NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Sore itu, mendung tipis menggelayut di langit Jakarta, memberikan hawa sejuk yang jarang terjadi. Ziva baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya dengan setelan rumah yang nyaman—kaus oversized putih dan celana pendek kain. Ia sedang asyik menata beberapa buah jeruk di ruang tengah ketika pendengarannya menangkap suara mobil berhenti di depan pagar, disusul suara bariton Baskara yang menyapa seseorang dengan nada sangat hormat.

Ziva mengernyitkan kening. "Siapa ya? Perasaan Kak Baskara nggak bilang ada tamu sore ini," gumamnya.

Ia melangkah menuju pintu depan tepat saat pintu itu terbuka. Sosok pria paruh baya dengan kemeja batik rapi dan wanita anggun yang mengenakan gamis berwarna pastel muncul di ambang pintu. Ziva membeku di tempatnya, buah jeruk yang masih ia pegang hampir saja terlepas dari genggamannya.

"Ayah? Bunda?" seru Ziva dengan nada tak percaya.

Wanita itu—Bunda Ziva—langsung merentangkan tangan dengan senyum paling tulus yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Ziva. "Halo, Sayang. Kejutan!"

Ziva langsung menghambur ke pelukan Bundanya, lalu bergantian mencium tangan Ayahnya. Baskara berdiri di belakang mereka, membawa dua koper kecil milik mertuanya dengan wajah yang terlihat sedikit bersalah namun penuh hormat.

"Loh, Ayah sama Bunda ke sini kok nggak ngabarin aku? Kalau tahu kan aku bisa minta jemput Kak Baskara ke bandara, atau aku masak yang enak dulu di rumah!" protes Ziva sambil tetap merangkul lengan Bundanya masuk ke dalam rumah.

Ayah Ziva tertawa, tawanya terdengar berat dan menenangkan. Beliau menepuk bahu Baskara pelan. "Justru itu tujuannya, Ziv. Ayah memang sengaja minta Baskara buat nggak bilang-bilang. Ayah pengen liat anak Ayah ini beneran bisa ngurus rumah atau cuma bisa ngurus laporan keuangan aja."

Ziva mengerucutkan bibirnya, menoleh ke arah Baskara dengan tatapan "Kenapa-nggak-bilang-aku", namun Baskara hanya bisa memberikan isyarat bahu yang seolah berkata, "Perintah Ayah mertua tidak bisa didebat."

"Duduk dulu, Yah, Bun. Aku buatin teh ya," ucap Ziva sigap.

"Eh, biar aku saja, Ziva. Kamu temani Bunda sama Ayah dulu di sini. Kamu kan baru pulang kantor," sela Baskara dengan nada yang sangat lembut—nada "aku-kamu" yang keluar begitu natural di depan mertuanya.

Ayah dan Bunda Ziva saling bertukar pandang, ada binar kelegaan yang terpancar dari mata mereka melihat interaksi manis itu.

Di ruang tamu, suasana terasa sangat hangat. Bunda Ziva memperhatikan setiap sudut rumah yang tertata sangat rapi, harum aromaterapi lavender yang menenangkan, dan foto pernikahan mereka yang kini dipajang dengan bingkai lebih besar di dinding utama.

"Bunda seneng liat kamu sekarang, Ziv. Mukanya seger, ceria. Beda banget sama waktu terakhir Bunda telepon bulan lalu," ucap Bunda sambil mengusap rambut Ziva.

Ziva tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu sang Bunda. "Iya, Bun. Mungkin karena aku udah mulai terbiasa. Kerjaanku di kantor juga lagi bagus banget, kemarin dapet pujian dari direksi."

"Dan karena suamimu juga hebat, kan?" timpal Ayah Ziva sambil menerima cangkir teh yang disodorkan Baskara. "Terima kasih ya, Bas. Ayah titip Ziva, meskipun Ayah tau dia kadang galak kalau lagi capek kerja."

Baskara duduk di samping Ziva, tangannya secara refleks meraih jemari Ziva di atas sofa dan menggenggamnya erat. "Ziva tidak galak, Yah. Dia cuma sangat berdedikasi. Saya justru banyak belajar dari kesabaran dia."

Ziva merasa pipinya memanas. Genggaman tangan Baskara di depan orang tuanya memberikan rasa aman yang berbeda. Jika dulu pertemuan keluarga seperti ini selalu terasa canggung dan penuh beban karena bayang-bayang Kirana, kini suasana itu telah berganti. Mereka membicarakan masa depan, bukan lagi meratapi masa lalu.

"Rencananya Ayah sama Bunda mau berapa lama di sini?" tanya Ziva penuh harap.

"Cuma tiga hari, Sayang. Ayah ada urusan sedikit di kantor pusat, sekalian mampir nengok kalian. Oh iya, Bunda bawa oleh-oleh sambal goreng ati kesukaan kamu, tadi sudah Bunda taruh di dapur," ujar Bunda.

Malam harinya, rumah itu terasa lebih hidup dari biasanya. Ziva dan Bundanya sibuk di dapur, sementara Baskara dan Ayah Ziva duduk di teras belakang, mengobrolkan banyak hal mulai dari situasi keamanan hingga politik, layaknya dua orang pria yang sudah sangat akrab.

"Bas," panggil Ayah Ziva pelan, membuat Baskara menoleh penuh perhatian. "Terima kasih sudah menjaga Ziva melewati masa-masa sulitnya. Ayah tahu, pernikahan ini awalnya berat untuk kalian berdua. Tapi melihat cara kamu menatap dia tadi... Ayah tahu Ziva berada di tangan yang tepat."

Baskara menunduk hormat. "Saya yang berterima kasih, Yah. Ziva adalah hadiah terbaik dalam hidup saya, meskipun jalannya tidak mudah. Saya berjanji akan menjaganya seumur hidup saya."

Di meja makan, mereka berempat menikmati hidangan dengan penuh syukur. Suara tawa Ziva yang lepas, godaan Ayah pada Baskara yang terkadang masih terlihat kaku, dan wejangan-wejangan hangat dari Bunda menciptakan harmoni yang indah.

Ziva menatap satu per satu wajah orang-orang tercintanya di meja makan itu. Ada Ayah dan Bunda yang merestuinya, dan ada Baskara yang kini menjadi dunianya. Ia menyadari bahwa kejutan sore ini bukan hanya sekadar kunjungan orang tua, tapi sebuah pengakuan bahwa luka lama itu benar-benar telah sembuh.

"Kak," bisik Ziva pada Baskara di tengah makan malam.

"Ya?" Baskara menoleh.

"Makasih ya udah mau kerja sama bareng Ayah buat kasih kejutan ini. Aku seneng banget," ucap Ziva tulus.

Baskara tersenyum, mengecup kening Ziva singkat di depan mertuanya—membuat Ayah Ziva berdehem jahil dan Bunda Ziva tersenyum lebar. "Sama-sama, Sayang. Apapun buat bikin kamu senyum kayak gini."

***

Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar utama. Aroma kopi yang baru saja diseduh Baskara menyeruak dari arah dapur, bercampur dengan wangi nasi goreng buatan Bunda. Suasana yang seharusnya menjadi pagi keluarga yang tenang mendadak pecah ketika ponsel Ziva di atas nakas bergetar hebat.

Ziva, yang masih mengenakan piyama santainya, segera menyambar ponsel itu. Nama "Pak Heru (Direktur)" tertera di layar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat; Pak Heru jarang menelepon sepagi ini kecuali ada hal yang sangat mendesak.

"Halo, selamat pagi, Pak Heru," ucap Ziva sambil memberi isyarat pada Baskara yang baru masuk ke kamar untuk mengecilkan volume suara.

"Pagi, Ziva. Saya minta maaf mengganggu waktu istirahatmu. Tapi ada urgensi di kantor cabang Surabaya. Data audit yang kita kirim kemarin ditinjau ulang oleh investor pusat di sana, dan mereka minta analis utamanya hadir langsung untuk presentasi besok pagi. Kamu harus berangkat hari ini, Ziva. Saya sudah pesankan tiket penerbangan jam dua siang nanti. Kamu akan berada di sana selama tiga hari."

Ziva terdiam sejenak. Ia melirik ke arah luar kamar, di mana suara tawa Ayah dan Bundanya terdengar sedang mengobrol santai di meja makan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Di satu sisi, ini adalah kepercayaan besar bagi kariernya. Di sisi lain, Ayah dan Bundanya baru saja sampai kemarin.

Namun, profesionalisme Ziva menang. Ia menarik napas dalam. "Oke, Pak. Baik, saya mengerti. Saya akan persiapkan semua berkasnya. Iya, saya ke kantor sekarang untuk ambil dokumen fisik yang diperlukan sebelum ke bandara. Terima kasih, Pak."

Ziva menutup teleponnya dengan helaan napas panjang. Ia menatap Baskara yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah penuh tanya.

"Kenapa? Pak Heru minta apa?" tanya Baskara lembut.

"Aku harus ke Surabaya, Kak. Hari ini juga. Ada masalah sama data investor pusat, dan mereka minta aku yang jelasin langsung. Tiga hari di sana," jawab Ziva dengan nada lesu. "Padahal Ayah sama Bunda baru aja sampai. Aku ngerasa nggak enak banget, Kak."

Baskara melangkah mendekat, memegang kedua bahu Ziva dengan mantap. "Ziva, dengerin aku. Ini bukti kalau kerja keras kamu diakui. Pak Heru nggak mungkin pilih kamu kalau dia nggak percaya sama kemampuan kamu. Soal Ayah dan Bunda, jangan khawatir. Aku yang akan temani mereka selama kamu nggak ada. Mereka pasti bangga punya anak sehebat kamu."

Ziva keluar dari kamar dengan langkah berat menuju ruang makan. Ayah dan Bunda sedang asyik menikmati sarapan mereka. Begitu melihat wajah Ziva yang tampak mendung, Bunda langsung meletakkan sendoknya.

"Ada apa, Sayang? Kok mukanya sedih gitu?" tanya Bunda cemas.

Ziva duduk di antara mereka, menggenggam tangan Bundanya. "Yah, Bun... Ziva minta maaf banget. Barusan Pak Heru telepon, Ziva ada tugas mendadak ke luar kota selama tiga hari. Siang ini harus berangkat."

Ayah Ziva justru tersenyum lebar, ia mengusap punggung tangan anaknya. "Loh, kok minta maaf? Harusnya kita yang bangga. Itu artinya anak Ayah ini orang penting di kantor. Jangan pikirkan Ayah sama Bunda, di sini kan ada Baskara. Kita bisa jalan-jalan berdua sama menantu Ayah yang gagah ini, ya kan Bas?"

Baskara mengangguk mantap. "Tentu, Yah. Saya sudah minta izin cuti setengah hari untuk antar Ziva ke bandara, setelah itu saya yang akan jadi sopir pribadi Ayah dan Bunda keliling Jakarta."

Ziva merasa matanya sedikit berkaca-kaca. Dukungan dari orang-orang terdekatnya membuat rasa bersalahnya menguap, berganti dengan semangat untuk menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

"Makasih ya, Yah, Bun... Kak Baskara. Aku janji bakal selesaiin ini secepat mungkin dan pulang bawa oleh-oleh yang banyak buat kalian!" seru Ziva dengan sisa semangatnya.

Dua jam kemudian, suasana rumah menjadi sibuk. Ziva mengemas pakaiannya dengan cekatan—blazer kerja, dokumen, dan tentu saja, ia tidak lupa menyelipkan foto kecil pernikahannya dengan Baskara di saku tasnya.

Baskara mengantarkan Ziva sampai ke pintu keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Di tengah keramaian calon penumpang, Baskara menarik Ziva ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang yang melihat seorang perwira polisi memeluk erat istrinya di depan publik.

"Hati-hati di sana, Ziva. Fokus sama kerjaan kamu, tapi jangan lupa makan dan istirahat. Aku nggak mau kamu pulang dengan muka pucat karena terlalu banyak begadang ngerjain laporan," bisik Baskara tepat di telinga Ziva.

Ziva mendongak, menatap mata hitam Baskara yang kini menatapnya dengan penuh kasih. "Iya, Kak. Kamu juga ya, jagain Ayah sama Bunda. Jangan kaku-kaku banget kalau ngajak mereka ngobrol. Dan satu lagi..."

"Apa?"

"Jangan kangen aku terlalu berat. Nanti kamu nggak fokus patroli," goda Ziva sambil mencubit pelan pinggang Baskara.

Baskara tertawa kecil, ia mengecup kening Ziva cukup lama. "Itu permintaan yang paling sulit dikabulkan, Sayang. Cepat pergi, sebelum aku berubah pikiran dan minta Pak Heru membatalkan tugasmu."

Ziva tertawa, ia melambaikan tangan ke arah Baskara sambil berjalan masuk menuju gerbang keberangkatan. Saat ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, ia melihat Baskara masih berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangan dengan senyum yang hanya diberikan khusus untuknya.

Ziva melangkah masuk ke dalam pesawat dengan kepala tegak. Tiga hari di luar kota memang terasa lama, tapi ia tahu, di rumah ada pelabuhan yang selalu menunggunya kembali. Rasa percaya diri yang diberikan Baskara semalam di kamar utama kini menjadi energi tambahan baginya untuk menaklukkan investor di Surabaya.

"Tunggu aku pulang, Kak. Aku akan bikin kamu makin bangga," batin Ziva sambil menatap awan dari jendela pesawat.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!