NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Dosa Tanpa Pengorbanan

Persis sebelum kami melangkah masuk ke pelataran istana yang megah, dua pengawal bersenjata lengkap menghalangi jalan dengan tombak mereka bersilang.

"Berhenti!" perintah salah satu pengawal, matanya tajam menatap Eveline. "Kami butuh konfirmasi identitas. Banyak yang bisa menyamar."

Aku langsung merasa tegang, namun Eveline justru melangkah maju. Tubuhnya yang biasanya terlihat anggun tiba-tara memancarkan aura wibawa yang hampir fisik. Suaranya, yang tadi lembut, kini berubah dingin dan penuh otoritas.

"Kalian berani menghalangi Putri Lindenroth di istananya sendiri?" ujarnya, tatapan biru pucatnya menusuk seperti pedang es. "Buka jalan. Sekarang."

Para pengawal itu terlihat goyah. Mereka saling pandang, ragu antara menjalankan prosedur dan takut pada aura otoritas yang dipancarkan Eveline. Akhirnya, dengan ragu-ragu, mereka menurunkan tombak dan membungkuk.

"Maafkan kami, Yang Mulia," gumam salah satunya.

Namun, ketika aku hendak mengikutinya, seorang pengawal lain mengangkat tangannya. "Dia tidak bisa masuk."

Eveline tidak menoleh, tapi suaranya menggema dengan keras. "Dia adalah tamuku. Siapa yang berani melarang?"

Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah masuk, dan aku dengan cepat menyusul di belakangnya, merasakan tatapan tajam para pengawal di punggungku.

Kami dibawa ke sebuah ruang penerimaan yang megah. Namun, yang menyambut kami bukanlah orang tua Eveline, melainkan seorang pria paruh baya dengan wajah tajam dan mata yang licik. Dia mengenakan jubah mewah yang menandakan status bangsawan tinggi.

"Paman Alaric," sapa Eveline dengan suara datar, meski ekspresinya tetap menunjukkan sikap seorang putri.

Pria itu, Alaric, terlihat sangat terkejut. "Eveline? Itu... tidak mungkin. Kami semua menduga kau sudah..."

"Di mana Ayah dan Ibu?" tanya Eveline, berpura-pura tidak tahu.

Alaric menghela napas, wajahnya berkerut sedih yang terasa dipaksakan. "Mereka... menyusulmu, sayang. Tak lama setelah kabar 'kepergianmu' sampai, mereka jatuh sakit. TBC yang sama," ujarnya. "Bahkan separuh pelayan keluarga tertular. Ayahmu, meski dalam keadaannya sendiri, mengambil keputusan untuk mengisolasi seluruh lingkungan istana ini untuk sementara, menghentikan aktivitas kota, demi mencegah wabah menyebar lebih luas. Keputusan yang kejam, tapi... perlu."

Aku, yang berdiri di samping Eveline, merasa sedih mendengarnya. Di satu sisi, kasihan sekali nasib keluarga ini. Di sisi lain, dalam konteks zaman tanpa obat TBC, keputusan itu memang tepat, meski kejam. Ternyata, meski terkenal sombong, ayah Eveline masih memiliki sedikit nurani.

Lalu, pandangan Alaric beralih padaku, penuh curiga. "Dan siapa lelaki berpakaian aneh ini?"

Dengan percaya diri, Eveline menjawab, "Dia adalah partner perjalananku. Dialah yang membantuku 'kembali'."

Mata Alaric menyempit. "Kembali? Dari mana?" Tiba-tiba suaranya meninggi penuh kecurigaan. "Tangkap lelaki itu!"

Refleksku langsung bekerja. Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga menyusuri koridor yang baru saja kulewati. Teriakan dan langkah kaki bersenjata bergema di belakangku. Sayangnya, aku tidak tahu akan lorong istana. Dalam waktu singkat, aku sudah terjepit di ujung koridor oleh tiga pengawal.

Namun, sebelum mereka sempat menyentuhku, sebuah bayangan melesat lebih cepat dari yang bisa kulihat.

Krak! Krek!

Dua suara patah yang singkat dan mengerikan. Dua pengawal itu roboh dengan tangan yang terpelintir ke arah yang tidak wajar, menjerit kesakitan. Eveline berdiri di depanku, pose bertarungnya elegan namun mematikan. Wajahnya masih tanpa ekspresi, tapi matanya memancarkan cahaya biru pucat yang mengerikan.

Alaric, yang menyusul dari belakang, terpana. Wajahnya pucat, matanya membelalak tak percaya.

"Kau... siapa?" desisnya, suara bergetar. "Eveline tidak akan pernah bisa melakukan itu. Dia tidak pernah dilatih bela diri! Kau bukan Eveline!"

Eveline menatapnya dingin, tubuhnya masih dalam posisi siaga, melindungiku sepenuhnya.

"Aku adalah Eveline," ujarnya, suaranya beresonansi aneh di koridor yang sunyi itu. "Tapi bukan lagi Eveline yang kau kenal."

Mendengar pengakuan tersebut paman alaric langsung bertanya

"Siapa kau anak muda..." Paman Alaric memecah kesunyian, suaranya masih bergetar namun penuh rasa ingin tahu yang dalam. "Kau apakan Eveline keponakanku ini bisa begini? Jelaskan dari awal, sejak... sejak kau tiba di dunia ini."

Aku menarik napas dalam. Tidak ada gunanya berbohong. Aku memutuskan untuk jujur, sejujur-jujurnya.

"Aku... berasal dari tempat yang sangat jauh," mulaku, mencoba mencari kata-kata. "Namanya Indonesia. Ibu kotanya Jakarta. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil di sana." Aku menceritakan kehidupan membosankanku sebagai pengangguran, tentang putus cinta, dan rasa jenuh yang mendalam.

"Suatu malam, aku pulang dan tertidur. Lalu, aku bermimpi." Aku berusaha mengingat detail mimpi itu, yang kini terasa kabur. "Aku melihat seorang gadis... tapi wajahnya tidak jelas, seperti tertutup kabut. Dia terlihat sedih. Aku tidak tahu siapa dia."

Aku melanjutkan, "Lalu, ketika aku terbangun, aku sudah tidak lagi di kamarku. Aku berada di dalam rumah kayu tua yang rapuh, penuh debu dan sepi. Aku bingung, ketakutan. Aku coba mencari jalan keluar, dan mataku tertuju pada sebuah lukisan keluarga besar yang tergantung di dinding."

Aku menunjuk ke arah Eveline. "Wajah-wajah di lukisan itu terlihat gagah, tapi ada satu wajah yang menarik perhatianku... wajahnya." Eveline hanya mendengarkan dengan ekspresi datarnya.

"Aku terus berjalan, masuk ke sebuah kamar kecil. Dan di sanalah... aku melihatnya." Suaraku semakin pelan, mencoba menggambarkan kengerian dan keajaiban saat itu. "Sebuah tengkorak manusia tergeletak di atas meja, diapit lilin yang sudah padam. Di sampingnya, ada foto hitam-putih seorang gadis cantik dengan gaun vintage. Aku langsung mengenalinya—dia adalah gadis dari lukisan tadi."

Aku berhenti sejenak, merasa agak malu untuk mengucapkan bagian selanjutnya. Tapi kuputuskan untuk terus terang.

"Dan kemudian... tanpa kusadari, karena terpesona oleh kecantikannya yang masih terpancar dari foto itu, aku... mengeluarkan celetukan bodoh." Aku menarik napas. "Aku berkata, 'Yah, coba aja gue bisa idupin lagi. Buat jadi pacar, hehe.'"

Dan itulah yang terjadi. Tidak perlu kujelaskan lebih lanjut. Eveline yang berdiri di sini adalah buktinya.

Untuk sesaat, tidak ada suara di ruangan itu. Lalu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Paman Alaric... tertawa.

Itu bukan tawa bahagia, tapi tawa yang penuh keheranan, ketidakpercayaan, dan sedikit... kegilaan. "Hah... haha... Hahahaha!" Dia memegangi dahinya, bahunya terguncang. "Celetukan? Hanya karena sebuah celetukan bodoh?" Tiba-tiba tawanya mereda, digantikan oleh ekspresi serius yang diselimuti ketakutan. Dia menatapku dengan tajam.

"Hei anak muda," ujarnya, suara rendah dan bergetar. "Kau menyadari betapa gila-nya ini, bukan? Seni gelap yang telah memakan korban jiwa ribuan penyihir dalam ritual yang rumit dan mengerikan, berhasil kau langgar hanya dengan... sebuah keinginan yang diucapkan begitu saja?"

Dia menggeleng-gelakkan kepala, wajahnya campur aduk antara takjub dan ngeri. "Ini di luar pemahaman. Ini menentang semua hukum sihir yang kami kenal. Jika kabar ini menyebar..."

Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Aku sudah paham. Istana ini, kerajaan ini, bahkan seluruh kekaisaran, bisa menganggapku sebagai ancaman terbesar—atau sumber daya terhebat—yang pernah mereka lihat. Dan kedua hal itu sama berbahayanya bagiku.

Aku hanya bisa berdiri di sana, merasa semakin kecil. Hidupku yang biasa-biasa saja di Jakarta kini telah berubah menjadi dongeng yang gelap dan berbahaya, dan aku adalah pusatnya, bukan karena aku istimewa, tapi karena sebuah kebetulan yang benar-benar kebetulan.

Aku menyadari betapa seriusnya tindakanku. Aku telah melakukan sesuatu yang dianggap sebagai dosa besar di dunia ini, sesuatu yang bisa menghilangkan nyawaku. Rasa panik dan penyesalan mendorongku untuk mencoba memperbaiki kesalahan.

"Eveline," ucapku, suara bergetar penuh ketidakpastian. "Aku... aku ingin mengembalikanmu seperti semula. Bisakah kau... kembali menjadi tengkorak?"

Eveline, yang patuh seperti biasanya, hanya mengangguk. "Perintahmu adalah segalanya."

Dia membuka mulutnya, dan dari dalamnya, sebuah cahaya biru pucat yang samar menyembur keluar. Cahaya itu melayang di udara sejenak sebelum bergerak menujuiku dan... masuk ke dalam dadaku. Aku merasakan sesuatu yang hangat, seperti seberkas energi yang kembali ke tempat asalnya.

Tapi yang terjadi selanjutnya membuatku membeku.

Tubuh Eveline tidak menghilang.

Dia masih berdiri di sana, utuh, dengan gaun biru tuanya. Hanya saja, sekarang dia benar-benar seperti boneka—tidak bergerak, mata terbuka tanpa cahaya, tanpa kesadaran. Dia seperti replika lilin yang sempurna dari dirinya sendiri. Hidup, tapi kosong.

Paman Alaric, yang menyaksikan semuanya, terkesiap. Wajahnya yang baru saja menunjukkan berbagai emosi kini dipenuhi oleh ekspresi syok yang paling dalam.

"T-Tidak mungkin..." desisnya, hampir tak bersuara. "Kau... kau tidak hanya membangkitkannya... kau memilikinya." Dia menatapku dengan pandangan baru, penuh rasa ngeri dan sedikit jijik. "Jiwanya... kau tarik keluar dan kau simpan? Ponakanku... tubuh ponakanku kini hanyalah sebuah cangkang kosong yang kaugunakan sesukamu?"

Mendengar kata-katanya, rasanya seperti ditampar. "Mainan." Kata itu terngiang-ngiang di kepalaku. Dia benar. Awalnya memang hanya karena celetukan bodoh. Aku memperlakukan kebangkitannya dengan sembrono. Dan sekarang, dengan bisa seenaknya mengambil dan mengembalikan "jiwanya", aku seperti benar-benar menjadikannya boneka.

Rasa bersalah dan kasihan yang mendalam menyergapku. Melihat tubuh Eveline yang berdiri tak bernyawa itu terasa salah. Sangat salah.

"Tidak," bisikku. "Ini bukan yang kuinginkan." Aku memusatkan pikiran, mencoba mengingat perasaan saat pertama kali "memanggil"-nya. Aku tidak menginginkan boneka. Aku... aku hanya tidak ingin dia benar-benar hilang.

Dengan niat tulus untuk mengembalikannya—bukan sebagai mainan, tapi sebagai... entitas yang utuh—kubayangkan cahaya biru itu keluar lagi dari dadaku. Cahaya itu melayang kembali dan masuk melalui mulut Eveline yang terbuka.

Seketika, kehidupan kembali ke tubuhnya. Dadanya naik turun seolah menarik napas pertama, matanya yang biru pucat kembali berkilau, meski masih dengan tatapan kosong khasnya. Dia menggerakkan tangannya, melihatnya seolah memastikan sesuatu.

"Aku... kembali," ujarnya, suaranya kembali datar.

Paman Alaric menyaksikan semua ini dengan mulut ternganga. Ekspresinya berubah dari syok menjadi ketakutan yang lebih dalam, bercampur dengan sebuah pencerahan yang mengerikan.

"Kau tidak hanya bisa membangkitkan, tidak hanya bisa memilikinya..." ujarnya pelan, seolah menyadari sesuatu yang sangat menakutkan. "Tapi kau juga bisa mengembalikannya, sesukamu. Dengan sebuah niat."

Dia menatapku seperti menatap monster dari legenda kuno.

"Kekuatan seperti ini... tidak seharusnya ada di tangan siapa pun."

Paman Alaric, dengan wajah masih dipenuhi ketakutan dan kebingungan, segera memerintahkan seorang pengawal untuk memanggil seseorang. Tak lama kemudian, seorang lelaki tua berjubah hitam dengan janggut panjang dan mata yang tajam memasuki ruangan. Dia membawa tongkat berukiran rumit yang memancarkan aura magis yang kuat.

"Penyihir Orlon," sapa Alaric dengan suara serius. "Periksa keponakanku. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padanya."

Penyihir Orlon mengangguk, matanya yang berwarna abu-abu tua langsung tertuju pada Eveline. Dia mengelilinginya, mengucapkan mantra-manta rendah sambil tangannya memegang sebuah kristal yang menggantung di lehernya. Kristal itu memancarkan cahaya redup yang berubah-ubah warna saat diarahkan ke Eveline.

Setelah beberapa saat yang menegangkan, Orlon berhenti dan memandang Alaric dengan wajah suram.

"Laporan saya, Tuan Adipati," ujarnya dengan suara parau. "Ini... sangat tidak biasa. Putri Eveline, secara teknis, tidak hidup."

Dia menjelaskan dengan detail yang mengerikan. "Tubuhnya berfungsi, tapi tidak karena kehidupan alami. Dia bergerak berdasarkan pola ingatan masa lalunya yang disimulasikan dengan sempurna. Dia belajar dan beradaptasi berdasarkan kenangan yang dikumpulkan dari interaksinya, terutama dari pria asing ini." Orlon menunjuk ke arahku. "Tindakannya yang terlihat 'sadar' sebenarnya adalah respons yang dihitung berdasarkan memori dan perintah."

Lalu, dia menyampaikan hal yang paling mencengangkan. "Dan yang terpenting, ikatan yang tercipta bersifat mutlak. Hanya pria ini—sang Pembangkit—yang bisa memerintahnya. Bahkan orang tuanya sendiri, seandainya masih hidup, tidak akan bisa. Kecuali," dia menatapku, "sang Pembangkit secara khusus memerintahkan dia untuk mematuhi orang lain. Ikatan ini seperti tali yang hanya bisa dipegang oleh satu orang."

Paman Alaric terdiam sejenak, mencerna. Lalu, dengan suara pelan, dia menyimpulkan, "Jadi... ponakanku ini, tanpa roh?"

Penyihir Orlon mengangguk perlahan, wajahnya serius. "Benar, Tuan. Yang ada hanyalah replika kesadaran yang sempurna, didorong oleh kehendak sang Pembangkit."

Kemudian, Orlon menambahkan dengan suara lebih rendah, penuh makna. "Dan inilah yang membuat sihir ini begitu anomali dan terlarang. Dalam semua teks kuno, untuk mencapai pembangkitan sesempurna ini—di mana jiwa yang dipanggil mempertahankan kepribadian, ingatan, dan ketaatan mutlak—selalu membutuhkan pengorbanan yang mengerikan."

Dia menjeda, memastikan kata-katanya terdengar jelas. "Biasanya, pengorbanan itu adalah jiwa yang setara—biasanya jiwa dari kerabat dekat, atau penyihir itu sendiri. Hukum Pertukaran Setara. Tapi dalam kasus ini..." Dia menatapku penuh teka-teki dan ketakutan. "...tidak ada jejak pengorbanan apa pun. Seolah-olah hukum alam dilanggar begitu saja."

Ruangan kembali sunyi. Kata-kata "pengorbanan jiwa yang setara" bergema di kepalaku. Aku merasa mual. Jika aku tahu bahwa membangkitkan Eveline membutuhkan pengorbanan nyawa orang lain, bahkan tidak akan terpikir olehku untuk mengucapkan celetukan bodoh itu.

Sekarang, semua mata tertuju padaku. yang tanpa sengaja melakukan hal yang mustahil, melanggar hukum alam, dan kini memegang kendali atas "kehidupan" seorang putri bangsawan. Rasa bersalah dan beban yang kurasakan semakin tidak tertahankan. Aku bukan pahlawan. Aku hanya orang beruntung—atau mungkin sial—yang tersandung ke dalam kekuatan yang tidak pernah kuminta dan tidak kupahami.

Kini penyihir Orlon memandangku dengan tatapan menusuk. "Siapa... sebenarnya dirimu, anak muda?"

"Aku Rian Saputra," jawabku, mencoba terdapat percaya diri. "Dari Indonesia, kota Jakarta."

Baik Alaric maupun Orlon sama-sama mengerutkan kening, tak ada kilau pengakuan di mata mereka. "Jakarta? Indonesia?" gumam Orlon. "Itu bukan nama yang tercatat dalam peta manapun di tanah Aethelgard."

Kebingungan mereka semakin mengukuhkan keyakinanku: aku benar-benar terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda.

Tiba-tiba, Paman Alaric berdiri, wajahnya dipenuhi tekad yang hampir nekat. "Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri," ujarnya, suaranya bergetar. "Kekuatan macam apa yang kau miliki. Orlon, bawalah mereka ke pemakaman keluarga. Ke makam... makam Liana." Suaranya lirih saat menyebut nama itu.

Mendengar itu, dadaku langsung sesak. "Pemakaman? Tidak, Tuan, aku—"

"Dengarkan!" potong Alaric, menatapku tajam. "Aku yang meminta. Dan konsekuensinya akan kutanggung." Lalu dia berpaling pada Orlon, tatapannya berubah menjadi ancaman. "Dan kau, Orlon

. Tutup mulutmu rapat-rapat tentang apa yang akan kau saksikan. Jika sepatah kata pun bocor, kau tahu akibatnya."

Orlon, yang terlihat sangat tidak nyaman, akhirnya mengangguk patuh.

Dengan hati yang berat dan penuh keraguan, aku mengikuti mereka menyusuri koridor bawah tanah yang gelap dan lembap. Suhu udara semakin dingin saat kami mencapai sebuah ruangan besar yang dipenuhi sarkofagus batu. Ini adalah pemakaman bawah tanah keluarga van der Linden.

Alaric berhenti di depan sebuah sarkofagus yang terlihat lebih megah dari yang lain. Dengan tangan gemetar, dia mendorong penutup batu berat itu. Suara gesekan batu bergema menyeramkan di ruang bawah tanah yang sunyi.

Di dalamnya, terbaring sebuah kerangka yang masih mengenakan gaun pengantin yang indah, meski sudah kusam dan lapuk. Rambutnya yang dulu pasti cantik, kini hanya tersisa helaian tipis yang menempel pada tengkorak. Aku merasa ngeri dan bersalah. Ini terlalu intim, terlalu sakral untuk diusik.

"Liana," bisik Alaric, suaranya pecah. "Istri tercintaku." Dia menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. "Coba. Bangkitkan dia."

"Tuan, aku tidak—"

"LAKUKAN!" bentaknya, putus asa.

Aku menarik napas dalam, menutup mata, berusaha mengingat perasaan saat tidak sengaja membangkitkan Eveline. Bukan celetukan sembrono, tapi sebuah keinginan tulus untuk mengembalikan seseorang. Kali ini, aku memusatkan pikiran pada gambaran wanita di depan ku, pada cinta yang terpancar dari raut putus asa Alaric. Aku ingin dia kembali. Aku ingin kau bersatu kembali dengan orang yang kau cintai.

Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Hanya niat yang mengalir deras dari seluruh keberadaanku.

Lalu, sesuatu yang ajaib—atau mungkin menyeramkan—terjadi.

Dari dalam tanah dan udara di sekitar sarkofagus, partikel-partikel halus berwarna emas dan merah muda mulai bermunculan. Mereka berputar, menari, lalu mulai merangkai diri di sekitar kerangka itu. Aku bisa melihat tulang-tulangnya secara ajaib terbalut oleh otot, urat, dan jaringan daging yang terbentuk dengan cepat. Kulit yang halus merekat sempurna, rambut tumbuh lebat dan berkilau, hingga akhirnya...

Seorang wanita cantik dengan gaun pengantin yang kini terlihat baru kembali, berdiri dari tempat tidurnya. Matanya terbuka, memancarkan kehidupan. Dia sama persis dengan potret yang tergantung di dinding dekat sarkofagus-nya. Dia memandang sekeliling, bingung, lalu tatapannya tertuju padaku.

"Apa perintahmu, Tuanku?" suaranya lembut dan patuh, persis seperti Eveline pertama kali bangkit.

Dadaku sesak. Aku tidak merasa seperti "Tuanku". Aku merasa seperti penjahat yang telah mengacaukan alam.

Aku menoleh pada Alaric, yang wajahnya basah oleh air mata. Bukan air mata kebahagiaan, tapi campuran rasa kagum, syok, dan kesedihan yang dalam.

"Aku... aku minta maaf," bisikku. "Aku tidak bermain-main. Tapi... dia sekarang terikat padaku."

Alaric mengangguk pelan, mengusap air matanya. "Aku tahu," jawabnya, suaranya parau. "Dan itu... wajar. Kau yang membangkitkannya. Siapa pun yang kau bangkitkan, pasti akan mengabdi padamu. Itu hukum alam yang baru saja kau tulis ulang."

Dia memandang Liana, yang masih menungguku dengan tatapan penuh ketaatan. Di matanya, ada penerimaan yang tragis. Dia mendapatkan kembali istrinya, tapi dalam bentuk yang tidak utuh, dengan ikatan yang tak terelakkan padaku. Kekuatanku bukanlah berkah, tapi pedang bermata dua yang memutus ikatan lama dan menciptakan yang baru, apakah dunia menginginkannya atau tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!