Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
“Dibalik senyum manisnya, ada banyak luka didalamnya. Ia sembunyikan goresan-goresan kecil yang daim-diam melebar seiring waktu”
***
Rumah itu terasa semakin sesak.
Nala berdiri perlahan dari sofa, menatap sekali lagi pintu kamar Kala yang masih tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada langkah. Tidak ada isakan.
Dan justru karena itulah ia tidak bisa menangis di sana. Ia tidak ingin Kala mendengarnya. Tidak ingin suaranya yang rapuh menambah beban di hati adiknya.
Dengan langkah pelan, Nala mengambil jaket tipis dan keluar rumah tanpa suara. Pintu ditutup hati-hati, seolah takut membuat kegaduhan di dunia yang sudah terlalu berisik di kepalanya.
Udara malam menyambutnya dengan dingin yang menusuk lembut.
Ia berjalan tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti jalan kecil menuju taman kompleks tempat mereka tinggal. Lampu-lampu taman menyala redup, serangga kecil berputar di sekitarnya, dan angin malam berembus pelan menggerakkan daun-daun.
Taman itu sepi.
Hanya ada bangku kayu panjang di bawah tiang lampu yang menyinari lingkaran kecil cahaya ke tanah.
Nala duduk di sana.
Sendiri.
Cahaya lampu jatuh tepat di atasnya, membuat bayangannya memanjang di trotoar. Dunia terasa luas, tapi ia merasa sangat kecil di dalamnya. Ia menunduk. Tangannya terlipat di pangkuan, jemarinya saling menggenggam erat seolah mencoba menahan sesuatu yang ingin pecah.
Dadanya sesak.
Terlalu sesak.
Ia ingin berteriak.
Ingin menyalahkan keadaan.
Menyalahkan Baskara.
Menyalahkan permainan ini.
Menyalahkan takdir yang membuatnya harus menjadi bayangan saudara kembarnya sendiri.
Tapi teriakan itu tidak pernah keluar. Tenggorokannya terasa terkunci.Yang ada hanya napas yang bergetar. Perlahan, air mata itu jatuh lagi.
Kali ini tidak ia tahan.
Bahu Nala sedikit bergetar saat isakan kecil akhirnya lolos, pelan, tertahan. Ia menunduk semakin dalam, rambutnya jatuh menutupi wajah yang basah oleh tangis.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang mendengar.
Dan mungkin memang seperti itu hidupnya sekarang—menanggung semuanya dalam diam. Lampu taman tetap menyala tenang, seolah tak peduli pada satu perempuan yang sedang hancur pelan-pelan di bawahnya. Nala menggigit bibirnya, mencoba menahan suara.
Ia ingin kuat.
Ia selalu ingin kuat.
Tapi malam itu, di bangku taman yang dingin, ia hanya seorang perempuan yang lelah—
Lelah menjadi orang lain.
Lelah disalahpahami.
Lelah harus tegar saat hatinya remuk.
Dan akhirnya, tanpa teriakan, tanpa protes kepada dunia—Ia hanya tertunduk dan menangis. Tangis itu akhirnya mereda dengan sendirinya.
Bukan karena lukanya hilang, tapi karena tubuhnya terlalu lelah untuk terus menangis. Nala masih duduk di bangku taman, napasnya perlahan kembali teratur. Udara malam terasa lebih dingin sekarang. Lampu taman masih menyinarinya dengan cahaya kekuningan yang lembut, membuat wajahnya yang sembap terlihat pucat.
Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan lengan jaket.
Dadanya memang masih berat… tapi tidak lagi meledak-ledak seperti tadi. Tangis selalu memberinya sedikit ruang untuk bernapas, meski hanya sementara. Saat ia hendak berdiri, ponselnya bergetar di genggaman.
Satu pesan masuk.
Nama yang tertera di layar membuat napasnya tertahan sesaat.
Baskara.
Nala menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya membukanya.
Pesannya singkat.
Besok pagi kamu pindah. Semua sudah saya siapkan. Tidak ada penundaan.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada ruang untuk berdiskusi.
Hanya keputusan.
Nala membaca ulang pesan itu sekali lagi, lalu layar ponselnya perlahan meredup.
Ia tidak membalas.
Untuk apa?
Ia tahu tak akan ada perubahan.
Tangannya turun ke pangkuan. Dadanya yang tadi sedikit reda kembali terasa ditekan, namun kali ini bukan dengan ledakan emosi—melainkan dengan pasrah yang sunyi.
Besok.
Berarti malam ini mungkin malam terakhirnya tidur di rumah kecil itu sebagai dirinya sendiri. Ia mengangkat wajahnya, menatap langit gelap tanpa bintang yang jelas terlihat karena cahaya kota. Angin malam menyentuh pipinya yang masih lembap.
“Baik,” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada pesan itu.
Perlahan, Nala berdiri dari bangku taman. Kakinya terasa lebih ringan dibanding saat ia datang tadi, meski hatinya masih berat.
Langkahnya pelan saat kembali menyusuri jalan kompleks. Rumah-rumah sudah gelap, sebagian besar penghuninya telah tertidur, tidak tahu bahwa di salah satu rumah kecil itu, sebuah kehidupan akan berubah esok pagi.
Saat sampai di depan pintu, Nala berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang. Lalu membuka pintu dan masuk.
Rumah itu sunyi.
Pintu kamar Kala masih tertutup rapat. Nala berdiri beberapa detik di ruang tengah, menatap sekeliling—sofa usang, meja kecil, dinding yang sedikit mengelupas.
Sederhana.
Tapi hangat.
Dengan dada yang sedikit lebih tenang, meski bukan karena bahagia, melainkan karena sudah kehabisan tenaga untuk melawan, Nala melangkah masuk ke kamarnya.
Malam semakin larut.
Dan tanpa ia sadari, waktu terus berjalan menuju pagi yang akan memisahkannya dari satu-satunya tempat yang pernah ia sebut rumah.
***
Di sisi lain kota, jauh dari rumah kecil yang dipenuhi tangis diam itu, lampu sebuah ruangan kerja masih menyala terang di lantai atas gedung milik keluarga Erlic.
Ruangan itu luas, dindingnya didominasi kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. Cahaya gedung-gedung tinggi memantul di permukaan meja kayu gelap yang tertata rapi.
Erlic belum tidur.
Jasnya sudah ia lepas, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Dasi tergeletak sembarangan di sisi meja—satu-satunya tanda bahwa ia juga manusia yang bisa merasa lelah.
Namun matanya tidak terlihat lelah.
Di hadapannya, berkas-berkas menumpuk. Dokumen kerja sama. Laporan keuangan. Proposal ekspansi. Dan satu map tipis yang terpisah dari yang lain.
Map itu bertuliskan: Andhikara.
Erlic duduk bersandar, satu tangan memegang gelas kopi hitam yang sudah tinggal setengah. Uapnya tak lagi mengepul, namun ia tetap meminumnya perlahan.
Pahit.
Seperti pikirannya malam itu. Ia membuka kembali salah satu dokumen, namun tatapannya tidak benar-benar membaca angka-angka di sana. Yang terlintas justru wajah Nala. Senyum tenangnya. Jawaban-jawabannya yang nyaris tanpa celah. Sorot matanya yang sesekali terlalu jujur untuk seorang pembohong. Sudut bibir Erlic terangkat tipis.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Ia tahu.
Sejak awal ia sudah tahu tentang pertukaran itu. Tentang Arsha yang “menghilang”. Tentang Baskara yang terlalu panik menyelamatkan putri kesayangannya. Dan tentang Nala—perempuan yang dipaksa masuk ke papan permainan tanpa diberi pilihan.
Namun Erlic tidak membongkar apa pun.
Tidak marah.
Tidak juga membatalkan perjodohan. Sebaliknya, ia duduk di sana sekarang, menyusun sesuatu.
Rencana.
Bukan hanya soal merger perusahaan.
Bukan hanya soal kekuasaan. Ia memutar kursinya sedikit, menatap kota dari balik kaca. Lampu-lampu berkelip seperti ribuan kemungkinan. Di atas meja, ada catatan kecil yang ia tulis beberapa menit lalu. Jika Baskara berani bermain… maka aku akan menentukan akhir permainannya. Ia mengambil kembali gelas kopinya, menghabiskan isinya dalam satu tegukan. Erlic bukan pria yang suka dibohongi.Tapi ia lebih tidak suka kehilangan kendali. Dan sekarang, ia sedang menyusun langkah-langkahnya.
Apakah ia akan membongkar sandiwara itu?
Atau justru memanfaatkannya?
Di ruangan yang hanya ditemani suara pendingin udara dan detak jam dinding, Erlic tersenyum tipis. Entah rencana apa yang sedang ia rajut, yang jelas— Permainan ini tidak akan ia biarkan berjalan sesuai skenario Baskara. Karena jika ini adalah papan catur,
maka Erlic berniat menjadi satu-satunya pemain yang menentukan siapa yang akan tumbang terlebih dahulu.
***
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai tipis kamar Nala, menyinari ruangan kecil yang terasa berbeda hari itu—lebih sunyi, lebih berat.
Ia tidak benar-benar tidur semalaman. Hanya memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap. Dengan langkah pelan, Nala keluar dari kamarnya dan berdiri di depan pintu kamar Kala. Ia mengetuk pelan.
“Kala?”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba membuka gagangnya.
Terkunci.
Nala mengetuk lagi, sedikit lebih keras. “Kala, bangun. Kakak mau ngomong sebentar.”
Tetap tidak ada respons.
Perasaan tidak enak menyelusup di dadanya.
Ia kembali ke ruang tengah dan mengambil ponselnya. Menekan nama Kala di layar. Nada sambung terdengar… sekali… dua kali… lalu mati.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Mungkin Kala memang masih marah.
Atau mungkin sengaja menghindarinya.
Nala menurunkan ponselnya perlahan. Ia tidak punya banyak waktu. Pesan Baskara semalam jelas—pagi ini ia harus pindah. Akhirnya, dengan napas panjang, Nala duduk di meja makan kecil. Ia menarik selembar kertas dan bolpoin dari laci.
Tangannya sempat diam beberapa detik di atas kertas kosong itu.
Lalu ia mulai menulis.
Tulisan tangannya rapi, tapi beberapa bagian sedikit bergetar.
Ia tidak menulis tentang Baskara.
Tidak menulis tentang perjodohan.
Tidak menulis tentang kebohongan.
Ia hanya menulis bahwa ia mendapat pekerjaan yang menuntutnya lebih sering berada di luar. Bahwa mungkin ia akan jarang pulang. Bahwa Kala harus menjaga diri, makan teratur, dan fokus kuliah.
Kalimat-kalimatnya sederhana.
Terlalu sederhana untuk menjelaskan perpisahan yang sebenarnya.
Di akhir surat, ia menulis:
Mbak selalu di pihakmu. Apa pun yang kamu pikirkan tentang mbak sekarang… suatu hari nanti kamu akan mengerti.
Nala menatap tulisan itu lama.
Lalu melipat kertas tersebut dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja, tepat di tempat yang pasti terlihat oleh Kala. Setelah itu ia kembali ke kamar.
Ia tidak membawa banyak barang.
Hanya beberapa pakaian yang menurutnya perlu. Buku catatan kecil. Foto lama dirinya dan Kala bersama kedua orang tua mereka—foto yang sedikit pudar tapi masih utuh. Ia berdiri sejenak menatap kamar itu. Tempat ia menangis diam-diam. Tempat ia bisa tertawa lepas tanpa menjaga sikap, Tapi Kini semuanya harus ia tinggalkan.
Tas kecil itu terasa ringan di tangannya.
Tapi hatinya tidak.
Sebelum keluar, Nala kembali berdiri di depan pintu kamar Kala. Tangannya terangkat, ingin mengetuk sekali lagi.
Namun ia mengurungkannya.
“Maaf,” bisiknya pelan.
Lalu ia berbalik, membuka pintu rumah, dan melangkah keluar. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Dan pagi itu, tanpa perpisahan, tanpa pelukan, tanpa kata maaf yang terdengar— Nala pergi meninggalkan rumah kecil itu, membawa beban yang tak pernah ia bagi.