Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Nadi
Angin kencang yang berembus dari puncak Gunung Lawu biasanya membawa kesejukan bagi warga Desa Hargodalem. Namun, bagi Subosito, angin itu tidak terlalu dingin untuk mendinginkan bara yang membakar di balik kulitnya.
Di sebuah gubuk reot yang berdiri terasing di pinggiran hutan pinus, pemuda berusia delapan belas tahun itu meringkuk di atas lincak bambu yang sudah menghitam karena hawa panas tubuhnya sendiri.
Malam itu, sakitnya merambat sampai titik nadir.
Di punggung Subosito, sebuah pola rumit menyerupai sayap burung raksasa yang sedang memekik tampak berpijar samar dalam kegelapan.
Itu bukan tato, melainkan kutukan—atau setidaknya begitulah orang desa menyebutnya Segel Garuda Paksi. Sebuah warisan yang tidak pernah Subosito minta, peninggalan orang tua yang hilang ditelan kabut sejarah saat dirinya masih bayi.
“Arggh... dingin... tolong dingin sedikit saja,” rintihnya dengan suara parau.
Kenyataannya, suhu di sekitarnya justru melonjak drastis. Keringat yang menetes dari dahi Subosito menguap sebelum sempat menyentuh lantai tanah.
Rasa panas itu bukan berasal dari luar, melainkan dari sumsum tulang belakangnya, seolah-olah ada cairan tembaga mendidih yang mengalir ke seluruh tubuhnya melalui pembuluh darah.
Pagi berikutnya, Subosito memaksakan diri untuk pergi ke mata air desa. Pemuda itu membutuhkan air untuk merendam punggung yang terasa seperti dipanggang hidup-hidup.
Dengan langkah gontai dan baju kumal yang menutupi luka bakar permanen di bahunya, Subosito berjalan melewati jalan setapak tanah.
Namun, pemandangan yang menyambutnya di pusat desa selalu sama.
Begitu sosoknya terlihat di tikungan, keriuhan pasar mendadak senyap.
Ibu-ibu segera menarik anak-anak mereka ke dalam dekapan, seolah-olah Subosito adalah wabah yang bisa menular hanya melalui pandangan mata.
Para pedagang membuang muka, dan kelompok pemuda yang biasanya duduk di gardu siskamling mulai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
“Si Anak Terkutuk itu keluar lagi,” bisik Nyai Tumpi, seorang penjual jamu, dengan nada jelek yang tidak disembunyikan. “Lihat tanah yang dipijak, rumputnya sampai layu. Gunung Lawu akan murka jika dia terus dibiarkan di sini!”
Subosito menundukkan kepala. Dirinya sudah terbiasa dengan kata-kata itu, tetapi rasa sakit di hatinya sering kali memicu reaksi yang lebih berbahaya.
Pemuda itu bisa merasakan denyut di punggungnya mulai mengencang. Suhu tubuhnya naik. Udara di sekitarnya mulai bergetar karena gelombang panas yang tak kasat mata.
“Jangan sekarang... tolong, jangan sekarang,” permohonan batinnya pada dirinya sendiri.
Dan kejadian yang paling Subosito takuti terjadi, ketika pemuda itu sampai di bibir pancuran. Di sana, tiga pemuda desa yang dipimpin oleh Kalingga—putra kepala desa yang sombong—sedang mencuci kaki mereka. Kalingga sengaja menghalangi jalan Subosito.
“Mau mendinginkan apimu, hah?” ejek Kalingga sambil meludah ke tanah. “Percuma, Subosito. Api di dalam tubuhmu itu adalah api neraka. Kau membunuh orang tuamu sendiri dengan panas itu, dan sekarang kau ingin membakar desa kami juga?”
“Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun, Kalingga. Aku hanya butuh air,” jawab Subosito dengan suara rendah, berusaha menjaga detak jantungnya tetap stabil. Dirinya tahu betul, setiap lonjakan emosi adalah penyulut bagi Garuda Paksi.
“Kau adalah anak pembawa sial! Sejak kau lahir, panen di lereng selatan selalu gagal. Ternak mati kehausan. Itu karena hawa setanmu!” Kalingga melangkah maju dan mendorong bahu Subosito.
Sialnya, tangan Kalingga menyentuh kulit leher Subosito yang terbuka dan tak tertutup pakaian. Kalingga berteriak kesakitan. Kulit telapak tangannya memerah seolah baru saja menyentuh kuali panas.
“Lihat! Dia menyerangku! Anak terkutuk ini mencoba membakarku!” teriak Kalingga memprovokasi warga yang mulai berkerumun.
Ketakutan warga desa berubah menjadi kemarahan. Batu-batu mulai melayang. Sebuah kerikil tajam mengenai pelipis Subosito, mengalirkan darah segar yang langsung mengering begitu menyentuh pipinya yang panas.
“Pergi kau, setan Lawu!”
“Enyah dari tanah kami!”
“Bakar saja dia sebelum dia membakar kita semua!”
Suara-suara itu menghantam telinga Subosito seperti palu godam. Rasa sedih yang mendalam, rasa tidak adil, dan kemarahan yang telah Subosito pendam selama belasan tahun akhirnya meledak. Pertahanannya runtuh.
“CUKUP!” teriak Subosito.
Suaranya bukan lagi suara manusia. Ada nada melengking tinggi seperti pekikan burung pemangsa di dalamnya.
Pada saat itu juga, Segel Garuda Paksi di punggungnya bersinar dengan cahaya oranye yang menyilaukan. Baju di bagian belakang tubuhnya hangus terbakar dalam sekejap, menyingkapkan guratan-guratan merah membara yang menjalar ke seluruh lengannya.
Hawa panas yang luar biasa meledak keluar dari pori-pori tubuhnya. Udara di sekitar Subosito menjadi begitu panas hingga air di pancuran mulai mendidih dan mengeluarkan uap tebal.
Warga desa yang tadinya ingin mendekat langsung terpental mundur, menutupi wajah mereka dari radiasi panas yang menyengat bulu mata.
Subosito berdiri di tengah lingkaran uap, tubuhnya diselimuti aura tipis berbentuk api yang menyerupai bentangan sayap. Mata yang biasanya berwarna cokelat redup, kini bersinar keemasan seperti matahari siang bolong.
Subosito melihat tangannya sendiri. Ujung-ujung jarinya mengeluarkan percikan api kecil. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup lava.
Pemuda itu merasa sangat kuat, tetapi di saat yang sama, Subosito merasa jiwanya perlahan terkikis oleh kekuatan yang terlalu besar untuk wadah manusianya.
“Kalian ingin aku pergi?” tanya Subosito dengan suara yang bergetar karena menahan daya ledak di dalam nadinya. “Aku akan pergi. Tapi ingat, bukan aku yang membawa kutukan ini. Kalianlah yang menciptakan neraka di dalam hatiku!"
Subosito berbalik, meninggalkan warga desa yang terpaku dalam ketakutan dan keheranan. Kalingga bahkan tidak berani bangkit dari tanah, wajahnya pucat pasi melihat pemuda yang biasanya diam itu kini tampak seperti dewa perang yang siap membakar hutan.
Subosito berlari menuju hutan pinus yang lebih tinggi, menjauh dari pemukiman. Setiap langkahnya meninggalkan bekas jejak kaki yang menghitam di atas rumput.
Subosito tidak bisa berhenti; dia merasa, jika berhenti, api di dalam dirinya akan meledakkan dadanya.
Subosito terus mendaki hingga mencapai sebuah tebing tersembunyi yang menghadap ke lembah. Di sana, Subosito menjatuhkan lututnya ke tanah.
Rasa panas di punggungnya mulai mereda, tetapi rasa perihnya luar biasa. Pola Garuda Paksi itu kini berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang hidup di atas tulang belikatnya.
Subosito menangis, air matanya tidak sempat membasahi bumi. Air mata itu menguap di udara, meninggalkan jejak garam di pipinya. Subosito merasa sangat sendirian di dunia ini. Yatim piatu, dibenci, dan membawa bom waktu di dalam raganya.
“Siapa sebenarnya aku?” bisiknya pada kesunyian gunung. “Mengapa ayah dan ibu meninggalkan beban ini padaku?”
Di kejauhan, puncak Lawu tertutup awan merah keunguan, seolah menyambut kehadiran api baru di lerengnya. Subosito tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Subosito bukan lagi sekadar pemuda desa biasa. Dia adalah inang dari sebuah kekuatan kuno yang menuntut jawaban.
Satu hal yang Subosito sadari saat dia melihat ke arah desa yang kini tampak kecil di bawah sana segel itu tidak hanya memberinya rasa sakit, tetapi juga sebuah tujuan yang belum dia pahami.
Api di dalam nadinya adalah kutukan bagi mereka yang takut, tetapi bagi dirinya, itu adalah satu-satunya identitas yang dia miliki.
Malam itu, di bawah naungan bintang-bintang Lawu, Subosito bersumpah. Pemuda itu akan belajar mengendalikan api ini, atau api ini yang akan melahap isi dunia.
Subosito tidak akan lagi menjadi korban dari ketakutan orang lain. Jika mereka menyebutnya “Anak Terkutuk”, maka dia akan menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan yang mereka takuti ini.