Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14-Rahasia Masa Lalu Rifky
Malam setelah serangan makhluk bayangan terasa sangat panjang bagi murid kelas IX B. Banyak murid tidak bisa tidur karena kejadian di halaman sekolah tadi. Walaupun Kepala Sekolah Misel sudah mengusir semua makhluk bayangan, rasa takut masih terasa di udara.
Di asrama, Rifky masih duduk di tepi tempat tidurnya.
Tangannya kembali bersinar samar dengan cahaya biru.
Deni yang sudah berbaring menoleh.
“Kamu masih memikirkan kata-kata Kepala Sekolah tadi?”
Rifky mengangguk pelan.
“Iya… katanya aku dalam bahaya.”
Rais yang sedang mengangkat dumbbell batu kecil miliknya berkata santai,
“Kalau ada yang berani ganggu kamu, dia harus lewat aku dulu.”
Candra langsung menambahkan,
“Dan lewat aku juga… walaupun mungkin aku kalah duluan.”
Semua tertawa kecil.
Namun Rifky tetap terlihat serius.
“Aku ingin tahu kenapa kristal itu memilihku.”
Gofirr menutup bukunya.
“Mungkin Kepala Sekolah tahu sesuatu.”
Rifky berpikir sejenak.
“Aku akan bertanya padanya besok.”
---
## Panggilan dari Kepala Sekolah
Keesokan paginya, saat murid-murid IX B sedang sarapan di ruang makan, tiba-tiba **Riski sang penjaga sekolah** datang.
Ia berjalan menuju meja mereka.
“Rifky.”
Rifky menoleh.
“Kepala Sekolah Misel memanggilmu ke kantornya.”
Semua murid langsung saling menatap.
Candra berbisik dramatis,
“Kalau dia tidak kembali… kita akan mengenangnya sebagai pahlawan.”
Zahira langsung memukul kepala Candra pelan.
“Jangan bicara begitu!”
Rifky tersenyum gugup.
“Tenang saja.”
Wida berdiri.
“Aku ikut.”
Oliv dan Zahira juga ikut berdiri.
“Kami juga.”
Riski menghela napas.
“Kepala Sekolah hanya memanggil Rifky.”
Wida menyilangkan tangan.
“Dia sahabatku.”
Riski berpikir sebentar lalu akhirnya berkata,
“Baiklah… tapi jangan ribut.”
---
## Kantor Kepala Sekolah
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kantor Kepala Sekolah.
Pintu kayu besar itu terbuka perlahan.
Di dalam ruangan, **Misel** sudah menunggu.
Ia duduk di kursinya sambil membaca sebuah buku sihir tua.
“Masuklah,” katanya tanpa menoleh.
Rifky, Wida, Zahira, dan Oliv masuk dengan hati-hati.
Misel menutup bukunya lalu menatap Rifky.
“Aku sudah menunggu.”
Rifky menelan ludah.
“Nenek… maksud saya… Kepala Sekolah…”
Wida langsung berkata,
“Nenek, kami ingin tahu sesuatu.”
Misel tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Ia berdiri lalu berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan.
Dari dalam lemari itu ia mengambil sebuah **buku tua yang sangat tebal**.
Debunya beterbangan ketika buku itu dibuka.
“Aku mencari sesuatu tentang kristal yang ada di dalam dirimu.”
Rifky bertanya dengan gugup,
“Dan… apakah Nenek menemukannya?”
Misel membuka beberapa halaman buku.
“Ya.”
Semua murid langsung memperhatikan.
---
## Legenda Kristal Kuno
Misel mulai menjelaskan.
“Ratusan tahun yang lalu, ada lima kristal sihir yang sangat kuat.”
Ia menunjuk gambar di dalam buku.
“Kristal-kristal itu diciptakan oleh penyihir kuno untuk menjaga keseimbangan dunia sihir.”
Zahira bertanya,
“Lalu kenapa kristal itu disembunyikan?”
Misel menjawab,
“Karena kekuatannya terlalu besar.”
Ia menunjuk salah satu gambar kristal.
“Kristal yang kamu miliki disebut **Aerion Crystal**.”
Oliv mengingat sesuatu.
“Itu sama dengan mantra yang Rifky gunakan saat ujian!”
Misel mengangguk.
“Benar.”
Rifky terlihat semakin bingung.
“Tapi… kenapa kristal itu memilihku?”
Misel menatapnya dalam-dalam.
Lalu ia berkata pelan,
“Karena mungkin… darahmu terhubung dengan dunia sihir.”
Semua orang terkejut.
“APA?!”
Rifky bahkan hampir menjatuhkan kursinya.
“Tapi aku manusia biasa!”
Misel berkata tenang,
“Belum tentu.”
---
## Kemungkinan Besar
Misel berjalan mendekati jendela.
“Ada kemungkinan seseorang di keluargamu dulu adalah penyihir.”
Rifky mencoba mengingat.
“Tapi… aku tidak pernah mendengar cerita seperti itu.”
Misel menghela napas.
“Banyak keluarga penyihir yang menyembunyikan identitas mereka di dunia manusia.”
Wida menatap Rifky dengan penasaran.
“Berarti mungkin kamu setengah penyihir?”
Candra yang tiba-tiba muncul di pintu berkata,
“Berarti dia setengah manusia setengah penyihir!”
Semua orang menoleh.
“CANDRA?!”
Candra tersenyum.
“Aku cuma lewat…”
Riski dari luar langsung menariknya pergi.
“Jangan menguping!”
Semua orang tertawa kecil.
Namun suasana kembali serius.
Misel berkata kepada Rifky,
“Aku belum bisa memastikan semuanya.”
Ia menutup buku tua itu.
“Tapi satu hal yang pasti.”
Rifky menunggu jawabannya.
Misel berkata dengan suara serius,
“Kekuatan kristal itu akan terus bertambah.”
Rifky bertanya,
“Apakah itu berbahaya?”
Misel mengangguk pelan.
“Jika kamu tidak belajar mengendalikannya.”
Ia menatap Rifky dengan tajam.
“Mulai hari ini… aku akan melatihmu secara khusus.”
Wida tersenyum.
“Berarti Rifky punya guru pribadi!”
Namun di tempat lain di sekolah—
Mila, Diva, dan Eva sedang berbicara di ruang kosong.
Eva berkata,
“Jadi benar dia memiliki Aerion Crystal.”
Diva menyilangkan tangan.
“Kalau begitu kita harus bergerak cepat.”
Mila tersenyum dingin.
“Tenang saja.”
Ia menatap keluar jendela menuju halaman sekolah.
“Karena sebentar lagi…”
Ia berkata pelan namun menakutkan,
“Sekolah ini akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.”
---