Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Sorban Putih
Charlotte Abigail Hernandez menghempaskan tas Louis Vuitton-nya ke lantai bandara Soekarno-Hatta dengan wajah tertekuk. Di depannya, sang ayah, Mahendra Hernandez, berdiri kaku dengan setelan jas mahal yang tampak kontras dengan cuaca tropis Jakarta.
"Papah nggak bercanda kan? This is insane! Aku cuma bolos prom dan sedikit bikin kacau lab kimia, bukan nge bom gedung putih!" suara Abigail melengking, menarik perhatian beberapa pasang mata.
Mahendra menghela napas berat. Sorot matanya menunjukkan kelelahan yang dalam, bukan karena pekerjaan, tapi karena membesarkan putri tunggalnya sendirian sejak istrinya tiada. "Abigail, ini bukan soal lab kimia. Ini soal kamu yang kehilangan arah. Kamu butuh akar, dan akar kamu ada di sini, di tanah kelahiran Papah. Di agama kita."
"Agama?" Abigail tertawa sinis. "Aku bahkan nggak tahu cara baca doa makan dengan benar, Pah. Dan sekarang Papah mau buang aku ke... apa namanya? Pesantren?"
"Bukan dibuang, Abigail. Tapi dititipkan," potret ketegasan Mahendra tak tergoyahkan. "Mobil sudah menunggu. Di Jawa Timur, kamu akan belajar apa artinya menjadi seorang muslimah yang sebenarnya."
Pondok Pesantren Al-Azhar berdiri megah dengan arsitektur klasik dan pepohonan hijau yang rindang. Namun bagi Abigail, tempat ini tak ubahnya penjara dengan aturan yang mencekik.
Hari pertamanya adalah bencana. Ia menolak memakai kerudung dengan benar, mengeluh karena tidak ada AC, dan yang paling parah, ia tertidur pulas saat jam pengajian subuh.
"Bangun."
Suara itu rendah, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat bulu kuduk Abigail meremang. Ia membuka mata perlahan, mendapati seorang pria muda berdiri beberapa meter darinya.
Pria itu mengenakan koko putih bersih dan sarung yang rapi. Wajahnya bersih, dengan sorot mata tajam namun teduh. Namanya Zayn Malik Azhar Rahman. Gus muda lulusan Al-Azhar Kairo yang baru saja kembali untuk mengabdi pada pesantren ayahnya.
"Siapa sih? Berisik banget," gumam Abigail ketus sambil berusaha duduk.
"Di sini, matahari tidak menunggu santri yang malas, apalagi santri yang tidak punya sopan santun," ujar Zayn dingin. Matanya sedikit pun tidak berpaling, meski ia tahu gadis di depannya ini adalah proyek tersulit yang pernah ayahnya terima.
"Oh, kamu pasti Gus itu ya? Yang katanya pinter banget?" Abigail berdiri, menantang tatapan Zayn dengan keberanian khas New York-nya. "Denger ya, Gus Ganteng. Aku di sini cuma karena terpaksa. Jadi jangan harap aku bakal jadi murid teladan."
Zayn hanya menarik sudut bibirnya tipis, hampir menyerupai senyuman, namun lebih terasa seperti tantangan. "Ilmu tidak butuh kamu, Abigail. Kamu yang butuh ilmu. Jika kamu pikir kecantikan dan harta bisa menyelamatkanmu di sini, kamu salah besar."
.
.
Abigail sedang menyelinap di perpustakaan tua pesantren saat jam istirahat. Ia mencari sesuatu, apa saja yang bisa ia gunakan untuk menyerang balik Gus Zayn yang selalu tampak tanpa celah. Hingga jemarinya menyentuh sebuah album foto usang yang terselip di balik kitab-kitab tebal.
Di sana, ia menemukan sebuah foto yang membuatnya nyaris berhenti bernapas.
Seorang remaja laki-laki dengan rambut agak panjang yang berantakan, mengenakan jaket kulit hitam, berdiri di depan sebuah bar di Jakarta. Matanya sayu, dingin, dan penuh luka. Di tangannya ada sebatang rokok. Itu Zayn. Tapi bukan Gus Zayn yang dikenalnya.
Malam itu, hujan deras mengguyur atap seng asrama putri. Abigail berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas. Di sampingnya, Sarah teman sekamarnya yang asli Kediri dan sangat hobi bergosip, sedang asyik melipat mukena.
"Sarah, Gus Zayn itu... emang dari lahir udah suci gitu ya? Maksudku, apa dia nggak pernah bikin salah?" tanya Abigail tiba-tiba.
Sarah menghentikan aktivitasnya, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan pintu kamar tertutup rapat. Ia mendekat ke ranjang Abigail dengan wajah serius.
"Sstt! Abigail, jangan keras-keras. Di sini, masa lalu Gus Zayn itu rahasia umum yang nggak boleh dibahas sembarangan," bisik Sarah.
Abigail langsung duduk tegak. "Maksud kamu?"
"Gus Zayn itu anak bungsu dari empat bersaudara. Dulu, waktu Uminya meninggal, dia hancur banget. Kabarnya, dia sempat lari ke Jakarta, ikut pergaulan bebas, bahkan..." Sarah ragu sejenak, "katanya dia pernah masuk klub malam, minum-minum, dan benar-benar nggak percaya adanya Tuhan. Dia jadi bad boy yang urakan banget, Abby."
Mata Abigail membulat sempurna. "Serius? Gus kaku itu?"
"Iya! Dia sempat berhenti sekolah dua tahun buat dibawa ke psikolog. Kakak-kakaknya hampir menyerah. Terus dia dipaksa balik ke sini, disuruh sekolah di dalam pagar pesantren biar nggak kabur lagi. Baru setelah Abi-nya nikah lagi sama Umi Khadizah, hatinya luluh. Ketulusan Umi Khadizah yang bikin dia tobat total sampai bisa lulus terbaik di Kairo."
Sarah menghela napas, matanya berbinar. "Bagi santriwati di sini, masa lalu itu malah bikin Gus Zayn kelihatan makin seksi. Kayak pangeran yang berhasil keluar dari kegelapan. Tapi buat Gus Zayn sendiri, itu aib yang paling dia benci."
Abigail terdiam. Penjelasan Sarah menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.
Keesokan paginya, saat jadwal setoran hafalan, Abigail menatap Zayn dengan cara yang berbeda. Zayn sedang duduk di kursi kayu biasanya, memegang tasbih, tampak sangat tenang dan bersih dengan baju koko setrikaan rapi.
"Abigail, kenapa melamun? Cepat bacakan hafalanmu," tegur Zayn tanpa melihatnya.
Abigail tidak langsung membaca. Ia justru bertanya dengan suara pelan, "Gus, apa benar... orang yang pernah hancur bisa jadi sehebat kamu sekarang?"
Gerakan tangan Zayn yang sedang memutar tasbih mendadak berhenti. Ia mendongak, menatap mata Abigail tajam. Ada kilatan luka yang sempat melintas di sana sebelum kembali ditutupi oleh ketenangan yang dingin.
"Semua orang punya masa lalu, Abigail. Tapi hanya sedikit yang punya keberanian untuk menguburnya dan membangun masa depan yang baru," jawab Zayn dengan suara rendah yang bergetar.
Abigail tersenyum tipis, kali ini tanpa nada mengejek. "Aku pikir kamu cuma robot yang tahu aturan. Ternyata... kamu manusia juga."
Zayn tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat Abigail tidak menatapnya dengan kemarahan, melainkan dengan sebuah rasa hormat yang baru tumbuh.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading dear ❤