NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi itu, kantor masih terasa lengang saat aku melangkah menuju meja kerjaku. Aroma pembersih lantai yang segar bercampur dengan udara AC yang dingin menyambutku. Namun, langkahku terhenti saat mataku menangkap sesuatu yang asing di atas meja yang biasanya rapi.

Sebuah cup plastik berisi Ice Kopi Vanilla.

Embun air masih membasahi dinding cup-nya, menandakan minuman itu baru saja diletakkan. Jantungku berdegup tidak karuan. Itu adalah minuman favoritku sejak SMA—sesuatu yang selalu Baskara bawakan setiap kali aku merasa stres atau kelelahan.

Aku menoleh ke sekeliling, mencari sosoknya, namun divisi Analisis Data di ujung sana masih kosong. Hanya ada Siska yang baru saja datang dan sibuk menyalakan komputer.

"Pagi, Na. Wah, asyik banget pagi-pagi udah ada yang kasih kopi," goda Siska sambil mengerlingkan mata.

"Ini... dari siapa, Sis? Kamu lihat tadi siapa yang naruh?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.

"Enggak tahu. Pas aku sampai tadi udah ada di situ. Mungkin dari pengagum rahasia?" jawabnya asal sambil tertawa kecil.

Aku meraih cup dingin itu. Di balik sedotannya, ada secarik kertas kecil yang tertempel dengan tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan yang tegas namun rapi.

"Minum ini. Aku tidak mau kamu pingsan saat presentasi nanti siang. Jangan berpikir macam-macam, ini hanya agar pekerjaan kita tidak terhambat lagi."

Tidak ada nama di sana, tapi aku tahu itu dia. Kalimatnya ketus dan dingin, persis seperti Baskara yang sekarang, tapi tindakannya... tindakannya masih menyisakan jejak pria yang dulu sangat mengenalku.

Aku menyesap kopi itu pelan. Rasa manis vanilla yang familiar menjalar di lidahku, namun entah kenapa rasanya sangat pahit di tenggorokan. Penyesalan itu kembali datang. Bagaimana bisa seseorang yang sudah kusakiti sedalam itu masih mengingat detail kecil tentang kesukaanku?

Saat aku sedang menatap kosong ke arah cup kopi itu, pintu lift terbuka. Baskara melangkah masuk dengan kemeja biru navy yang sangat pas di tubuhnya. Ia tampak sangat segar, kontras denganku yang masih memiliki kantung mata. Di sampingnya, Rasya berjalan sambil menggandeng lengannya, tertawa kecil membicarakan sesuatu.

Baskara melewati mejaku. Matanya sempat melirik ke arah cup kopi yang sedang kupegang, namun sedetik kemudian ia memalingkan wajah seolah-olah aku tidak ada di sana.

"Eh, Aruna! Wah, dapet kopi juga ya? Tadi aku sama Baskara mampir ke cafe bawah sebelum naik, tapi Baskara bilang dia mau beli dua, aku pikir buat dia sendiri, ternyata buat rekan kerjanya ya?" ucap Rasya dengan nada ceria yang polos.

Duniaku serasa berhenti. Jadi Rasya ada di sana saat dia membelinya?

Baskara tidak berhenti melangkah. "Ayo, Sya. Pak Hendra sudah menunggu di ruangannya," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun padaku.

Aku meremas kertas kecil di tanganku. Di balik kebaikannya, Baskara sedang memainkan mentalku. Ia memberiku perhatian yang membuatku berharap, lalu menghancurkannya kembali dengan menunjukkan bahwa ada Rasya di sisinya.

Aku menatap cup kopi di tanganku, lalu beralih menatap punggung Baskara yang semakin menjauh bersama Rasya. Rasa manis vanila yang baru saja menyentuh lidahku mendadak berubah menjadi racun yang membakar tenggorokan.

Dia ingin membelikan kopi ini di depan kekasihnya, menempelkan pesan seolah peduli, tapi kemudian mengabaikanku seolah aku hanyalah debu di koridor kantor?

Cukup. Aku tidak mau menjadi bidak dalam permainan tarik-ulur emosinya.

Dengan gerakan mantap yang disaksikan oleh Siska dari sudut mata, aku berdiri. Aku melangkah menuju tempat sampah besar di dekat mesin fotokopi—jalur yang harus dilewati Baskara dan Rasya jika mereka ingin menuju ruangan Pak Hendra.

Plung.

Aku menjatuhkan cup kopi yang masih penuh itu ke dalam tempat sampah. Bunyi benturannya terdengar nyaring di tengah kesunyian kantor. Siska ternganga, sementara langkah kaki di belakangku mendadak terhenti.

Aku berbalik dan benar saja, mereka berdua mematung di sana. Rasya tampak terkejut, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. Namun, mataku terkunci pada Baskara.

Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Matanya yang tadi dingin kini berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia menatap tempat sampah itu, lalu beralih menatapku dengan tatapan yang seolah ingin menghancurkanku berkeping-keping.

"Mbak Aruna? Kok dibuang? Itu kan baru diminum sedikit," tanya Rasya dengan nada bingung sekaligus tidak enak hati.

"Maaf, Rasya. Tiba-tiba rasanya sangat tidak enak. Terlalu manis, sampai membuatku mual," jawabku datar, menatap tepat ke manik mata Baskara. "Lagi pula, aku lebih suka membeli kopiku sendiri daripada menerima pemberian yang tujuannya hanya untuk 'memastikan pekerjaan tidak terhambat'."

Baskara melangkah maju satu tindak, membuat Rasya refleks melepaskan gandengannya. Napasnya terdengar berat. "Jadi begitu cara kamu menghargai niat baik orang lain, Aruna?" suaranya rendah, bergetar karena emosi yang meluap.

"Niat baik atau sekadar formalitas yang menghina, Pak Baskara?" tantangku. "Kalau Anda khawatir pekerjaan terhambat, tenang saja. Saya bisa bekerja tanpa kafein dari Anda."

"Baskara, sudah... mungkin Aruna memang lagi nggak enak badan," Rasya mencoba menenangkan, menyentuh lengan Baskara dengan ragu.

Baskara tidak bergeming. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh luka sekaligus kebencian yang murni. "Kamu benar. Seharusnya aku sadar, memberikan sesuatu padamu memang selalu berakhir di tempat sampah. Dulu cintaku, sekarang bahkan hanya secangkir kopi."

Ia berbalik dengan kasar, meninggalkan aku yang mematung dengan jantung yang berdegup menyakitkan. Rasya menatapku sekali lagi dengan pandangan iba yang sangat kubenci, sebelum akhirnya berlari kecil mengejar Baskara.

Aku kembali ke mejaku dengan tangan gemetar. Aku menang, aku berhasil menunjukkan bahwa aku tidak bisa dipermainkan. Tapi kenapa dadaku terasa jauh lebih sesak daripada saat aku menangis semalam?

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!