Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: BANGKITNYA IBLIS PURBA
Tanah berguncang hebat.
Retakan-retakan menyebar seperti jaring laba-laba raksasa, menelan taman istana dalam hitungan detik. Pohon-pohon tumbang, batu-batu besar terbelah, dan dari kedalaman bumi, cahaya merah menyala menerangi malam.
Namgung Jin berdiri tegak, melindungi Putri Sohwa dan Nyonya Hwa Ryun di belakangnya. Matanya terpaku pada sosok yang perlahan muncul dari dalam retakan.
"Apa... apa itu?" bisik Putri Sohwa, suaranya bergetar.
Namgung Jin tidak menjawab. Ia bisa merasakannya—energi kuno, jauh lebih tua dari dirinya sendiri. Sesuatu yang telah tidur selama puluhan ribu tahun, mungkin sejak sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di dunia ini.
Janda Permaisuri berdiri di tepi retakan, jubahnya berkibar ditiup angin panas yang keluar dari dalam bumi. Matanya bersinar merah, seolah api sudah merasuk ke dalam jiwanya.
"Selamat datang, Tuanku!" teriaknya dengan suara melengking. "Selamat datang di dunia yang akan kau kuasai!"
Dari dalam retakan, tangan muncul.
Bukan tangan manusia. Tangan itu besar, sebesar batang pohon kelapa, dengan kulit hitam pekat bersisik seperti ular. Kuku-kukunya panjang dan tajam, berwarna merah seperti darah. Tangan itu meraih tepi retakan, mencengkeram tanah, lalu menarik.
Sosok itu naik perlahan.
Pertama, kepala. Bentuknya mirip manusia, tapi dengan tanduk di dahi dan mata menyala merah. Kulitnya hitam, dihiasi tato-tato kuno yang bersinar redup. Mulutnya penuh taring tajam.
Kemudian bahu, dada, lengan. Tubuhnya kekar, penuh otot, dengan sisik-sisik di beberapa bagian. Di dadanya, sebuah batu merah besar tertanam, berdenyut seperti jantung.
Akhirnya, seluruh tubuhnya keluar. Tingginya mencapai sepuluh meter—raksasa sejati. Ia berdiri di atas reruntuhan taman istana, menatap langit dengan mata menyala.
"AKU... BEBAS..."
Suaranya menggema, membuat genting-genting bergetar. Para pengawal yang masih tersisa jatuh pingsan karena tekanan aura. Bahkan Nyonya Hwa Ryun, yang telah melalui banyak pertempuran, merasakan lututnya lemas.
Tapi Namgung Jin tetap berdiri.
Ia mengenali makhluk ini. Dari kitab-kitab kuno yang ia baca selama ribuan tahun hidup. Dari legenda yang diceritakan para tetua padanya saat ia masih menjadi murid.
"Iblis Purba... Majin."
Majin adalah nama yang tercatat dalam sejarah sebagai penguasa pertama dunia kegelapan. Ia konon hidup sepuluh ribu tahun lalu, sebelum peradaban manusia berkembang. Ia hampir memusnahkan umat manusia, sampai akhirnya dikalahkan oleh para dewa dan dikurung di bawah bumi.
Sekarang, ia bangkit kembali.
---
Janda Permaisuri berlutut di hadapan Majin, menyembah dengan penuh pengabdian.
"Tuanku yang agung, hamba telah menanti ribuan tahun untuk saat ini. Generasi demi generasi, keluarga kami menjaga rahasia, mempersiapkan kebangkitan Tuanku."
Majin menatapnya dengan mata merah. "Kau... manusia... yang membangunkanku?"
"Ya, Tuanku. Dengan darah tiga puluh perawan, sesuai ritual kuno."
"Hanya tiga puluh?" Majin tertawa—tawa yang mengguncang bumi. "Dulu, aku butuh seribu nyawa untuk bangkit. Tapi kurungan itu melemahkanku. Tiga puluh cukup... untuk saat ini."
Ia menatap sekeliling, melihat istana yang megah.
"Dunia telah berubah. Tapi manusia tetap sama—lemah, takut, mudah dikuasai." Ia mengangkat tangannya, dan api hitam berkumpul di telapaknya. "Saatnya mengingatkan mereka siapa penguasa sejati."
"Tuanku, mohon tunggu!" Janda Permaisuri bangkit. "Ada satu hal yang harus Tuanku ketahui. Iblis Murim—penguasa kegelapan versi baru—konon akan kembali. Mungkin ia sudah ada di sini."
"Iblis Murim?" Majin mengerutkan kening. "Tidak ada iblis selain aku. Tapi... biarkan aku rasakan."
Ia memejamkan mata. Aura merah menyebar dari tubuhnya, menyapu seluruh area.
Namgung Jin merasakan sentuhan itu—seperti seseorang meraba-raba jiwanya. Ia segera mengaktifkan teknik Eunshim, menyembunyikan jati dirinya.
"Hmm... tidak ada." Majin membuka mata. "Yang ada hanya manusia biasa. Kau membuang waktuku."
*"Tapi Tuanku—"
"DIAM!"
Janda Permaisuri terpental, jatuh ke tanah. Majin tidak peduli padanya.
"Sekarang, aku akan mulai dengan menghancurkan tempat ini. Lalu seluruh kerajaan. Lalu seluruh dunia."
Ia mengangkat tangan, bersiap melemparkan api hitam.
---
Namgung Jin tahu, tidak ada waktu untuk ragu.
"Hwa Ryun, bawa Putri Sohwa ke tempat aman."
*"Tapi kau—"
"Lakukan!"
Nyonya Hwa Ryun menggigit bibir, lalu mengangguk. Ia memapah Putri Sohwa yang masih lemah, berlari meninggalkan taman.
Namgung Jin berbalik menghadap Majin.
"Hei, monster!"
Majin menoleh. Matanya menyipit melihat bocah kecil yang berani berteriak padanya.
"Kau? Manusia kecil, kau mau mati lebih cepat?"
"Aku hanya ingin bertanya: kau yakin mau menghancurkan dunia ini?"
"Tentu. Dunia ini milikku. Aku berhak melakukan apa pun."
"Salah." Namgung Jin tersenyum. "Dunia ini bukan milik siapa pun. Dan kau, meskipun kuat, bukan yang terkuat."
Majin tertawa. "Bocah lancang. Apa kau tahu berapa banyak manusia seperti kau yang sudah kubunuh?"
"Aku tidak peduli. Yang aku tahu, kau lemah."
"LEMAH?!"
Majin mengamuk. Api hitam melesat ke arah Namgung Jin.
Tapi Namgung Jin sudah tidak di tempatnya. Ia bergerak cepat, menghindari serangan itu dengan lompatan ke samping. Api itu menghantam tanah, menciptakan kawah besar.
"Lari seperti tikus!" Majin menyerang lagi.
Namgung Jin terus menghindar. Tubuhnya yang ringan dan lincah membantunya bertahan. Tapi ia tahu, ini tidak bisa bertahan lama. Satu serangan saja mengenai sasaran, dan ia akan hancur.
"Aku harus menemukan kelemahannya."
Ia mengamati Majin dengan saksama. Batu merah di dadanya... itu pusat kekuatannya. Jika ia bisa menghancurkannya...
Tapi bagaimana caranya? Mawanggeom mungkin bisa melukai, tapi menghancurkan batu itu? Mustahil dengan kekuatannya saat ini.
"Atau mungkin..."
Ia ingat sesuatu. Dalam kitab kuno, disebutkan bahwa Iblis Purba punya satu kelemahan: mereka tidak bisa melihat kebohongan. Mereka terlalu percaya diri, terlalu arogan, sehingga mudah ditipu.
"Mungkin itu bisa digunakan."
---
Majin terus menyerang, tapi mulai frustrasi. Bocah ini terlalu lincah.
"Berhenti berlari dan bertarung seperti pria!"
"Aku bukan pria. Aku masih bocah."
"KAU!"
Majin mengamuk. Serangannya menjadi tidak teratur.
Namgung Jin melihat celah. Ia berlari ke arah Majin, bukan menjauh. Mawanggeom terhunus, siap menusuk.
"Bodoh! Kau datang padaku?"
Cakar Majin menyambar. Tapi Namgung Jin melompat, bukan menghindar, tapi justru ke arah cakar itu. Ia menggunakan cakar itu sebagai pijakan, melompat lebih tinggi, hingga mencapai ketinggian dada Majin.
"Sekarang!"
Mawanggeom menusuk batu merah di dada Majin.
Tapi pedang itu tidak bisa menembus. Hanya goresan kecil.
Majin tertawa. "Bodoh! Batu itu tidak bisa dihancurkan!"
Namgung Jin jatuh ke tanah, terpental. Ia terluka, tapi masih bisa bangkit.
"Aku tahu."
"Apa?"
"Aku tahu batu itu tidak bisa dihancurkan. Tapi aku tidak perlu menghancurkannya."
Ia tersenyum.
"Aku hanya perlu membuatmu marah."
Majin mengerutkan kening. Lalu ia menyadari sesuatu.
Di tangannya, Mawanggeom meninggalkan bekas—bekas kecil, tapi cukup. Dan dari bekas itu, cairan hitam mulai merembes.
"Apa... apa ini?"
"Racun. Racun yang kuoleskan di pedangku." Namgung Jin berdiri, meskipun tubuhnya sakit. "Racun yang dibuat dari campuran darahku dan ramuan khusus. Hanya berpengaruh pada makhluk sepertimu."
"BOHONG!"
"Coba rasakan."
Majin merasakan dadanya. Panas. Terbakar. Batu merah itu mulai meredup.
"KAU... KAU!"
Ia mengamuk, tapi serangannya melemah. Racun itu bekerja.
Namgung Jin mundur, mengamati. Racun itu tidak akan membunuh Majin, tapi cukup membuatnya lemah sementara. Cukup untuk... melarikan diri.
"Sampai jumpa lagi, monster."
Ia berbalik, berlari meninggalkan taman.
---
Di kejauhan, Nyonya Hwa Ryun dan Putri Sohwa menunggu dengan cemas.
"Jin!"
"Lari! Jangan berhenti!"
Mereka berlari menembus lorong-lorong istana, meninggalkan kekacauan di belakang.
---
Pagi harinya, kabar tentang kebangkitan Iblis Purba menyebar ke seluruh penjuru.
Delapan Sekte Besar mengadakan pertemuan darurat. Kaisar—yang selamat dari malam itu—mengumumkan keadaan bahaya. Dan di istana yang hancur sebagian, Namgung Jin duduk di paviliunnya, merenung.
Majin masih hidup. Racun itu hanya melemahkannya sementara. Dalam beberapa minggu, ia akan pulih dan kembali.
"Aku harus lebih kuat."
Ia mengepalkan tangan. Dua belas meridian terbuka. Tapi itu tidak cukup. Ia butuh setidaknya tiga puluh enam meridian untuk bisa melawan makhluk seperti Majin.
"Tapi bagaimana?"
Pintu diketuk. Putri Sohwa masuk, wajahnya masih pucat tapi matanya penuh tekad.
"Jin, aku ingin bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang apa yang kau katakan tadi malam. Tentang... Iblis Murim."
Namgung Jin diam.
"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Aku tahu kau bukan anak biasa. Dan aku tahu..." Ia menatapnya tajam. "...kau mungkin Iblis Murim yang sebenarnya."
Keheningan panjang.
"Kau tahu, terlalu banyak bertanya bisa berbahaya."
"Aku tidak takut bahaya."
"Tapi aku takut kau akan mati karenanya."
Putri Sohwa tersenyum. "Kalau begitu, ajari aku cara bertahan."
---