Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Dunia bagi seorang Julian Klein bukanlah rangkaian peristiwa yang mengejutkan, melainkan sebuah simfoni pengulangan yang membosankan.
Julian duduk di kursi kayu keras di baris paling belakang kelas Fisika. Di depannya, seorang guru muda dengan semangat yang belum luntur oleh birokrasi sekolah sedang menjelaskan tentang hukum termodinamika. Julian mendengarkan dengan ekspresi datar yang telah ia asah selama sepuluh abad. Ia ingat pernah berdiskusi tentang konsep energi dengan para filsuf di Yunani dan ia pernah melihat mesin uap pertama kali mendesis di Inggris. Baginya, penjelasan guru ini hanyalah gema dari kebenaran yang sudah ia ketahui jauh sebelum kakek buyut guru itu lahir.
Menjadi siswa SMA di usia 1.012 tahun adalah sebuah bentuk penyamaran sekaligus hukuman. SMA adalah tempat di mana emosi manusia berada pada puncaknya, ledakan hormon, cinta monyet dan kecemasan akan masa depan. Bagi Julian, berada di sini seperti berdiri di tengah badai sementara ia sendiri adalah karang yang tak tergoyahkan.
Julian melirik jam dinding. Detiknya berdetak lambat. Tick. Tick. Tick. Bagi manusia, detik adalah satuan waktu. Baginya yang merupakan seorang Aethern, waktu adalah zat yang bisa dirasakan, tebal dan dingin seperti kabut yang menyelimuti jiwa.
Dalam bahasa kuno yang sudah punah, mereka disebut Aethernus, makhluk yang memakan cahaya bintang dan napas bumi. Julian adalah salah satu dari sedikit yang tersisa. Secara biologis, sel-sel tubuh Aethern tidak mengalami replikasi yang cacat seperti manusia. Jika sel manusia membelah dan perlahan membusuk menjadi penuaan, sel Aethern berada dalam kondisi stasis sempurna.
Mereka menyerap energi dari atmosfer, sebuah partikel halus yang mereka sebut Aether. Energi inilah yang memperbaiki setiap kerusakan jaringan secara instan. Jika seorang Aethern tertembak, pelurunya akan terdorong keluar oleh otot yang menutup dalam hitungan detik. Mereka tidak bisa sakit, tidak bisa menjadi tua dan secara teknis hampir mustahil untuk mati kecuali jantung mereka dihancurkan oleh senjata yang ditempa khusus dengan logam bintang.
Namun, keabadian fisik menuntut bayaran pada mental. Otak Aethern memiliki kapasitas memori yang tak terbatas. Julian ingat aroma pasar di Konstantinopel tahun 1204 sejelas ia ingat bau kopi di kantin pagi ini. Ia memikul beban ribuan wajah, ribuan nama dan ribuan kematian palsu. Itulah sebabnya Julian menjadi sosok yang sangat tenang dan berhati-hati. Satu gerakan gegabah bisa menarik perhatian otoritas dan perhatian adalah musuh terbesar bagi mereka yang tidak pernah berubah.
Bel sekolah berbunyi, menandakan pergantian jam. Julian tidak terburu-buru. Ia berjalan keluar dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat terlalu anggun atau terlalu kaku. Pikiran Julian melayang pada rumah kecilnya di pinggiran kota, tempat di mana istrinya, Elena, sedang menunggu.
Elena adalah istri keduanya. Seorang manusia biasa. Ketika Julian menikahi Elena empat puluh tahun yang lalu, Elena adalah seorang wanita muda yang penuh tawa. Kini, Elena berusia 68 tahun. Tubuhnya mulai membungkuk, rambutnya memutih dan kulitnya yang dulu halus kini dipenuhi garis-garis waktu yang dalam. Elena sedang sakit-sakitan karena jantungnya semakin melemah, sebuah pengingat kejam bahwa Julian akan segera menjadi duda untuk kedua kalinya.
Terkadang, Julian merasa dirinya adalah monster. Ia akan duduk di samping tempat tidur Elena di malam hari, memegang tangan istrinya yang keriput dengan tangannya sendiri yang masih tampak seperti pemuda berusia tujuh belas tahun.
"Julian." Elena pernah berbisik di suatu malam yang sesak. "Terkadang aku berharap kau bisa menua bersamaku. Hanya agar aku tidak merasa begitu sendirian saat berjalan menuju kegelapan."
Kata-kata itu menghancurkan Julian lebih dari belati mana pun. Julian mencintai Elena dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh makhluk abadi, sebuah cinta yang bercampur dengan rasa duka yang sudah dimulai bahkan sebelum kematian itu tiba. Ia merindukan kebersamaan anak-anak mereka, Robert yang kini sibuk dengan kariernya dan si kecil Clara yang masih berusia delapan tahun namun sudah mulai menyadari bahwa ayahnya tidak pernah berubah sejak ia lahir.
Namun, lubang terbesar di hati Julian adalah Lyana.
Lyana merupakan anak keduanya bersama Elena. Ia sengaja di asuh oleh anak tunggal dari istri pertamanya, Dereck, karena ia tidak bisa memiliki anak. Namun, setelah Dereck meninggal dalam kecelakaan tragis, istrinya, Stefanny, malah membawa kabur Lyana. Stefanny sengaja tidak ingin Lyana berada dalam lingkaran Julian.
Lyana sendiri merupakan salah satu dari anak Julian yang mewarisi darah Aethern, sama seperti Clara. Tetapi, Lyana bisa di bilang sebagai Aethern yang cacat. Berbeda dengan Julian dan Clara yang memiliki regenerasi sempurna, stasis seluler dan umur yang tak terbatas. Lyana hanya mewarisi stasis seluler untuk berhenti menua tapi ia tidak memiliki regenerasi. Setiap luka di tubuhnya akan mengurangi sisa umur biologisnya.
Lyana adalah kasus khusus. Karena ia terlahir dari campuran darah Aethern dan manusia melalui garis keturunan yang melemah, sistem regenerasinya rusak. Baginya, darah adalah bahan bakar umur. Saat dia berdarah, dia tidak hanya kehilangan cairan, tapi kehilangan waktu hidup.
Julian melangkah menyusuri koridor sekolah yang bising, namun pikirannya tertahan pada satu memori pahit, hari di mana Stefanny membawa Lyana pergi. Ia masih bisa merasakan dinginnya udara sore itu, sebuah keheningan yang lebih menyesakkan daripada medan perang mana pun yang pernah ia lalui.
Bagi Julian, Lyana adalah paradoks yang rapuh. Jika Julian adalah karang, maka Lyana adalah kaca indah, abadi dalam wujudnya, namun sekali retak, ia takkan pernah bisa utuh kembali. Setiap tetes darah yang keluar dari tubuh putrinya adalah detik yang dicuri dari keabadiannya.
Selama sepuluh tahun terakhir, Julian telah menggunakan segala sumber daya yang ia kumpulkan selama berabad-abad, koneksi rahasia, kekayaan yang tersimpan di bank-bank Swiss atas nama samaran, hingga kemampuan sensorik Aether-nya untuk melacak mereka. Namun Stefanny bukan wanita biasa. Sebagai mantan istri Dereck, ia tahu persis bagaimana cara bersembunyi dari sosok seperti Julian. Ia tahu bahwa Julian menghindari teknologi pelacakan modern yang bisa mengekspos eksistensinya.
Setibanya di rumah, aroma lavender dan obat-obatan menyambutnya. Elena sedang duduk di kursi goyang dekat jendela, memandangi taman belakang yang mulai layu. Julian mendekat, berlutut di samping istrinya dan mencium tangannya yang dingin.
"Kau pulang terlambat hari ini." bisik Elena lemah. Matanya yang kabur menatap wajah suaminya yang masih sekencang porselen. "Ada kabar tentangnya?"
Julian menggeleng pelan. "Belum, Elena. Tapi aku merasakannya. Aether di atmosfer mulai bergejolak. Sesuatu akan terjadi."
Julian mengusap tangan Elena dengan lembut, merasakan denyut nadinya yang melemah, kontras dengan energinya sendiri yang meluap-luap namun terperangkap dalam tubuh remaja. Ia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya yang sedang sakit, tetapi Elena selalu bisa membaca keraguan di balik topeng ketenangannya.
"Ada sesuatu yang lain, Elena." Julian memulai, suaranya seberat sejarah yang ia pikul. "Di sekolah ada seorang murid baru. Namanya Kenzie Rosalinne."
Elena mengernyitkan dahi, mencoba memfokuskan pandangannya pada wajah suaminya. "Apa dia salah satu dari kaummu?"
Julian terdiam sejenak, memutar kembali memori saat ia pertama kali berpapasan dengan Kenzie di koridor pagi tadi. "Tidak. Dia bukan Aethern. Aku tidak merasakan tarikan energi Aether dari sel-selnya. Tapi, dia juga tidak berbau seperti manusia fana."
Bagi penciuman tajam Julian, manusia biasa memiliki aroma yang khas, campuran zat besi, keringat dan aroma samar pembusukan sel yang terjadi setiap detik, sebuah pengingat bahwa mereka sedang menuju kematian. Namun Kenzie berbeda. Gadis itu memiliki aroma yang sangat murni, seperti udara di puncak gunung yang belum pernah terjamah atau seperti embun pertama di awal penciptaan dunia.
"Dia memiliki aura yang statis." lanjut Julian, matanya menerawang ke arah jendela. "Sangat mirip denganku, namun sumbernya berbeda. Jika aku adalah sungai yang airnya terus diperbaharui oleh atmosfer, gadis itu seperti danau yang membeku di tengah waktu. Seolah-olah ada kekuatan eksternal yang mengunci keberadaannya, menghentikan jam biologisnya secara paksa."
Julian menceritakan bagaimana ia memperhatikan detail-detail kecil yang luput dari pandangan manusia biasa. Cara Kenzie berjalan yang terlalu tenang, sorot matanya yang menyimpan keletihan ribuan senja dan yang paling mencolok tidak adanya tanda-tanda regenerasi seluler yang normal, namun kulitnya tetap tanpa cela.
"Aku melihatnya hampir tergores ujung meja di kelas tadi." Julian berbisik, seolah-olah rahasia itu bisa pecah jika diucapkan terlalu keras. "Refleksnya cepat, tapi ada ketakutan yang dalam di matanya. Bukan takut akan rasa sakit, Elena. Tapi takut akan apa yang terjadi jika ia terluka. Ia menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar wajah muda."
Elena terbatuk kecil, genggamannya pada tangan Julian mengerat. "Jika dia seperti itu apa mungkin dia yang dicari Stefanny?"
Rahang Julian mengeras. "Itulah yang kutakutkan. Jika Kenzie adalah sosok yang dikutuk dengan keabadian tanpa menjadi Aethern, maka darahnya adalah harta karun paling berbahaya di bumi ini. Darah itu bisa menjadi obat atau bahkan kutukan yang lebih buruk."
"Dia terlihat sangat kesepian, Elena." tambah Julian, suaranya melunak dengan rasa empati yang jarang ia tunjukkan. "Melihatnya seperti melihat bayanganku sendiri di cermin ratusan tahun yang lalu. Seseorang yang sangat ingin menghilang, namun dipaksa oleh takdir untuk terus ada."
Julian berdiri, membantu Elena membenarkan letak selimutnya. Di luar, langit mulai berubah menjadi jingga kemerahan. Julian tahu, ia tidak bisa lagi hanya menjadi pengamat. Kedatangan Kenzie telah mengusik kedamaian semunya dan jika firasatnya benar, gadis itu adalah pusat dari badai yang akan menyeret Julian dan seluruh sisa hidupnya ke dalam pusaran konflik yang selama ini ia hindari.
"Aku akan mengawasinya." janji Julian pada Elena, namun lebih kepada dirinya sendiri.
...•••...