Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Lampu ruang kerja masih menyala hangat ketika Dita menatap Tama dengan wajah bingung.
“Apa… Tuan?” ulangnya pelan.
Tama menyandarkan punggung ke kursinya. Ia terlihat mencoba bersikap santai, meskipun sebenarnya ada sedikit kegugupan di matanya.
“Nonton,” katanya singkat.
Dita berkedip beberapa kali.
“Nonton… dengan Tuan?”
“Iya.”
“Film romantis?”
“Iya.”
Keheningan menggantung beberapa detik.
Dita bahkan sampai menoleh ke belakang, seolah memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu yang mungkin sebenarnya diajak Tama.
“Tuan serius?”
Tama menghela napas panjang.
“Dita.”
“Iya, Tuan?”
“Kamu tadi tidak jadi nonton film.”
Dita tersenyum kecil.
“Itu tidak apa-apa.”
“Tapi aku yang membuat kamu tidak jadi nonton.”
“Tuan cuma khawatir pada Bu Diana.”
“Tetap saja.”
Tama melipat tangannya di atas meja.
“Aku merasa bersalah.”
Dita langsung menggeleng cepat.
“Tidak perlu, Tuan. Sungguh.”
Tama menatapnya lurus.
“Besok sore.”
Dita masih belum mengerti.
“Kita ke bioskop.”
Dita terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil karena merasa itu pasti hanya bercanda.
Namun Tama tidak ikut tertawa.
“Tuan…”
“Kamu, Mama, dan aku.”
Kali ini Dita benar-benar terdiam.
“Bersama Bu Diana?”
“Iya,” jawab Tama santai.“Mama sudah lama tidak keluar. Mengingat kesehatan mama, makanya kita keluar sebentar.”
Dita terlihat semakin tidak enak hati.
“Tidak perlu, Tuan. Sungguh. Saya tidak ingin merepotkan.”
Tama menyipitkan mata.
“Ini bukan merepotkan.”
“Tapi—”
“Sudah.”
Nada suara Tama tiba-tiba tegas.
“Besok sore. Ingat!”
Dita masih hendak menolak.
“Tuan, saya benar-benar—”
Tama langsung berdiri dari kursinya.
“Percakapan selesai.”
Dita menatapnya heran.
“Besok jam empat.”
“Tapi—”
Tama menunjuk pintu.
“Kamu boleh keluar sekarang.”
Dita melongo.
“Tuan?”
“Aku masih ada kerjaan.”
Dita masih berdiri beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dengan canggung.
“Iya… Tuan.”
Ia berjalan menuju pintu.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara Tama terdengar lagi.
“Dita.”
Dita menoleh.
“Iya?”
“Jangan menolak lagi.”
Dita hanya mengangguk kecil sebelum keluar dari ruangan.
***
Malam itu rumah kembali sunyi.
Namun bagi Dita… malam terasa jauh lebih panjang.
Ia sudah berbaring di kamar kecilnya di lantai belakang rumah, tetapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam.
Di langit-langit kamar, bayangan kipas angin berputar pelan.
Dita menghela napas panjang.
“Kenapa jadi begini…”
Ia memeluk bantal.
Pergi ke bioskop… dengan Tuan Tama?
Itu terasa aneh.
Sangat aneh.
Ia bahkan belum pernah pergi ke bioskop bersama atasannya.
Apalagi dengan Bu Diana juga.
Dita mengambil ponselnya dari meja kecil.
Ia membuka aplikasi pesan.
Nama Tuan Tama ada di bagian atas.
Jarinya ragu-ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.
Tuan, tidak perlu ke bioskop besok.
Saya benar-benar tidak apa-apa tidak menonton film kemarin.
Dita membaca ulang pesannya.
Lalu menambahkan lagi.
Jangan sampai Tuan repot hanya karena itu.
Ia menggigit bibirnya.
Lalu menekan kirim.
Beberapa detik kemudian…
Pesannya dibaca.
Dita menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak ada balasan.
Dita menghela napas pelan.
“Ya sudah…”
Ia mematikan layar ponselnya.
Namun matanya tetap tidak bisa terpejam hingga larut malam.
****
Keesokan paginya…
Ruang makan kembali ramai oleh cahaya pagi.
Bu Diana duduk di kursi rodanya dekat jendela, menikmati sinar matahari yang hangat.
Dita berdiri di samping meja sambil menuangkan teh.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar.
Tama masuk ke ruang makan dengan jas kerja yang sudah rapi.
“Pagi, Ma.”
“Pagi.”
Tama langsung berkata tanpa basa-basi.
“Nanti sore kita ke bioskop.”
Sendok di tangan Bu Diana berhenti di udara.
“Apa?”
Dita juga langsung menoleh.
“Bioskop?”
Tama mengangguk santai.
“Iya.”
Bu Diana mengerutkan kening.
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Terus kenapa tiba-tiba ngajak ke bioskop?”
Tama menoleh ke arah Dita.
“Karena kemarin Dita tidak jadi nonton film.”
Dita langsung menggeleng panik.
“Tidak perlu, Tuan—”
Bu Diana menatap keduanya bergantian.
“Kemarin?”
“Iya.”
Tama menjelaskan dengan datar.
“Kemarin Mama pusing. Dita jadi pulang.”
Bu Diana langsung melotot.
“Tunggu dulu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Jadi ini semua karena Mama?”
Tama mengangkat bahu.
“Faktanya begitu.”
“Enak saja!”
Dita buru-buru mencoba menjelaskan.
“Bu, bukan begitu—”
Bu Diana memijat pelipisnya.
“Kemarin Mama cuma pusing sedikit!”
Tama menatapnya datar.
“Sedikit tapi hampir jatuh.”
“Itu karena kamu mondar-mandir!”
Dita menunduk menahan senyum.
Tama langsung memutuskan pembicaraan.
“Pokoknya nanti sore ke bioskop.”
Dita masih mencoba menolak.
“Tuan, sungguh tidak perlu.”
Tama sudah berdiri.
“Aku yang jemput.”
Bu Diana langsung menoleh cepat.
“Kamu yang jemput?”
“Iya.”
“Artinya kamu ikut.”
“Aku harus ikut.”
“Kenapa?”
“Menjaga Mama.”
Ia melirik Dita sekilas.
“Dan kamu.”
Dita langsung terdiam.
Tama sudah mengambil tas kerjanya.
“Aku berangkat.”
Ia keluar dari ruang makan begitu saja.
Pintu depan tertutup.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Beberapa detik kemudian…
Bu Diana menahan senyumnya.
Dita masih terlihat bingung.
“Ibu…”
Bu Diana menoleh padanya.
“Kamu tahu tidak?”
“Tahu apa?”
Bu Diana tersenyum penuh arti.
“Anakku itu.”
“Apa?”
“Dia tidak suka kamu pergi dengan Dokter Eros.”
Dita langsung membelalak.
“Tidak mungkin!”
Bu Diana terkekeh kecil.
“Aku yakin, Dita.”
“Tidak… Tuan Tama hanya—”
“Cemburu.”
Dita langsung menggeleng keras.
“Itu mustahil Bu. Jangan membuat candaan begini.”
Bu Diana menyilangkan tangan.
“Kamu ingat kemarin dia menelepon saat kamu pergi dengan dokter Eros?”
“Iya.”
“Dia beralasan gara aku pusinglah, pingsanglah, baringin di kamarlah.”
Bu Diana mendengus.
“Padahal, Dit. Aku tuh pusing karena dia mondar-mandir!”
Dita tertawa kecil.
“Tapi hari ini…”Bu Diana menunjuk ke arah pintu depan.“Alasan ke bioskop itu juga aneh.”
Dita menelan ludah.
“Kenapa?”
“Karena sebenarnya dia ingin menonton dengan kamu.”
Dita langsung memerah.
“Ibu…”
Bu Diana tersenyum lembut.
“Aku sangat kenal anakku, Dit.”
Dita menunduk canggung.
Hal itu terasa terlalu mustahil untuk dipercaya.
****
Siang menjelang sore.
Bu Diana sudah selesai berjemur di teras.
Dita juga baru selesai menyiram bunga di taman depan.
Setelah itu mereka duduk di teras.
“Dita.”
“Iya Bu?”
“Ambilkan aku minum.”
“Iya.”
Dita mengambil minuman segar dari dapur.
Ia kembali dengan dua gelas.
Mereka mengobrol ringan di teras yang sejuk.
Namun Dita masih memikirkan kata-kata Bu Diana tadi.
Mustahil.
Benar-benar mustahil.
****
Sore hari.
Suara mobil berhenti di depan rumah.
Dita dan Bu Diana sudah menunggu di ruang tamu.
Bu Diana memakai blus biru muda.
Dita mengenakan dress sederhana yang rapi.
Pintu terbuka.
Tama masuk sambil melepas jasnya.
Ia berhenti beberapa langkah ketika melihat mereka.
Keduanya sudah siap.
Matanya sempat terdiam beberapa detik pada Dita.
Lalu ia berdehem pelan.
“Sudah siap?”
Bu Diana tersenyum kecil.
“Siap.”
Dita hanya mengangguk.
Tama mengambil kunci mobil di meja.
“Kalau begitu…”
Ia menoleh pada mereka.
“Berangkat sekarang.”
Bu Diana menahan senyumnya lagi.
Sementara Dita masih merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.