Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Ultimatus Sang Kakek
Rumah besar itu berdiri seperti singgasana yang dingin. Dengan taman-taman yang indah gaya renaisance yang berat.
Rumah ini megah, tapi tak ramah.
Lampu gantung kristal berkilau terlalu terang, seolah sengaja menelanjangi siapa pun yang duduk di bawahnya.
Meja panjang dari kayu tua dipenuhi wajah-wajah dengan senyum yang tidak benar-benar tersenyum.
Ada yang pura-pura tenang.
Ada yang menunggu celah.
Ada pula yang sejak awal sudah menyiapkan pisau—bukan di tangan, tapi di lidah.
Di ujung meja, seorang lelaki tua duduk tegak. Rambutnya memutih sempurna, tongkat kayu hitam bertumpu di samping kursinya. Tatapannya menyapu ruangan tanpa emosi, tapi semua orang tahu—sekali ia bicara, tak ada yang bisa membantah.
Kakek.
Sementara di sisi lain meja, seorang pemuda duduk bersandar, tangan dimasukkan ke saku jasnya. Wajahnya datar. Terlalu datar untuk ukuran rapat keluarga sepenting ini.
Namanya disebut-sebut dengan bangga sebagai pewaris utama, tapi di matanya tak ada gairah apa pun.
Seolah semua ini… melelahkan.
“Sudah cukup basa-basinya.”
Suara tongkat menghantam lantai. Tok.
Semua langsung diam.
Kakek mengangkat dagunya sedikit.
“Usiamu sudah bukan anak-anak lagi.”
Beberapa pasang mata melirik ke arah pemuda itu. Ada yang menilai, ada yang mencemooh dalam diam.
“Bisnis keluarga ini tidak bisa dipimpin oleh orang yang hidupnya berantakan,” lanjut sang kakek, suaranya pelan tapi menekan. “Dan aku tidak akan menyerahkan warisan pada laki-laki yang bahkan tidak punya keluarga sendiri.”
Seseorang terkekeh kecil. Cepat-cepat ditutup dengan batuk pura-pura.
“Zaman sekarang, Kek,” seorang paman menyela dengan senyum sok bijak, “menikah itu pilihan. Tidak bisa dipaksakan. Bisa-bisa dia asal milih saja. Masih untuk kalau milih yang sepadan, lah kalau asal milih cewek pinggir jalan apa ndak bikin malu keluarga besar kita kek.”
Kakek menoleh. Tatapannya tajam.
“Kalau begitu, kau serahkan saja seluruh sahammu sekarang.”
Paman itu langsung bungkam.
Kakek kembali menatap cucunya.
“Sebulan. Datangi tempat ini” Kakek menyodorkan tulisan berisi alamat seseorang.
Pemuda itu mengangkat alis tipis.
“Dalam satu bulan, kau harus menikah dia, tidak bisa tidak.”
Ruangan langsung riuh rendah.
“Menikah?”
“Dengan keluarga siapa? Memang sepandan dengan keluarga kita?”
“Serius, Kek?”
Bisik-bisik bermunculan seperti nyamuk.
“Boleh saja kamu tidak mau, tapi kalau tidak,” lanjut sang kakek tanpa peduli, “kau tidak akan mendapatkan satu lembar pun dari warisan keluarga ini. Pimpinan akan jatuh ke tangan orang lain.”
Senyum-senyum mulai bermunculan.
Senyum yang terlalu cepat.
Pemuda itu akhirnya menegakkan tubuhnya. Tatapannya lurus ke arah kakeknya. Tidak terkejut. Tidak marah.
Hanya… kosong.
“Sebulan?” ulangnya pelan.
“Sebulan,” jawab kakek tegas.
Ia mengangguk sekali.
“Baik.”
Satu kata.
Tanpa drama.
Tanpa protes.
Ruangan justru terdiam lebih lama dari sebelumnya.
Beberapa orang saling pandang.
Ada yang mendengus kecewa.
Ada yang menyipitkan mata, curiga.
"Cepat sekali menjawabnya," gumam seorang bibi, sengaja tidak berbisik. "Jangan-jangan sudah ada calonnya. Huh, mata duitan juga ternyata, takut kehilangan warisan dasar orang munafik"
"Ah, mana mungkin," sahut yang lain sambil tersenyum sinis. "Perempuan mana yang tahan dengan sifat dinginnya itu?"
Suara-suara itu seperti kerumunan nyamuk yang mengganggu telinga. Terasa memekak dan menjengkelkan.
Pemuda itu berdiri.
"Kalau rapat sudah selesai, saya izin."
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar. Langkahnya tenang, tapi di belakangnya-gunjingan kembali hidup.
"Kasihan sekali juga nanti istrinya ya, anak dingin seperti itu, seperti tidak nafsu sama wanita."
"Iya, dinikahi bukan karena cinta."
"Atau jangan-jangan cuma pajangan."
"Kalau cantik sih gak papa, lah kalau dibawah rata-rata masak dipajang... ihhh"
Kakek mengetukkan tongkat sekali lagi.
"Rapat selesai."
Namun senyum-senyum licik itu tidak ikut pergi.
Di tempat lain, jauh dari rumah megah itu, seorang gadis duduk di pinggir ranjang sempit. Koper kecil terbuka di depannya, isinya pakaian sederhana yang warnanya sudah mulai pudar.
Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah.
"Apa lagi yang kau lakukan, hah?"
Suara ibunya melengking dari luar kamar.
Gadis itu menelan ludah.
"Aku cuma beresin baju, Bu."
Pintu dibuka kasar.
"Berisik! Dari tadi cuma bikin repot."
Seorang pria paruh baya berdiri di belakang sang ibu, wajahnya masam.
"Kalau memang mau pergi, jangan ninggalin sampah di rumah ini."
Gadis itu berdiri, menunduk.
"Aku nggak ninggalin apa-apa."
Ibunya mendengus.
"Memang kau punya apa? Dari dulu cuma jadi beban."
Kata itu.
Beban.
Selalu kata itu.
"Lihat anak orang lain," lanjut ibunya, suaranya sengaja diperkeras. "Kuliah tinggi, kerja jelas. Lah kamu? Hidup numpang, duit minta."
Gadis itu mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak, tapi ia tetap diam. Diam adalah caranya bertahan.
"Untung saja ada orang yang mau," sambung pria itu sambil menyeringai aneh. "Kalau tidak, sampai tua pun kau tetap di sini makan tidur saja kerjaanmu, pekerjaan rumah gak beres-beres."
Jantung gadis itu berdegup lebih cepat.
"Apa maksud Bapak?"
Ibunya tersenyum-senyum yang tidak membuat hangat.
"Ada orang datang. Mau bicara baik-baik."
"Orang siapa, Bu?"
Ibunya melipat tangan di dada.
"Kau tidak perlu tahu banyak. Yang jelas, hidupmu setelah ini bukan urusan kami lagi."
Gadis itu merasa tenggorokannya kering.
"Pergi sana. Bersiap. Jangan bikin malu."
Pintu ditutup keras.
Gadis itu duduk kembali di ranjang. Tangannya gemetar.
Ia menatap koper kecil itu.
Hidupnya terasa seperti barang yang bisa dipindahkan begitu saja.
Malam itu, dua dunia yang berbeda mulai bergerak menuju satu titik.
Di dalam mobil hitam yang melaju tanpa suara, pemuda itu memandang keluar jendela. Lampu kota berkelebat, seperti kehidupan yang tak pernah benar-benar ia miliki.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya asistennya pelan.
Ia tidak menoleh.
"Aku hanya perlu seseorang."
"Seseorang… seperti apa?"
Ia diam sejenak.
"Yang tidak banyak bertanya."
"Tidak menuntut."
"Dan bisa diabaikan."
Asisten itu terdiam.
Pemuda itu menyandarkan kepala.
Sebulan.
Ia hanya butuh pernikahan dengan orang yang sudah dipilih kakeknya.
Bukan karena cinta.
Sementara itu, di kamar sempitnya, gadis itu duduk memeluk lutut. Di luar, suara ibunya terdengar sedang menelpon seseorang, suaranya dibuat manis-tidak seperti biasanya.
Gadis itu memejamkan mata.
Entah siapa yang akan datang.
Entah hidup seperti apa yang menantinya.
Yang ia tahu, malam ini…
takdir mulai menariknya tanpa permisi.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid