NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sayembara dan Pendaftaran yang Kacau

Pintu gerbang Ibu Kota Kerajaan Astagina berdiri kokoh dengan penjagaan yang super ketat.

Prajurit-prajurit dengan baju zirah berkilau tampak memeriksa setiap warga yang masuk.

Di tengah antrean panjang itu, seorang remaja berusia dua belas tahun tampak berdiri santai sambil bersiul mengikuti nada kicauan burung yang hinggap di bahunya.

Wira Wisanggeni kini telah berubah. Tubuhnya tegap meski belum sepenuhnya dewasa, wajahnya yang tampan terbingkai oleh rambut hitam yang diikat asal.

Ia mengenakan pakaian kain kasar berwarna abu-abu, dan di tangannya tergenggam sebuah tongkat kayu lusuh yang lebih mirip kayu bakar daripada senjata pusaka.

"Nama?!" bentak seorang penjaga gerbang saat giliran Wira tiba.

"Wira Wisanggeni, Tuan Badut, eh.. maksud saya, Tuan Prajurit yang Gagah," jawab Wira sambil menyeringai lebar.

Penjaga itu menyipitkan mata, menatap tongkat butut di tangan Wira.

"Anak ingusan sepertimu mau apa masuk ke ibu kota? Mau jualan kayu bakar atau mengemis?"

Wira tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus namun entah mengapa terasa menyebalkan bagi yang mendengarnya.

"Ah, Tuan ini pintar sekali menebak. Tapi sayangnya saya ke sini bukan untuk jualan kayu, saya dengar ada pesta besar-besaran di sini. Katanya ada sayembara bela diri dengan hadiah emas yang bisa buat beli ubi satu gudang, ya?"

Penjaga itu tertawa meremehkan bersama rekan-rekannya.

"Sayembara Bela Terpilih? Itu untuk pendekar beneran, bocah! Bukan untuk anak hutan yang membawa ranting pohon!"

"Yah, namanya juga usaha, Tuan. Siapa tahu nasib saya lagi bagus," sahut Wira santai sambil menyelipkan keping koin perak, hasil pemberian seorang saudagar yang sempat ia tolong dari kawanan perampok di jalan tadi, ia memberikannya ke tangan sang penjaga.

Melihat koin perak itu, sikap penjaga langsung berubah manis.

"Masuklah! Tapi jangan menangis kalau kepalamu benjol dihantam pendekar sakti di sana!"

Suasana di dalam ibu kota sangat kontras dengan ketenangan Hutan Terlarang. Bau keringat, suara teriakan pedagang, dan denting senjata dari para peserta sayembara memenuhi udara.

Di tengah alun-alun kerajaan, telah dibangun sebuah panggung megah dari kayu jati yang dialiri energi pelindung.

Wira berjalan sambil sesekali berhenti untuk mencicipi jajanan pasar.

"Hmm, rasa ubi bakar di sini ternyata masih sama dengan lima tahun lalu. Bedanya, sekarang aku tidak perlu mencurinya," gumamnya sambil mengunyah dengan lahap.

Langkah Wira terhenti di depan papan pendaftaran. Di sana berdiri seorang pria tua dengan kumis panjang yang tampak sangat sibuk mencatat nama-nama peserta.

"Paman, tolong daftarkan nama Wira Wisanggeni," ucap Wira sopan.

Pria tua itu mendongak, melihat penampilan Wira yang kumal. "Senjatamu mana?"

Wira mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi.

"Ini dia, Paman! Namanya, Tongkat Penggaruk Punggung, hihihi.." ucapnya dengan bercanda.

Para pendekar lain yang sedang mengantre di belakang Wira langsung meledak dalam tawa.

Seorang pria bertubuh besar dengan kapak raksasa di punggungnya menepuk bahu Wira hingga ia hampir tersungkur.

"Bocah, pulanglah! Ini tempat para lelaki sejati, bukan tempat bermain kayu-kayuan!" seru pria itu yang bernama Banggala, seorang pendekar bayaran yang terkenal kasar.

Wira hanya mengedipkan sebelah matanya. "Hati-hati, Paman, terkadang kayu yang kecil bisa membuat gajah pun tersandung."

Banggala mendengus kesal, namun sebelum ia sempat memukul Wira, sang petugas pendaftaran sudah memberikan nomor urut. "Nomor 103. Pertarunganmu di babak penyisihan mulai sore nanti. Jangan mati dulu sebelum naik panggung."

....

Tanpa terasa waktu yang ditunggu tiba. Matahari mulai condong ke barat saat nama Wira dipanggil ke atas panggung.

Lawannya adalah seorang murid dari Perguruan Macan Hitam bernama Kala, seorang pemuda yang usianya jauh di atas Wira dan membawa sepasang belati beracun.

"Cepat menyerah, Bocah! Aku tidak mau tanganku bau keringat anak kecil!" ejek Kala sambil memutar-mutar belatinya.

Wira berdiri dengan posisi yang sangat tidak meyakinkan. Ia memegang tongkatnya seperti sedang memegang sapu, matanya sibuk melihat ke arah tribun penonton, seolah-olah sedang mencari seseorang.

"Sebentar, Kak Kala! Bisa tunggu sebentar? Ada lalat masuk ke hidungku!" seru Wira sambil pura-pura mengupil.

Penonton tertawa terpingkal-pingkal. Raja Astagina yang duduk di singgasana megahnya bahkan sempat tersenyum kecut melihat tingkah peserta nomor 103 itu.

Namun, di balik tingkah konyolnya, indra perasa Wira sedang bekerja maksimal. Ia bisa merasakan aliran energi kanuragan di tubuh Kala.

"Mati kau!" Kala menerjang. Gerakannya cepat, belatinya melesat bagaikan taring ular yang mematikan.

Tap!

Wira hanya bergeser satu inci. Belati itu melewati telinganya hanya dalam jarak sehelai rambut.

"Waduh, hampir saja! Kakak kalau main tajam-tajam jangan dekat wajah ya, aku ini aset masa depan!" celoteh Wira masih dengan candanya.

Kala pun semakin geram. Ia menyerang bertubi-tubi dengan jurus 'Cakar Macan Pemangsa'.

Namun, setiap serangan selalu meleset secara ajaib. Wira bergerak seperti dahan pohon yang tertiup angin, lemas, tak terduga, dan sangat menyebalkan.

"Cukup main-mainnya!" Kala mengeluarkan jurus pamungkasnya. Energi hitam menyelimuti belatinya. Ia melompat tinggi dan menghunjam ke arah kepala Wira.

Wira tidak menghindar kali ini. Ia mengangkat tongkat kayu lusuhnya dengan satu tangan secara horisontal.

BUM!

Ledakan energi terjadi. Debu beterbangan menutupi panggung. Penonton terdiam, mengira kepala bocah itu sudah terbelah dua.

Namun, saat debu menipis, terlihatlah pemandangan yang mustahil.

Tongkat kayu butut Wira menahan kedua belati baja Kala tanpa lecet sedikit pun. Bahkan, Kala tampak gemetar hebat, seluruh tenaganya seolah terserap oleh kayu tersebut.

"Kakak sudah capek? Sini, ku bantu istirahat," bisik Wira dengan senyum tipis yang kini terlihat sangat dingin.

Dengan satu sentakan kecil, Wira memutar tongkatnya.

Bagian pangkal tongkat menghantam ulu hati Kala dengan sangat ringan, namun efeknya luar biasa, hingga membuat Kala terpental keluar panggung, pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.

Seketika suasana hening dan alun-alun yang tadinya bising mendadak sunyi senyap.

Semua orang menatap Wira yang kini kembali bertingkah konyol, sibuk meniup-niup debu di tongkatnya.

"Maaf Paman Raja, kayunya agak licin tadi!" teriak Wira ke arah panggung kehormatan sambil melambaikan tangan.

Di sudut tribun yang jauh, seorang wanita dengan pakaian tertutup tampak memperhatikan Wira dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia mengenali gaya gerak itu, ia mengenali kehangatan di balik serangan itu. Wanita itu adalah Sekar Arum, gadis yang pernah diselamatkan Wira dua tahun lalu.

Ia telah tumbuh menjadi wanita cantik, dan di balik jubahnya, ada aura kekuatan yang tidak biasa.

Wira turun dari panggung dengan santai, mengabaikan tatapan tak percaya dari ribuan mata.

Perjalanannya baru saja dimulai. Dendam pada kerajaan ini belum terbalas.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!