NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:432
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan bersama keluarga besar

Semburat cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden, jatuh tepat di kelopak mata Alana. Ia mengerjap perlahan, butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa langit-langit kamar yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar di rumah orang tuanya.

Saat Alana mencoba menggeser tubuhnya, ia merasakan beban hangat di pinggangnya. Sebuah lengan kokoh melingkar di sana dengan posesif. Ia menoleh ke samping dan mendapati Satria masih terlelap. Wajah pria itu nampak jauh lebih muda dan tenang saat tidur—hilang sudah kesan kaku dan serius yang biasanya ia tunjukkan pada dunia,

Alana tersenyum sendiri. Ia memperhatikan detail-detail kecil ,napas Satria yang teratur, rambutnya yang sedikit berantakan di atas bantal, dan sisa guratan lelah di sudut matanya yang kini mulai memudar.

Seolah merasakan tatapan Alana, Satria mulai terjaga. Matanya terbuka perlahan, awalnya terlihat bingung, namun sedetik kemudian berubah menjadi binar penuh kasih saat menyadari siapa yang ada di hadapannya.

"Selamat pagi, Istriku," suara Satria terdengar sangat parau—suara khas bangun tidur yang membuat jantung Alana berdesir hebat.

"Selamat pagi, Suamiku," jawab Alana, masih merasa sedikit canggung namun sangat bahagia saat mengucapkan kata itu untuk pertama kalinya di pagi hari.

Bukannya beranjak, Satria justru menarik Alana lebih dekat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Lima menit lagi," gumamnya manja, sangat kontras dengan sosok Satria yang dikenal tegas.

"Pesta sudah selesai, Sat. Kita harus sarapan," protes Alana sambil tertawa kecil, meskipun ia sendiri tidak berniat beranjak dari dekapan hangat itu.

"Ini sarapan terbaikku," balas Satria pendek, mengeratkan pelukannya seolah tidak ingin membiarkan dunia luar mengganggu momen pertama mereka sebagai suami istri.

Di pagi yang tenang itu, tanpa riasan pesta dan tanpa sorak-sorai tamu, Alana menyadari bahwa kebahagiaan sejati ternyata sesederhana ini: terbangun di samping orang yang tepat, dengan janji masa depan yang membentang luas di hadapan mereka.

*******

Meskipun matahari sudah semakin tinggi, Alana dan Satria masih betah berlama-lama di balik selimut. Kamar hotel itu terasa seperti dunia kecil milik mereka sendiri, di mana waktu seolah berhenti berputar.

Alana iseng memainkan ujung rambut Satria yang berantakan. "Ternyata benar, ya. Wajahmu kalau bangun tidur tidak segalak saat di kafe. Malah mirip anak kecil yang tidak mau sekolah," godanya sambil tertawa.

Satria membuka satu matanya, lalu dengan gerakan cepat ia meraih jemari Alana dan mengecupnya. "Itu karena aku sudah mendapatkan apa yang kucari. Tidak perlu lagi memasang wajah serius untuk menutupi rasa gugup karena ingin menyapamu."

Terdengar ketukan pelan di pintu. Ternyata layanan kamar mengantarkan sarapan yang sudah dipesan Satria sebelumnya. Satria bangkit—hanya mengenakan kaos putih polos dan celana santai—lalu membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas dan roti panggang ke atas tempat tidur.

"Kopi pertama sebagai suami istri," ujar Satria sambil menyodorkan cangkir itu pada Alana.

Alana menghirup aromanya dalam-dalam. "Hmm, aromanya mirip dengan kafe kita, tapi rasanya pasti beda."

"Tentu saja beda. Karena hari ini tidak ada lagi rasa cemas apakah kamu akan membalas senyumku atau tidak," balas Satria sambil mengoleskan selai ke roti Alana.

Mereka sarapan sambil duduk bersandar pada headboard ranjang, saling berbagi cerita tentang momen-momen lucu selama pesta semalam yang tidak sempat mereka bicarakan karena terlalu sibuk menyalami tamu. Alana tertawa mendengar cerita Satria tentang kakinya yang sempat kram saat prosesi adat, namun ia berusaha tetap terlihat gagah.

"Hari ini kita tidak perlu melakukan apa-apa, kan?" tanya Alana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Satria.

"Tidak ada. Hanya aku, kamu, dan mungkin sisa kue pernikahan kita semalam," jawab Satria tenang. Ia meletakkan cangkirnya, lalu merangkul Alana erat. "Ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita, Lan. Dan aku sangat suka cara kita memulainya."

Pagi itu berlalu dengan sangat lambat, penuh dengan obrolan ringan dan tawa yang tulus, seolah alam semesta memberikan mereka waktu untuk benar-benar meresapi status baru mereka sebelum kembali menghadapi dunia luar.

*********

Sinar matahari kini sudah sepenuhnya mengisi kamar, memantul di atas cincin emas yang melingkar di jari mereka. Alana masih asyik memperhatikan Satria yang kini sedang mencoba merapikan tumpukan kado kecil yang mereka bawa ke kamar semalam.

"Tahu tidak, Lan?" Satria tiba-tiba berhenti, ia duduk bersila di lantai di bawah kaki Alana. "Waktu pertama kali aku melihatmu di kafe itu, aku sebenarnya sedang di titik paling jenuh dengan pekerjaanku. Aku merasa hidupku cuma rutinitas yang abu-abu."

Alana turun dari ranjang, ikut duduk di lantai di hadapan suaminya. "Lalu?"

Satria tersenyum, menatap mata Alana dalam-dalam. "Lalu ada wanita yang selalu duduk di pojok, memesan kopi yang sama, dan terlihat sangat damai dengan bukunya. Kamu adalah satu-satunya warna yang aku nantikan setiap minggu. Pagi ini, melihatmu bangun di sampingku... rasanya seperti warna itu sudah memenuhi seluruh hidupku."

Alana terenyuh, namun ia ingin mencairkan suasana yang mulai mengharu biru. "Oh, jadi aku ini semacam 'terapi warna' untukmu?"

Satria tertawa lepas, suara tawanya yang berat memenuhi kamar. "Bisa dibilang begitu. Terapi yang sangat mahal, karena akhirnya aku harus mengadakan pesta besar untuk memilikinya."

Alana mencubit pelan lengan Satria. "Hei!"

Satria meraih kedua tangan Alana, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. Di pagi yang santai itu, tanpa saksi selain dinding kamar dan sisa-sisa dekorasi bunga, Satria berbisik lagi.

"Mari kita buat aturan pertama di rumah kita nanti. Sesibuk apa pun aku, sesibuk apa pun kamu, pagi hari adalah waktu kita. Tanpa ponsel, hanya kopi dan obrolan seperti ini."

Alana mengangguk, menyandarkan keningnya ke kening Satria. "Setuju. Asal kamu yang bagian membuat kopinya."

"Dengan senang hati, Nyonya Satria," jawabnya dengan nada bangga yang tidak bisa ia sembunyikan.

Pagi itu bukan hanya tentang memulai hari, tapi tentang menyadari bahwa cinta yang besar seringkali tumbuh dari percakapan-percakapan kecil di atas lantai kamar hotel, saat dunia luar masih tertidur lelap.

********

Setelah menghabiskan waktu berdua di kamar, Alana dan Satria akhirnya memutuskan untuk turun ke restoran hotel. Ini adalah momen pertama mereka tampil di hadapan keluarga besar bukan lagi sebagai sepasang kekasih, melainkan sebagai suami dan istri.

Saat pintu lift terbuka di lantai lobi, Alana tanpa sadar merapikan rambutnya yang digerai sederhana. Satria, yang mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi, segera meraih jemari Alana dan menggenggamnya erat.

"Tenang saja, mereka sudah tidak akan menyuruh kita duduk berjauhan lagi," bisik Satria sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Alana tersenyum malu.

Di sudut restoran yang luas, keluarga besar mereka sudah berkumpul mengelilingi meja panjang yang penuh dengan hidangan sarapan. Begitu melihat pasangan baru itu mendekat, suasana yang tadinya riuh mendadak hening sejenak, lalu pecah dengan sorak-sorai kecil dan godaan.

"Nah, ini dia 'pengantin baru' kita! Akhirnya bangun juga," seru paman Satria sambil tertawa, membuat wajah Alana merona merah.

Ibu Alana segera berdiri, menarik kursi untuk putrinya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan. "Sini, Lan, Sat. Makan yang banyak. Kalian pasti lelah setelah acara semalam."

Makan pagi itu terasa berbeda. Biasanya, Alana akan sibuk membantu menyiapkan piring atau mengambilkan minum untuk orang tuanya.

Namun pagi ini, Satria-lah yang dengan sigap mengambilkan nasi goreng dan menuangkan jus jeruk ke gelas Alana sebelum ia sendiri makan.

"Lihat Satria, sudah pintar jadi suami siaga ya sekarang," goda salah satu bibi Alana.

Satria hanya tersenyum tipis sambil terus memegang tangan Alana di bawah meja—sebuah pegangan yang memberi kekuatan di tengah kepungan perhatian keluarga besar.

Di sela-sela denting sendok dan garpu, obrolan mengalir tentang rencana mereka setelah ini. Ayah Satria menepuk bahu putranya dengan bangga. "Jaga Alana baik-baik, Sat. Sekarang kamu adalah pemimpin rumah tangga."

Alana menatap suaminya yang mengangguk mantap. Di meja makan yang penuh sesak itu, di antara tawa sepupu dan nasihat para tetua, Alana merasa benar-benar diterima di dunia Satria, begitupun sebaliknya. Pagi itu bukan hanya tentang mengisi perut, tapi tentang menyadari bahwa kini dua keluarga besar telah menjadi satu payung yang kokoh untuk mereka berlindung.

*****

"Satria," panggil Ayah Alana dengan suara yang sedikit bergetar. "Kemarin kamu meminta izin padaku untuk menjaganya. Hari ini, di depan seluruh keluarga, aku titipkan kebahagiaan putriku padamu. Bukan sebagai tamu lagi, tapi sebagai anakku sendiri."

Satria meletakkan garpunya, berdiri dengan penuh hormat, dan mengangguk mantap. "Terima kasih, Pa. Saya akan menjaganya lebih dari saya menjaga diri saya sendiri."

Tentu saja, suasana haru itu tidak bertahan lama. Sepupu-sepupu Satria mulai beraksi. "Ingat ya Sat, sekarang kalau mau ke kafe pojokan itu, tidak boleh sendirian lagi. Harus lapor komandan di sebelahmu!" goda mereka disambut tawa riuh satu meja.

Alana hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah dengan tisu, sementara Satria tertawa kecil sambil merangkul bahu Alana dengan protektif. "Tenang saja, komandannya sudah saya bawa ke mana-mana sekarang," jawab Satria tenang.

Satu per satu anggota keluarga mulai berpamitan untuk kembali ke kota masing-masing. Di lobi hotel yang megah itu, Alana memeluk ibunya lama sekali. Ada rasa haru karena ia tahu setelah ini rumahnya bukan lagi kamar masa kecilnya, melainkan di mana pun Satria berada.

"Hati-hati ya, Sayang. Kabari Ibu kalau sudah sampai di rumah baru kalian," bisik ibunya sambil mengusap air mata di sudut mata Alana.

Satria membawakan koper-koper mereka, memasukkannya ke bagasi mobil yang masih dihiasi pita sisa acara kemarin. Sebelum masuk ke kursi kemudi, ia membuka pintu untuk Alana, membungkuk sedikit layaknya seorang pelayan setia.

"Silakan, Nyonya Satria. Tujuan pertama kita: rumah kita sendiri."

Alana menarik napas panjang, menatap hotel itu untuk terakhir kalinya, lalu masuk ke dalam mobil. Mesin menyala, dan mereka perlahan meninggalkan keramaian keluarga, menuju babak baru yang benar-benar hanya milik berdua.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!