Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabrakan Takdir dan Awal Cerita
"Aku pulang dulu ya," pamit Yang Chi sambil mulai memasukkan laptop dan buku catatannya ke dalam tas.
"Oke, hati-hati!" balas Jia Li, salah satu teman kelompoknya di kafe.
Pikiran Yang Chi sudah melayang ke babak klimaks novel time travel yang sedang ia tulis. Saking asyiknya memikirkan alur cerita, ia berjalan cepat sambil fokus pada layar ponselnya, mengabaikan sekelilingnya.
Duk!
Yang Chi menabrak dada bidang seorang pria muda yang baru saja keluar dari mobil sedan mewah berwarna hitam. Ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke trotoar.
"Aduuuh... Maaf ya, saya lagi buru-buru!" seru Yang Chi tanpa sempat mendongak, langsung memungut ponselnya dan melenggang pergi.
Pria muda itu, dengan setelan jas rapi dan wajah datar, menatap kepergian Yang Chi. "Hati-hati kalau jalan," ujarnya singkat.
"Galak banget sih, huh!" gerutu Yang Chi pelan sambil mempercepat langkahnya menjauhi area parkir.
Setibanya di apartemennya, Yang Chi langsung masuk ke kamar dan menyalakan laptopnya. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard dengan penuh semangat.
Proyek Novel: Skenario Maut Sang Putri Antagonis
Ia fokus pada bab paling menentukan, bab di mana Permaisuri Yang Nan menemui ajalnya di tangan sang antagonis, Xiao Xi Huwan.
...Dengan seringai tipis, Xiao Xi Huwan mencabut pedangnya dari sarung emas. Tanpa ragu, ia menusuk Yang Nan tepat di jantungnya.
Darah segar mengalir membasahi jubah sutra Permaisuri. Yang Nan terbatuk, menatap Xiao Xi dengan mata penuh ketidakpercayaan dan kebencian. Xiao Xi Huwan membiarkan tubuh tak bernyawa Yang Nan tergeletak tak berdaya di lantai marmer aula tersembunyi itu. Misi selesai. Ia berlari kembali ke istananya dan tidur nyenyak, menunggu kekacauan esok hari.
Yang Chi tersenyum puas membaca hasil ketikannya. Ia mengakhiri bab tersebut tepat di kalimat terakhir. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang. Ia bersandar di kursi, matanya perlahan menutup, dan ia pun tertidur di depan laptop yang masih menyala.
Saat terbangun, Yang Chi mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya pusing, dan aroma cendana yang kuat memenuhi udara, bukan bau kopi instan favoritnya.
Ini bukan kamar minimalisnya.
Kasurnya sebesar ranjang raja, dengan tirai sutra berwarna merah darah. Lampu kristal berganti dengan lentera giok. Lukisan abstrak di dindingnya berubah menjadi kaligrafi kuno.
"Mimpi ya ini?" gumamnya. Ia menjawil pipinya dengan keras.
"Aduh!" jeritnya. Sakit. Ini nyata.
Sebuah bayangan pelayan dengan pakaian kuno langsung masuk panik ke kamar. "Tuan Putri! Ada apa? Tuan Putri baik-baik saja?"
Yang Chi menatap pantulan dirinya di cermin perunggu di seberang ruangan. Wajah yang mirip dengan nya Xiao Xi Huwan.
Ia menelan ludah.
"Tuan Putri! Celaka! Anda sedang diburu oleh Baginda Raja!" seru pelayan itu dengan wajah pucat pasi.
"Astaga!" pekik Yang Chi. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat betul apa yang ia tulis di draf novelnya semalam: Jika tertangkap, Raja akan langsung menghunuskan pedang dan membuang jasad Xiao Xi ke jurang terdalam sebagai balas dendam atas kematian Permaisuri Yang Nan.
"Aku harus ngumpet! Bisa-bisa aku mati karena dia pasti mau bunuh aku sekarang juga!" Yang Chi panik. Tanpa pikir panjang, ia menarik gaun sutranya yang panjang dan berlari ke sudut ruangan, lalu masuk dan meringkuk di dalam lemari kayu besar berukir naga.
Pelayan itu terpaku, matanya terbelalak heran. Ia bingung melihat tuannya yang biasanya angkuh dan haus darah, kini justru gemetar ketakutan di dalam lemari. Ini sama sekali bukan seperti sifat Xiao Xi Huwan yang asli.
"Ya Tuhan, tolong aku... aku tidak mau mati di tangan karakter buatanku sendiri," bisik Yang Chi di kegelapan lemari, memeluk lututnya erat-erat.
BRUKKK!
Pintu kamar hancur ditendang hingga terlepas dari engselnya. Suara langkah sepatu bot yang berat mengguncang lantai. Aura membunuh yang sangat dingin memenuhi ruangan.
"Di mana tuanmu?!" suara bariton yang dalam dan penuh amarah menggelegar. Itu adalah Long Wei.
"Dia... dia tidak ada, Tuan... dia tidak ada di sini," jawab si pelayan dengan suara bergetar hebat, mencoba melindungi Yang Chi meskipun ia sendiri ketakutan.
"Jangan bohong kau!" bentak Long Wei. Ia melangkah maju, memegang hulu pedangnya yang masih berlumuran darah. "Aku tahu dia masuk ke sini. Serahkan dia atau kepalamu yang akan kutebas!"
"Ampun, Tuan! Saya benar-benar tidak tahu!"
Long Wei mendengus kasar, tatapannya menyapu setiap sudut kamar yang tampak kosong. Matanya yang tajam kemudian tertuju pada lemari besar yang sedikit bergetar di pojok ruangan.
"Cari dia sampai ketemu. Dan kau," Long Wei menunjuk pelayan itu dengan ujung pedangnya yang dingin, "bunuh pelayan ini jika dia terus tutup mulut!"
Yang Chi yang mendengar dari dalam lemari hampir saja pingsan. Mati aku! Long Wei benar-benar kejam seperti yang kutulis!
Tips Penulisan:
Untuk membuat suasana makin mencekam, kamu bisa menggambarkan detak jantung Yang Chi yang terdengar sangat keras di dalam lemari atau bayangan Long Wei yang mendekat ke arah lemari melalui celah pintu.
Suasana di dalam lemari itu sangat pengap dan penuh dengan kain-kain sutra tebal yang sudah lama tidak dibersihkan. Sialnya, hidung Yang Chi sangat sensitif. Ia mencoba menahan napas sekuat tenaga, menutup hidungnya dengan kedua tangan, namun rasa gatal itu tak tertahankan lagi.
"Hakciuuu!"
"Ah, mati aku!" batin Yang Chi seketika dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Ia merutuki hidungnya sendiri yang tidak bisa diajak kompromi di saat hidup dan matinya sedang dipertaruhkan.
Long Wei yang memiliki pendengaran sangat tajam langsung menghentikan langkahnya. Matanya yang merah karena amarah tertuju tepat ke arah lemari kayu besar itu. Dengan langkah pelan namun mematikan, ia mendekat. Pedangnya terhunus, siap menebas siapa pun yang bersembunyi di balik pintu kayu itu.
Sretttt! BRAK!