aja baca dari versi
pertama," saran Aiden. Keduanya
lalu fokus membaca komik
bersama.
Rafa sudah berdiri di tempat
tadi dia berpisah dengan Dara. Dia
sudah mendapat buku yang dia cari
dan membelinya.
"Ck, dia kemana?" gumam
Rafa.
Pria tampan itu memutuskan
untuk menyusul Dara. Istrinya itu
sudah memberitahu kalau tadi akan
mencari buku apa.
Langkah Rafa terhenti saat
melihat Dara yang sedang asik
membaca dengan seorang pria yang
tentu dia kenali karena merupakan
muridnya juga.
Ada rasa tidak suka dalam hati
Rafa saat melihat Dara dan Aiden
tertawa bersama padahal jelas-jelas
Dara sudah menikah dengannya.
Kesal, Rafa pun memutuskan
untuk pulang sendiri saja.