NovelToon NovelToon
GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa idayu

Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.

Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHIDUPAN NAGARA

Matahari siang itu bersinar terik, menyelinap melalui celah tirai beludru biru tua yang menutupi jendela besar restoran eksklusif itu. Suasana di dalamnya tenang, dihiasi alunan musik jazz yang lembut dan aroma kopi serta kue yang menggugah selera. Namun, di salah satu sudut yang agak tersembunyi, suasana hati seorang pria tampan terlihat jauh lebih kelam dibandingkan suasana restoran yang mewah itu.

Nagara Kennedy berjalan dengan langkah berat, bahunya terkulai lemas, dan setiap langkah kakinya seolah membawa beban dunia di atas punggungnya. Wajah tampan yang biasanya selalu terlihat tegas dan berwibawa kini dipenuhi oleh guratan kelelahan yang mendalam, mata hitamnya tampak sayu dan lingkar hitam mulai terlihat jelas di bawahnya.

Seorang wanita cantik yang duduk menunggunya di meja itu segera menyadari perubahan pada kekasihnya. Alisnya terangkat khawatir, matanya yang indah menatap Nagara dengan penuh perhatian saat pria itu akhirnya sampai di meja dan duduk di sampingnya dengan lesu.

"Kok lesu gitu, Sayang?" tanya wanita itu, suaranya lembut namun terdengar jelas keprihatinannya. Ia adalah Valen, kekasih Nagara yang sudah setia mendampinginya selama bertahun-tahun.

Nagara menghela napas panjang, suaranya terdengar berat saat menjawab, "Akhir-akhir ini banyak masalah di perusahaan, Sayang. Rasanya kepala ku mau meledak memikirkan semuanya."

Valen segera mengulurkan tangannya, mengelus bahu lebar Nagara dengan lembut, berusaha memberikan sedikit kenyamanan di tengah beban yang dipikul pria itu. "Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Kerjakan semampumu saja. Kau tidak boleh capek atau sakit, ingat ratusan pegawai bergantung padamu. Selain itu, ada empat adikmu yang juga bergantung padamu. Kau adalah tumpuan mereka, jadi kau harus tetap kuat," ucapnya bijak, matanya menatap manik mata Nagara dalam-dalam, berusaha menanamkan kekuatan.

Mereka sudah menjalin hubungan selama sekitar sembilan tahun,atau bahkan lebih. namun semua itu masih menjadi rahasia besar yang tersimpan rapi, jauh dari pengetahuan orang lain, termasuk keluarga besar Nagara.

"Kamu belum makan siang, kan? Aku sudah pesankan makanan favoritmu nih," ucap Valen dengan senyum manis, berusaha mencairkan suasana. Ia mendorong piring berisi hidangan lezat ke arah Nagara, aroma masakan itu langsung tercium dan sedikit membangkitkan selera pria itu.

Nagara menatap Valen dengan tatapan penuh kasih sayang dan rasa terima kasih. Ia menjulurkan tangannya, mencubit hidung manis kekasihnya dengan lembut. "Memang kamu yang paling pengertian di dunia ini. Tidak tahu deh apa yang bakal terjadi sama aku kalau nggak ada kamu."

"Karena kamu juga selalu pengertian dan baik terhadapku," jawab Valen lembut, lalu meraih botol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas, menyerahkannya kepada Nagara agar pria itu tidak dehidrasi.

Setelah beberapa saat hening, saat Nagara mulai menyendokkan makanan ke mulutnya, Valen kembali membuka suara dengan hati-hati. "Oh ya, gimana keadaan Nayra? Apa dia sudah lebih membaik?"

Nagara berhenti mengunyah. Sendok yang ada di tangannya terhenti di udara sejenak sebelum ia meletakkannya kembali ke piring. Ia menatap Valen, lalu menarik napas panjang seolah ada sesuatu yang berat tertahan di dadanya.

"Aku sebenarnya tidak tega melihat Nayra menikah dengan pria yang bahkan belum dia kenal, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa," lirih Nagara, suaranya terdengar penuh penyesalan dan ketidakberdayaan.

Valen mengerutkan kening, bingung dengan ucapan kekasihnya. "Loh, kenapa? Bukankah kau bilang calon suami Nayra itu lelaki kaya raya dan sangat baik? Kenapa sekarang kau berkata seperti itu? Bukankah itu kebahagiaan buat adikmu?"

Nagara menoleh, merangkul bahu Valen dengan lembut, seolah mencari kekuatan dari sentuhan itu. "Sayang, kau tidak tahu..."

"Sean tidak sesempurna itu, Sayang. Sean laki-laki dengan kekurangan yang..." Belum sempat Nagara menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara yang familiar tiba-tiba terdengar memecah keheningan di antara mereka.

"Mas Naga!" sapa seseorang dengan nada yang cukup keras, membuat Nagara dan Valen seketika menoleh kaget ke arah sumber suara.

Jantung Nagara seakan berhenti berdetak sejenak. Di hadapannya sekarang berdiri sepasang suami istri, Awan dan istrinya, Aneth, yang saat ini sedang hamil besar. Wajah Nagara memucat, ia buru-buru melepaskan rangkulannya dari bahu Valen dengan gerakan yang terlihat canggung dan terburu-buru.

"Mas Awan, Mbak Aneth!" seru Nagara, suaranya terdengar gagap. Ia segera berdiri dari duduknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan Awan dan Aneth yang tampak heran sekaligus penasaran.

"Mas, ini... ini tidak seperti yang Mas lihat, kok!" ucap Nagara dengan tergagap-gagap, wajahnya memerah karena malu dan panik. Ia merasa seperti anak kecil yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan besar.

Aneth mengerutkan kening, matanya menyapu wajah Nagara lalu beralih ke Valen yang juga tampak bingung dan gugup berdiri di samping Nagara. "Mas kenapa? Kok kayak lagi ketahuan selingkuh gitu? Atau jangan-jangan... wanita ini istri orang?" tebaknya, nada suaranya penuh kecurigaan.

Valen segera menggeleng dengan cepat, wajahnya memerah karena panik. "Mana mungkin! Saya masih gadis kok, benar kan, Sayang?" tanyanya sambil menatap Nagara, namun ia segera sadar kesalahannya. "Maaf, maksud saya Pak Naga!" Valen buru-buru mengoreksi ucapannya, membuat situasi semakin terasa canggung.

Awan menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, meski di matanya masih terselip rasa penasaran. "Sudahlah, jangan kayak anak SMP yang baru saja kepergok pacaran deh. Kalian juga sudah dewasa, masa hal kayak gini masih bikin panik segitunya?" ucapnya santai, lalu menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Nagara dan Valen yang masih berdiri dengan gugup luar biasa.

"Sini, Sayang, duduk. Kita interogasi dulu tuan muda satu ini," seru Awan sambil meminta istrinya duduk di sampingnya dengan lembut, memperhatikan perut besar Aneth agar istrinya nyaman.

Setelah kedua pasangan itu duduk, Awan menatap Nagara dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikiran pria muda itu. "Apa alasan kalian merahasiakan hubungan kalian? Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanyanya, seolah-olah ia adalah orang tua yang sedang menanyai anaknya yang bersalah.

"I... it... itu..." Nagara tampak bingung, lidahnya terasa kelu. Ia tidak tahu harus mulai menjawab dari mana. Wajahnya tampak panik, matanya berkedip-kedip tidak tenang.

Valen menyenggol lengan Nagara pelan, lalu sedikit berbisik, "Dia Awan, anak Bi Surti kan?" tanyanya pelan, berusaha memastikan identitas pria di hadapannya. Nagara memang selalu cerita tentang hidupnya jadi wajar jika Valen menebak pria bernama Awan itu anak bi Surti,

Nagara hanya mengangguk ragu, masih dengan ekspresi gugup yang tak bisa disembunyikan.

"Duduklah, Saya tidak mungkin memarahi Tuan Muda Kennedy kita ini. Tapi saya cuma bingung, kenapa Tuan mengaku jomblo kalau ternyata sudah memiliki kekasih yang cantik seperti ini?" ucap Awan, dahinya mengerutkan tanda kebingungan yang nyata.

Nagara menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia akhirnya duduk kembali di seberang Awan dan Aneth, lalu menatap kedua orang itu dengan tatapan memohon. "Mas, Mbak, aku akan cerita semuanya. Tapi tolong rahasiakan ini dari adik-adikku ya? Aku mohon."

Awan dan Aneth saling bertatapan, keduanya sama-sama heran namun mengangguk setuju.

"Duduk, Sayang," ucap Nagara lembut sambil menarik lengan Valen agar wanita itu duduk kembali di sampingnya.

"Sebenarnya kami sudah sembilan tahun menjalin hubungan, Mas. Tapi aku merahasiakan ini dari semua orang, termasuk Papa dan keempat adikku," jelas Nagara, membuat Awan kembali mengerutkan keningnya, kali ini dengan ekspresi yang lebih terkejut.

"Alasannya apa, Mas?" tanya Aneth, yang sama bingungnya dengan suaminya. Bagaimana bisa sebuah hubungan selama sembilan tahun disembunyikan begitu rapi?

Tiba-tiba, mata Awan melebar seolah teringat sesuatu yang buruk. "Aku tahu! Jangan-jangan dia istri orang ya!" serunya dengan nada kaget.

Mendengar tuduhan itu, Nagara membuang napas kasar dan memutar bola mata malas, merasa kesal karena dipikirkan seburuk itu. "Mas Awan! Bisa enggak jangan nuduh sembarangan?."

"Dilihat dari ekspresinya, sepertinya benar deh, Sayang," ucap Aneth sambil mencengkram lengan suaminya dengan erat, wajahnya tampak terkejut dan tidak percaya. Awan meringis menahan perih di lengannya akibat cengkeraman istrinya, namun matanya tetap menatap Nagara dengan tatapan menuntut penjelasan.

"Mas, Mbak! Kalian salah faham, sumpah aku belum menikah! Aku masih perawan ting-ting. Ting-ting banget malah, karena bibirku juga belum pernah disentuh cowok mana pun!" seru Valen buru-buru berdiri, tangannya terangkat ke udara seolah bersumpah, wajahnya panik luar biasa mendengar tuduhan yang tidak benar itu.

Awan dan Aneth tertekan sejenak, lalu saling bertatapan kembali. "Sembilan tahun pacaran, bahkan belum pernah ciuman? Ngapain aja selama sembilan tahun itu, Mas?" tanya Awan, kali ini nada suaranya terdengar sangat kepo, seolah lupa bahwa ia sedang menginterogasi Nagara.

"Mas! Poinnya bukan di situ! Bisa kasih aku waktu buat jelasin dulu?" tanya Nagara dengan ekspresi kesal yang jelas terlihat di wajahnya. Ia merasa topiknya mulai melenceng jauh.

"Oke, oke. Mas jelasin aja. Kami akan dengarkan," ucap Awan santai, lalu dengan beraninya ia menarik piring berisi makanan yang ada di depan Nagara ke hadapannya sendiri.

"Mas! Itu makanan Mas Naga!" seru Aneth, menepuk lengan suaminya pelan.

"Aelah, tinggal pesan lagi aja kan?" jawab Awan acuh tak acuh, lalu mulai menyendokkan makanan Nagara ke mulutnya dengan lahap, seolah tidak terjadi apa-apa.

Nagara menatap piringnya yang kini ada di hadapan Awan, lalu menatap wajah Awan dengan tatapan kesal bercampur putus asa. "Masih mau dengar penjelasan ku enggak?" sungutnya.

"Jelasin aja, aku sambil makan," jawab Awan dengan mulut penuh, tangannya tetap lincah menggerakkan sendok.

"Aku sambil pesan makan dulu ya," ucap Aneth sambil mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, seolah tidak mau ketinggalan acara makan-makan ini.

"Jadi gimana?" tanya Awan sambil menatap Nagara, terus mengunyah makanannya dengan santai.

Nagara menghela napas panjang lagi, merasa energinya terkuras habis hanya untuk menghadapi pasangan suami istri ini. "Sebenarnya aku memang udah sembilan tahun, Mas, pacaran sama Valen," ucapnya akhirnya dengan ekspresi pasrah.

"Mbak cantik ini namanya Valen ya?" tanya Aneth sambil menatap Valen sekilas, lalu kembali menatap menu makanan yang diberikan oleh pelayan restoran itu.

"Iya, Mbak," jawab Valen singkat, masih sedikit canggung namun sudah mulai lebih tenang.

"Kan tadi Mas Naga udah bilang kalau udah pacaran sembilan tahun. Maksudku, kenapa selama ini enggak dibawa pulang? Sampai keempat adikmu berfikir Mas masih jomblo dan sendirian," lanjut Awan, matanya tetap menatap Nagara, meski mulutnya terus bekerja mengunyah.

Nagara menundukkan kepalanya, suaranya menjadi lirih saat menjawab, "Dia yatim piatu, Mas."

Aneth mengerutkan kening, tidak mengerti maksud Nagara. "Mas dan keempat adik Mas juga yatim piatu kan? Masalahnya di mana? Itu bukan alasan buat menyembunyikan hubungan, kan?" tanyanya polos namun menohok.

"Dulu Papa masih hidup, aku takut hubungan kami ditentang. Aku takut Papa tidak menerima Valen karena latar belakangnya. Jadi aku tidak berani memperkenalkan Valen ke mereka," jelas Nagara, matanya tampak berkaca-kaca mengingat masa lalu dan ketakutannya saat itu.

Awan mendengus pelan, menatap Nagara dengan tatapan heran sekaligus menyindir. "Serius? Mas, ini tahun berapa? Masih mikirin soal status, kasta, dan latar belakang? Di zaman sekarang masih ada yang mikirin hal kayak gitu?" cibirnya pelan.

"Diamlah! Jangan panggil aku Mas! Aku lebih muda dari mu!" sungut Nagara kesal, merasa harga dirinya sedikit tersentil karena cara bicara Awan yang santai namun menohok.

"Oke, oke. Naga. Dengar ya, kalau kau cinta sama dia ya perjuangkan. Jangan berfikir takut ditolak cuma karena hal-hal yang nggak penting itu. Kamu sudah tidak muda lagi, kalau tidak salah usiamu sudah 32 tahun kan tahun ini? Adik-adikmu juga pasti akan faham kok. Mereka bukan orang yang picik," nasihat Awan, kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan bijaksana.

"Tapi aku takut, Mas," lirih Nagara, ketakutan yang selama ini ia pendam kembali muncul ke permukaan.

"Tenang saja. Keempat adikmu pasti faham. Kau tidak kasihan terhadap Nick?" tanya Awan tiba-tiba, membuat Nagara menoleh kaget.

Nagara terdiam, matanya menatap Awan penuh tanya.

"Sebenarnya aku juga kasihan sih, Mas. Apalagi Nick sudah pacaran sejak kuliah. Dia bahkan tidak berani membawa pacarnya ke rumah, karena dia tidak mau menikah sebelum kau menikah lebih dulu," jawab Awan jujur.

"Nah, itu maksudku. Nick menahan dirinya agar tidak mendahuluimu, meski dia sudah sangat ingin menikah dengan pacarnya. Bahkan dia sangat menjaga perasaanmu dengan tidak membawa dan memperkenalkan pacarnya ke keluarganya, karena dia tahu kau 'belum' punya pasangan dan dia tidak ingin membuatmu merasa tertekan atau tertinggal," tambah Awan lagi, kalimatnya itu seperti tamparan keras bagi Nagara.

Nagara menarik napas panjang, dadanya terasa sesak mendengar penuturan Awan. Selama ini ia berpikir ia sedang melindungi perasaannya sendiri dan Valen, namun ternyata tanpa sadar ia telah membuat adiknya sendiri menahan kebahagiaannya demi dirinya. Kesadaran itu membuat hatinya terasa perih, dan tekad untuk berani memperkenalkan Valen kepada keluarganya perlahan mulai tumbuh di dalam hatinya.

1
Monroe George
dunia Nayra msih baik" sja coz pnya saudara kembar yang peduli 👍
Monroe George
marathon aku kak, seru crita nya 💪
Monroe George
CEO ni nnti yang nikahi Nayra 🤭
Ardy Ansyah
teraniaya dulu bahagia kemudian 🤣. suka aku tuh kalau alur yang begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!