Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Jemari Felysha Anindhita bergerak merapikan letak syal wol yang melilit lehernya, memastikan tidak ada celah udara dingin yang bisa menyusup ke balik sweter turtleneck hitamnya. Ia melangkah keluar dari bayangan gedung-gedung tinggi di daerah Passy, membiarkan sol sepatu botnya menghantam permukaan trotoar yang sedikit lembap. Bunyi ketukan itu terdengar mantap, seolah-olah setiap langkah yang ia ambil adalah usaha untuk mengusir rasa sunyi yang sejak tadi mendekam di dadanya.
Ia tidak lagi menoleh ke arah balkon apartemennya di lantai lima. Fokusnya kini tertuju pada trotoar yang membentang di hadapannya, diterangi oleh lampu-lampu jalan bercahaya kuning temaram yang mulai berkedip-kedip halus. Di saku mantelnya, tangannya mengepal, meraba permukaan ponsel yang layarnya masih gelap. Felysha membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, bergerak menutupi sebagian pipinya yang mulai terasa kaku karena suhu malam yang turun drastis.
Langkah kakinya membawanya menuju kawasan yang lebih ramai di dekat Trocadéro. Suara deru mesin bus kota yang melintas di jalan besar mulai menggantikan kesunyian gang-gang kecil. Felysha melihat segerombolan anak muda yang sedang berdiri di depan sebuah kedai kebab, tertawa sambil memegang bungkusan kertas berminyak. Ia sedikit menggeser posisinya, berjalan lebih ke pinggir trotoar untuk menghindari kerumunan itu. Ia menarik napas pendek, menghirup aroma daging panggang dan bawang bombay yang memenuhi udara sejenak sebelum aroma itu hilang tertiup angin lagi.
Tangannya bergerak meraih tas selempang kulit berwarna cokelat yang tergantung di bahu kanannya. Ia memajukan tas itu ke depan perut, memegang talinya dengan ibu jari. Tanpa sadar, jemarinya mengusap permukaan kulit tas yang bertekstur kasar, sebuah gerakan otomatis yang ia lakukan setiap kali ia merasa berada di tempat yang terlalu asing. Felysha tidak menyadari bahwa beberapa meter di belakangnya, seseorang sedang melambat, menyesuaikan irama langkah kaki dengan miliknya.
Sesosok pria mengenakan hoodie hitam dengan tudung yang ditarik rendah sedang berdiri di dekat tiang telepon. Pria itu tidak menatap Felysha secara langsung; ia sibuk mengorek saku jaketnya, namun matanya yang tajam sesekali melirik ke arah tas selempang yang dipegang Felysha dengan santai. Pria itu mulai melangkah lagi saat Felysha berhenti di depan sebuah lampu merah penyeberangan. Bunyi langkah kaki pria itu tertutup sempurna oleh suara klakson mobil yang tidak sabar di persimpangan jalan.
Felysha menatap lampu penyeberangan yang masih berwarna merah. Ia memperhatikan seorang ibu yang sedang membetulkan posisi gendongan anaknya di seberang jalan. Bayangan Menara Eiffel yang megah di kejauhan kini tampak lebih nyata, cahayanya memantul di permukaan mata Felysha yang jernih. Ia merogoh saku mantelnya, mengambil sebuah permen karet mint, membukanya dengan bunyi gesekan kertas perak yang kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa dingin dari mint itu langsung menyebar di lidahnya, memberikan sedikit kesegaran di tengah napasnya yang mulai terasa berat.
Lampu hijau menyala. Felysha melangkah maju, kakinya bergerak gesit di atas aspal jalan raya yang lebar. Ia mengikuti arus orang yang menyeberang menuju arah taman. Di kerumunan itu, ia merasa sedikit lebih aman. Ia mengira bahwa keramaian adalah pelindung terbaik dari kesepian, tanpa menyadari bahwa di tengah keramaian itulah pengawasan yang sesungguhnya sedang terjadi. Pria ber-hoodie hitam tadi kini sudah berada hanya dua meter di belakangnya, berjalan dengan langkah yang sangat ringan, nyaris tanpa suara di atas beton.
Felysha berhenti di dekat pagar pembatas taman. Ia meletakkan tangan kirinya di atas pagar besi yang terasa dingin dan sedikit berkarat. Ia menatap ke bawah, ke arah anak tangga yang menuju ke platform bawah. Ia melihat beberapa pelukis jalanan yang sedang merapikan kanvas mereka. Tangannya yang memegang tas selempang sedikit melonggar karena perhatiannya teralih pada sebuah lukisan pemandangan malam Paris yang warnanya didominasi biru tua—persis seperti warna langit di atas kepalanya sekarang.
Ia meraba talitasnya, sedikit menggesernya agar lebih nyaman di bahu. Saraf di punggungnya tidak menangkap sinyal bahaya apa pun. Ia hanya merasakan embusan angin yang lebih kencang dari arah sungai Seine yang menggoyang-goyangkan daun-daun kering di pepohonan taman. Bunyi gemeresik daun itu terdengar seperti bisikan yang menyamar di antara suara langkah kaki orang-orang di sekitarnya. Felysha menelan ludah, merasakan tenggorokannya yang sedikit perih karena menghirup udara dingin terlalu lama.
"Permisi, Nona."
Suara seorang pria paruh baya yang membawa peta besar menghentikan langkah Felysha. Pria itu tampak kebingungan, menunjuk-nunjuk sebuah titik di peta yang sudah agak sobek pinggirannya. Felysha berhenti, ia melepaskan pegangannya pada tas selempangnya untuk membantu memegang ujung peta yang tertiup angin. Ia menunjuk ke arah utara, mencoba menjelaskan arah stasiun Metro terdekat dengan bahasa Prancis yang ia ingat.
Saat Felysha sibuk berbicara, pria ber-hoodie hitam tadi bergerak sangat halus melewati sisi kanan Felysha. Gerakannya sangat cepat, hanya butuh satu detik bagi pria itu untuk menilai kekuatan tali tas Felysha. Felysha tidak merasakannya. Ia hanya merasakan sebuah gesekan sangat tipis pada mantelnya, yang ia kira hanyalah orang lain yang tidak sengaja menyenggolnya di tengah kerumunan penyeberang jalan.
Setelah pria pembawa peta itu berterima kasih dan pergi, Felysha kembali merapatkan mantelnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 22.45. Ia harus segera kembali sebelum apartemennya terasa terlalu asing untuk dimasuki lagi. Ia memutar tubuhnya, mulai berjalan kembali ke arah jalan utama. Ia tidak mengecek tasnya. Ia tidak menyadari bahwa ritsleting kecil di bagian samping tasnya sudah terbuka sedikit karena tarikan jari yang sangat lihai.
Ia melewati sebuah kios koran yang lampunya sudah mati, namun tumpukan majalah di depannya masih terlihat jelas. Felysha berhenti sejenak, melihat sampul majalah fashion yang menampilkan model dengan gaun biru yang mirip dengan tugas studionya. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tulus dan tenang. Ia merasa malam ini adalah miliknya sendiri, sebuah kemenangan kecil atas pengawasan Julian yang biasanya tidak pernah lepas.
Langkah kaki pria di belakangnya kini terdengar sedikit lebih berani. Bunyi sol sepatu karetnya yang beradu dengan batu trotoar mulai bisa didengar jika Felysha benar-benar fokus. Namun, perhatian Felysha sedang teralih oleh suara musisi jalanan yang mulai memainkan akordion di kejauhan. Melodi itu terdengar mendayu-dayu, memenuhi udara malam yang beku. Felysha melangkah lebih pelan, menikmati setiap nada yang sampai ke telinganya.
Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, mengepalkannya kembali. Ia merasakan sisa bungkus permen karet di sana. Ia tidak menyadari bahwa jarak pria di belakangnya kini hanya tinggal satu jangkauan tangan. Pria itu sedang menunggu momen yang tepat—saat Felysha masuk ke dalam lorong yang sedikit lebih gelap atau saat ada suara yang cukup keras untuk menutupi aksi fisiknya.
Felysha berbelok ke sebuah jalan yang lebih sepi, jalan pintas yang ia pikir akan membawanya lebih cepat ke apartemen. Lampu jalan di sana hanya ada satu, cahayanya redup dan sesekali berkedip, menciptakan bayangan panjang dari pohon-pohon di pinggir jalan. Ia merapatkan syalnya lagi, merasakan hidungnya yang mulai memerah karena kedinginan. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang kini dipenuhi debu tipis.
Di dalam kepalanya, ia mulai menyusun apa yang akan ia lakukan besok di studio. Ia ingin mencoba teknik jahitan baru untuk bagian belakang gaunnya. Fokusnya benar-benar terisap ke dalam rencana pekerjaannya, membuat kewaspadaannya terhadap lingkungan sekitar merosot drastis. Ia terus berjalan, tidak sadar bahwa di belakangnya, pria ber-hoodie itu sudah melepas tudungnya, memperlihatkan wajah yang tenang namun waspada, bersiap untuk melakukan gerakan terakhir yang akan menghancurkan ketenangan malam Felysha.