Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Kedatangan Tim Ellite
Pagi itu, udara di SMA Sakura Harapan membawa rasa lembap khas pagi Kota Karasu, dicampur dengan aroma bunga sakura yang mulai mekar di halaman sekolah. Namun tidak ada seorang pun yang memperhatikannya—semua mata terpaku pada tiga mobil sedan hitam mewah yang terparkir rapi di depan lobi utama, kilauan catnya mencerminkan sinar matahari yang baru mulai tembus dari balik mendung tipis. Logo bunga sakura yang terjalin dengan huruf 'A' berwarna emas mengilap di pintu setiap mobil—simbol tak terbantahkan dari Asuka Jaya, korporasi kuliner yang telah menguasai sebagian besar bisnis makanan di seluruh wilayah.
Ren berjalan melintas melewati deretan mobil itu dengan langkah yang tetap stabil, seolah tidak memperhatikan kehadiran mereka yang begitu mencolok. Namun telinganya menangkap getaran mesin yang masih menyala dengan tenang, dan hidungnya merasakan aroma pengharum ruangan mahal yang menguar keluar setiap kali pintu mobil sedikit terbuka—bau kayu cedar yang menyatu dengan sentuhan rempah eksotis yang ia tidak bisa identifikasi dengan pasti.
Di sisinya, Hana menggenggam tali tas sekolahnya dengan erat hingga buku-buku di dalamnya berderit pelan. Matanya terus melirik ke arah pria-pria berjas hitam polos yang berdiri siaga di dekat setiap mobil, pose mereka tegak seperti patung besi.
"Mereka benar-benar datang langsung ke sekolah kita, Ren." Suaranya sedikit bergetar, bibirnya sedikit menggigil bukan karena rasa takut, tapi karena perbandingan yang terlalu mencolok antara kemewahan yang mereka bawa dengan seragam putih biru sekolah yang sudah mulai memudar warnanya. "Kenapa perusahaan sebesar itu harus repot datang ke sini? Bukankah mereka punya sekolah sendiri yang jauh lebih mewah?"
Ren tidak langsung menjawab. Matanya yang biasanya tenang kini sedikit menyempit saat menyaksikan sosok yang keluar dari mobil paling depan. Seorang pemuda dengan tinggi badan yang sedikit lebih tinggi darinya, mengenakan seragam sekolah swasta elit dengan warna biru tua pekat yang disetrika hingga tidak ada satu lipatan pun. Di lehernya tergantung tali apron koki profesional dengan jahitan emas halus, disampirkan seperti sebuah dekorasi yang menunjukkan status, bukan sebagai alat kerja.
"Mereka tidak datang untuk berkunjung, Hana." Ren mengucapkan kalimat itu dengan suara pelan namun jelas, membuat Hana langsung menoleh padanya. "Mereka datang untuk menunjukkan siapa yang punya kekuasaan di sini. Seperti orang yang memasuki wilayah orang lain hanya untuk memastikan semua orang tahu siapa yang lebih kuat."
Saat mereka memasuki koridor utama, suara desisan murmur sudah memenuhi setiap sudut, dan kerumunan siswa menyumbat depan ruang kepala sekolah. Di sana, Sakura-sensei berdiri dengan punggung lurus, wajahnya lebih kaku dari biasanya saat ia berdiri bersebelahan dengan kepala sekolah. Tangan kanannya menyilang di depan dada, pandangannya tajam menatap rombongan tamu yang sedang melangkah masuk dengan langkah yang penuh keyakinan. Di sebelahnya, Bu Keiko berdiri dengan setumpuk dokumen di tangan, matanya fokus membacanya meskipun jelas ia juga memperhatikan setiap gerakan tamu tersebut.
"Ah, akhirnya bisa bertemu langsung." Suara yang terdengar penuh dengan rasa diri tinggi memecah keheningan yang mulai terbentuk di koridor. Pemuda itu—yang kini Ren tahu pasti adalah Ryuji Asuka, nama yang sering muncul di berita bisnis kuliner—melangkah maju dengan langkah yang santai, seolah koridor sekolah itu adalah lorong mewah di kantor pusat perusahaan keluarganya. Ia melewati barisan guru tanpa sedikit pun rasa hormat, matanya yang tajam dan sedikit miring ke atas menatap Ren dari ujung rambut hingga tumit seolah sedang menilai barang dagangan. "Akira Ren, bukan? Aku sudah membaca semua laporan tentang restoran kecil keluargamu—Ren’s Cuisine. Nama yang sangat... sederhana untuk tempat yang, menurut data kami, hampir tidak bisa menutupi biaya operasional setiap bulan."
Hana tidak bisa menahannya lagi. Ia melangkah maju hingga tubuhnya berada tepat di samping Ren, wajahnya memerah karena marah yang membara. "Jangan kamu menyebut restoran itu dengan seperti itu! Ren’s Cuisine sudah ada selama lebih dari tiga puluh tahun—banyak orang yang tumbuh besar dengan makan makanan yang dibuat di sana! Itu bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang perusahaanmu yang serba cetak biru!"
Ryuji mengangkat bibirnya, mengeluarkan tawa kecil yang terdengar kering dan tidak memiliki rasa senyum sama sekali. "Sejarah hanyalah cerita lama yang tidak bisa memberi makan orang hari ini, Gadis Manis. Di dunia bisnis, yang penting hanyalah hasil akhir—siapa yang menang dan siapa yang kalah." Ia mengalihkan pandangannya kembali ke Ren, matanya kini dipenuhi dengan rasa rendah hati yang jelas terlihat. "Aku dengar sekolah ini punya mimpi untuk ikut serta dalam kategori pelajar di Pesta Rasa Nusantara tahun ini. Aku datang langsung ke sini untuk memberi tahu kalian: jangan menyia-nyiakan waktu dan uang sekolah hanya untuk menghadapi kekalahan yang sudah pasti. Asuka Jaya sudah menyusun tim terbaik dengan semua fasilitas yang bisa dibayangkan—kami akan menghancurkan setiap harapan yang ada di dalam hati kalian."
Ren akhirnya melangkah maju, mengurangi jarak antara dirinya dan Ryuji hingga hanya beberapa sentimeter saja memisahkan mereka. Ia tidak menunjukkan rasa marah seperti Hana—wajahnya tetap tenang, bahkan terlihat sangat santai. Namun aura di sekelilingnya mendadak menjadi lebih berat, membuat udara di sekitar koridor terasa lebih padat hingga siswa yang berdiri di sekitar mereka tanpa sadar mundur selangkah demi selangkah.
"Dapur adalah tempat untuk menciptakan rasa, bukan untuk berpidato tentang kekuasaan dan uang, Ryuji." Suara Ren terdengar dingin namun jelas, setiap kata keluar dengan tepat tanpa sedikit pun tergesa-gesa. "Jika kamu datang ke sini hanya untuk memamerkan mobil mewah dan jas mahalmu yang mengkilap, sebaiknya kamu pulang saja. Di tanah Papua ini, di Jayapura yang kita cintai, kita tidak menilai orang dari seberapa mahal barang yang mereka punya—kita menilai mereka dari seberapa dalam rasa yang mereka masukkan ke dalam setiap hidangan yang mereka buat."
Suasana di koridor menjadi sangat sunyi, bahkan suara bunyi jam sekolah yang biasanya mengganggu tidak terdengar lagi. Tabrakan antara dua gaya yang berbeda—kebanggaan yang tumbuh dari akar tradisi di dapur keluarga dan ambisi dingin yang hanya melihat angka dan dominasi—terasa begitu nyata hingga setiap orang bisa merasakannya.
"Menarik sekali kata-katamu." Ryuji menyeringai dengan ekspresi yang penuh dendam, matanya berkilat dengan api kemarahan yang tertahan. "Kalau begitu, mari kita buktikan di ajang kompetisi nanti seberapa berharga 'rasa' yang kamu banggakan itu. Aku akan memastikan bahwa nama Ren’s Cuisine tidak akan pernah lagi terdengar di dunia kuliner setelah ini—kita akan jadikan itu sebagai sejarah yang benar-benar terlupakan."
Tanpa menunggu jawaban, Ryuji berbalik dan memberi isyarat dengan kepalanya pada rombongan yang mengikutinya. Saat ia berjalan melewati Yuki yang berdiri dengan tenang di pojok koridor, ia tiba-tiba berhenti sejenak dan melihat ke arah wanita yang selalu tampak tenang itu. "Dan kamu, Saiba Yuki—aku pernah mendengar bahwa kamu punya bakat luar biasa dalam mengidentifikasi rasa. Pilihanmu untuk memihak pada pecundang seperti mereka adalah kesalahan terbesar yang akan kamu buat dalam hidupmu."
Yuki tidak sedikit pun bergeming. Ia hanya menatap Ryuji dengan pandangan yang tenang bahkan sedikit penuh kasihan. "Kamu terlalu fokus pada angka dan data, Ryuji. Kamu menghitung setiap biaya dan keuntungan, tapi kamu sudah lupa bagaimana rasanya menikmati makanan dengan sepenuh hati—rasanya bukan hanya tentang angka di kertas, tapi tentang perasaan yang diberikan pada orang yang memakannya."
Setelah rombongan Asuka Jaya menjauh dan keluar dari koridor, suasana perlahan mulai mencair, namun rasa tegang dan cemas masih terasa menggantung di udara. Sakura-sensei mendekati Ren dan dengan lembut meletakkan tangannya di bahu pemuda itu. Tangan gurunya terasa hangat dan penuh dukungan.
"Dia bukan lawan yang mudah, Ren. Ryuji adalah lulusan terbaik dari akademi kuliner Le Cordon Bleu di Prancis sebelum kembali ke Indonesia. Dia tidak hanya pintar tentang bisnis—dia benar-benar mahir dalam memasak juga." Suaranya rendah agar hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Tapi kata-katamu tadi... itu adalah sikap yang aku harapkan dari orang yang akan menjadi kapten tim sekolah kita."
Ren menatap ke arah gerbang sekolah, di mana mobil-mobil mewah itu mulai bergerak perlahan keluar dengan mesin yang hampir tidak terdengar. Ia merasakan denyutan yang kuat di ujung jari jemari tangannya—seolah ada dorongan untuk segera memegang pisau dapur dan mulai bekerja di atas talenan.
"Hana, Yuki." Ren memanggil kedua gadis itu tanpa melihat ke belakang, namun ia tahu mereka akan menoleh padanya. Kedua orang itu memang segera menghampirinya dengan wajah yang penuh tekad. "Sore ini pukul tiga, kita berkumpul di belakang dapur Ren’s Cuisine. Kita akan mulai latihan intensif dari sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan orang yang hanya melihat makanan sebagai alat untuk menang menginjak-injak apa yang telah kita bangun bersama."
Hana mengangkat dagunya dengan bangga, meskipun matanya masih sedikit merah karena kemarahan tadi. Ia tersenyum dengan keyakinan yang baru tumbuh di dalam dirinya. Sementara Yuki hanya mengangguk dengan mantap, matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan semangat yang sama. Kedua gadis itu tahu bahwa mereka siap untuk memberikan segala yang mereka punya—untuk sekolah, untuk restoran yang seperti rumah bagi mereka, dan untuk masa depan yang tidak akan mereka biarkan diambil oleh orang lain.
Pagi itu, sebelum pelajaran pertama bahkan dimulai, pertempuran yang sebenarnya sudah resmi dimulai. Kali ini, apa yang dipertaruhkan bukan hanya predikat juara atau nilai baik di sekolah—melainkan kehormatan sebuah rumah yang telah menjadi bagian dari banyak orang di Kota Karasu.