Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Bentuk Tertinggi Dalam Menghargai Nyawa
Cakrawirya sedikit bergeser mendekat, meski wajahnya mulai sepucat kain kafan.
Sawitri tak menghiraukan gejolak di wajah pemuda itu, jemarinya yang terbungkus justru bergerak lebih lincah.
Pisau yang tipis dan tajam itu membelah jaringan rahim Ningsih dengan presisi yang mengerikan.
Aroma amis darah yang pekat dan tajam segera menyerbu indra penciuman semua orang di ruangan remang itu.
Sawitri memasukkan tangannya ke dalam rongga yang baru saja ia buka, menarik keluar sebuah massa jaringan kecil yang belum sempurna.
"Berdasarkan ukuran dan perkembangan ekstremitasnya, janin ini berusia sekitar sepuluh hingga dua belas minggu."
Sawitri mengangkat jaringan itu di depan cahaya pelita, menunjukkannya tepat di hadapan Cakrawirya.
Pemuda itu terkesiap, jakunnya naik turun menahan gelombang mual yang hebat di pangkal tenggorokannya.
"Dua bulan lebih," gumam Sawitri dingin, seolah sedang menghitung butiran beras.
"Adipati, pemeriksaan selesai. Ningsih tidak hanya dicekik dan dibakar, dia menanggung aib yang ingin dihilangkan paksa."
Sawitri meletakkan kembali jaringan itu dengan hati-hati ke dalam baki perunggu.
Adipati Sasongko menatap takjub, sementara Ki Lurah Wirapati sibuk menggoreskan aksara di atas lontar dengan tangan gemetar.
"Setiap kata yang kulo ucapkan adalah fakta. Kulo bertanggung jawab penuh atas laporan ini."
Ki Kerta di ambang pintu hanya bisa melongo, nyalinya menciut melihat darah yang membasahi tangan Sawitri.
Sawitri tidak memedulikan mereka, ia meraih jarum dan benang rami yang sudah disiapkan.
Jemarinya bergerak menari di atas kulit jenazah, menjahit kembali sayatan Y yang ia buat tadi.
Gerakannya begitu lembut, seolah ia tidak sedang menjahit mayat, melainkan memperbaiki kain sutra yang robek.
Setelah selesai, ia membasuh tubuh Ningsih dengan kain basah, membersihkan jelaga yang tersisa di wajah sang gadis.
"Pembedahan ini bukan untuk merusak kehormatan," bisik Sawitri lirih di dekat telinga jenazah.
"Ini adalah cara terakhir agar suaramu yang tersumbat bisa didengar oleh dunia."
Ia menyelimuti jasad Ningsih dengan kain putih bersih hingga ke ujung kepala, sebuah bentuk penghormatan terakhir yang tulus.
"Mencari keadilan adalah bentuk tertinggi dalam menghargai nyawa yang telah hilang," ucap Sawitri sambil melepas pelindung mulutnya.
Wirapati menatap Sawitri dengan pandangan penuh rasa hormat yang mendalam.
"Ndara Tabib benar-benar luar biasa. Kulo janji akan menuntaskan kasus ini secepat mungkin."
"Kulo hanya melakukan tugas kulo, Ki Lurah. Selebihnya adalah bagian Anda."
Malam semakin larut saat Sawitri melangkah keluar dari Balai Pemeriksaan, aroma arak dan darah masih samar menempel di ujung jariknya.
Ia menolak tawaran menginap di Kadipaten dan memilih kembali ke pesanggrahan bersama Ndari dan kereta Ki Padmo.
Namun, jauh di kegelapan bayang-bayang pohon beringin besar di alun-alun, tiga siluet pria berdiri membeku.
"Bagaimana? Sudah puas muntah-muntah sampai ke empedu, Pangeran?"
Sebuah suara dingin dan berat memecah keheningan malam, penuh nada ejekan namun terselip perhatian.
"Kulo hanya sedang mulas karena jamu tadi sore, Prabaswara. Jangan berlebihan," sahut Cakrawirya sambil mengusap bibirnya dengan saputangan.
Wajahnya yang tadinya pucat kini mulai kembali berwarna, meski tatapannya masih menyimpan sisa trauma dari ruang autopsi.
"Lain kali jika ingin menyamar dan mencampuri urusan kriminal, gunakan nama lain," sela pria tegap berbaju hitam di samping mereka.
Itu adalah Senopati Prabaswara, orang kepercayaan istana yang ditugaskan memantau pergerakan para pangeran.
"Kenapa harus repot ganti nama? Nama 'Cakrawirya' cukup bagus untuk menipu Adipati yang rakus pujian itu," sahut pemuda itu santai.
Pria ketiga, yang sejak tadi diam dengan postur berwibawa, akhirnya membuka suara.
"Kamu terlalu berani mengambil resiko, Angkawijaya," ucap Pangeran Sethawijaya, pangeran tertua di antara mereka.
"Tapi gadis itu... Sawitri. Dia bukan gadis biasa. Teknik bedahnya... itu bukan dari tanah ini."
"Dia menarik. Rasional. Bahkan lebih dingin dari es di puncak Merapi," gumam Cakrawirya dengan senyum misterius.
"Jangan terlalu dekat, atau kau yang akan dibedah oleh pisaunya," gurau Prabaswara dengan nada datar.
Cakrawirya tertawa kecil, suara tawanya menghilang ditelan angin malam yang membawa aroma melati.
Tiga hari kemudian.
Sawitri baru saja menyelesaikan sesi tusuk jarum kedua untuk Den Bagus Kusuma di kediaman Jayaningrat.
Bocah itu sudah bisa duduk tegak, bahkan nafsu makannya meningkat drastis hingga membuat Nyi Jayaningrat menangis bahagia.
Saat Sawitri sedang mencuci tangannya di baskom tembaga, Ki Lurah Wirapati muncul di ambang pintu pringgitan.
"Ndara Tabib, kulo datang untuk memberi kabar," ujar Wirapati dengan wajah serius.
"Pelaku pembunuhan Ningsih sudah ditangkap kemarin sore."
Sawitri tidak menoleh, ia sibuk mengeringkan jemarinya dengan kain perca.
"Ayahnya sendiri, Ki Kasan, bukan?" tanya Sawitri datar, membuat Wirapati terkesiap kaget.
"Bagaimana Ndara bisa tahu secepat itu?"
"Firasat," sahut Sawitri pendek. "Luka perlawanan di kuku Ningsih terlalu dangkal untuk orang asing, itu tanda serangan dari orang terdekat."
"Benar, Ndara. Dia mengaku telah mencekik putrinya demi menjaga 'kesucian' nama keluarga."
Wirapati menarik napas panjang, tampak muak dengan fakta yang ia temukan di ruang interogasi.
"Ningsih hamil dengan guru mengajarnya. Ki Kasan membunuh mereka berdua, lalu membakar rumah itu agar dikira kecelakaan."
Sawitri terdiam sejenak, ada denyut amarah yang halus di balik wajah tenangnya.
"Menghilangkan nyawa demi harga diri yang semu. Sangat tidak rasional."
"Itulah kenyataannya, Ndara. Sekarang, Adipati ingin bertemu Ndara kembali di kantor Kadipaten."
Sawitri mengangguk pelan. Ia sudah menduga ini akan terjadi sejak ia menunjukkan kemampuannya di ruang mayat.
Sore itu, Sawitri datang ke Kadipaten dengan penampilan yang lebih segar.
Ia mengenakan kebaya sutra merah muda pemberian keluarga Jayaningrat, dengan motif parang kecil yang elegan.
Rambutnya digelung rapi dengan tusuk konde kayu cendana yang harum, memberikan kesan anggun namun tetap berwibawa.
Di dalam pendopo Kadipaten, Adipati Sasongko telah menunggu bersama Cakrawirya yang duduk santai di sampingnya.
"Selamat sore, Ndara Tabib," sambut Adipati dengan senyum lebar yang dipaksakan.
"Kulo benar-benar kagum dengan ketajaman analisis Anda dalam kasus Ningsih."
"Matur nuwun, Adipati," jawab Sawitri pendek, ia langsung duduk di kursi kayu jati yang disediakan tanpa banyak basa-basi.
"Langsung saja, apa ada kasus baru?" tanya Sawitri tanpa tedeng aling-aling.
Cakrawirya terkekeh pelan, ia menyesap tehnya sambil menatap Sawitri dengan binar penuh minat.
"Gadis ini benar-benar tidak suka membuang waktu, Adipati," sindir Cakrawirya halus.
Adipati Sasongko berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sempat goyah.
"Sebenarnya, kulo ingin menawarkan posisi resmi untuk Ndara di wilayah ini."
Sawitri menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kalimat sang penguasa wilayah.
"Kulo ingin mengangkat Ndara sebagai Juru Mayat resmi Kadipaten. Tabib utama untuk setiap kasus kematian tak wajar."
Sawitri terdiam. Tawaran ini berarti ia akan memiliki akses legal ke setiap jenazah yang ditemukan di Mataram.
"Berapa bayarannya?" tanya Sawitri rasional, membuat Cakrawirya nyaris tersedak tehnya lagi.
"Kowe benar-benar praktis, Sawitri," sahut Cakrawirya sambil meletakkan cangkirnya.
"Bayaran yang pantas untuk keahlian yang tak ternilai, tentu saja," sambung Adipati cepat.
"Dan pesanggrahan Ndara akan direnovasi total oleh batur-batur Kadipaten."
Sawitri menatap Cakrawirya sesaat, mencoba membaca motif di balik binar mata pemuda misterius itu.
"Baik. Kulo terima. Tapi dengan satu syarat," tegas Sawitri.
"Apa pun itu, Ndara," jawab Adipati patuh.
"Mboten wonten yang boleh mencampuri metode kerja kulo. Termasuk Anda, Adipati."
Sawitri berdiri, aura ksatria terpancar dari postur tubuhnya yang tegak.
"Kesepakatan tercapai. Kulo mulai besok pagi."
Ia melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan Adipati yang melongo dan Cakrawirya yang tersenyum lebar.
"Dia akan menjadi badai di Mataram, Adipati," gumam Cakrawirya pelan.
"Dan kulo akan sangat menikmati setiap hembusan anginnya."