NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Bunyi uap yang keluar dari pipa mesin espresso terdengar jauh lebih tenang sekarang, seolah-olah mesin itu sendiri ikut merasakan ketegangan yang baru saja lepas di udara kedai L'Art du Café. Mahesa tidak lagi menyembunyikan wajahnya di balik gerakan-gerakan mekanis yang cepat. Ia berdiri lebih tegak, membiarkan kain lap di tangannya tersampir di bahu kanan, sementara matanya kini berani menatap Felysha tanpa harus memasang topeng barista Prancis yang kaku.

Felysha masih duduk di kursi tinggi di depan konter, kedua tangannya kini melingkari cangkir biru tua yang sisa kopinya tinggal sedikit. Ia merasakan sebuah kehangatan yang berbeda merayap di dadanya—bukan dari cairan kafein itu, melainkan dari kenyataan bahwa pria di depannya ini baru saja mengucapkan kata "Jakarta" dengan logat yang begitu familiar.

"Tebet," gumam Felysha pelan, seolah sedang mencicipi rasa kata itu di lidahnya. "Aku punya teman sekolah yang rumahnya di dekat Tebet Utara. Kalau jam pulang sekolah, kami sering terjebak macet di sana cuma buat cari bakso."

Mahesa tertawa pendek, kali ini tawanya terdengar lebih renyah dan jujur. Ia menarik sebuah kursi rotan kecil dari bawah konter dan duduk di sana, memposisikan dirinya agar sejajar dengan Felysha. "Bakso di Tebet itu godaan paling besar kalau dompet lagi tipis, Non. Eh, maksud saya, Felysha."

Felysha tersenyum, menyadari bagaimana Mahesa masih sesekali terpeleset memanggilnya dengan sebutan formal. "Panggil Fely saja. Rasanya aneh dipanggil 'Non' di tengah Paris yang sombong ini."

Mahesa mengangguk, jemarinya mulai memainkan ujung celemeknya yang sedikit berdebu. "Oke, Fely. Jadi, apa yang bikin seorang gadis dari Menteng mau susah-susah masuk ke gang sempit ini? Bukannya di dekat apartemenmu di Passy itu ada puluhan kafe yang jauh lebih cantik dan punya pelayan yang beneran orang Prancis?"

Felysha menyandarkan kedua sikunya di atas konter kayu, menumpukan dagu di telapak tangannya. Ia melihat ke arah mesin kopi kuningan yang mengkilap, memantulkan cahaya kuning lampu gantung. "Kafe-kafe di sana terlalu... sempurna. Semuanya serba putih, pelayannya terlalu sopan tapi nggak punya nyawa, dan rasa kopinya sama semua. Aku butuh sesuatu yang beda. Aku butuh tempat di mana aku nggak merasa sedang diawasi oleh standar kecantikan orang-orang di sekitarku."

Ia melirik ke arah Mahesa. "Lagipula, aku nggak sengaja nemu tempat ini. Aku cuma ngikutin bau kopi yang dipanggang manual. Baunya beda sama kopi mesin otomatis."

Mahesa bangkit berdiri sebentar. Ia mengambil sebuah stoples kaca kecil berisi biskuit kayu manis dari rak belakang, lalu meletakkannya di antara mereka. "Banyak yang bilang begitu. Pemilik kedai ini, Monsieur Girard, emang fanatik soal cara manggang biji kopi. Dia bilang kopi itu kayak manusia; kalau dipaksa buru-buru, rasanya bakal pahit tanpa karakter. Tapi kalau pelan-pelan, manis alaminya bakal keluar."

Mahesa kemudian mengambil satu biskuit, mematahkannya menjadi dua, dan memberikan separuhnya pada Felysha. Felysha menerimanya, merasakan tekstur biskuit yang renyah dan aroma rempah yang hangat. Suasana di antara mereka kini jauh lebih santai. Tidak ada lagi pertanyaan interogatif, hanya dua orang asing yang merasa seperti sedang duduk di teras rumah sendiri.

"Sudah berapa lama kamu nggak pulang ke Jakarta, Mahesa?" tanya Felysha setelah menelan kunyahan biskuitnya.

Mahesa terdiam sejenak. Ia menatap ke arah pintu masuk, melihat bayangan orang yang melintas di trotoar luar. "Dua tahun. Terakhir pulang pas pemakaman Ayah. Setelah itu, saya ngerasa nggak ada alasan lagi buat balik. Di sana, saya cuma punya kenangan yang bikin sedih. Di sini, setidaknya saya punya kesibukan yang bikin lupa sama sedih itu."

Ia mengusap permukaan meja konter dengan ujung jempolnya. "Tapi dengerin kamu cerita soal Menteng tadi... rasanya kayak baru aja disiram air es. Seger, tapi sekaligus bikin perih karena jadi sadar betapa jauhnya saya dari sana sekarang."

Felysha mengangguk paham. Ia meraba plester di lehernya, sebuah gerakan yang membuat mata Mahesa sempat meredup selama satu detik. Mahesa segera berbalik, mengambil botol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas kecil, memberikannya pada Felysha sebagai pelarian dari rasa bersalah yang tiba-tiba muncul kembali.

"Kamu sendiri?" Mahesa mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kenapa ambil fashion di Paris? Kenapa nggak di Jakarta saja?"

"Bukan mauku sepenuhnya," jawab Felysha lirih. Ia memutar-mutar gelas air mineralnya. "Julian... dia punya pandangan kalau segalanya harus berlabel internasional. Dia mau istrinya nanti punya gelar dari sekolah mode terbaik di dunia supaya bisa dibanggakan di depan rekan bisnisnya. Aku cuma ikut alur yang sudah dia buat. Kadang aku merasa kayak manekin hidup; dipakaikan baju bagus, ditaruh di tempat mewah, tapi nggak punya suara buat menentukan mau melangkah ke mana."

Mahesa mendengarkan dengan saksama. Ia memperhatikan bagaimana jemari Felysha yang lentur itu tampak kaku saat menyebut nama Julian. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan yang melekat pada Felysha, ada beban yang mungkin jauh lebih berat daripada beban finansial yang ia tanggung sendiri.

"Jadi itu sebabnya kamu suka jalan malam sendirian?" tebak Mahesa.

"Mungkin," Felysha mengangkat bahu. "Jalan malam sendirian itu satu-satunya waktu di mana aku nggak perlu jadi 'calon istri Julian'. Aku cuma jadi Felysha, gadis yang suka lihat bangunan-bangunan tua dan bau udara dingin. Walaupun ternyata risikonya... ya, kamu tahu sendiri."

Mahesa tertawa kecil, meskipun hatinya merasa getir. "Risikonya ketemu copet dan ditolong sama barista yang pura-pura nggak kenal?"

Felysha ikut tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih lepas. "Iya. Tapi setidaknya barista itu bisa bikin kopi yang enak banget. Itu poin plusnya."

Mahesa kembali menyibukkan diri dengan membersihkan cangkir-cangkir kotor di wastafel bawah konter. Bunyi air yang mengalir dan denting keramik yang beradu menciptakan irama yang menenangkan. Felysha memperhatikan punggung Mahesa. Ia melihat bagaimana otot lengan pria itu bergerak di balik kemeja putihnya yang lengannya digulung. Ada sebuah ketenangan yang dipancarkan oleh Mahesa, tipe ketenangan milik orang-orang yang sudah kenyang dihantam oleh kehidupan namun tetap memilih untuk berdiri tegak.

"Mahesa, kamu pernah mikir nggak buat balik ke arsitektur?" tanya Felysha tiba-masing.

Mahesa berhenti menggosok cangkir. Ia menatap ke arah rak buku di pojok kedai, tempat beberapa sketsanya terselip di antara buku menu. "Setiap hari. Tapi mimpi itu butuh biaya, Fely. Di Paris, sewa kamar sekecil kotak sepatu saja harganya sudah bikin saya pusing. Buat saya, bisa makan tiga kali sehari dan punya tempat tidur yang kering saja sudah syukur."

Ia berbalik, menyandarkan pinggulnya pada konter. "Tapi saya masih gambar. Kadang kalau kedai lagi sepi, saya duduk di pojok sana dan gambar gedung yang ada di depan gang ini. Itu cara saya buat tetap ngerasa kalau saya masih punya identitas itu."

Felysha meraih tas sketsanya, membukanya, dan mengeluarkan pensil grafitnya. Ia menarik selembar kertas kosong, lalu dengan gerakan cepat mulai membuat sketsa wajah Mahesa dari samping. Garis-garisnya tegas namun lembut. Ia menangkap lekukan rahang Mahesa yang kuat dan sorot matanya yang tenang.

"Apa yang kamu lakukan?" Mahesa bertanya dengan kening berkerut, mencoba melongok ke arah buku sketsa Felysha.

"Jangan bergerak," perintah Felysha tanpa mendongak. "Aku cuma mau mengabadikan salah satu 'nyawa' di Paris yang beneran punya hati."

Mahesa tertegun. Ia mematung di posisinya, membiarkan Felysha menyelesaikan sketsanya. Ada sebuah perasaan aneh yang membuncah di dadanya—rasa dihargai yang sudah lama tidak ia rasakan. Selama ini, orang-orang di Paris hanya melihatnya sebagai pelayan, sebagai orang asing yang lewat, atau sebagai bayangan di gang gelap. Baru kali ini ada seseorang yang ingin menangkap sosoknya di atas kertas.

Beberapa menit berlalu hanya dengan suara goresan pensil di atas kertas. Di luar, langit Paris mulai berubah warna menjadi biru tua yang pekat, dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, memberikan rona keemasan pada trotoar yang lembap. Kedai kopi itu terasa seperti sebuah pulau kecil di tengah samudra kota yang luas.

"Selesai," ucap Felysha sambil menunjukkan hasilnya pada Mahesa.

Mahesa menatap gambar itu. Ia terpaku. Sketsa itu bukan hanya sekadar gambar wajahnya, tapi Felysha berhasil menangkap gurat kelelahan sekaligus ketabahan di matanya. "Ini... ini bagus banget, Fely. Jauh lebih bagus dari foto manapun yang pernah saya punya."

"Anggap saja ini bayaran buat biskuit kayu manisnya," Felysha merobek kertas itu perlahan dan memberikannya pada Mahesa. "Simpan ya. Supaya kamu ingat kalau di mata orang lain, kamu bukan cuma barista yang terdampar di sini."

Mahesa menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyelipkannya di antara halaman buku sketsanya sendiri di rak bawah. Ia menatap Felysha dengan sorot mata yang jauh lebih dalam. "Terima kasih, Fely. Kamu bener, bicara pakai bahasa sendiri itu emang bikin beban di pundak rasanya berkurang setengah."

Felysha melihat ke arah jam di dinding. "Aku harus pergi, Mahesa. Andre sudah nunggu sepuluh menit yang lalu. Dia bakal lapor ke Julian kalau aku telat lima menit lagi."

Mahesa mengangguk paham. Ia mengambil tas sketsa Felysha dan membantunya menyampirkannya ke bahu. "Hati-hati di jalan. Jangan melamun di trotoar."

Felysha berjalan menuju pintu. Ia sempat berhenti sejenak, menoleh ke arah Mahesa yang berdiri di balik konter. "Besok... aku boleh ke sini lagi, kan? Bukan buat kopi gratisnya, tapi buat dengar cerita tentang Jakarta Selatan yang lain."

Mahesa memberikan senyum paling tulus yang ia miliki sore itu. "Kedai ini buka jam sepuluh pagi, Fely. Dan saya bakal pastiin biskuit kayu manisnya masih ada."

Felysha melambaikan tangannya sekali sebelum mendorong pintu kayu biru itu. Bel berdenting nyaring, mengiringi kepergiannya ke arah gang yang kini mulai diselimuti kegelapan. Mahesa berdiri diam di posisinya, menatap sisa biskuit kayu manis di meja. Ia merasakan aroma parfum mawar Felysha yang masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma kopi yang menenangkan.

Ia menyadari bahwa mulai sore ini, kedai L'Art du Café bukan lagi sekadar tempat kerjanya untuk mencari koin Euro. Tempat ini telah berubah menjadi ruang rahasia di mana dua jiwa yang kesepian dari Jakarta menemukan jembatan untuk saling memahami di tengah dinginnya Paris yang tak pernah tidur. Mahesa menarik napas panjang, menatap sketsa pemberian Felysha di dalam bukunya, dan merasa bahwa untuk pertama kalinya dal

am dua tahun, ia punya sesuatu yang benar-benar ingin ia tunggu di hari esok.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!