Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESMI TERJUAL
Lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu bersinar terang, namun bagi Keyla Atmadja, cahaya itu terasa mencekik. Gaun satin putih yang melekat di tubuhnya terasa seperti beban ribuan ton. Malam ini bukan perayaan cinta; ini adalah transaksi.
Di depannya, seorang pria berdiri tegak dengan setelan jas custom-made yang memancarkan aroma maskulin yang berat dan mahal. Dipta Mahendra. Pria berusia 35 tahun itu memiliki tatapan tajam yang seolah bisa menelanjangi rahasia siapapun yang ia pandang.
Keyla meremas jemarinya yang dingin saat Dipta mendekat, mengabaikan kerumunan kolega bisnis ayahnya yang terus memberikan ucapan selamat palsu.
"Kau terlihat sangat gelisah, Keyla," suara Dipta rendah, serak, dan penuh otoritas.
Keyla mendongak, mencoba menantang mata elang itu. "Harusnya Anda tidak terkejut. Saya bukan pengantin, saya hanya jaminan utang ayah saya, kan?"
Dipta tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya. Ia menyesap wiskinya pelan. "Ayahmu menyebutnya 'investasi strategis'. Aku menyebutnya 'akuisisi'."
"Saya bukan perusahaan, Tuan Mahendra," desis Keyla, suaranya bergetar antara marah dan takut.
"Memang bukan. Perusahaan tidak memiliki aroma semanis dirimu," balas Dipta sembari melangkah maju, memperkecil jarak hingga Keyla bisa merasakan panas tubuh pria itu.
Alan Atmadja, ayah Keyla, menghampiri mereka dengan tawa yang dipaksakan. "Dipta! Bagaimana? Keyla sangat cantik malam ini, bukan?"
Dipta tidak melepaskan pandangannya dari Keyla. "Dia sempurna, Alan. Sesuai kesepakatan, dana talangan untuk proyek di Kalimantan akan cair besok pagi."
Keyla merasa mual. "Ayah, tolong... aku masih ingin kuliah. Aku baru delapan belas tahun."
"Diam, Keyla!" bentak Alan halus namun tajam. "Ini untuk masa depan keluarga kita."
Dipta meletakkan tangannya di pinggang Keyla, sebuah klaim kepemilikan yang membuat gadis itu tersentak. "Jangan khawatir, Alan. Aku akan mengajari istrimu ini cara bersikap di dunia orang dewasa."
**
Setelah Alan pergi, Dipta membisikkan sesuatu tepat di telinga Keyla, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Berhentilah bersikap seperti korban. Di dunia ini, kau harus memilih: menjadi pemain atau menjadi pion. Dan malam ini, kau milikku."
"Apa yang akan Anda lakukan padaku?" tanya Keyla lirih.
Dipta menatap bibir Keyla yang bergetar, lalu kembali ke matanya. "Apa pun yang aku mau. Tapi jangan takut... aku adalah pria yang sangat menjaga barang berharga miliknya."
Acara dansa dimulai. Dipta menarik Keyla ke tengah lantai dansa. Tangan pria itu besar dan kuat, menggenggam jemari kecil Keyla dengan dominasi yang tak terbantahkan.
"Kenapa harus aku? Anda bisa mendapatkan wanita mana pun yang lebih dewasa," tanya Keyla saat mereka berputar perlahan.
"Karena wanita dewasa terlalu banyak menuntut," sahut Dipta dingin. "Aku menginginkan sesuatu yang murni, yang bisa kubentuk sesuai keinginanku. Dan kau, Keyla... kau memiliki api di matamu yang tidak dimiliki wanita lain."
"Aku akan membencimu selamanya," ancam Keyla.
Dipta terkekeh, suara baritonnya terdengar sangat mengintimidasi namun entah mengapa menggetarkan bagi Keyla. "Kebencian adalah awal yang bagus untuk sebuah obsesi. Mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan di bawah kendaliku."
**
Suasana di ballroom semakin panas, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena intensitas yang memancar dari pusat lantai dansa. Musik klasik yang mengalun lembut terasa kontras dengan ketegangan yang merayap di antara Keyla dan Dipta.
Tangan Dipta yang berada di pinggang Keyla tidak hanya sekadar memegang; ia menekannya, memaksa tubuh mungil gadis itu untuk tetap menempel pada tubuh tegapnya.
"Kau terus menghindari tatapanku, Keyla. Apakah aku semenakutkan itu?" bisik Dipta, suaranya terdengar seperti seringai di kegelapan.
Keyla berusaha menjaga jarak beberapa sentimeter, namun sia-sia. "Anda tidak menakutkan, Tuan Mahendra. Anda hanya... menyesakkan."
Dipta tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di dada yang bersentuhan langsung dengan tangan Keyla. "Panggil aku Dipta. Kita tidak sedang di ruang rapat. Sebentar lagi, aku akan menjadi pria paling intim dalam hidupmu."
Wajah Keyla memerah padam. "Dalam mimpi Anda! Pernikahan ini hanya di atas kertas."
"Kertas bisa terbakar, Sayang," balas Dipta tajam. "Dan aku punya kebiasaan buruk untuk membakar semua aturan yang menghalangiku. Termasuk batas-batas yang kau buat di kepalamu."
Tiba-tiba, seorang kolega muda Dipta mendekat, mencoba mencairkan suasana. "Luar biasa, Dipta. Kau benar-benar memenangkan lotre malam ini. Keyla adalah permata paling bersinar di keluarga Atmadja."
Dipta berhenti berdansa, namun tangannya tidak lepas dari pinggang Keyla. Ia menatap pria itu dengan tatapan sedingin es. "Dia bukan lotre, Bastian. Dia adalah hak patenku. Dan aku tidak suka orang lain menatap 'permata' milikku terlalu lama."
Pria bernama Bastian itu langsung pucat pasi, menggumamkan maaf, dan segera menjauh.
Keyla terpaku. "Kenapa Anda begitu kasar? Dia hanya memuji."
"Aku tidak butuh pujian orang lain untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas milikku," ujar Dipta posesif. Ia mencondongkan tubuh, hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Keyla. "Dengarkan baik-baik, Keyla. Di pesta ini, semua pria menatapmu dengan lapar. Tapi hanya aku yang punya izin untuk memakanmu."
Dipta menarik Keyla menjauh dari kerumunan, menuju balkon yang lebih sepi dengan pemandangan lampu kota Jakarta yang gemerlap. Angin malam menerpa wajah Keyla, memberikan sedikit kelegaan dari kepengapan ballroom.
"Ayahmu sudah menandatangani dokumen terakhir," ujar Dipta sambil bersandar pada pagar balkon, matanya tak lepas dari sosok Keyla yang tersiram cahaya bulan.
"Jadi, saya resmi terjual sekarang?" tanya Keyla dengan nada getir.
Dipta melangkah mendekat, memojokkan Keyla di antara pagar dan tubuh besarnya. Ia mengangkat dagu Keyla dengan jarinya, memaksa gadis itu menatap matanya yang hitam pekat.
"Bukan terjual. Kau diselamatkan. Dari kebangkrutan ayahmu, dan dari kehidupan membosankan yang mungkin akan kau jalani," Dipta mengusap bibir bawah Keyla dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat provokatif. "Mulai malam ini, hidupmu adalah tentang menyenangkanku. Dan sebagai imbalannya, dunia akan berlutut di kakimu."
Keyla merasakan jantungnya berdegup kencang—campuran antara amarah dan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Bagaimana jika aku menolak?"
Dipta mendekatkan bibirnya ke telinga Keyla, membisikkan kata-kata yang membuat lutut Keyla lemas. "Kau tidak akan menolak. Karena jauh di dalam hatimu, kau penasaran bagaimana rasanya menjadi milik pria dewasa sepertiku."
Dipta kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jasnya. Di dalamnya terdapat cincin berlian yang ukurannya cukup untuk membutakan mata siapa pun.
"Pakai ini," perintah Dipta, bukan meminta. "Dan jangan pernah melepaskannya, atau kau akan tahu apa konsekuensinya."
***
Bersambung...