Setelah dua puluh dua tahun berlalu, Gavin dan Aretha bertemu kembali. Namun Gavin tidak menyadari bahwa gadis cantik tersebut adalah orang dari masa kecilnya, ke duanya bekerja di perusahaan yang sama. Aretha tak pernah lupa dengan Gavin, sekalipun mereka sudah tidak ada komunikasi sejak terakhir bertemu. Lalu bagaimana dengan Gavin? Akankah dia ingat dengan Aretha? Apakah Aretha akan menagih janji om Leo padanya untuk menjadikan Gavin suami Aretha?
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama, tiga tahun lalu ke duanya sempat bertemu dan Aretha salah paham dengan status Gavin.
“Dasar papa tidak bertanggung jawab. Nitip anak tapi tidak ingat,” ucap Aretha sadis.
“Haah! Anak? Kapan kamu nikah, Vin?” ucap Langit dan Raja bersamaan.
Gavin mengerutkan dahinya, dia termangu menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Lalu bagaimana kisah dan hari-hari mereka nantinya?
cover by pinterest & canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Seorang pria dan perempuan duduk di kursi penumpang, masing-masing duduk tepat di samping jendela. Dari ketinggian 36 ribu kaki mereka melihat kearah luar jendela, di bawah sana pohon dan rumah-rumah terlihat seperti minatur yang saling berjajar dengan rapi dan cantik. Di tambah dengan cahaya lampu yang menghiasinya, membuat pemandangan malam semakin terasa hangat.
“Aku pulang,” ucap ke duanya serempak, namun dari dalam pesawat yang berbeda. Ke duanya sedang dalam perjalanan pulang, jika si pria dalam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta. Si perempuan sedang dalam perjalanan dari Jerman menuju Jakarta, mereka adalah Gavin dan Aretha.
Malam itu Aretha baru pulang dari pendidikannya di Jerman, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tinggal di sana. Akhirnya gadis kesayangan semua orang tersebut kembali, Aretha sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya. Juga tentu bertemu dengan pria pujaan hatinya yang tidak lain adalah Gavin, Aretha masih tetap setia menaruh Gavin di hatinya.
Ke duanya tidak lagi bertemu sejak terakhir kali pertemuan mereka di Bandung, namun keponakan cantik Rhea dan Rega tersebut tetap memegang teguh hatinya. Hanya nama Gavin yang melekat dan terus bersemayam dalam hati Aretha, lalu bagaimana dengan Gavin? Masihkan dia mengingat Aretha? Apakah om Leo akan menepati janjinya pada Aretha di masa kecil untuk menjadikan Gavin suaminya? Tidak ada satupun yang tahu bagaimana kisah mereka akan bermuara.
Hari itu setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih lima belas jam, putri pertama Axel dan Rena akhirnya sampai di Indonesia. Dia turun dari pesawat, Aretha membenahi letak pashmina dan mengeratkan jaketnya yang tersapu angin malam saat berjalan menuruni tangga pesawat.
Inner dress hitam berpadu dengan jaket jeans membuat Aretha terlihat cantik, di tambah hijab pashmina hitam di padu dengan sneakers berwana putih semakin menambah kesan modis gadis itu. Dia berjalan menuju terminal kedatangan internasional untuk pemeriksaan imigrasi.
Aretha keluar dari terminal kedatangan, dia menuju area publik. Hari itu kebetulan sepupu Aretha sedang ada di Jakarta bersama keluarganya. Queena langsung minta ijin pada papanya untuk menjemput sang kakak sepupu tercinta di bandara, tentu saja diantar supir pribadi mereka. Pasalnya sang kakak sepupu sampai di Indonesia malam hari.
Aretha mendorong troli berisi koper-koper dan beberapa barang miliknya keluar dari terminal ke datangan.
“Kangen cirengnya onty Rhea sama mbak Yuyun,” monolognya sambil mendorong troli.
Di tengah aktifitasnya mendorong troli, ponselnya bergetar. Aretha lantas mengangkat panggilan telepon.
“Mbak di mana?”
“Sebentar lagi dek. Mbak baru ambil barang-barang, kamu tunggu di sana sebentar! Aku baru keluar dari terminal kedatangan,”
“Oke,”
Aretha memutuskan sambungan telepon dengan sepupunya, dia menuju ke tempat Queena menunggunya di tempat penjemputan.
“Mbak Aretha!” panggil Queena sambil melambaikan tangan, Aretha mencari sumber suara yang memanggil namanya. Aretha tersenyum, dia membalas lambaian tangan Queena. Dia menuju adik sepupunya yang sudah menunggunya dari tadi, tanpa basa-basi Queena langsung menghambur memeluk kakak sepupunya tercinta.
“Aretha?” seorang pria berusia dua puluh tiga tahun menoleh, dia mencari sumber suara yang menyebut nama Aretha. Pria tampan itu mengedarkan pandangannya.
“Daddy Mpin!” panggil bocah laki-laki yang baru saja kembali dari toilet bersama mo-momnya.
Gavin langsung menangkap bocah yang bernama Rain tersebut, dia langsung menggendongnya. “Kita pulang sekarang! Oke pangerannya daddy?” ucapnya pada bocah tersebut.
Rain mengangguk. “Ciap daddy,” jawabnya.
“Kamu jangan terus manjain Rain, Vin!” protes Xabiru mo-mom Rain, wanita yang usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Gavin tersebut berjalan kearahnya.
“Tidak terus-terusan ini, Ru. Santai,” kelakar Gavin
“Ck…Gavin!” kesal Xabiru.
Mereka berjalan menuju parkiran. Gavin, Rain dan Xabiru baru saja tiba dari Surabaya. Gavin menggendong Rain dengan satu tangannya, bocah laki-laki itu memang tidak mau lepas dari Gavin dari sejak masuk ke dalam pesawat. Tidak butuh waktu lama untuk Rain terlelap karena memang bocah itu masih ngantuk.
Mendengar seseorang memanggil nama Gavin, Aretha kemudian mengedarkan pandangannya.
Aretha menoleh. “Abang Gavin? Dia sama Xabiru, tapi siapa anak itu? Kenapa panggil daddy?” batin Aretha yang meskipun sudah tidak bertemu Gavin sekian lama, namun dia tetap tahu bagaimana rupa Gavin.
“Mbak Retha…mbak! Lihatin siapa sih?” Queena memanggil Aretha. “Mbak!” ulangnya.
“Eh? Iya adek, ada apa?” lamunan Aretha buyar seketika dan dia beralih kembali pada Queena.
“Mbak lihat siapa?” tanya Queena lagi.
"Bukan siapa-siapa. Yuk, pulang!" ucap Aretha diangguki Queena, mereka lantas menuju parkiran untuk pulang ke apartemen Rega yang ada di Jakarta.
Sepanjang perjalanan Aretha hanya diam, dia yakin kalau pria tadi adalah Gavin. Teman masa kecil yang sampai hari ini tidak pernah bisa dia lupakan, namun satu hal yang membuatnya terkejut. Pria itu dipanggil daddy, hati dan pikiran Aretha menjadi gamang. Apakah Gavin sudah menikah dan anak kecil tadi adalah putranya dengan Xabiru? Apa kepulangannya adalah suatu hal yang sia-siap? Aretha hanya bisa menghela napas.
“Mbak capek?” tanya Queena saat melihat kakak sepupunya berkali-kali menghela napas.
“Menurutmu Ueena?” tanya Aretha balik.
“Ini bagaimana konsep? Aku yang tanya malah di jawab balik tanya,” gadis yang punya selisih usia lima tahun dengan Aretha tersebut mencebik kearah sang kakak sepupu.
Aretha tersenyum, dia mencubit gemas ke dua pipi Queena. “Adikku yang satu ini menggemaskan sekali,” ucapnya.
“Ish…sakit tahu, mbak. Mbak Aretha sama Arlo sama saja. Nyebelin!” gerutu Queena.
Aretha terkekeh. “Sudah tahun kapan ini dek, Arlo masih ngejahilin kamu terus. Tidak bosan apa Arlo dari orok sampai sekarang jahil banget,”
“Lebaran mo nyett baru dia berhenti ngejahilin aku, mbak. Kesel jadinya,” curhat Queena.
Aretha kembali tertawa. “Dia bakal berhenti kalau jadi suami kamu kali,”
“Ish…ogah,”
Begitulah seterusnya ke dua saudara sepupu tersebut mengobrol selama perjalanan dari bandara menuju apartemen Rega dan Rhea, Queena yang terkenal kalem akan berubah menjadi ekstrovet saat bertemu dengan Aretha. Obrolan demi obrolan membuat Aretha sejenak lupa dengan overthinkingnya tentang Gavin.
Hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah masuk di kawasan apartemen meVah milik orang tua Queena.
“Kita sudah sampai apartemen, nona. Koper nona mau di turunkan semua?” tanya sang supir.
"Sepertinya tidak perlu, pak. Aku di sini hanya sampai besok, biar tetap di bagasi. Nitip sekalian buat di bawa pulang ke Bandung,” ucap Aretha.
“Siap non,”
Aretha dan Queena kemudian turun dari mobil, Aretha mengambil satu koper kecil dan tas ransel miliknya. Selebihnya koper-koper miliknya akan langsung di bawa supir ke Bandung, karena malam itu juga supir pribadi keluarga Rega langsung pulang ke Bandung.
Queena membawa kakak sepupunya masuk ke lobi apartemen, mereka menaiki lift menuju unit apartemen tempat Queena tinggal selama beberapa hari di Jakarta.
“Papa sama mama pasti senang lihat mbak ada di sini,” ucap Queena.
Queena membantu membawakan tas ransel milik Aretha, ke duanya keluar dari lift.
“Aku memang ngangenin,” narsis Aretha.
“Ish…aku tarik lagi ucapanku,” kesal Queena.
Aretha tertawa ringan. “Coba kamu bisa ngambekan begitu di hadapan Arlo, Ueena. Dia pasti tidak akan mengganggumu terus,” Aretha merangkul pundak adik sepupunya.
“Percuma, mbak. Dia itu begundal rese,” kesal Queena.
Hachi…hachi…hachi
“Si alan! Siapa yang membicarakanku malam-malam begini,” di sebuah kamar kediaman meVah seorang pemuda terus saja bersin, padahal dia tidak sedang flu atau alergi. Dialah Arlo yang sedari tadi menjadi topik alias bahan gunjingan Aretha dan Queena.
cibe -cibe kalau ga salah